Phantera Calculus Paradiseae Love – Part 1

Author     : Puput

Judul        : Phantera Calculus Paradiseae Love – Part 1

Kategori   : Friendship, romance, little horror

Rating      : PG-15

Main cast : – B1A4 Sandeul as Sandeul/ Lee Jung Hwan

–          Kim Chae Ri as You

Other cast : – Shin Hyorin

-B1A4 Jinyoung as Jung Jinyoung

Annyeong readerdeul!^^

Kali ini aku datang dengan genre yang agak beda (ada horornya dikit gitu hehe). Oh iya, aku yakin seyakin-yakinnya pasti readerdeul pada bingung atau bahkan ada yang penasaran dengan maksud judul di atas. Judul di atas itu maksudnya nama latin dari sebuah bunga (sebenernya aku juga pake judul ini karena ga ada ide buat judul kekeke). Tapiiiii bunganya bunga super super khayalan. Oleh karena itu, orang yang jago biologi dan nama latin bahkan guru biologi sekalipun pasti sangat-sangat kebingungan karena itu emang hasil mengarang bebas 😀 Berhubung bingung nama latin tanaman apa yang agak aneh dan langka dan males ngesearch juga, alhasil jadilah nama latin bunga yang super ngarang ini. Oke, saya rasa sudah cukup pembahasan tentang nama latinnya *benerin kacamata ala guru, maka saya persilahkan readerdeul untuk mulai membaca *readers: itu sih terserah gue -_-“ Happy reading yaaaa, jangan lupa RCL gomawo :*

“Hyorin?”

Yeoja yang sedang berpelukan dengan namja bertubuh kurus tinggi itu segera melepaskan pelukannya dengan mata terbelalak, “Jagi?”

“Jadi…jadi ini yang selama ini kau sebut dengan sibuk sampai tidak bisa menghubungiku hah?”

“Jagi, chamkaman yo. Aku…aku bisa menjelaskan semuanya…”

“Ani. Kau tidak perlu menjelaskan semuanya padaku. Semuanya sudah sangat jelas. Kini kesaksian teman-temanku benar-benar terbukti. Aku permisi dulu.”

“Jagi!!!”

*          *          *

 

Sandeul POV

“Hih untuk apa yeoja itu datang ke kelasku lagi?”

Kuhampiri yeoja yang sedang duduk di tempat duduk yang terbuat dari semen di depan kelasku itu.

“Wae?”

“Jagiya, aku…aku minta maaf. Kemarin aku khilaf, aku terbawa suasana. Lagipula kami tidak melakukan apa-apa kemarin.”

“Tidak melakukan apa-apa? Jadi berpelukan dengan namja lain dengan motif spesial, sementara kau masih punya pacar, kau bilang tidak melakukan apa-apa? Daebak.”

“Tapi Jagiya…”

“Sudah, jangan memanggilku Jagi mulai sekarang. Kau berikan saja panggilan sayang itu pada Jinyoungmu tersayang yang jauh lebih keren dan lebih tampan dariku yang hanya seorang kutu buku dan penghuni lab!”

“Jagi…”

Tidak kuhiraukan tatapan memelasnya. Aku langsung membalikkan badan dan kembali masuk ke kelas. Tapi saat aku sampai di pintu kelas…duk!

“Aigoo!”

“Heh kalau jalan lihat-lihat dong!”

“Mwo? Harusnya aku yang berkata seperti itu! Dasar kucing galak!”

“Mwo? Kau……”

“Heh sudah sudah, kalian ini bisanya bertengkar saja. lebih baik mendengarkan musik sepertiku lalalalala.”

“Diam kau HamBaro!!!!”

Kami teriak bersamaan. Dia memandangku sinis dengan mulutnya yang komat-kamit tanpa suara (ala-ala k-drama). Aku tidak kalah sewotnya dengan mata sipitku yang berusaha kubelalakkan semaksimal mungkin. Inilah salah satu rutinitasku di kelas selain belajar. Bertengkar dengan si yeoja galak bin cerewet ini. Namanya Kim Chae Ri. Namanya memang manis sekali, sekilas terdengar seperti cherry. Sungguh bertolak belakang dengan kelakuannya. Kata guru-guru dan teman-teman sih (sebenarnya aku juga setuju) dia pintar (hanya saja dia malas), makanya bisa masuk kelas unggulan. Tapi aku heran, kenapa di kelas unggulan seperti ini ada siswa seperti dia? Kelakuan dan penampilannya sangat berbeda dengan siswa-siswa kelas unggulan yang lain. Jika yang lain mayoritas memakai kacamata, pakaian kegedean, rambut rapi dan seadanya, dia beda sekali. Roknya pendek, bajunya pas, tidak memakai kacamata, rambut diwarna coklat kemerah-merahan, dan kelakuannya…dia cerewet dan galak juga seorang fashionista. Sungguh berbeda dengan yeoja lain di kelas ini yang rata-rata pendiam dan tidak terlalu peduli dengan style. Huh benar-benar salah tempat dia! Dan kalau versi namjanya, ya si Baro alias Hambaro itu. Sikapnya santai, stelannya acak-acakan, dan rambutnya diwarna pirang. Hmm suatu hari nanti kalau aku sudah jadi profesor, aku akan menerapkan peraturan dan seleksi ketat bagi murid-muridku yang mau masuk kelas unggulan. Tidak hanya otak yang dijadikan tolok ukur, tapi juga penampilan!

“Ya anak-anak, sesuai dengan yang Ibu janjikan kemarin, berhubung kerja kelompok di tugas sebelumnya kurang berhasil, maka kali ini ibu akan membagi kelompok baru untuk penelitian kali ini dengan jumlah anggota dua orang untuk masing-masing kelompok agar setiap siswa lebih berperan di kelompoknya masing-masing. Ya istilahnya duetlah.”

“Untuk pembagian kelompoknya sendiri bagaimana bu?”

“Ibu yang membaginya.”

“Iya, Bu, saya tau. Maksudnya pembagiannya berdasarkan apa?”

“Oh, yang jelas dong. Ibu bosan dengan pembagian kelompok yang biasa dan berhubung ibu ketua arisan di kompleks, jadi ibu membagi kelompok kalian seperti arisan.”

“Dikocok, Bu?”

“Ne. Sudah ah tidak usah banyak tanya lagi. Lebih baik sekarang Ibu umumkan daftar kelompoknya.”

Aish guru yang satu ini seharusnya berkolaborasi dengan Chae Ri dan Baro. Guru yang satu ini juga berbeda dari guru lain di kelas unggulan. Stelannya eye cathcing, cara bicaranya juga ceplas ceplos. Huh ada-ada saja Pak kepala sekolah menempatkan guru seperti ini di kelas unggulan.

“Lee Jung Hwan dan Kim Chae Ri.”

Aku dan Kim Chae Ri. MWO? AKU DAN KIM CHAE RI? Omoooo apa-apaan guru ini!!!

                *          *          *

“Kim Chae Ri!”

“Hmm?”

“Kau sedang sibuk tidak? Kalau tidak, kita diskusi masalah penelitian kita kali ini.”

“Mwo? Sandeul-ah, aku mau ke mall hari ini. Ada launching produk tas baru hari ini.”

“Mwo? Jadi kau lebih mementingkan tas daripada tugas?”

“Ya kau ini! Kau peringkat pertama di kelas tapi tidak bisa melihat situasi dan kondisi. Launching tas itu hanya satu hari, sedangkan tugas kan masih ada 49 hari lagi (author lagi gila 49days).”

Hih yeoja ini susah sekali diajak kerja sama. Lee sonsaengnim, kenapa kau harus memberiku partner seperti ini?

“Hah ya sudah, kita diskusi besok saja. Besok tidak ada launching apa-apa lagi kan?”

“Ada, besok ada launching produk make up baru. Tapi itu malam kok. Tenang saja, walaupun aku terlihat malas dan amburadul dari luar, sebenarnya aku sangat peduli dengan nasib pendidikanku, aku sangat peduli nilai. Kau tidak pernah mendengar aku telat apalagi tidak mengumpulkan tugas kan? Itulah yang bisa mengantarku pada peringkat tiga di kelas ini. Jadi tenang saja, tidak usah CE-RE-WET, ara?”

“Ssh!”

Melihatku mengepalkan kepala ke arahnya, ia hanya mendongakkan kepalanya dengan kesan dia ingin menantangku untuk memukulnya.

“Tidak jadi memukulnya? Ya sudah, aku tidak ada waktu untuk bermain dengan kutu buku sepertimu. Aku sibuk. Annyeong!”

Besoknya…

“Silahkan mulai.” ujarnya seraya duduk di kursi yang tepat berada di hadapanku.

“Proyek kita kali ini adalah mendeskripsikan tanaman spesies baru yang belum sepenuhnya terjamah oleh peneliti dunia. Kau punya ide tanaman apa yang akan kita teliti?”

Oryza sativa sajalah.”

“Pabo! Bagi orang yang tidak tau kau mungkin terlihat keren dengan menyebut nama latin tanaman seperti itu. Tapi bagiku itu sangat konyol! Oryza sativa kan padi! Itu sih bukan spesies baru!”

“Ya! Aku juga tau Tuan Lee Jung Hwan! Aku hanya bercanda! Dasar tidak punya selera humor! Pantas saja kacamatamu itu tambah tebal! (apa hubungannya -_-)”

“Aku di sini bukan untuk bercanda! Aku di sini mengajakmu diskusi, arasseo?”

“Ne. Aku sama sekali tidak punya ide, tau!”

“Tau, kelihatan dari wajahmu.”

“Ssh!”

“Bagaimana kalau phantera calculus paradiseae saja? (nama latin tumbuhan super ngarang. Lagian phantera kan artinya harimau -_-)”

“Mwo? Memangnya ada ya nama tanaman seperti itu?”

“Ada, tentu saja ada. Memangnya aku ini makhluk fiksi sepertimu yang sukanya membaca cerita-cerita khayalan?”

“Ish. Ya sudah, di mana kita bisa mendapatkan tumbuhan itu?”

“Di bukit belakang sekolah.”

“Oh di situ. Kita ke sana sekarang saja.”

“Kalau tidak tau, dengarkan dulu sampai selesai. Bunga itu hanya mekar di malam hari. Kalau di siang hari, bentuknya hampir sama dengan tumbuhan biasa. Jadi bisa saja kita salah ambil.”

“Jadi kita harus ke sana malam-malam?”

“Ne. Dan ada satu syarat lagi.”

“Hih banyak sekali syaratnya. Apa lagi kali ini?”

“Bunga itu mekar saat air laut pasang. Dan air laut pasang saat bulan purnama (mian kalo salah, skill geografi dan fisika saya jelek dan malas searching kekeke ._.v).”

“Jadi…kita harus mencari bunga itu saat bulan purnama?”

Aku hanya menganggukkan kepalaku tenang lalu menyeruput (bahasanyaaa -_-) cappucinoku.

“Omooooo mistis sekali bunga ini. Kita ganti saja objek penelitiannya bagaimana?”

“Kalau kau punya ide silahkan.”

“Baiklah kalau begitu nanti aku akan cari di google.”

“Cih sumber yang kau tau cuma google saja. Kelihatan sekali kau malas searching.”

“Tidak, aku tidak malas!”

“Iya kau tidak malas kalau searching fanfiction dan berita-berita artis.”

“Hah? Kenapa kau tau aku suka fanfiction dan suka mencari berita-berita artis? Jangan-jangan…diam-diam kau menyukaiku ya?”

“Pabo! Tentu saja tidak! Apa celotehan-celotehanmu di cyworld dan di kelas tidak cukup untuk menunjukkan kepribadianmu hah?”

“Ooooh  jadi kau menguntit cyworldku dan suka memperhatikanku di kelas?”

Hih yeoja ini. Ekspresi jahilnya saat ini menyebalkan sekali!

“Yang namanya online, pasti secara TIDAK SENGAJA melihat celotehan-celotehan orang lain juga.” ujarku dengan menekankan kata-kata ‘tidak sengaja’ tanpa melihat ke arahnya, “Dan yang namanya teman sekelas, mau tidak mau pasti tidak sengaja menangkap dan menyimpan memori tentang teman-temannya. Apalagi temannya yang cerewet dan banyak omong sehingga orang lain tau kebiasaannya karena suaranya yang kencang saat berbicara.” ujarku tiba-tiba menoleh ke arahnya dengan tatapan sinis.

“Ya! Apa maksudmu melihatku dengan tatapan seperti itu!”

“Aku tidak yakin padamu. Jadi sebaiknya kita tetap meneliti PCP saja.”

“Mwo? PCP? Apa itu? Kalau PSP sih aku tau.”

“Pabo! Itulah sebabnya aku tidak yakin padamu! Mengingat nama bunga yang kita diskusikan barusan saja tidak bisa. PCP! Phan-te-ra Cal-cu-lus Pa-ra-di-se-a-e. Jelas?”

“Bukan salahku tidak bisa mengingatnya. Itu sih salah ilmuwan yang memberi namanya. La…lagi pula kan aku hanya ranking tiga, beda kemampuan mengingatnya dengan RANKING SATU.”

Mwo? Ada apa dengan tatapan dan penekanan katanya? Bermaksud menyindirku ya?

“Mau ranking satu atau ranking tiga, itu tidak penting. Yang penting adalah usahanya.”

“Ya ya tuan RANKING SATU.”

“Ssh terserahmulah. Pokoknya kamis malam jumat aku tunggu di bukit belakang sekolah. Bawa senter, jas hujan, dan peralatan secukupnya. Tidak usah bawa make up karena di sana gelap dan tidak akan ada yang melihatmu. Sekalipun ada yang melihatmu paling aku dan hantu di sana.” sebenarnya aku bercanda mengatakan semua ini. Aku hanya ingin menakut-nakutinya saja. Sebenarnya aku sama sekali tidak percaya hantu.

“M-mwo? Malam Jumat? Sebentar.” dia meraih ponselnya dan memencet beberapa tombol, “Ya! Itu kan malam Jumat kliwon!” (hebat aplikasi ponsel di Korea ada kalender Jawanya -_-)

“Lalu? Memang apa bedanya dengan malam lain?”

“Huh makanya jangan cuma main dengan buku! Gaul lah sedikit! Malam Jumat kliwon itu malam yang sangat menyeramkan. Di malam itu dipercayai kalau hantu-hantu akan turun ke bumi dan bermunculan!”

“Omoooo wake up, girl! Ini 2012! Kau masih saja percaya pada takhayul kuno seperti itu? Laganya saja sok gaul, sok fashion, sok branded. Tapi percaya pada hal-hal seperti itu. How ancient.” ujarku dingin sambil membetulkan posisi kacamataku layaknya seorang profesor.

“Kau ini diberi tau malah ngeyel! Aigoo ditambah lagi kita harus ke sana saat bulan purnama kan? Aigoo aigoo sungguh suatu bencana bisa satu kelompok denganmu, Lee Jung Hwan!”

“Apa tidak terbalik hah? Seharusnya aku yang berkata seperti itu padamu! Untung saja aku bisa menemukan bahan penelitian dan tempatnya dekat.”

“Tapi…”

“Sudah tidak usah banyak tapi-tapian. Pokoknya Kamis malam, aku tunggu kau di bukit belakang sekolah, titik. Jika kau tidak datang, itu urusanmu. Aku bisa mengerjakannya sendiri.”

“Nn…ne. Tapi…janjiannya jangan di bukit belakang seko…”

“Jadi mau di mana? Di taman bermain?”

“Omoooo makanya kalau orang sedang bicara jangan dipotong dulu, dengarkan sampai  beres! Maksudku kita janjiannya di depan gerbang sekolah saja, ne?”

“Oh baiklah.”

*              *          *

Hari-H…

“Omooo lama sekali si kucing galak itu! Sudah hampir sepuluh menit aku menunggunya di sini. Atau jangan-jangan…dia nekat tidak datang gara-gara malam Jumat kliwon yang sangat diyakininya itu? Omoooo laganya saja sok fashion, so branded. Tapi pikirannya kuno sekali. Ish. Sudah ah daripada menunggu orang yang tidak pasti, lebih baik aku berangkat sendiri saja.”

Belum sampai lima kali aku melangkah, tiba-tiba kudengar teriakan seorang yeoja yang sangat nyaring dari arah belakangku yang terdengar cukup jauh.

“Lee Jung Hwaaaaan!!!”

Saat kubalikkan badan, “Kukira kau tidak akan datang.” ujarku datar sambil memperhatikannya yang sedang terengah-engah mengatur nafas.

“Ka…kau…hah…hah…tadi…hah…bermaksud…meninggalkanku ya?hah hah” ujarnya terengah-engah sambil membungkuk dan menopang tangannya di lutut.

“Ne. Sudah sepuluh menit aku di sini. Aku kira kau tidak akan datang gara-gara malam Jumat kliwonmu itu?”

“Aigoo hah hah….jangan mengatakan hal itu sekarang hah hah.” omelnya masih dengan posisi membungkuk dan menopang tangannya di lutut sambil terengah-engah, “Eh, chamkaman. ‘Malam Jumat kliwonmu’ kau bilang?” kini ia berdiri tegak sambil berkacak pinggang dan mendongakkan kepalanya, nampaknya nafasnya juga sudah mulai stabil, “Enak saja! Memangnya kau pikir aku ini makhluk apa hah!”

“Makhluk aneh. Sudah ah daripada buang-buang waktu mendengar ocehanmu yang tidak jelas dan tidak penting itu lebih baik kita berangkat sekarang saja. Nanti keburu malam. Bukankah kau takut hantu yang katanya munculnya malam-malam ya? Kajja!”

Chae Ri POV

“Ne. Sudah sepuluh menit aku di sini. Aku kira kau tidak akan datang gara-gara malam Jumat kliwonmu itu?”

“Aigoo hah hah….jangan mengatakan hal itu sekarang hah hah.” omelku masih dengan posisi membungkuk dan menopang tangan di lutut sambil terengah-engah.

Eh, tunggu dulu. Apa dia bilang barusan? ‘Malam Jumat kliwonmu’? Aigoo dia pikir aku ini hantu apa!

“Eh, chamkaman. ‘Malam Jumat kliwonmu’ kau bilang?” kini aku berdiri tegak sambil berkacak pinggang dan mendongakkan kepalaku. Nafasku juga sudah mulai stabil, “Enak saja! Memangnya kau pikir aku ini makhluk apa hah!”

“Makhluk aneh. Sudah ah daripada buang-buang waktu mendengar ocehanmu yang tidak jelas dan tidak penting itu lebih baik kita berangkat sekarang saja. Nanti keburu malam. Bukankah kau takut hantu yang katanya munculnya malam-malam ya? Kajja!”

Mwo? Makhluk aneh katanya? Hiiiiiih dasar si marmut sialan!

“Turunkan tanganmu itu.”

Mwo? Dia tau kalau aku mengepal-ngepalkan tanganku ke arahnya? Padahal dia tidak melihat ke belakang sama sekali! Atau janga-jangan…ini bukan Sandeul asli alias…

“Ka…katakan padaku…si…siapa…kau sebenarnya?” ujarku terbata-bata sambil mengeluarkan bawang putih dari saku jaketku.

Makhluk yang seperti Sandeul itu berbalik dan menatapku heran. Omooo ini Sandeul asli atau palsu sih? Kenapa mirip sekali? Bahkan tatapan menyebalkannuya saja sangat mirip!

“Kau ini kenapa sih? Untuk apa kau mengacung-acungkan bawang putih seperti itu ke arahku? Kau pikir aku ini drakula apa?”

“K-kau…bukan Sandeul kan? Kau…bukan Lee Jung Hwan kan?”

Makhluk itu kembali menatapku heran dan mengernyitkan dahinya.

“Obatmu habis ya? Atau kerasukan hantu?”

Aigoo sebenarnya dia Sandeul asli atau palsu sih? Aha! Aku coba telepon dia saja! Dengan tangan gemetaran, aku mulai merogoh saku jaketku dan meraih ponselku. Kutekan menu phone book. Kucari nama Lee Jung Hwan dan menekan tombol yes.

OK Girl neoegeman yes man mwodeunji da haejulge

Kulihat ada sesuatu yang bersinar dari dalam saku celana makhluk itu.

“Omoooo dasar yeoja pabo! Apa yang kau lakukan hah? Kau ingin memastikan kalau aku ini benar-benar Sandeul ya? Omonaaaa.”

Masih tidak percaya, aku mengecek kembali display ponselku.

“Benar Lee Jung Hwan.” kataku pelan, “Jadi…kau benar-benar Sandeul ya?”

“Aigoo tentu saja iya! Kalau aku bukan sandeul untuk apa juga aku ke sini?”

“Tapi…tapi…kenapa kau bisa tau aku mengepal-ngepalkan tanganku tadi?”

“Kau ini betul-betul tidak mengenal diri sendiri ya? Itu kebiasaanmu kan? Setiap kau kesal pada seseorang, kau pasti akan bersikap seperti itu.”

Benar juga yang dia bilang.

“Tapi…kenapa kau tau? Kau…penggemar rahasiaku ya?”

“Pabo! Bukankah sudah kubilang, yang namanya teman sekelas pasti tau sifat dan kebiasaan masing-masing. Apalagi aku bisa ingat sesuatu dengan satu kali lihat saja dan susah lupa.”

Oh begitu ya? Aigoo aku jadi malu. Tapi lebih baik malu daripada dugaanku tadi benar.

Kami melanjutkan kembali perjalanan. Hening. Tidak ada seorang pun yang berbicara selama perjalanan. Dan yang pasti tidak ada satu orang pun yang berkeliaran di bukit belakang sekolah di malam hari kecuali kami berdua. Ya tapi lebih bagus seperti itu. Justru kalau ada orang lain selain kami, pasti akan sangat menakutkan karena belum tentu itu adalah manusia grrrrr.

“Ada apa kau bergidik begitu?”

“Ah.” Sandeul membuyarkan lamunanku, “Ani.”

“Kau kepikiran Jumat kliwon ya?”

“Aigoo sudah kubilang jangan bahas-bahas itu lagi sekarang!”

“Wae? Malam Jumat kliwon, malam Jumat kliwon.”

Omooooo dia malah menjadi-jadi!

“Huwaaaa!”

“Mworago!”

“Ta…tadi…aku melihat seperti ada sesuatu yang bersinar di balik semak itu…”

“Omonaaa itu hanya imajinasimu saja. Buktinya aku tidak melihat. Lagipula katanya hantu senang menampakkan diri di depan orang yang penakut. Makanya kau jangan jadi orang penakut.”

“Aigoo jangan menyebut nama Mr. H (hantu) di tempat seperti ini…”

“Ish iya iya, asal kau lepaskan dulu tanganmu itu.”

Omooo aku tidak sadar kalau aku sedang memeluk tangannya dengan kedua tanganku. Aish pabo!

“Ne, mianhae.”

Kami kembali meneruskan perjalanan.

“Sebenarnya bentuk bunga itu seperti apa sih?”

“Aigoo jadi kau belum searching ya?”

“Hehe belum. Kemarin aku lupa gara-gara nonton 49 Days.”

“49 days itu waktu penelitian kita. Jadi harusnya kau ingat. Dasar pabo. Bunga itu bentuknya agak mirip bunga lili, tapi sedikit lebih kecil dan lebar.”

“Oh. Tapi sepertinya dari tadi kita belum menemukan bunga seperti itu ya?”

“Tentu saja. Bunga itu bunga parasit di pohon cemara. Jadi hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari pohon cemaranya dulu.”

“Pohon cemara di bukit ini bukannya ada di dekat sungai ya?”

“Ne. Makanya dari tadi kita berjalan ke arah sungai.”

“Omooo bukankah itu jauh sekali?”

“Ne.”

Ya Tuhaaaan dosa apa yang telah aku lakukan selama ini hingga harus menjelajah bukit belakang sekolah malam-malam begini 😥

“Nah, itu jajaran pohon cemara! Kau periksa sebelah kiri, aku periksa sebelah kanan ya!”

“Shireo! Aku takut! Kita periksa bersama saja ya?”

“Aish dasar penakut. Ya sudah. Tapi konsekuensinya adalah waktu pencariannya jadi dua kali lebih lama daripada berpencar.”

“Gwaenchana, gwaenchana. Itu lebih baik daripada aku harus hilang di tengah bukit ini.”

“Aigoo kau kira ini hutan apa? Sudah, kita langsung mencari. Kajja!”

Satu persatu pohon kami periksa dengan teliti. Tidak ada satu pohonpun yang terlewat. Tapi ternyata mencari bunga phantera…phantera apalah itu namanya, sangat susah sekali. Susah sekali menemukannya. Entah berapa lama waktu yang telah kami habiskan di sini untuk mencari bunga itu.

“Ah! Ini dia!” tiba-tiba Sandeul berteriak dengan girangnya.

“Oooooh jadi seperti ini ya bentuknya? Hah kalau bunga seperti ini sih banyak di toko-toko bunga.”

“Enak saja kau bicara. Lihat baik-baik makanya, lihat secara detail. Mahkota bunganya berbeda. Mahkota bunganya sekilas terlihat seperti taring harimau yang dilingkupi lingkaran yang biasanya ada di atas kepala malaikat di kartun-kartun (author mengarang bebassss). Makanya bunga ini dinamai phantera calculus paradiseaea.” jawabnya panjang lebar sambil memotong bunga itu.

“Phantera harimau, paradiseae mungkin dari paradise yang artinya surga. Lalu…calculusnya maksudnya apa?”

“Itu karena fungsinya. Katanya bunga ini bisa merangsang kemampuan berhitung seseorang. Atau bahkan kemampuan matematika seseorang. (author ngarang bebas lagi *dijitak guru biologi mainin nama Latin -_-)”

“Whoaaaaa daebaaaak.”

“Sudah jangan melongo seperti itu. Wajahmu makin terlihat bodoh dengan ekspresi seperti itu.”

Hiiiih Lee Jung Hwaaaaan!!!

Author POV

“Sudah jangan melongo seperti itu. Wajahmu makin terlihat bodoh dengan ekspresi seperti itu.”

Chae Ri hanya menggigit bibirnya sambil mengepal-ngepalkan tangannya mendengar kata asal khas Sandeul.

Sandeul berbalik ke depan. Tampaknya ia beranjak menuju jalan pulang. Pandangan Chae Ri mengikutinya. Siiiiiing….pandangan mereka tertuju pada arah yang sama, pemandangan penuh pepohonan yang terlihat sama di setiap sudut.

“Sa…Sandeul-ah, kau…tau jalan pulang kan?” Chae Ri bertanya dengan sedikit keraguan terselip di balik kalimat penuh harapnya itu.

“Apa kau membawa kompas?”

“Mwo?”

“Karena perjalanan kita cukup panjang dan walaupun aku sering ke bukit ini, tapi aku jarang ke sungainya, ditambah ini sudah malam, sepertinya aku tidak tau jalan pulang.”

“MWO? Ya! Lee Jung Hwan! Kau yang mengajak untuk  mencari bahan penelitian ke sini malam-malam! Jadi kau harus tanggung jawab! Tidak peduli bagaimana pun caranya kau harus bisa membawaku keluar dari hutan menyeramkan ini! Bagaimanapun caranya aku tidak mau tau!!!”

“Ya! Bisakah kau tenang sedikit? Kau kira hanya kau yang panik hah? Aku juga panik! Errrgh inilah sebabnya aku benci makhluk yang bernama yeoja. Itulah sebabnya aku malas pacaran. Ternyata semua yeoja sama saja menyebalkan! Ada yang cerewet, ada yang pengkhianat! Arrrrgh aku benci yeoja!!!”

Deg! Mendengar perkataan Sandeul barusan, Chae Ri jadi merasa bersalah. Ia tau kasus yang baru dialami Sandeul. Ia tau Sandeul  baru saja putus karena yeoja chingunya, Hyorin, selingkuh. Ia tau kabar itu dari Baro, sang biang gosip kelas. Tentu saja di biang gosip kelas. Karena selain Baro, tidak ada lagi siswa di kelas unggulan yang suka mencampuri urusan orang. Semuanya terlalu sibuk dengan ambisi masing-masing untuk mencapai nilai terbaik.

“Mi…mianhae, Sandeul-ah. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku…aku hanya panik. Maafkan aku Sandeul.”

“Keluarkan kompasmu.” ujar Sandeul dingin tanpa merespon perkataan Chae Ri barusan. Chae Ri mengeluarkan kompas dari dalam tasnya.

“Ini.”

Sandeul membuka benda bulat yang menyerupai cepuk itu dan…

“Ya! Kompas ini tidak ada jarumnya!”

“Jinjja?! Omooo eotteokhe…”

“Hah dasar yeoja pabo!”

“Mwo? Apa kau bilang? Kalau begitu keluarkan kompasmu sendiri!”

“Aku lupa tidak membawa kompas.”

“Haaaaaaah kau itu yang lebih pabo!” Chae Ri menjitak kepala Sandeul, “Lalu…lalu bagaimana nasib kita?”

Tes tes (suara hujan maksudnya)

“Aigoo! Keluarkan jas hujanmu!” ujar Sandeul panik sambil berusaha mengoyak isi tasnya untu kmencari jas hujan.

“Aku lupa tidak membawa jas hujan!”

“Ah dasar pabo!” omel Sandeul sambil memayunginya dan Chae Ri dengan jas hujan hitamnya yang cukup besar, “Ayo kita berlindung di gazeboo iotu untuk sementara!”

Sungai di ujung bukit sekolah yang terhubung dengan air terjun itu kadang memang menjadi tempat wisata bagi beberapa orang. Oleh karena itu ada gazeboo di sana. Saat hampir sampai ke gazeboo, tiba-tiba Sandeul melihat segunduk (?) cahaya yang nampaknya itu adalah sebuah pemukiman warga.

“Ya sepertinya itu pemukiman warga! Bagaimana kalau kita ke sana?”

Chae Ri hanya mengangguk pelan dengan tatapan lurus menatap pemukiman yang baru pertama kali dilihatnya itu.

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s