Hana – Part 3 end (Super Junior Kyuhyun version)

Author     : Puput

Judul        : Hana – Part 3 (end)

Kategori   : Romance

Rating      : Teens

Main cast : – Lee Ara as You

– Super Junior Kyuhyun as Cho Kyuhyun

Other cast : – Super Junior Eunhyuk as Hyukjae

 

 

Sesal itu masih tersisa di hatiku. Ditambah dengan opini teman-temanku dan teman-temannya Kyu yang dekat denganku, apalagi jika melihat dia masih sendiri, sama sepertiku. Dada ini semakin terasa sesak. Dulu saat masih jadian dengannya, aku selalu semangat. Sekarang aku agak lesu. Apalagi sekarang teman-temanku lebih sering menghabiskan waktu dengan namja chingu mereka. Aku makin merasa sendiri saja. Eommaaaa, rasanya aku ingin kembali ke Daegu saja 😦 Ditambah lagi dengan kejadian hari ini. Rasanya aku ingin cerita pada seseorang. Ji Yeon. Ya Ji Yeon! Ji Yeon adalah sahabatku di SMA. Aku sering bercerita dan meminta saran tentang Kyu padanya. Dan biasanya ia selalu bisa menenangkanku yang sedang galau.

“Yeobeoseyo.”

“Ji Yeon-ah, aku ingin nangis…”

“Nangis? Wae yo, Ara-ya?”

“Kyu…hiks…Kyu malah semakin menjauh…hiks.”

“Mwo?”

“Tadi..saat aku bertemu dengannya di kampus, dia malah cuek padaku. Dia tidak menyapaku sama sekali hiks, dia…malah menyapa sahabatku…huwaaaaa….”

“Uljima, uljima, Ara-ya. Apa kau sudah melakukan apa yang kusarankan?”

“Sudah, bahkan kemarin aku mulai berusaha mendekatinya. Aku sms dia, tapi malah tidak dibalas huwaaa…”

“Memangnya kau sms apa?”

“Dia kan baru dapat uang hadiah dari kampus karena menjadi LO terbaik se-Asia Timur. Aku sms ‘Kyu, boleh dong traktirannya hehe’. Tapi apa coba? Dia tidak membalas smsku dan besoknya malah cuek padaku hiks hiks.”

“Tenang, Ara-ya. mungkin saja kemarin dia sedang cape jadi tidak sempat membalas smsmu.”

“Lalu..lalu apa maksudnya tadi dia cuek padaku? Apa dia sudah tidak menyukaiku? Apa dia ilfeel dengan sikapku yang mendekatinya duluan?”

“Pabo! Tentu saja tidak! Mana mungkin orang seperti dia bisa berubah pikiran secepat itu! Lagipula ini masalah hati! Mana mungkin bisa berubah secepat itu!”

“Lalu apa maksudnya dia seperti itu?”

“Kau ini! Tentu saja karena ingin menghindarimu. Kurasa walaupun dia tau kau sudah berubah, tapi dia tetap takut kejadian itu terulang lagi.”

“Tapi kenapa dulu dia sempat baik padaku. Di saat aku mengharapkannya, justru dia menjauh dariku.”

“Menurutku dia berpikir kalau dia memberi respon positif di saat kau mendekatinya, dia takut kau akan berharap lebih, sementara dia masih seperti dulu, sibuk dengan organisasinya.”

“Memang sih, sahabatnya bilang, Kyu masih bingung antara memilih organisasi atau aku.”

“Jadi dengan kata lain, dia harus memilih salah satu di antaranya? Tidak mau menjalani dua-duanya sekaligus?”

“Ne.”

“Hmm ya sudah kalau begitu. Kalau dia masih jutek padamu, balas jutek saja. Lihat sampai kapan dia akan bertahan dengan sikapnya itu.”

“Kalau dia terus seperti itu? Huwaaaa apa aku harus menerima sunbaenimku?”

“Kau tidak mencintainya kan? Jika kau ingin mencobanya silahkan. Tapi pikirkan juga bagaimana perasaan Kyu jika menerima kenyataan itu.”

Hmm…benar juga…

“Iya juga sih. Ya sudah, mulai sekarang aku akan cuek saja padanya, sesuai dengan sikapnya padaku sekarang. Mungkin lama-lama aku akan terbiasa. Lebih bagus lagi kalau aku bisa melupakannya.”

“Ne. Biarkan semuanya mengalir seiring berjalannya waktu. Semua akan indah pada waktunya, Chingu.”

“Ne, mudah-mudahan. Gomawo ya atas saran-sarannya hehe.”

“Ne, cheonma. Tetap semangat ya, jangan terlalu larut dalam perasaan.”

“Ne, gomawo, Ji Yeon-ah. Annyeong.”

Benar juga yang dikatakan Ji Yeon. Mulai sekarang aku akan bersikap sesuai dengan sikapnya saja!

*          *          *

 

Seminggu berlalu sejak kejadian itu. Dan keadaan belum juga berubah. Aku dan Kyu masih ‘perang dingin’. Tidak ada yang mau mengalah di antara kami. Tapi aku sudah tidak tahan dengan keadaan ini. Ditambah lagi dia sekelas denganku. Otomatis aku selalu melihatnya tiap hari. Kalau serperti ini keadaannya, bagaimana mungkin aku bisa melupakan orang itu!!!

Dia bilang dia tidak bisa memilih antara organisasi dan aku. Ya, baginya organisasi termasuk penting. Selain di akademik, dia juga berprestasi lewat organisasinya. Aku tau, dia aktif di organisasi untuk mencapai kesuksesan. Dia tidak ingin mengecewakan keluarganya. Masih ingat dengan kalimat ‘Emm ada sesuatu yang harus diselesaikan.’ saat aku bertanya padanya kenapa tidak masuk kuliah di hari-hari  pertama kuliah? Itu adalah mengenai appanya. Ia menunggui appanya yang dirawat di rumah sakit. Appanya kemudian meninggal tiga bulan yang lalu setelah sebelumnya kakaknya pergi lebih dulu. Keduanya meninggal karena sakit. Itu sebabnya, eommanya Kyu akan sangat cemas jika Kyu sakit. Ia masih trauma dengan apa yang menimpa suami dan anak pertamanya. Kini Kyu hanya tinggal dengan eommanya. Tentu saja dia tidak ingin mengecewakan eommanya yang bisa dibilang hampir sebatang kara sekarang. Dan memang, lewat organisasi (selain akademik tentunya), dia banyak mendapatkan keuntungan. Baik jaringan teman, kenalan, prestasi, sampai uang. Dan eommanya bangga dengan semua itu. Sekarang, jika keadaannya seperti itu, mana mungkin dia bisa melepas semua kesibukannya itu?

Hari ini, kuliah sudah selesai. Yang masih diam di kelas hanya aku dan…Kyu. Kulihat dia sudah membereskan barang-barangnya, bersiap untuk pulang. Dia mulai berjalan ke arah pintu dan…

“Kajima!” entah darimana keberanian ini tiba-tiba datang menghampiriku, aku yang duduk di barisan depan dekat pintu tiba- tiba berdiri menarik tangan Kyu dan membuatnya berbalik. Aku sudah tidak peduli dengan hakikatku sebagai seorang yeoja yang pada umumnya hanya bisa menunggu. Aku sudah tidak tahan dengan perasaanku ini.

“Wae?” tanyanya singkat dengan ekspresi datar, tanpa senyum sedikitpun.

“Saranghae, Kyu, saranghae. Aku masih mencintaimu, Kyu. Aku tau, aku yang salah dulu. Aku memang sangat childish dan pabo. Aku tidak bisa menerima kesibukanmu. Aku hanya bisa marah-marah di saat kau berusaha untuk karirmu. Mianhae, Kyu, jongmal mianhae.”

Tak ada balasan kata-kata dari Kyu. Dia bahkan tidak berani menatap mataku.

“Kyu, tatap mataku. Jebal, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Jika kau sudah tidak mencintaiku, gwaenchana. Asal kau mau memaafkanku dan tidak bersikap dingin lagi padaku. Aku benar-benar tidak nyaman dengan kondisi seperti ini.”

“Ani, Ara-ya.”

DEG! Aku tersentak setelah hampir seminggu ini tidak mendengarnya menyebut namaku.

“Nado…nado saranghae.”

Mwo? ‘Nado, nado saranghae?’ dia bilang?

“Aku masih mencintaimu, Ara-ya. Hanya saja aku berusaha menahan perasaanku. Aku masih tidak bisa memilih antara kau dan organisasi-organisasiku. Walau aku tau kau sudah berubah, tapi aku tidak ingin kau berada di situasi itu lagi. Walau kau bilang sudah berubah, tapi aku rasa kau tetap akan merasa tidak enak. Apalagi sekarang aku menjadi pengurus inti, ja…”

Belum sempat Kyu menyelesaikan kata-katanya, aku sudah memotongnya, “Tapi aku lebih tidak enak dengan keadaan seperti ini! Ketidakpastian, penyesalan, semuanya lebih tidak mengenakkan!”

Kyu yang tadinya menunduk langsung mengangkat kepalanya dan memandangku dengan tatapan terkejut.

“Jadi…masih bisakah kita perbaiki semuanya?” tanyaku lirih.

Kyu menatapku dalam-dalam. Kami terdiam sejenak sampai Kyu buka suara, “Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan barusan?”

Tanpa harus berpikir dua kali, aku dengan yakin menjawab, “Sure, so sure.”

Kyu kembali menatapku.

“Ne, kalau begitu…maukah kau kembali menjadi yeoja chinguku?”

Aku seakan tak percaya mendengar pertanyaan Kyu barusan.

“With pleasure.” jawabku tersenyum lega.

Tak ada respon yang keluar dari mulut Kyu. Dia langsung memelukku!
“Gomawo, Ara-ya., gomawo!” ujarnya excited di tengah-tengah pelukannya, “Apa kau masih ingat arti hana?” tiba-tiba dia bertanya sambil melepas pelukannya.

“Ne, tentu saja. Hana artinya bunga kan?”

“Ani.” dia menggeleng sambil tersenyum, senyum yang sudah lama tidak kulihat selama satu tahun ini.

“Tapi waktu itu kan…” belum selesai aku berbicara, dia meletakkan jarinya di bibirku.

“Hana yang kumaksud kali ini bukan hana dalam bahasa Jepang.”

“Lalu?”

“Kali ini hana yang kumaksud adalah hana dalam bahasa kita.”

Kini aku tidak bertanya lagi. Aku hanya menatapnya dalam-dalam, menunggu lanjutan kalimatnya.

“Hana yang kumaksud kali ini artinya satu. Dulu aku melihatmu sebagai bunga, tapi kali ini, selama satu setengah tahun mengenalmu, pandanganku berubah. Kini bagiku kau lebih dari sekedar bunga. Kini bagiku kau adalah satu, hanya satu, tidak terganti. Kau hanya satu-satunya yeoja yang ada di hatiku, selain eommaku maksudnya hehehe.”

Tanpa direncanakan, air mataku sudah ada di sudut mata dan siap keluar dari pelupuk mataku. Aku sangat bahagia sekaligus lega mendengar kata-kata Kyu barusan. Aku saaaaaangat lega. Kini tidak ada beban lagi di hatiku. Semuanya sudah selesai dan berakhir dengan ending yang baik. Terima kasih, Tuhan, Kau sudah mengabulkan salah satu permohonan terbesarku. Kini aku akan lebih semangat lagi menjalani hidup. Sekali lagi, terima kasih, Tuhan.

Tanpa respon dengan kata-kata, aku langsung memeluk Kyu erat, “Saranghae, Kyu, saranghae, neodo nae hana.”

 

(Ending Theme : SHINee – Hana)

2 thoughts on “Hana – Part 3 end (Super Junior Kyuhyun version)

  1. Ryeogie says:

    . . mauu d0ngg. . pcr kyk gtu. . perhatian bgt. .so sweet. . udah 2x bca ff nie. .gx bosen. .bkn ng-fly za breng kyuppa. .

  2. baca juga yang lain git
    bentar lagi aku post yang namsan tower wooki version >w<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s