Happy New Year, Happy New Love

Author     : Puput

Judul        : Happy New Year, Happy New Love

Kategori   : Romance

Rating       : Teens

Main cast : – B1A4 Jinyoung as Jung Jinyoung

– Jung Ji Yeon as You

Other cast : – Miss A Suzy as Bae Suzy

–         2PM Taechyeon as Taechyeon

Annyeong readerdeul ^^

Sebenernya ini fanfic spesial tahun baru. Berhubung saya baru bikin WP nya sekarang, jadi ga cuco deh. Tapi ini kan masih termasuk awal tahun, jadi anggap aja masih suasana tahun baru ne? #maksa. Di fanfic ini aku milih other castnya Suzy karena aku suka Suzy. Kenapa ga jadi main cast? Karena aku ga suka bikin ff yang main cast ceweknya artis, jadi ga berasa gue gitu lho kekeke #gaje. Inget Suzy, inget Dream High. Jadi aku milih other cast cowoknya Taechyeon. Kenapa ga Samdong alias Kim So Hyun? Karena saya ga tega kalo yayang (?) saya yang satu itu jadi kambing hitam di sini kekeke. Oke deh happy reading all. Mian atas segala kekurangannya. Jangan lupa RCL ya? Semakin banyak respon dari kalian, semakin semangat authors and admins di sini buat ke depannya. Gomawo ^^

Jinyoung POV

Tahun baru akan segera tiba. Hanya dalam hitungan jam, angka 2011 akan segera digantikan angka 2012. Tahun baru berarti semangat baru, harapan baru.

FLASHBACK

Arrrrgh sial! Lagi-lagi bayangan itu melintas di pikiranku. Dasar Jung Jinyoung pabo! Lupakan yeoja itu! Lupakan!

“Hei.” tiba-tiba ada seseorang yang membuyarkan lamunanku dengan menepuk bahuku dari belakang.

“Ji Yeon?”

“Sedang apa kau di sini? Menunggu seseorang?” tanya yeoja yang merupakan teman sekelasku itu.

“Ani.”

“Oh aku kira kau sedang menunggu yeoja chingumu.”

“Aku sudah tidak punya yeoja chingu.”

“Mwo? Kau putus dengan Suzy?”

Aku mengangguk lemas. Semenjak kejadian kemarin, aku selalu terhenyak setiap ada orang yang menyebut nama itu di depanku.

Flashback in flashback

“Suzy?”

Kulihat seorang yeoja yang sangat aku kenal sedang bersama seorang namja di atas loteng sekolah. Dan apa yang sedang mereka lakukan? Kulihat mereka sedang berciuman di pojok sebelah sana. Tak percaya dengan apa yang kudapati, kukucek-kucek mataku tapi tidak berubah. Ya itu memang benar Suzy! Yeoja chinguku! Dan namjanya? Omooo itu Taechyeon hyung! Sunbaenimku dan Suzy di ekskul musik. Sambil berusaha menenangkan diri, aku mengeluarkan ponselku dari saku dan membidik mereka yang sedang berciuman itu. Aku sedikit menyukai dunia fotografi. Tapi untuk kali ini, gambar yang aku ambil sungguh tidak mengenakkan. Bahkan sungguh menyakitkan. Tapi mau tidak mau harus kuambil, untuk barang bukti.

Sepulang dari sana, aku langsung menuju rumah. Sesampainya di rumah, langsung kurebahkan tubuhku di atas kasur. Kembali tersirat bayangan kejadian tadi.

“Harus kukirim sekarang!”

Aku langsung menekan menu images di fotoku lalu segera menemukan foto terbaru di paling atas, yang tak lain dan tak bukan adalah foto bukti perselingkuhan yeojaku dengan sunbaenim kami itu. Kukirim foto itu ke sebuah kontak bernama My Yeoja dan kuketikkan sebuah pesan singkat untuknya.

To : My Yeoja

Dengan dikirimnya foto ini, aku ingin hubungan kita berakhir. Gomawo atas semuanya, atas waktu yang telah kau habiskan bersamaku selama ini. Gomawo sudah bersedia mengisi hatiku untuk beberapa bulan ini.

 

Apakah terlihat nada marah dengan jelas di pesan singkatku di atas. Tidak kan? Aku memang bukan tipe orang yang pendendam. Sesakit apapun itu, aku akan berusaha untuk tetap tenang dan menjernihkan kepala walaupun dalam hati aku merasa sangat sakit. Tapi waktu tidak dapat diulang kembali. Jadi lebih baik aku berusaha memaafkannya dan segera melupakannya. Kurasa itu lebih baik.

Beberapa menit kemudian, muncullah balasan dari my, eh maksudku mantan yeoja chinguku.

From : My Yeoja

Jadi kau sudah melihatnya secara langsung ya? Aku tau, lama kelamaan kelakuan busukku ini akan terungkap juga. Tapi aku sebenarnya sudah tidak tahan denganmu. Aku sudah sangat jenuh denganmu. Aku jenuh dengan kau yang dingin, tidak romantis. Aku tau kau sangat menyayangiku, tapi aku merasa sudah tidak nyaman denganmu. Aku ingin minta putus, tapi aku tidak tega padamu yang sudah mencintaiku dengan tulus. Jadi aku memilih jalan ini. Mianhae, Jinyong-ah. Mianhae sudah mengkhianatimu, jeongmal mianhae. Tapi aku tau benar kau orang seperti apa. Kuharap setelah ini kita tetap berteman.

 

Cleb! Pesan yang cukup panjang barusan sangat menyakitkan. Tapi mau bagaimana lagi, memang itu kenyataannya. Sudah banyak kabar dari teman-temanku tentang kabar perselingkuhan ini. Banyak teman-temanku yang bilang kalau mereka pernah melihat Suzy dan Taechyeon jalan bersama dan sangat mesra. Tapi aku berusaha positive thinking. Sampai akhirnya aku menyaksikannya sendiri. Itu baru sah, baru aku berani menyimpulkan semuanya.

Flashback in flashback end

“Oh jadi kalian sudah putus? Kalau boleh tau, kenapa?”

Tanpa kusadari, aku menceritakan semuanya pada Ji Yeon. Padahal aku tidak terlalu dekat dengannya, hanya sebatas teman sekelas. Entah apa yang membuatku mau menceritakan semuanya pada Ji Yeon. Mungkin karena aku sedang butuh banyak orang untuk berbagi.

“Oh begitu ya. Aku juga baru mengalami hal yang hampir sama. Aku melihat namja chinguku selingkuh seminggu yang lalu.”

“Hmm begitu ya. kalau begitu kita senasib ya. Tapi mau bagaimana lagi, memang sudah begitu kenyataannya. Lebih baik kita lupakan saja semuanya, daripada berlarut-larut begini.”

“Benar. Semangat!”

Dia berusaha tersenyum sesemangat mungkin walaupun terlihat sedikit terpaksa. Tapi memang harus begitu. Jika kita menginginkan suatu perubahan, kita harus memulainya dari diri sendiri.

Sejak hari itu, kami jadi semakin dekat. Kami jadi sering mengobrol, pulang bareng, bahkan jalan bersama. Semakin hari, aku semakin nyaman bersamanya. Terlebih karena kami memiliki kesamaan. Kami memiliki hobi yang berkesinambungan. Aku suka bermain gitar dan Ji Yeon suka bernyanyi. Selain itu, kami juga baru sadar kalau kami satu ekskul.

Dan malam ini, tepatnya di hari natal, aku mengajaknya pergi ke taman bermain. Entah kenapa di natal kali ini aku ingin pergi ke taman bermain dan tidak ingin pergi bersama teman atau keluargaku, tapi bersama Ji Yeon.

“Jinyoung-ah!” kulihat seorang yeoja bermantel merah dengan tas selempang berlari ke arahku sambil melambai-lambaikan tangannya. Rambut coklatnya yang panjang dan terurai bebas terlihat bergerak-gerak mengiringi gerak tubuhnya.

“Ji Yeon.”

“Mi…hah…hah…mianhae…hah hah, aku hah datang terlambat.” ujarnya setelah sampai di hadapanku sambil membungkuk dengan posisi tangan di lututnya sambil mengatur nafas.

“Gwaenchana, Ji Yeon-ah. Aku juga baru sampai lima menit yang lalu kok.”

“Omo lima menit? Aigoo mianhae, tadi aku terjebak macet.”

“Ne, gwaenchana, Ji Yeon-ah. Ayo kita masuk.”

“Ayo!” jawabnya dengan sangat semangat.

Kami pun segera memasuki gerbang taman bermain ini. Begitu kami masuk, kami langsung disambut dengan berbagai macam wahana dan suara bising di sana, termasuk teriakan orang-orang. Tapi justru itulah sensasinya.

“Huwaaa kita naik kuda putar dulu yuk?”

“Hmm sepertinya bagus juga.” Timpalku.

Kamipun segera mengantri di barisan wahana itu. Huh panjang sekali antriannya! Kalau dihitung-hitung, mungkin kami ada di barisan ketiga puluh! Orang-orang terlihat semakin tidak sabar. Tiba-tiba ada yang menerobos dengan kencang dari belakang dan menyenggol Ji Yeon.

“Awas!”

Dug! Orang itu menyenggol Ji Yeon dan Ji Yeon kehilangan keseimbangannya. Greb (ditangkep maksudnya). Tanganku segera meraih Ji Yeon yang hampir jatuh dan dengan spontan langsung kutarik dia ke dalam dekapanku. Dalam hitungan beberapa detik, kami hanya mematung seperti ini, dalam posisi seperti ini, dalam posisi Ji Yeon tetap di pelukanku. Kepalanya tepat di dadaku dan tanganku memegang kepalanya dari belakang.

“Ah, gomawo, Jinyoung-ah.” Ji Yeon melepaskan badannya dari pelukanku dan segera berbalik ke depan tanpa memandangku.

“Nn…ne.” jawabku singkat.

Omooo kenapa aku jadi berdebar-debar begini? Ya Tuhaaaan, tolong beri tau aku, perasaan apa ini? Mungkinkah ini… Omooooo…

*          *          *

Ji Yeon POV

“Awas!”

Dug! Kurasa seseorang telah menabrakku dan aku langsung kehilangan keseimbangan. Greb (ditangkep maksudnya). Jinyoung meraih tanganku dan langsung menarikku ke dalam dekapannya. Dalam hitungan beberapa detik, kami hanya mematung seperti ini, dalam posisi seperti ini, dalam posisi aku masih tetap di pelukan Jinyoung. Kepalaku tepat di depan dadanya dan kurasa tangannya memegang kepalaku dari belakang.

“Ah, gomawo, Jinyoung-ah.” aku mulai tersadar dari lamunanku dan melepaskan badanku dari pelukannya. Aku segera berbalik ke depan tanpa memandangnya.

“Nn…ne.” jawabnya singkat.

Omooo kenapa aku jadi berdebar-debar begini. Bahkan menatap matanya untuk sekedar mengucapkan terima kasih saja, aku tak sanggup! Eommaaaa aku ini kenapaaa? *O*

Tidak terasa, dua jam telah berlalu dengan begitu cepat. Rasanya sudah hampir semua wahana favorit kami, kami naiki. Sekarang giliran wahana yang paling ditunggu-tunggu. Bianglala. Wae? Karena dari wahana ini, kita bisa melihat pemandangan malam kota Seoul dengan begitu jelas. Apalagi letak taman bermain ini tepat di pusat kota.

“Ah antriannya panjang juga, sama seperti wahana lain.”

“Iya. Semoga di wahana yang paling kita tungg-tunggu ini tidak ada insiden seperti di awal tadi ya.”

“Insiden?”

“Itu, yang tadi menyerobot.”

Pessss mendadak wajahku terasa panas. Kurasa pipiku mulai memerah. Omooo untung malam-malam. Semoga tidak terlihat oleh Jinyoung!

Setelah mengantri sekitar lima belas menit, akhirnya datang juga giliran kami untuk naik wahana ini.Syukurlaaaah kakiku sudah sangat pegal! Kamipun segera memasuki wahan itu. Aku duduk duluan dan Jinyoung…dia malah duduk di sebelahku! Memang sih tidak terlalu dekat, tapi aku kira dia akan duduk di sebrangku! Omooo Jinyouuuung kau tidak tau sih sudah seberapa cepatkah jantungku berdetak saat ini!

“Lihat, itu sekolah kita!”

“Ah ne~ itu sekolah kita! Terlihat sangat kecil ya dari sini!”

“Iya!”

Gebrug! Tiba-tiba saja bianglala ini sedikit oleng dan bergoyang (kaya dangdutan -_-). Deg! Ya Tuhan!

Author POV

Cup~ Karena goyangan (?) bianglala tadi, bibir Jinyoung tidak sengaja mendarat di pipi putih Ji Yeon. Jinyoung sangat kaget dan segera melepaskan bibirnya.

“Ah mianhae! Jeongmal mianhae, Ji Yeon-ah! Jeongmal mianhae! Aku sungguh-sungguh tidak bermaksud…”

Belum selesai Jinyoung berkata, Ji Yeon sudah memotongnya, “Nn…ne…gwaenchana, Jinyoung-ah, gwaenchana yo. Aku tau kau tidak bermaksud apa-apa. Itu gara-gara bianglalanya hahaha.” Ji Yeon berusaha tertawa untuk mencairkan suasana.

“Nn…ne…haha.” Jinyoung berusaha mengimbangi.

Tapi suasana tidak bisa mencair semudah itu. Setelah kejadian itu, mereka hanya diam. Tidak ada seorang pun yang memulai untuk  berbicara. Dan itu terus berlanjut sampai wahananya berhenti.

“Setelah ini mau ke mana lagi?” Jinyoung membuka permbicaraan.

“Hmm…kita pulang saja. Sudah hampir jam sebelas malam.”

“Oh ne. Rumahmu di mana? Biar aku antar.”

*          *          *

Jinyoung POV

“Setelah ini mau ke mana lagi?” aku mulai membuka permbicaraan setelah dari tadi kami hanya berdiam diri.

“Hmm…kita pulang saja. Sudah hampir jam sebelas malam.”

“Oh ne. Rumahmu di mana? Biar aku antar.”

Aku pun pergi mengantarnya sampai ke rumahnya. Ternyata rumahnya berlawanan arah denganku, tapi tidak terlalu jauh dari sini. Cukup dengan sekali naik bis dan hanya menghabiskan waktu sepuluh menit.

“Gomawo, Jinyoung-ah atas hari ini. Gomawo juga sudah mengantarku pulang.” ujarnya sambil membungkukkan badan di depan pagar rumahnya.

“Ne, cheonma. Gomawo juga sudah menemaniku hari ini. Annyeong.”

Sekilas dia tersenyum padaku lalu berbalik dan masuk ke rumahnya.

Deg deg deg. Jantungku berdegup kencang lagi! Dan wajah Ji Yeon, wajah Ji Yeon…ah wajahnya tidak mau pergi dari ingatanku! Dan…ah! Aku teringat dua peristiwa tadi! Aku masih bisa merasakan kehangatannya di pelukanku dan aku merasa damai saat itu. Sungguh nyaman. Dan yang paling membuatku berdebar-debar adalah…kejadian di bianglala tadi! Omooooo Ya Tuhan, ada apa denganku? Apa aku…jatuh cinta pada Ji Yeon? Menyebut namanya dalam hati membuatku teringat lagi padanya. Membuat pikiranku penuh lagi oleh gambaran tentangnya dan saat-saat bersamanya. Ya, benar. Aku…

“AKU SEDANG JATUH CINTAAAAAAA!”

Duk!

“Aw!” kurasa ada sesuatu menimpa kepalaku, “Omooooo ini kan sandeul, eh sendal!”

“Hei anak muda! Kau tidak punya jam ya? Kau tidak sadar ini jam berapa?” tiba-tiba kudengar seorang ibu berteriak dari arah kiriku namun terdengar jauh.

“Ah, jwongsahamnida, Ahjumma.” ujarku sambil membungkukkan badan berkali-kali.

Ahjumma yang terlihat dari jauh sedang memakai rol itu kemudian meninggalkan balkonnya dan terlihat kembali masuk ke kamarnya. Karena aku baik, aku masukkan sendal jepit tadi ke dalam halaman rumah itu. #Jinyoung gaje

“Wah ternyata tadi aku tidak sengaja berteriak sekencang itu. Omona~”

Tapi apa Ji Yeon juga menyukaiku ya? Hmm aku tidak yakin. Tapi tidak mungkin aku terus-terusan memendam perasaanku seperti ini. Aku harus mengungkapkannya. Ya aku harus mengungkapkannya! Tapi kapan? Aha! Ini kan hari natal, berarti seminggu lagi tahun baru. Yup! Itu akan jadi moment yang tepat!

FLASHBACK END

Malam ini, di malam tahun baru yang cerah ini, aku yang biasanya merayakan tahun baru bersama CNU, Gongchan, Sandeul, dan Baro, kini memilih untuk merayakan tahun baru di tempat berbeda. Mereka sudah tau aku akan merayakan tahun baru di mana dan dengan siapa (dengan siapa, semalam berbuat apa #kangen band lewat -.-). Aku sudah menceritakan semuanya pada sahabat-sahabatku itu. Dan mereka sangat senang mendengarnya. Mereka sangat senang mendengarku sudah melupakan Suzy dan menyukai yeoja yang baik.

Malam hari ini aku kembali mengajak Ji Yeon ke taman bermain. Di sini, di taman bermain ini, aku akan menyatakan perasaanku padanya. Tidak peduli dia membalas perasaanku atau tidak, yang penting aku sudah menyatakannya. Lalu kenapa harus di taman bermain? Tidak di sebuah cafe atau sebuah taman kota? Ini karena aku mulai menyadari perasaanku sepulang dari taman bermain ini. Ada dua kejadian yang membuatku berdebar-debar senang dan akhirnya menyadarkanku. Jadi tempat ini menjadi tempat yang cukup penting bagiku dalam menyatakan perasaanku ini. Dan adakah yang tau aku akan menyatakan perasaanku tepatnya di mana? Ne, bianglala. Menurutku itu wahana teromantis di seluruh taman bermain. Di situ kau bisa melihat pemandangan kota yang begitu indah dari atas dan kau bisa merasakan ketenangan hanya berdua dengan orang yang kau suka di sana. Dari film? Ne, aku mendapatkan pemikiran seperti itu awalnya dari film. Tapi kemudian aku mengalaminya sendiri. Dulu dengan Suzy, dan seminggu yang lalu dengan Ji Yeon yang semoga akan jadi yeoja chinguku malam ini.

“Sepertinya kau kedinginan sekali malam ini?”

“Ah?” dia menghentikan kegiatan menggosok-gosok tangannya, “Ani, Jinyoung-ah.” jawabnya sambil tersenyum.

“Kau ini.” aku melepas mantelku dan menyampirkannya ke tubuhnya.

“Jinyoung?”

“Ne?”

Dia melepaskan mantel itu dari tubuhnya, “Ani, Jinyoung-ah. Kau pasti kedinginan tanpa mantel ini.”

“Haha ani. Aku masih memakai jaket lagi kok di dalamnya. Lagipula aku ini kan laki-laki, jadi lebih kuat. Ya walaupun kurus begini juga sebenarnya aku tahan dingin hehe.”

“Jinjja?”

“Ne, my prin…eh my friend hehehe.”

Huwaaaa hampir saja aku keceplosan menyebutnya my princess!

“Gomawo.” ujarnya sambil memakai mantelku.

“Ne, cheonma.”

Seperti biasa, kami bermain-main di wahana lain dulu. Terakhir, barulah kami mengantri di bianglala. Karena ini tahun baru, antrian lebih panjang dari biasanya. Ya tidak jauh seperti saat natal lah. Mayoritas yang mengantri di sini adalah pasangan namja dan yeoja yang kemungkinan adalah kekasih atau yang sedang pedekate sepertiku ini. Hmm ternyata ide romantisku pasaran. Sudah tentu. Tapi yang terpenting bukanlah pasaran atau tidaknya, tapi berkesan atau tidaknya.

“Silahkan.” ujarku mempersilahkan Ji Yeon saat giliran kami tiba.

Ji Yeon duduk duluan dan aku mengikutinya. Aku duduk di sampingnya, persis seperti waktu itu. Beberapa detik setelah bianglalanya berputar, aku mulai melancarkan aksiku.

“Ji Yeon-ah.”

“Ne?” jawabnya yang kini memalingkan wajahnya padaku setelah dari tadi sempat memandang ke luar jendela, menikmati pemandangan malam kota Seoul.

Dengan gemeteran dan hati-hati, aku memegan tangan Ji Yeon dan mulai menyatakan perasaanku, “Ji Yeon-ah.”

Dia tidak menjawab. Dia hanya diam terpaku menatap mataku dengan tatapan terkejut.

“ji Yeon-ah…chowae yo. Maukah kau menjadi yeoja chinguku?”

Matanya terlihat lebih membelalak dari sebelumnya. Aku diam dengan posisi masih seperti ini, masih menggenggam tangan Ji Yeon. Aku menunggu jawabannya.

“Na…na…”

Ya Ji Yeon-ah, apapun yang kau rasakan katakan saja!

“Na…nado chowae yo…”

“Mm…mwo? ‘Na…nado chowae yo’? Jadi…jadi …kau juga menyukaiku, Ji Yeon-ah?”

“Ne, nado.”

‘Nado’ katanya?

“Jadi…kau mau jadi yeoja chinguku?”

“Nn…ne…aku mau.”

Greb. Kutarik dia yang masih tertunduk, ke dalam pelukanku.

“Saranghae, Ji Yeon-ah. Aku tidak menyangka, ternyata kau juga merasakan hal yang sama denganku. Tadinya aku sudah pasrah saja. Mau kau terima atau tidak yang penting aku sudah menyatakan perasaanku. Tapi syukurlah ternyata kau juga memiliki perasaan yang sama denganku. Aku sangat lega dan bahagia.”

“Aku juga sebenarnya ingin menyatakan perasaanku.” timpalnya sambil melepaskan pelukanku, “Tapi aku malu karena aku seorang yeoja.”

“Tidak apa-apa Ji Yeon-ah. Sekarang kau tidak perlu malu lagi mengungkapkan perasaanmu. Sekarang kau sudah menjadi yeoja chinguku. Kapanpun kau ingin mengungkapkan perasaanmu, ungkapkanlah. Kau bebas mengutarakan isi hatimu.”

“Ne, Jagi.”

Jagi? Omoooo dia bisa saja membuat pipiku merah.

“Jagi? Ah, aku jadi malu…Jagi.” aku membalas ucapannya dan berhasil membuat pipinya merah juga seperti pipiku sekarang. Satu sama! Hehehe.

Aku dan dia kini hanya saling menatap. Raut wajahnya yang tenang membuatku nyaman saat menatapnya. Matanya yang sipit dan sayu berhasil membuat pandanganku tak lepas dari pandangannya.

“Saranghae, Jagi.”

Aku mulai mendekatkan wajahku padanya. Perlahan tapi pasti, menunggu respon darinya. Aku takut dia tidak suka dengan ini. Tapi rupanya dia memberiku izin dengan isyarat. Ia mulai menutup matanya saat wajahku semakin dekat dengan wajahnya. Lalu…

DUAR! DUAR! DUAR! (suara kembang api ceritanya)

Belum sampai dua detik kami berciuman, kembang api sudah memecah konsentrasi kami dan membuat kami yang sedang menutup mata jadi membelalakkan mata. Aku dan Ji Yeon saling berpandangan.

“Hahahahaha.” kami tertawa bersama. Memang tidak ada yang lucu saat itu. Tapi ini tawa kebahagiaan kami.

Kulihat di luar ada kembang api warna-warni bertuliskan Happy New Year disusul dengan gambar trompet dan topi pesta. Sungguh meriah suasana malam ini. Pemandangan kota Seoul di luar sana makin indah saja dengan hiasan kembang api di atasnya. Sungguh, ini salah satu tahun baru terindah dalam hidupku. Aku bersyukur bisa mengenal Ji Yeon lebih dekat dalam hidupku. Semoga ini bisa lebih baik ke depannya.

Walaupun kami pernah mengalami masa lalu yang kurang mengenakkan dalam masalah cinta, tapi bukan berarti itu akhir dari segalanya. Life must go on. Semoga awal yang baik ini merupakan pertanda yang baik juga untuk setahun ke depan. Happy new year, happy new love…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s