My Invisible Guardian Angel – Part 2

Author     : Puput

Judul        : My Invisible Guardian Angel – Part 2

Kategori   : Romance, friendship

Rating      : Teens

Main cast : – Jung Ji Yeon as You

– B1A4 Gongchan as Gong Chan Shik

– B1A4 Jinyoung as Jung Jin Young

Other cast : – Super Junior Leeteuk as Park Jung Soo/Leeteuk/Teuki

–  Jang Min Ha

–  B1A4 Sandeul as Sandeul

–  B1A4 CNU as CNU

–  B1A4 Baro as Baro

Ini dia part 2 nyaaaa, membaca chukae gozaimasu yaaa kekeke. Mian atas segala kekurangannya seperti typo atau jalan cerita kurang menarik atau terlalu bertele-teke. Gomawo buat yang udah baca part 1 nya, apalagi yang udah komen and like hehe. Gomawo juga buat yang udah nunggu lanjutannya. Support dari kalian dalam berbagai bentuk, membuat author semakin bersemangat buat nerusin ff nya 😀 Tapi tetap, jangan lupa komen and likenya readers tersayang. Maaciiiih:*

Author POV

Gongchan hanya diam terpaku  tidak sanggup menjawab pertanyaan Ji Yeon. Untung di tengah perjalanan, Ji Yeon melihat sesuatu yang menarik baginya.

“Wah lucu sekali boneka ini.” ujar Ji Yeon.

Gongchan memperhatikan boneka kucing yang cukup besar itu dalam-dalam, seakan  ingin ikut memegangnya dan mengatakan sesuatu.

“Lucu sekali ya boneka kucingnya? Oh~ so cute. Berapa ya harganya?” Ji yeon mencari-cari label harga boneka itu, “Omo! 30 ribu won? Mahal sekali untuk ukuran sebuah boneka!”

Ji Yeon memang anak dari keluarga yang cukup kaya, tapi dia bukan tipe pemboros. Dia sangat cermat dalam memilih barang, dia tidak akan mengeluarkan uang terlalu banyak untuk hal-hal yang ia anggap boros.

“Noona suka? Kalau begitu yang itu saja.”

“Mwo? Memangnya yeojamu itu suka kucing  juga ya?”

Mata Gongchan terlihat sedikit membelalak.

“Ah, ani. Maksudku, kalau Noona suka ya beli saja.” jawab Gongchan sekenanya.

“Ya, Gongchan, seberapa dekatkah kau mengenalku? Bukannya kau sudah tau ya kalau aku ini bukan orang yang suka dengan pemborosan?”

Gongchan kembali terbelalak.

“Oh dongsaeng kecilku…ternyata sekarang kau sudah dewasa ya? Kau sudah mulai lupa dengan Noonamu yang sudah renta ini ya? Saking cintanya kau dengan yeoja itu, kau sampai lupa akan sifat Noonamu ini. How rude.” ujar Ji Yeon  sambil cemberut.

“Ah ani, Noona, aku hanya sedang banyak pikiran saja. Aku tidak akan pernah melupakanmu, Noona.”

Ji Yeon terperanjat dengan kata-kata Gongchan barusan. Mungkin dia baru sadar dengan sikap Gongchan. Seakan bisa bertelepati dengan Ji Yeon, Gongchan tau apa yang dipikirkan oleh Ji Yeon.

“Ma…maksudku…aku tidak akan pernah meninggalkan Noonaku. Kita kan saling membutuhkan. Aku butuh seorang kakak dan Noona butuh seorang dongsaeng. Iya kan hahaha?” ujar Gongchan sambil tertawa kaku berusaha mencairkan keadaan.

“Ah iya, benar sekali! Hahaha.” timpal Ji Yeon dengan polosnya (bisa berubah pikiran begitu cepat, dasar orang aneh -____-)

Langit semakin gelap, jam sudah menunjukkan pukul 05.55 P.M.  Waktu begitu cepat berlalu. Padahal tadi Ji Yeon dan Gongchan hanya berputar-putar dan  makan saja.

“Aduh aku belum mau pulang, aku ingin bertemu Jinyoung oppa. Tapi kakiku sudah pegal.”

“Minta bertemu di basecamp saja, Noona.” usul Gongchan.

“Hmm…ide yang bagus! Ya sudah aku sms dia ya.” belum sempat mengetik sms, Ji Yeon malah terdiam.

“Wae yo?”

“Kita main dulu ke taman bermain yuk? Dari sini kan lumayan dekat”

“Katanya Noona capek” wajah Gongchan terlihat khawatir.

“Tapi rasanya aku masih ingin bermain Gongchannie.” timpal Ji Yeon dengan manjanya.

“Kenapa tidak ajak Jinyoung hyung saja?”

“Kalau bersama dia aku ingin malam minggu saja hihi. Kalau malam biasa, aku ingin bermain bersama dongsaengku saja.”

Mendengar kata-kata Ji Yeon dengan senyum manisnya yang tulus, Gongchan langsung terpaku (lagi).

“Ah…kau ini masih muda tapi kebanyakan melamun. Sudah ah jangan melamun terus nanti kesambet Ms. S (baca : Sadako)!” sambung Ji Yeon lagi sambil menarik lengan namja manis yang sudah dianggap sebagai dongsaengnya itu.

Gongchan POV

Sumpah, jika diukur keringatku ini sepertinya sudah mencapai ukuran m3. Kata-kata Ji Yeon noona tadi banyak yang membuatku deg-degan. Apalagi ekspresinya tadi saat aku mengatakan bahwa aku tidak akan pernah meninggalkannya. Dia terlihat cukup tegang, aku kira dia curiga kepadaku. Tapi saking polosnya dia, saat aku berusaha menjelaskan lagi, ekspresi wajahnya berubah seketika, ceria kembali. Hah dasar Ji Yeon noona, umurmu saja yang dewasa, tapi untuk masalah sifat dan pikiran, aku yang lebih dewasa -__-. Untung kau cantik.

(Backsong : SHINee – Noona Neomu Yeppeo)

“Gongchannie~ ayo main ini!”

“Ah ne!” ujarku dari jauh.

Ji Yeon noona memang seperti anak kelinci, tidak pernah mau diam. Begitu masuk taman bermain, dia langsung berhamburan tak karuan. Dan kini yang membuatku tercengang adalah dia mengajakku naik wahana gajah-gajahan terbang. Oh, Noona, how childish you are. But… it’s fine J.

“KYAAAAAA!”

Semua orang di wahana ini tampak memandangi kami. Bagaimana tidak? Dari sekitar sepuluh orang yang naik wahana ini, hanya Ji Yeon noona saja yang berteriak histeris layaknya naik Jet Coaster. Entah karena takut entah karena terlalu senang. Tapi… J

“Kita naik Jet Coaster yuk?”

“Ah ani, aku takut Gongchan. Naik gajah terbang saja, aku sudah berteriak sehisteris itu.”

Ya Tuhan, tadi dia memang berteriak karena takut -___-

“Ke rumah boneka saja, yuk?”

Aku hanya mengangguk tanda setuju. Bagiku taman bermain itu sangat menyenangkan, jadi tidak peduli ke wahana apapun, aku senang. Apalagi bersama dengan orang yang menyenangkan…

“Eh? Kalau tidak salah rumah boneka di sini kan? Kenapa jadi rumah hantu?” Ji Yeon noona menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Hmm…aku juga lupa, Noona. Sudah berapa bulan ya aku tidak ke sini gara-gara sibuk memikirkan ujian sekolah dan ujian masuk universitas?”

“Coba yuk?”

“Maksudnya, ini?” tunjukku heran pada wahana rumah hantu itu, aku tau benar kalau Ji Yeon noona orangnya sangat penakut sekali.

Un.” jawabnya mantap, “Aku selalu ingin mencoba ke sini tapi teman-temanku, sampai Jinyoung oppa pun pasti melarangku ke sini.”

“Tentu saja, Noona. Semua orang tau kalau kau ini SANGAT penakut!”

“Tapi aku penasaran, Gongchannie.” tatapannya sangat memelas, “Onegai (kumohon – dalam bahasa Jepang)”

Aku mengerti betul apa arti dari perkataannya. Bukan hanya karena ekspresinya, tapi karena aku mengerti kata terakhirnya itu. Maklum, aku juga pecinta Jepang!

Maji de? (serius? – dalam bahasa Jepang)” tanyaku lagi untuk meyakinkan. Aku tau benar kenapa Jinyoung hyung dan teman-temannya Ji Yeon noona tidak mengizinkannya untuk masuk wahana itu. Mereka takut Ji Yeon noona pingsan tak jelas karena ketakutan.

Un!

Wajah yakinnya melunturkan ketakutanku. Aku juga takut dia pingsan, tapi…

“Ya sudah.”ujarku berat sambil menghela nafas.

Akhirnya kami masuk wahana itu. Belum apa-apa, Ji Yeon noona sudah mencengkeram erat tanganku. Walaupun aku tidak bisa melihat wajahnya karena gelap, tapi aku bisa membayangkan dengan pasti bagaimana ekspresi wajahnya sekarang. Aku pernah melihat ekspresi ketakutannya saat menonton film The Ring 1 versi Jepang, dan aku masih ingat ekspresi itu sampai sekarang, tentu saja.

“KYAAAAA!”

Tiba-tiba terasa sebuah pelukan yang sangat erat di tubuhku dibarengi teriakan histeris. Dan aku tahu pasti, tentu saja itu adalah Ji Yeon noona. DEG!

*          *          *

Author POV

“Hiks…hiks…”

“Sudah kubilang kan, Noona, aku tidak yakin kau mau memasuki wahana itu.”

“Ne Gongchan. Hiks…hiks…tapi tadi aku penasaran sekali hiks.”

“Ya sudah ya sudah. Uljima, Noona.”

Gongchan berusaha menenangkan Ji Yeon layaknya seorang namja yang menenangkan kekasihnya. Orang-orang yang lewat saat itu mungkin mengira mereka adalah pasangan kekasih. Lagipula Gongchan sangat tinggi, sedangkan Ji Yeon cukup imut. Orang yang tidak tau mungkin akan mengira kalau Gongchanlah yang lebih tua dari Ji Yeon. Selain itu walaupun imut, tampangnya lebih dewasa dari Ji Yeon. Apalagi saat itu, dia terlihat sangat dewasa, terlihat lebih dewasa dari umur sebenarnya.

“Setelah ini kau ingin bertemu dengan Jinyoung oppa kan?”

“Ne.” ucapnya masih terisak.

“Ya sudah kalau begitu kita pergi sekarang saja.” usul Gongchan sambil menyodorkan saputangan putih bergambar kelinci.

Ji Yeon menatap gambar itu dalam-dalam. Seperti mengingat-ingat sesuatu.

“Sepertinya aku pernah punya kenangan dengan gambar kelinci seperti ini. Oh iya gambar kelincinya sama dengan gantungan ponsel yang kita cari waktu itu ya?” ujarnya sambil mengernyitkan dahi.

“Iya, memang sama. Aku sengaja mencari yang sama untuk mengenang teman kecilku. Saputangan ini saputanganku dari kecil. Ini hadiah dari nenekku yang sudah meninggal. Dia memberikan ini karena sejak kecil aku sangat suka dengan gambar kelinci.”

“Emm…jadi kau sudah menyukai gambar kelinci sejak kecil ya? Pantas waktu itu kau keukeuh sekali mencari gantungan ponselmu. Tapi kenapa kau tidak pernah cerita dan kau tidak pernah membawa sesuatu bergambar kelinci selain gantungan ponselmu itu?”

“Haha, Noona ini. Aku ini seorang namja. Apa yang akan orang-orang pikirkan jika melihat seorang namja yang sudah besar sepertiku membawa barang imut-imut bergambar kelinci? Lagipula gambar kelinci mengingatkanku pada seseorang. Tapi aku tidak suka kelinci karena pernah digigit kelinci saat menjadi petugas piket binatang peliharaan waktu SD dulu”

“Ne? Kau punya kenangan masa kecil yang berhubungan dengan gambar kelinci? Aku juga. Dulu aku punya teman kecil yang sukaaaa sekali dengan kelinci.”

Mereka termenung mengenang masa kecil mereka masing-masing.

“Wah sudah jam segini.” ujar Ji Yeon sambil melihat jam di iPhonenya yang sudah menunjukkan pukul 08.27 P.M.

“Ah kalau begitu ayo kita pergi sekarang. Tapi apakah Noona sudah janjian dengan Jinyoung hyung?”

“Belum, aku coba telepon ya.”

Dua kali Ji Yeon menelepon, tapi tidak ada jawaban dari Jinyoung.

“Tidak diangkat. Aku sms saja. Ayo, sambil jalan saja.”

Mereka segera bergegas keluar dari taman bermain dan naik bis menuju basecamp B1A4 yang memakan waktu kurang lebih 20 menit dari sana.

“Masih tidak ada jawaban juga?”

“Iya. Tapi biasanya dia stand by dengan ponselnya. Mungkin sebentar lagi dia akan membalas. Ya itung-itung sekalian lewat sajalah, kan rumahku ke arah sini juga.”

Mereka pun turun dari bis.

“Eh, kau turun di sini juga? Bukannya rumahmu masih lumayan jauh?”

“Aku ingin mengambil bukuku yang ketinggalan kemarin saat latihan. Ya sekalian mengantar Noona juga. Bahaya kan seorang yeoja berjalan sendirian malam-malam begini.”

“Oh ya sudah.”

“Tapi nanti Noona saja yang duluan masuk. Aku menyusul sekitar 20 menit kemudian. Takutnya Jinyoung hyung sudah sampai duluan. Nanti dia marah lagi sama kita.”

“Oh iya juga. Jadi setelah ini kau mau ke mana dulu?”

“Setelah memastikan Noona  masuk ke basecamp dan melihat ada Jinyoung oppa atau tidak, aku mau ke Sungai Han dulu.”

“Hmm..Baiklah.”

Mereka berjalan bersama tanpa bicara. Ji Yeon terlihat menunggu balasan sms dari pacarnya. Sedangkan Gongchan terlihat sedang memikirkan sesuatu dan terlihat senang.

“Oh iya, aku beli makanan dulu ya untuk kita bertiga nanti. Jadi kau saja yang masuk duluan. Nanti sms kalau sudah ada Jinyoung oppa. Aku akan menunggu di mini market selama 15 menit.”

“Jadi Noona pergi sendiri?”

“Kan mini marketnya persis di sebelah basecamp kita Gongchannie, jadi tidak masalah kalau aku jalan sendiri.”

“Hmm…ne.”

“Ya sudah, aku ke sana dulu, ya. Bye.”

“Hati-hati, Noona.”

Un.

Walaupun jarak dari mini market ke basecamp B1A4 sangat dekat, tetap saja Gongchan merasa khawatir.

“Eh, tidak dikunci. Sepertinya ada orang. Jangan-jangan Jinyoung hyung sudah datang.” gumamnya. Dia lansung melihat ke arah tempat parkir basecampnya, di sana memang ada motor Jinyoung.

Saat dia membuka pintu, benar saja memang ada orang. Dan memang benar itu adalah Jinyoung. Tapi…

BUK!

“Ya! Apa yang kau lakukan!!!”

“Apa yang aku lakukan?” suara Gongchan terdengar sangat pelan, “HARUSNYA AKU YANG BERTANYA SEPERTI ITU PADAMU!”

*          *          *

 “Ah tapi 15 menit terlalu lama. Apa yang harus kulakukan di sini selama itu? Ya sudah aku ke basecamp sekarang saja. Lagipula Gongchan tidak memberi kabar, mungkin Jinyoung oppa belum sampai.”

Ji Yeon segera melesat menuju basecamp.

“Eh ada motornya Jinyoung oppa. Sudah sampai rupanya.”

Dia tambah semangat.

“An…”

Tapi apa yang didapatinya di basecamp membuatnya sangat shock. Dia melihat dua orang namja yang dikenalnya sedang bersitegang. Dilihatnya Gongchan sedang mencengkeram kerah Jinyoung. Sedangkan Jinyoung berada di posisi yang sulit, Gongchan mendorongnya ke dinding. Namun Jinyoung tidak diam begitu saja, dia balas memukul Gongchan sampai Gongchan tersungkur di lantai. Melihat kondisi yang sangat mengejutkan itu, Ji Yeon tidak sengaja menjatuhkan barang belanjaannya. Dia langsung berlari menuju Gongchan yang masih tersungkur dan masih memegangi bibirnya yang berdarah karena pukulan Jinyoung barusan.

“Ya! Jung Jinyoung , Gongchan Shik! Apa yang kalian lakukan!!!”

Tidak ada yang menjawab. Tidak ada suara yang keluar sedikit pun dari mereka. Suasana hening sejenak. Tiba-tiba Gongchan berdiri dan menarik tangan Ji Yeon yang sedang berlutut di dekatnya.

*          *          *

Gongchan POV

Kutarik tangan Ji Yeon noona dengan kasarnya. Sungguh selama mengenalnya setahun ini, ini pertama kalinya aku bertindak kasar padanya.

“Ya! Gongchan Shik! Apa yang kaku lakukan!!! Sakit!!!! Lepaskan!!!”

Tidak kupedulikan jeritan Ji Yeon noona yang meringis kesakitan itu. Aku terus menariknya sampai ke Sungai Han. Jaraknya memang sangat dekat dengan basecamp kami. Dan entah apa yang telah membawaku kemari.

“Ya! Gongchan! Apa-apaan ini! Kenapa kau menarik tanganku begitu kasarnya tadi!” bentak Ji Yeon noona tepat di hadapanku setelah aku melepaskan tangannya.

Aku tidak bisa menjawab. Aku masih sangat emosi sekaligus shock. Lebih baik aku duduk dulu untuk menenangkan diri.

“Gongchannie~” panggil Ji Yeon noona dengan lembutnya. Mungkin dia baru sadar tidak ada gunanya berteriak pada orang yang sedang emosi.

“Gongchannie, adikku, tolong jelaskan padaku. Apa yang terjadi di basecamp tadi sampai kau dan Jinyoung oppa bersitegang begitu? Sungguh aku sangat shock. Ini pertama kalinya aku melihat ada kejadian seperti itu di antara kalian. Jangankan berkelahi, berselisih pun tidak pernah kan? Kalian selalu rukun. Tapi kenapa tadi bisa seperti itu?”

Eotteokhae? Apa yang harus kukatakan? Apakah aku harus berterus terang? Tapi kalau aku berterus terang, Ji Yeon noona pasti sakit sekali. Apa lebih baik aku berbohong saja? Tapi kalau aku berbohong, Ji Yeon noona akan lebih sakit lagi. Arrgh!!!! DAMN! Apa yang harus kulakukan? Kenapa juga aku harus menariknya sampai aku hanya berdua dengannya begini? Ini hanya menyulitkanku saja!

“Gongchannie?”

Ah kini dia jongkok tepat di hadapanku dengan wajah khawatir dan memelasnya. Aku semakin tidak tahan!

“Noona…”

“Ne?”

“Sebaiknya kau putuskan Jinyoung hyung sekarang juga.”

Hah apa yang kulakukan? Apa yang kukatakan barusan? Ya Gongchan Shik, neomu paboya!

“Ne? Ma…maksudmu?”

“Ah ani…aku hanya bercanda.” jawabku sambil tersenyum kaku berusaha menutupi keadaan. Terlalu menyakitkan bagiku untuk mengatakan semua ini pada Ji yeon noona. Oh iya aku tahu sekarang. Ternyata orang yang tadi kulihat di mall itu, yang mirip dengan Jiyoung hyung dan Ji Yeon noona, itu memang mereka! Dasar namja dan yeoja brengsek!

“Jangan berbohong, Gongchan! Katakan semuanya padaku!”

Wajah Ji Yeon noona mendadak serius. Ini pertama kalinya aku melihat dia dengan ekpsresi seserius itu. Ah Gongchan Shik! Pabo!

“Ayo katakan sesuatu Gongchan!”

Kini ia menggoncang-goncangkan tubuhku yang masih lunglai. Matanya mulai berkaca-kaca seakan memiliki firasat tentang apa yang terjadi malam ini. Aku tidak suka melihatnya seperti itu!

“Jinyoung hyung berselingkuh dengan Park Ji yeon! Teman sekelasnya!”

Akhirnya kukatakan juga semuanya. Ini rasanya lega namun juga sangat menyesakkan. Ji Yeon noona terlihat kehilangan keseimbangan, dia tidak bisa mempertahankan posisinya.

“Noona, hati-hati!”

“Ah aku tidak apa-apa.” ia terseyum pahit menutupi ketidakpercayaannya itu, “Tapi apa yang kau katakan barusan bohong kan? Kau hanya mengerjaiku kan?”

Sudah kuduga, Noonaku yang cukup cengeng ini akan sangat terpukul saat mengetahui yang sebenarnya. Aku juga masih bingung kenapa bisa-bisanya Jinyoung hyung bermesraan seperti itu di basecamp sementara Ji Yeon noona sudah mengajaknya bertemu di sana. Eh, chamkaman. Jangan-jangan Jinyoung hyung tidak sadar ada sms dari Ji Yeon noona? Tadi saja saat Ji Yeon noona meneleponnya dua kali tidak diangkat-angkat. Mungkin ponselnya sedang disimpan di dalam tas dan dalam modus senyap. Ah mungkin in jalan dari Tuhan untuk menunjukkan sebuah kebenaran. Tapi kenapa harus aku yang menemukannya? Ini terlalu menyakitkan bagiku!

Terlihat titik-titik air mata di sudut matanya yang lumayan besar itu untuk ukuran seorang gadis Korea. Mungkin inilah salah satu daya tariknya hingga aku…

“Gongchannie? Katakan sesuatu!”

Kini air matanya mulai mengalir. Ah aku tak sanggup menatapnya. Aku paling tidak bisa melihatnya menangis. Aku tidak suka melihatnya bersedih apalagi merasa sesakit ini. Aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah menunduk. Kuharap Noona mengerti dengan isyaratku ini.

Sejenak suasana menjadi hening. Nampaknya Ji Yeon noona mengerti dengan isyarat yang kuberikan. Ia mengerti bahwa apa yang kuucapkan barusan bukan main-main. Namun tiba-tiba suara sesenggukan seorang yeoja membuyarkan keheningan ini. Ya, itu Ji Yeon noona.

“Jinyoung oppaaaaaaaaa.”

Suaranya tidak terlalu terdengar jelas karena terhalang oleh paha dan tangannya. Ia menangis sambil menelungkupkan wajahnya ke paha dan menutupinya dengan kedua tangan, layaknya anak kecil yang sedang menangisi kematian kucing kesayangannya.

Kedua tanganku mendekati tubuh mungilnya. Tapi…kutarik kembali. Sebenarnya aku ingin memeluknya, aku ingin dia menangis dengan tenang di pelukanku. Tapi apakah pantas aku memeluk seorang yeoja yang statusnya masih kekasih orang? Aku bukan tipe namja yang dengan leluasa memeluk seorang yeoja. Jujur saja, aku tidak pernah memeluk seorang yeoja selain ibuku sendiri. Apalagi dengan perasaanku saat ini. Rasanya seperti memanfaatkan kesempatan yang tidak baik ini. Ditambah lagi kekasih yeoja ini adalah hyungku sendiri. Memang aku ingin dia putus dengan Jinyoung hyung setelah melihat kejadian tadi. Tapi untuk saat ini,  tetap saja statusnya masih milik Jinyoung hyung.

“Noona…” aku berusaha tersenyum untuk menguatkannya.

Masih dengan wajah sembab dan berlinangan air mata, ia mengangkat wajahnya dan melihat lurus ke arahku yang berada tepat di hadapannya.

“Teriaklah.”

“Mwo?” ia bertanya dengan suaranya yang serak karena tangisan.

“Berteriaklah jika kau merasa sesak. Mungkin itu bisa membuatmu sedikit lebih lega.”

Ji Yeon noona hanya menatapku dengan wajahnya yang menurutku cukup memprihatinkan saat ini.

“AAAAAAAAAAA!” aku berdiri dan berteriak lebih dulu, berharap Noona akan mengikuti apa yang kulakukan barusan, “Wah lumayan manjur juga.” ujarku sambil tersenyum dengan maksud menularkan semangat pada Noonaku yang aku tau sedang betul-betuk terpukul itu.

Ajaib! Dia pun berdiri dan…

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”

Teriakannya lebih nyaring dan lebih panjang dari teriakanku tadi. Tentu saja, karena sakit yang ia rasakan tentu jauh lebih dari yang aku rasakan.

“Ne, betul juga, Gongchannie. Aku sedikit lebih lega sekarang.” ujarnya sambil berusaha tersenyum. Namun itu terlihat sangat kontras dengan kondisi wajahnya sekarang. Senyumnya kini terlihat terpaksa, tidak setulus biasanya, tentu saja.

Dia kembali duduk. Aku ikut duduk di sampingnya.

“Gongchannie, terima kasih sudah berkata jujur padaku. Walaupun aku tidak tau detailnya, ah tidak, lebih tepatnya aku tidak pernah ingin tau detailnya karena pasti hanya akan membuatku lebih sakit dari ini. Ya walaupun begitu aku sudah mengerti permasalahannya. Perkiraanku mungkin tidak terlalu meleset. Karena aku tau benar sifatmu, my dongsaeng. Kau bukan orang yang pemarah dan gegabah. Tidak mungkin kau tiba-tiba memukul Jinyoung oppa tanpa alasan yang jelas dan belum tentu benar. Jadi kita sudahi saja semuanya. Jangan ceritakan tentang apapun yang kau lihat tadi. Meskipun aku sangat betul-betul penasaran, tapi sepertinya lebih baik aku tidak pernah tau. Anggap saja kejadian ini tidak pernah ada. Dan setelah pulang ke rumah, aku akan mengakhiri semuanya lewat sms. Aku tidak sanggup kalau harus bertemu dengannya lagi atau mendengar suaranya. Dan kalau mengatakannya secara langsung, mungkin aku tidak akan sanggup mengatakannya.”

Tangisnya sudah mulai mereda, tapi bisa kulihat keseidhan yang sangat mendalam di wajah Ji Yeon noona. Di awal kalimat, ia bilang tidak mau tau ceritanya, tapi di akhir kalimat, ia bilang sangat penasaran. Kontradiksi memang. Itu karena suasana hatinya yang sangat kacau.

“Boleh aku pinjam bahumu, Gongchannie?”

Pinjam bahu?

“Pasti boleh, ya?” tanpa permisi dariku, dia langsung menyandarkan  kepalanya di bahuku, “Biasanya aku meminjam bahu Jinyoung oppa saat aku merasa sedih. Tapi sekarang aku sedih justru karena dia. Jadi aku pinjam bahumu saja ya, Gongchannie.”

Matanya menatap lurus ke arah sungai. Pandangannya terlihat kosong. Aku tak tega melihatnya.

“Ne, silahkan, Noona.”

Noona, percayalah, walaupun aku bukan kekasihmu, tapi aku akan menjadi guardian angelmu. Menjadi invisible guardian angel pun tak apa. Yang penting aku bisa selalu berada di sampingmu, melindungimu, dan selalu ada saat kau membutuhkanku, kapanpun itu. Anata hitotsu dake dakara (because you’re the only one)

(Backsong : B1A4 – Only One)

Kelopak-kelopak bunga sakura menghiasi keheningan kami di awal musim semi ini. Tiba-tiba terasa getaran kecil di bahuku. Ya, Ji Yeon Noona menangis lagi, masih dengan menyandarkan kepalanya di bahuku. Pasti sangatlah tidak mudah melepaskan cinta pertamanya. Jangankan Ji Yeon noona yang sudah jadian dengan cinta pertamanya., aku saja yang hanya dekat, belum sampai tahap pacaran, tidak bisa melepaskannya, tidak bisa melepaskan cinta pertamaku. Ya, Ji Yeon noona adalah cinta pertamaku. Sejak kejadian itu…

FLASHBACK

“Aduh…dimana ya?” aku mulai cemas.

“Ah sudahlah Gongchan-ah, lebih baik kita cari besok. Tidak akan berhasil mencari malam-malam begini.” ujar Baro hyung dengan wajahnya yang terlihat lelah.

“Emm…aku akan terus mencarinya. Kalau hyung sudah pada cape, pulanglah duluan. Besok kalian harus kuliah kan? Besok aku tidak ada dosen, jadi mencari sampai malam  pun tidak apa-apa. Hyung semuanya pulanglah duluan.”

“Benar kau tidak apa-apa mencari sendirian?”

“Tidak, dia tidak akan sendirian.”

“Ji Yeon-ah, kau akan menemaninya sampai malam? Bukankah besok kau juga ada kuliah?” tanya Sandeul hyung pada Ji Yeon noona.

“Ada, tapi besok aku mau bolos saja, aku sedang malas hehe.”

“Ya! Ji Yeon-ah, kau ini ya!”

“Haha sudah sudah kalian pulang sana! Aku dan Gongchan akan mencari lagi.”

“Ya sudah, hati-hati ya. Gongchan-ah, tolong jaga temanku yang cengeng ini ya! Awas kalau dia sampai kenapa-kenapa, kubunuh kau!”

“Haha iya, hyung. Aku pasti menjaganya. Dia kan manager kita.”

“Baiklah kalau begitu kami duluan, ya. Awas hati-hati, jangan terlalu malam. Kalau tidak ketemu juga, lanjutkan saja besok pagi. Hubungi kami kalau ada apa-apa ya.” Jinyoung hyung sang leader menasehatiku dan Ji Yeon noona panjang lebar.

Un.  aku dan Ji Yeon noona mengangguk serempak.

Aku, Jinyoung hyung, dan Ji Yeon noona baru saling mengenal saat band kami terbentuk. Ji Yeon noona adalah teman kecilnya sandeul hyung. Mereka sudah berteman sejak SD. Mulai dari SD sampai SMA, mereka selalu satu sekolah. Bahkan sekarang pun mereka satu kampus dan satu jurusan pula, hanya berbeda kelas. Mereka sudah seperti saudara. Aku diajak masuk band ini oleh CNU hyung, sang drummer. Dia adalah tetanggaku. Sama sepertiku, ayahnya juga seorang polisi yang juga teman ayahku. Jinyoung hyung, sang leader dan pencetus band ini merupakan teman seangkatannya CNU hyung. Dulunya mereka satu kelas di SMA. Jinyoung hyung bertindak sebagai melodic guitarist. Lalu Sandeul hyung yang merupakan tetangganya Jinyoung hyung, dengan suara emasnya dia berada di posisi vokalis. Baro hyung, teman seangkatannya Sandeul hyung sebagai bassist band kami. Lalu aku sendiri? Aku bertindak sebagai rhythmic guitarist. Sesuai dengan wajahku yang imut tapi tampak tenang ini. Apalagi jika sedang bermain gitar, wajahku (kata teman-temanku, termasuk Ji Yeon noona) terlihat lebih tenang dan berkarisma.

Saat itu band kami sudah terbentuk dua bulan. Begitu pun dengan Jinyoung oppa dan Ji Yeon noona, mereka baru kenal dua bulan. Saat itu, Jinyoung hyung belum melihat Ji Yeon noona sebagai seorang yeoja, dia hanya melihatnya sebagai seorang teman dan manager. Jadi dia langsung pulang saja, tidak menunggu Ji Yeon noona saat itu.

Ketiga  hyungku perlahan meninggalkan kami di lapangan baseball yang cukup luas ini. Memang agak sulit mencari barang sekecil itu di tengah lapangan yang luas ini. Tapi kami terus mencari layaknya petugas SAR yang mencari korban bencana. Aku sudah mulai putus asa. Tapi aku tidak bisa berhenti mencarinya. Gantungan ponsel yang memiliki bentuk sama dengan boneka kesayanganku dulu sudah sangat jarang. Ini juga kutemukan lima tahun yang lalu dengan susah payah.

“AAAAAH!”

“Itu suara Ji Yeon noona! Kenapa dia!”

Namun saat aku berbalik, aku melihatnya mengacungkan sebuah benda kecil berwarna putih yang hampir tidak terlihat dari jarak 3 meter di kegelapan ini.

“Lihat! Aku menemukannya!” teriaknya sambil tersenyum lebar dan mata bulatnya yang terlihat lebih lebar dari biasanya itu.

DEG! Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh di jantungku. Tiba-tiba saja jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya dan terasa sedikit sesak.

‘Hey ini persis seperti kejadian di masa kecilku dulu! Persis di musim panas 13 tahun yang lalu!’ gumamku. Tapi bedanya sekarang aku mengerti arti dari perasaan itu. Ya, ini namanya rasa suka!

FLASHBACK END

Sejak saat itu, aku mulai menyukai Ji Yeon noona. Setiap bertemu dengannya aku jadi berdebar-debar. Tapi sikap ramah dan hangat Ji Yeon noona membuatku bisa tetap mendekatinya walaupun aku menyukainya. Sudah hampir setahun yang lalu. Dan sepertinya aku lebih dulu menyukai Ji Yeon noona. Tapi karena sifatku yang pemalu dan tidak berpengalaman dalam hal cinta inilah yang membuatku didahului oleh Jinyoung oppa. Dia baru menyukai Ji Yeon noona dua bulan kemudian. Berbeda denganku, hanya PDKT kurang dari sebulan saja, dia langsung jadian dengan Ji Yeon noona. Entah dengan cara bagaimana dia mengambil hati dan menembak Ji Yeon noonaku. Yang aku tau pasti dengan cara yang sangat romantis khas playboy andalannya. Saat itu aku sangat khawatir. Aku tau dia seorang playboy. Aku tau hal itu dari CNU hyung saat ia bercanda dengan Jinyoung hyung. Aku khawatir Noona polos yang sangat kucintai itu disakiti oleh seorang playboy seperti Jinyoung hyung. Apalagi Jinyoung hyung adalah teman se-bandku. Pasti tidak akan enak membenci rekan sendiri. Dan akhirnya sekarang ketakutanku menjadi kenyataan setelah sejak empat bulan yang lalu merasa lega karena mereka bisa bertahan sampai dua bulan. Ini merupakan sebuah rekor bagi seorang Jung Jinyoung.

Jika aku seorang namja brengsek, mungkin aku akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menjatuhkan Ji Yeon noona ke pelukanku. Tapi aku bukan namja seperti itu. Aku ingin menjadi seorang namja sejati yang berjiwa ksatria. Cukup dengan berada di sampingnya saja saat ini, bagiku itu sudah cukup. Untuk urusan Ji Yeon noona suka padaku atau tidak, itu persoalan lain. Biarkan semuanya berjalan natural saja, biar Ji Yeon noona yang menentukan semuanya.

“Sudah puas menangisnya?” tanyaku tiba-tiba.

Ji Yeon noona melepaskan kepalanya dari bahuku. Dia menatapku, masih dengan wajah sembab, namun setidaknya terlihat sedikit lebih baik daripada tadi. Mungkin dengan menangis, ia merasa sedikit lebih lega.

Un.

“Kalau begitu ayo kita pulang. Sudah jam sepuluh. Tidak baik seorang yeoja berada di luar semalam ini. Lagipula besok Noona harus kuliah pagi kan?”

“Iya. Tapi sepertinya besok aku tidak akan kuliah.”

“Ya! Noona! Tidak boleh seperti itu! Kau tidak boleh malas kuliah hanya karena namja brengsek itu!”

“Hus! Kau tidak boleh begitu pada hyungmu sendiri, Gongchannie. Lagipula tidak cocok kau berkata kasar, kau kan dongsaengku yang baik, kau tidak pernah berkata kasar.”

“Tapi…”

“Sudahlah, kita lupakan saja. Ne?”

“Hmm…” helaku berat, “Ya sudah. Tapi besok Noona jangan bolos ya?” aku takut kalau dia bolos justru akan lebih kepikiran.

“Iya, besok aku tidak akan bolos, my dongsaeng.”

“Gitu dong. Kita hanya boleh bolos karena kita tidak suka jurusan kita saja haha.”

“Ah kau ini bisa saja. Tapi memangnya kau berani bolos ya?”

“Hehe.” aku hanya menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

“Ya sudah nanti aku ajarkan bolos ya? Nanti kita bolos bersama ke taman bermain.”

Un. Kupegang kata-katamu, Noona. Tapi awas jangan ke rumah hantu lagi haha.” godaku sambil berlari.

“Ya! Gongchan Shik!!!!! Kubunuh kau!!!!!”

Aku berlari semakin cepat, takut ditangkap Ji Yeon noona hihi.

“ADUH!”

“Noona!”

Ji Yeon noona terkilir rupanya. Aku jadi merasa bersalah padanya.

“Noona, gwaenchana yo?”

“Ne gwaenchana. Ini gara-gara kau! Tanggung jawab!”

Aku langsung membalikkan punggungku tanda mempersilahkannya untuk kugendong.

“Ani, maksudku tolong bantu aku berdiri. Aku tidak terkilir separah itu kok.”

“Oh mian, aku kira sampai tidak bisa jalan.”

“Ah kau ini berlebihan haha. Ayo bantu aku.”

Dia mengulurkan tangannya yang terbalut mantel merah marun.

“A..aduh…”

“Tuh kan apa kubilang. Ayo naik!”

“Tapi…”

“Tapi kenapa, Noona??? Ayo naik, ini sudah malam.”

“Aku malu.”

E~? Daijoubu (tidak apa-apa – dalam bahasa Jepang)hanya sampai depan saja kok. Setelah itu kita naik taksi. Ayo naik!”

Akhirnya Ji Yeon noona mau digendong olehku. Aduh aku jadi berdebar-debar! Tapi ya sudahlah, Ji Yeon noona juga tidak  melihat ekspresiku kan? Lagipula ini sudah malam, kalaupun pipiku memerah tidak akan kelihatan.

Lumayan jauh juga menuju jalan. Dan tak kusangka ternyata cukup banyak orang di sini. Rasanya semua orang memperhatikan kami. Maklum saja, hanya kami yang cukup berbeda di situ. Yang lain tidak ada yang gendong-gendongan.

“Gongchannie, semua orang memperhatikan kita! Ayo turunkan aku!”

“Tidak apa-apa, Noona. Mereka tidak akan mengenali kita, di sini kan cukup gelap.”

“Hmm…benar juga.”

Kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai juga di depan.

“Nah, sudah sampai.” ujarku sambil menurunkan Ji Yeon noona.

Yokatta~

Kebetulan langsung ada taksi yang lewat. Aku hentikan taksi itu, lalu aku persilahkan Ji Yeon noona naik duluan. Ya ini namanya manner dalam memperlakukan perempuan.

“Gomawo ya, Gongchannie. Kau memang dongsaeng terbaikku.”

“Tentu saja dongsaeng terbaik. Dongsaengmu hanya aku saja kan haha?”

“Ih kau ini. Aku kan sedang memujimu.”

“Hehehe.”

“Dengerin lagu Yui yuk?”

“Yang mana?”

“Goodbye Days saja yuk?”

“Kenapa Goodbye Days? Seperti akan berpisah saja.”

“Memang kita akan berpisah kan?”

“MWO?”

“Berpisah untuk hari ini saja, Gongchannie. Judulnya saja Goodbye Days kan, bukan Goodbye Forever? Hmm…kau pasti sudah berpikir macam-macam.”

“Ya! Noona ini mengagetkanku saja.”

“Aku bukan tipe orang seperti itu. Aku punya Tuhan dan orang-orang yang menyayangiku, jadi tidak mungkin aku melakukan hal bodoh seperti itu. ”

Seakan bisa membaca pikiranku, Ji Yeon noona menanggapi keterkejutanku dengan sangat tepat. Maklum saja, di negara kami ini cukup banyak perempuan yang mengakhiri hidupnya secara paksa karena alasan patah hati. Syukurlah Ji Yeon noona bukan orang seperti itu.

“Ini.” Ji Yeon noona menyodorkan sebelah earphonenya padaku.

Aku menerimanya dengan senang hati. Terdengar intro gitar yang sangat khas di telingaku. Dan lagu ini mengiringi kami yang hanya membisu sepanjang jalan.

(Backsong : Yui – Goodbye Days)

*          *          *

“Ah tidak terasa sudah sampai lagi.” ucap Ji Yeon noona sambil menatap keluar, “Duluan ya, Gongchannie.”

Aku ikut membuka pintu.

“Ya, Gongchannie, untuk apa kau turun di sini?”

“Aku ingin mengantar Noona sampai rumah dulu.”

“Ah rumahku kan cuma perlu jalan sepuluh langkah dari sini.”

“Sepuluh langkah itu belum tentu menjamin keselamatan.”

“Uh my dongsaeng.” kali ini ia  mencubit pipiku, “Ya sudah kalau begitu.”

Kami berdua turun. Kuantar Noona sampai ke depan rumahnya.

Hontou ni arigatou gozaimashita (aku benar-benar berterima kasih – dalam bahasa Jepang), Gongchan-kun. Oyasumi (selamat tidur/ucapan perpisahan di malam hari – dalam bahasa Jepang).”

Hai, doumo (ya, sama-sama – dalam bahasa Jepang). Hati-hati, Noona. Semangat!” ujarku sambil mengacungkan kepalan tanganku berusaha menyemangatinya yang kuyakin masih sangat sakit itu.

Ia hanya menjawab dengan sebuah anggukan, lambaian tangan dan senyuman manis. Sunguh ironis kali ini aku melihat senyumnya. Senyumnya terlihat pahit dan terpaksa. Tidak seceria dan setulus biasanya. Kubalas kembali dengan senyuman dan lambaian tangan. Ia mulai berjalan masuk ke rumahnya. Aku masih berdiri di depan pintu gerbang rumahnya untuk memastikan ia selamat sampai ke rumah. Ia kembali tersenyum dan melambaikan tangannya ketika akan menutup pintu rumahnya. Kubalas senyumnya sambil mengisyaratkan kata semangat dengan mulutku dan mengacungkan kepalan tanganku. Ia mengangguk dan menutup pintu rumahnya. Sosok bidadariku kini menghilang, untuk hari ini saja tentunya. Besok aku harus bertemu dengannya lagi. Harus kupastikan besok kondisinya sudah lebih baik dari hari ini. Aku kembali ke dalam taksi. Taksi pun meluncur jauh meninggalkan rumah Ji Yeon noona. Oyasumi, Ji Yeon noona. Utsukushii yume (mimpi indah – dalam bahasa Jepang).

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s