Phantera Calculus Paradiseae Love – Part 2

Author     : Puput

Judul        : Phantera Calculus Paradiseae Love – Part 2

Kategori   : Friendship, romance, little horror

Rating      : PG-15

Main cast : – B1A4 Sandeul as Sandeul/ Lee Jung Hwan

– Kim Chae Ri as You

Other cast : – Mysterious harabeoji

Author POV

Tok tok tok…

“Annyeong haseyo…”

Cklek

“Nugu ya?” tanya harabeoji berambut putih dan berjanggut seperut, sang pemilik rumah.

“Jwesonghamnida, Harabeoji. Kami siswa Seoul International High School. Kami baru selesai melakukan penelitian dan ternyata terlalu malam. Kami juga tidak tau jalan pulang. Jadi, kami berencana untuk menginap di  sini.”

“Mwo? Menginap? Lee Jung Hwaaaan apa yang kau pikirkan hah? Bagaimana dengan eommaku? Eomma pasti akan membunuhku!!!”

“Kalau begitu beri tau aku jalan pulang dari bukit ini sekarang juga.”

“Kita bisa mencarinya malam ini atau bahkan meminta bantuan kepada orang tua kita!!”

“Itu hanya akan merepotkan, Kim Chae Ri! Sudahlah kau ikuti saja keputusanku ini!”

Chae Ri tidak melawan perkataan Sandeul. Dia terlalu takut melihat Sandeul yang seperti itu. Ini pertama kalinya Sandeul membentaknya dan berekspresi seperti itu. Bentakannya beda dari biasanya. Chae Ri hanya menatap Sandeul dengan mata berkaca-kaca. Situasi ini saling mendukung untuk membuatnya menangis.

“Sudah, sudah jangan bertengkar. Lebih baik kalian bicarakan ini di dalam.” harabeoji pemilik rumah itu berusaha menengahi, “Silahkan masuk.”

“Ne, kamsahamnida.”

Sandeul mulai melangkahkan kaki masuk ke rumah tradisional itu. Interior serba kayu dan peralatan tradisional menyambutnya begitu masuk dengan sempurna ke dalam rumah itu. Tapi sesuatu menahannya dari luar.

“Aigoo kau sedang apa di situ? Aku tidak bisa masuk karena jas hujanku ditarik terus olehmu!”

“Kalau kau mau masuk, masuk saja. Lepaskan jas hujannya. Aku akan mencari jalan pulang sendiri.” ujar Chae Ri dengan wajah super suram dan bibir manyun juga mata berkaca-kaca (suram sekali -_-)

“Ya sudah sana. Aku mau menginap di sini. Selamat mencari jalan pulang bersama para H-A-N-T-U dan mungkin binatang buas di sana.” timpal Sandeul cuek sambil melepas pegangannya dari jas hujan.

Mendengar kata ‘hantu’, wajah Chae Ri yang tadinya suram langsung berubah pucat. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia langsung melepaskan jas hujannya dan masuk ke dalam rumah beinterior serba kayu itu. Ia langsung duduk di depan meja kayunya.

“Dasar childish.” gumam Sandeul pelan sambil memungut jas hujannya.

“Silahkan diminum.” tiba-tiba harabeoji pemilik rumah itu sudah kembali dengan membawa nampan dengan dua cangkir tradisional di atasnya.

“Ne, kamsahamnida.” Sandeul tersenyum ramah pada harabeoji itu.

“Maaf, aku tidak punya apa-apa selain ini.”

“Ah, gwenchana yo, Harabeoji. Diizinkan menginap di sini saja, kami sudah sangat berterima kasih. Pasalnya akan sangat sulit dan berbahaya bagi kami untuk mencari jalan pulang mengingat ini sudah malam terlebih hujannya sangat lebat.”

“Ne, memang akan sangat sulit untuk mencari jalan pulang dalam kondisi seperti ini. Lagipula…hutan ini berhantu.”

‘Aigoo dasar orang tua, percaya takhayul.’ pikir Sandeul.

Greb! Ada sesuatu mencengkeram tangan Sandeul dari arah kanan. Saat ia tengokkan kepalanya, ia lihat Chae Ri terlihat sangat pucat. Saat ia telusuri lebih bawah, ia melihat tangan Chae Ri sedang mencengkeram tangannya erat.

‘Hah pasti yeoja ini ketakutan setengah mati mendengar kata hantu di tengah malam dengan kondisi hujan lebat seperti ini.’ pikir Sandeul.

My only hope it is you, naye soneul jabajwo

Terlihat sesuatu bersinar dari kantung jaket Chae Ri. Dengan lemasnya, ia merogoh sakunya dan meraih benda yang bersinar itu.

“Yeo-yeobeoseyo, Eomma.”

Ternyata eommanya yang menelepon.

“A…aku…aku…hiks…”

‘Dasar yeoja pabo! Dia malah menangis saat menerima telepon dari eommanya.’

“Ya! Dasar yeoja pabo! Sini berikan ponselnya!” bentak Sandeul pelan agar tidak terdengar oleh orang di seberang sana, “Yeobeoseyo, Ahjumma. Joneun Lee Jung Hwan imnida. Sekarang kami masih kerja kelompok di rumah Ji Yeon. Sepertinya masih banyak yang harus dikerjakan dan harus selesai besok. Jadi, sepertinya Chae Ri akan menginap di sini. Sedangkan namja-namjanya akan menginap di rumah Sunwoo. Jadi ahjumma tidak usah khawatir.”

“….”

“Oh itu, tadi ada kecoa yang hinggap di kepala Chae Ri. Dia sangat ketakutan dan masih menangis sampai sekarang.”

“…”

“Ne, ne, annyeonghaseyo.”

Selesai menutup telepon, Sandeul menengok ke arah Chae Ri yang masih sesenggukan dan melihat ke arahnya.

“Ini ponselmu. Selesai kan? Eommamu tidak seseram yang kau bayangkan. Itu sih kaunya saja yang tidak bisa melobi orangtua.”

“Hiks…hiks…huwaaaaa” tiba-tiba Chae Ri memeluk Sandeul, “Aku takut sekali, Sandeul, aku sangat takut.”

Sandeul POV

“Hiks…hiks…huwaaaaa…”

Deg! Tiba-tiba Chae Ri memelukku!

“Aku takut sekali, Sandeul, aku sangat takut.”

Ya Tuhan, ini pertama kalinya aku berpelukan dengan seorang yeoja selain eomma dan adikku sendiri! Bahkan terakhir berpelukan dengan mereka pun, itu sudah hampir tujuh tahun yang lalu, waktu aku masih kelas 3 SD! Bahkan dengan mantan yeoja chinguku saja tidak pernah! Aigoo *O*

‘Otte? Jujur aku sangat deg-degan! Tapi…tapi…aku tidak tega melepaskan pelukannya. Dia terlihat terlalu lemah malam ini.’

Tiba-tiba tanganku seakan bergerak sendiri menuju kepala Chae Ri. Tiba-tiba tanganku mengelus rambutnya.

“Su…sudahlah, Chae Ri. Uljimayo. Everything will be OK. Dan sekarang kita sudah aman di sini. Tidak ada yang perlu kau takutkan lagi ne?”

Entah malaikat apa yang telah membujukku untuk memiliki perasaan ingin melindungi yeoja ini. Keadaannya saat ini terlihat sangat lemah. Ini pertama kalinya aku melihat Chae Ri selemah ini. Ternyata dia memang benar-benar penakut. Dia benar-benar takut hantu seperti aku takut nilaiku turun. Sangat mengerikan. #lebay ga? biarin deh ._.v

Sekitar tiga menit Chae Ri menangis di pelukanku. Kini nampaknya dia sudah sedikit lebih tenang. Kini tubuhnya tidak bergetar lagi. Tangisnya pun mulai mereda.

“Mi…mianhae, Sandeul-ah. Aku…aku terlalu takut…” ia melepaskan pelukannya dan masih sedikit sesenggukan.

“Gwaenchana, Chae Ri-ah. Sekarang aku mengerti. Ternyata perasaan takutmu ternyata tidak main-main, sama seperti rasa takutku kalau nilaiku turun.”

“Pabo!”

“Aw!” dia menjitakku!

“Tentu saja tidak main-main! Kau kira dari tadi aku main-main apa? Mulai dari mengeluarkan bawang putih sampai menangis sejadi-jadinya barusan, apa itu tidak cukup untuk membuktikan kalau aku sangat ketakutan!”

Hih yeoja ini!!! Naluri menyebalkannya kambuh lagi! Tapi…melihat wajahnya yang masih basah karena air mata membuatku kehilangan tenaga untuk marah padanya. Ia terlihat begitu lemah dan pantas untuk dilindungi dan ditenangkan. Sungguh kontras dengan ekspresinya sehari-hari yang tengil dan menyebalkan -_-

“Sudah, sudah, jangan bertengkar terus. Belum menikah saja sudah seperti ini, bagaimana kalau sudha menikah nanti?” tiba-tiba harabeoji itu datang dari arah kamar.

“MWO? MENIKAH?”

“Ah, dasar anak muda jaman sekarang. Kalian pikir kalian pacaran untuk apa? Hanya untuk senang senang?”

Hah? Pacaran? Aigoo harabeoji ini sudah hilang muncul-hilang muncul tidak jelas, tiba-tiba muncul dan menyangka kami pacaran. Aigoo, memangnya aku dan Chae Ri seperti pasangan kekasih ya? Yang benar saja… -.-“

“Ani yo, Harabeoji. Kami cuma teman, benar-benar cuma teman.” aku berusaha menjelaskan. Tentu saja aku tidak mau disangka pacaran dengan yeoja menyebalkan ini. Walaupun dia cantik, eh? Pabo pabo pabo Lee Jung Hwan pabo! Kenapa kau bisa berpikiran dia cantiiiiik!!

“Eh? Kau ini kenapa? Memukul-mukul kepalamu sendiri. Jangan-jangan kau membayangkan hal yang tidak-tidak ya?” tanyanya sambil menyilangkan kedua tangan tepat di depan dadanya. Apa-apaan itu? Dia pikir aku ini pervert!

“Heh! Yeoja aneh! Kau pikir aku ini pervert apa? Menyilangkan tangan seperti itu. Kau pikir aku tergoda dengan ‘tubuh datarmu’ itu? Haaaah itu sih dasar kaunya saja yang yadong!”

“M-mwo?”

Sepertinya dia kelabakan mencari kata-kata untuk membalas perkataanku barusan. Hahaha makanya jangan coba-coba melawan Tuan Lee Jung Hwan HAHAHAHA *evilaugh #apasiiiih -_-

“Me…memangnya…aku…aku berpikir yang seperti itu ya? Itu…itu sih kaunya saja pervert jadi mengira aku sedang memikirkan yang macam-macam!”

“Heh! Anak umur lima tahun sekalipun pasti tau apa yang dipikirkan seorang yeoja saat mereka menyilangkan tangannya seperti itu!”

“K-kau…”

Nampaknya dia kehabisan kata-kata. Kekeke lucunya, wajahnya saat marah dan gugup sekarang terlihat sangat manis. Eh? Aigoo kali ini setan apa yang merasukiku hingga aku berpikiran seperti itu! Memang ini pertama kalinya aku melihat bermacam-macam ekspresi darinya. Biasanya ekspresi yang kulihat darinya hanya ekspresi tengil dan menyebalkan. Malam ini aku banyak melihat sisi lain darinya yang tidak pernah kulihat selama satu tahun sekelas dengannya. Hmm ada apa denganku?

“Hah dasar anak muda. Ya sudah, aku pergi dulu ya.”

“Harabeoji mau ke mana?”

“Ke rumah tetangga.”

“Hah? Malam-malam begini?”

Harabeoji itu tidak menjawab pertanyaan Chae Ri.

“Sudah ya, aku pergi dulu. Kamarnya ada dua. Jadi kau bisa pakai kamarku.” ujar harabeoji itu sambil melirik ke arahku, “Lalu kau Nona, kau bisa pakai kamar di seberangnya. Aku permisi dulu. Annyeong haseyo.”

“Eh, tapi nanti harabeoji kembali lagi kan?”

“Jangan menungguku. Kalian tidur saja duluan.” ujarnya santai sambil memakai sandal jeraminya, “Kusarankan sebaiknya kalian tidur sebelum jam dua belas.” Tambahnya lagi, masih dengan tubuh membelakangi aku dan Chae Ri.

“Memangnya kenapa, Harabeoji?” tanyaku penasaran.

Ia berbalik dengan ekspresi yang mencekam dan menjawab dengan suara sangat pelan, “Nan-ti a-da han-tu.”

Greb. Kurasakan ada yang mencengkeram tanganku lagi. Aku langsung menengok ke arah yeoja yang ada di sebelahku ini. Kulihat ia hanya sedang menunduk dengan ekspresi sangat tegang. Wajahnya terlihat pucat lagi. Ini pasti efek dari satu kata yang terdiri dari lima huruf itu, H-A-N-T-U. Wah harabeoji itu harus tanggung jawab.

“Ha…” tenggorokanku tercekat saat akan memanggilnya, “Mwo? Dia sudah menghilang? Cepat sekali? Dasar kakek-kakek aneh.”

Kupalingkan lagi wajahku ke arah Chae Ri. Kulihat wajahnya sudah mulai memerah lagi. Aku yakin, tidak sampai satu menit lagi juga dia akan menangis lagi.

“Sandeul-ah…” tiba-tiba dia menoleh ke arahku dengan mata berkaca-kaca.

“Ne?”

“Malam ini kau tidur bersamaku ya?”

“MWO?!”

“Dasar pervert! Maksudku kita tidur di kamar yang sama!”

Oh, begitu maksudnya. Aku kira… Ya tapi baguslah dia jadi semangat lagi, tidak tegang seperti tadi.

“Aku bercanda, aku bercanda.” aku membela diri, “Ya sudah ayo.”

Lagi-lagi Chae Ri menggenggam tanganku. Aku menengok sekilas ke arahnya. Ia menunduk dan terlihat sedikit tegang sambil menggigit kuku tangannya yang satunya lagi.

“Tidak usah takut, ada aku.”

Chae Ri POV

Aku takut, benar-benar takut. Selain karena suasana malam di pemukiman ini yang dihiasi hujan lebat, aku juga merasa tidak nyaman dengan rumah ini. Sejak awal melihatnya, aku merasa aura rumah ini tidak enak. Rumah ini tampak menyeramkan bagiku. Entah aku yang terlalu penakut atau apa, aku juga tidak mengerti.

“Tidak usah takut, ada aku.”

Eh? Sandeul? Barusan Sandeul kan yang bicara? Aku melihat ke arahnya. Kulihat dia menatap lurus ke depan. Aku tidak bisa melihat ekspresinya sekarang, wajahnya tertutup poni dan kacamata. Tapi mendengar suaranya barusan, entah kenapa aku jadi merasa tenang. Rasanya ada aura pelindung di sana. Ini pertama kalinya aku merasakan aura seperti ini saat di samping Sandeul. Omooo ada apa ini? Kenapa tiba-tiba pipiku terasa panas? Dan jantungku…jantungku…kenapa tiba-tiba terasa berdetak lebih cepat dari biasanya?

Pesssss (suara lampu mati maksudnya)

“KYAAAAA!”

“Ya! Chae Ri-ah! Tenanglah, Chae Ri-ah! Gwaenchana!”

“Aku…aku takut, Sandeul…”

“Ne, ne, aku tau. Tenanglah.”

Criiiing (ada cahaya maksudnya)

“Sedikit lebih baik kan?”

Sandeul menyalakan senternya. Aku melepaskan pelukanku dan hanya merespon pertanyaannya dengan sebuah anggukan kecil.

“Sudah, tidak usah takut. Tidak ada apa-apa di sini. Lebih baik sekarang kita tidur. Besok kita harus bangun pagi-pagi dan mencari jalan agar keburu sekolah.”

Lagi-lagi aku hanya mengangguk pelan. Dan aku mulai memeluk tangannya. Aku sangat takut. Tidak ada lagi yang bisa aku pakai (?) untuk bersandar sekarang selain Sandeul. Sungguh, malam ini aku melihat sisi lain dari Sandeul yang tidak pernah aku lihat sebelumnya selama satu tahun aku sekelas dengannya. Biasanya aku hanya melihat sisi galak, dingin, dan ambisiusnya. Tapi malam ini aku melihat sisi baik dan sisi pelindungnya. Sungguh di luar dugaan. Aku kira yang ada di pikirannya hanya prestasi dan prestasi. Ternyata tidak. Ternyata ia orang yang baik dan care juga. Ternyata dia manusia normal juga #._.v

“Kau tidurnya jangan jauh-jauh ya? Kau tidur di sampingku saja. Kita pakai tas saja untuk pembatasnya.”

“Ne. Eh, itu ada kasur lipat dan bantal.” (bantal kasur ala-ala Korea tradisional getooo)

Sandeul berjalan menuju peralatan tidur yang terletak di pojok kamar itu. Dia membawanya dan kembali ke tengah kamar, ke arahku.

“Eh, kasur dan bantalnya cuma satu.”

“Terus kenapa?”

Hih anak ini! Baru saja aku kagum padanya, dia sudah menjatuhkan imagenya lagi   -_-

“Maksudku, di sini kan ada dua orang. Jadi, kalau kasurnya cuma satu, yang satu lagi mau tidur di manaaaaa?”

“Oh. Tentang saja. Aku akan tidur di lantai.”

“Aigoo kau ini sangat ambisius masalah prestasi tapi apatis sekali dengan hal-hal lain ya? Ini kan demi kau juga! Kalau tidur di lantai nanti bisa-bisa kau masuk angin! Ayo ikut aku!” aku menarik tangan Sandeul dan merebut senternya.

Karena di sini ada dua kamar, kurasa ada satu kasur lipat lagi di kamar yang satunya.

“Omooo kenapa tidak ada ya?” aku sudah mengobrak-ngabrik ke seluruh penjuru kamar dan juga ke dalam lemarinya.

“Sudah kubilang tidak ada kan?”

Aku hanya mempoutkan bibirku.

“Lagipula ada yang salah ya denganmu? Kau ini penakut sekali tapi kenapa tiba-tiba jadi berani begini?”

Aigoo! Benar juga yang Sandeul bilang! Kenapa rasa takutku tidak terlalu muncul ya? Apa karena aku terlalu mengkhawatirkan Sandeul? Omoooo ada apa dengankuuuuu???? *O* Eh tapi setidaknya aku masih menarik Sandeul untuk menemaniku. Ini artinya aku masih waras. Ya masih waras!

“A-ani. Ayo tidur!”

Kami kembali ke kamar tadi.

“Ini.”

“Mwo?”

“Itu bantal.”

“Ne, tentu saja aku tau ini bantal. Maksudku kenapa kau memberikannya padaku?”

“Pabo! Tentu saja untuk ditiduri! Mana mungkin untuk dimakan? Kau pikir ini pillow pop hah?”

“Tidak usah, kau saja yang pakai.”

Ish namja ini!

“Aku sudah ada kasur, jadi kau saja yang pakai bantalnya. Chaljayo!” ujarku sambil melemparkan bantal yang ternyata mengenai wajahnya. Kekeke syukurin!

*              *          *

Author POV

Matahari pagi sudah terbit sempurna. Sinarnya masuk ke celah-celah jendela rumah usang itu dan berhasil mengusik dua insan yang masih terlelap di tengah ruangan ini. Salah satu di antara mereka perlahan-lahan membuka matanya. Kemudian disusul oleh yang satunya lagi, dan…

“KYAAAAAAAA!!”

“K-kau…kau…kenapa tangan dan kakimu tadi ada di atasku!!!”

“Ti-tidak tau! Aku benar-benar tidak tau! Itu bukan atas keinginan…eh…” Sandeul terdiam sejenak. Dia baru ingat dengan kebiasaan tidurnya yang tidak mau diam, “Mi…mianhae. Aku baru ingat kalau aku tidak bisa diam kalau sedang tidur…”

“MWO? KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI KEMARIIIIIN!” Chae Ri melemparkan bantal yang semalaman dipakai oleh Sandeul.

“MELIHAT WAJAHMU YANG BEGITU MENYEDIHKAN KEMARIN MANA INGAT AKU DENGAN HAL KECIL SEPERTI ITU!”

“MWO? MENYEDIHKAN KATAMU!!” Chae Ri terdiam sejenak, “Eh chamkaman. Apa kau merasa ada yang berubah dari rumah ini?”

Chae Ri melihat ke sekeliling ruangan itu. Sandeul yang belum menyadari apa yang Chae Ri sadari, segera mengikuti arah pandangan Chae Ri.

“Untuk kali ini saja, kau benar…” jawab Sandeul dengan tatapan kosong.

Lalu mereka saling berpandangan dan berlari menuju ruang tamu.

“Me…mejanya kok gosong begini ya? Padahal kemarin kan baik-baik saja.”

“Kalau memang ada kebakaran, kita juga pasti sudah hangus terbakar kan?”

“Apa jangan-jangan…”

Sandeul kembali ke kamar tadi. Chae Ri mengikutinya.

“Tapi…tas kita masih utuh juga, Chae Ri…”

“Kalau menurut pengalaman di film-film yang aku tonton…ini….”

“KYAAAAAAAAAAAA!”

Keduanya berlari keluar rumah itu (tidak lupa membawa tasnya). Dua orang ahjumma yang (nampaknya) mau pergi ke pasar dan tidak sengaja melintasi rumah itu, tentu saja sangat keget melihat dua orang remaja keluar dari sana sambil berteriak seheboh itu.

“Ada apa, Nak?” tanya salah satu ahjumma kepada mereka.

“I…i…itu…”

“Korban ke sembilan.” ujar ahjumma yang satu lagi dengan ekspresi misterius.

“Ko…korban?” Sandeul penasaran dengan apa yang dikatakan ahjumma barusan.

“Ya, kalian korban ke sembilan yang etrjebak di rumah ini.”

“Maksudnya?”

“Rumah ini dulunya dihuni oleh seorang harabeoji. Dia hanya tinggal sendiri di sini. Anak dan cucunya tinggal jauh dari beliau. Mereka jarang mengunjungi beliau. Oleh karena itu beliau sering merasa kesepian. Tapi karena kebaikan dan pribadinya yang supel, tetangga-tetangganya sangat menyayangi beliau. Mereka sering mengunjungi rumah harabeoji ini. Bahkan sesekali mereka mengirim makanan untuk beliau. Beliau juga sangat dekat dengan anak-anak. Sayangnya, sepuluh tahun yang lalu, rumah ini mengalami kebakaran yang disebabkan oleh lampu minyak milik beliau. Dan kebakaran ini akhirnya menewaskan beliau malam itu juga.”

“Ja…jadi…harabeoji yang kami temui kemarin…”

“Ne, itu arwah harabeoji itu. Beliau sangat menyayangi anak-anak, oleh karena itu ia senang jika ada siswa atau anak kecil yang tersesat saat malam bulan purnama. Tapi beliau adalah hantu yang baik. Beliau hanya ingin bersama dan melindungi anak-anak. Dalam dua tahun ini sudah terjadi sembilan kasus seperti ini. Tapi tidak pernah terjadi sesuatu yang buruk pada orang-orang yang mengalaminya itu. Jadi kalian tenang saja, tidak usah takut.”

“Hiks…hiks…” Chae Ri mulai sesenggukan dan menggenggam tangan Sandeul, “HUWAAAAAA”

“Ya! Ya! Kim Chae Ri! Uljima!!!”

Author     : Puput

Judul        : Phantera Calculus Paradiseae Love – Part 2

Kategori   : Friendship, romance, little horror

Rating      : PG-15

Main cast : – B1A4 Sandeul as Sandeul/ Lee Jung Hwan

– Kim Chae Ri as You

Other cast : – Mysterious harabeoji

Author POV

Tok tok tok…

“Annyeong haseyo…”

Cklek

“Nugu ya?” tanya harabeoji berambut putih dan berjanggut seperut, sang pemilik rumah.

“Jwesonghamnida, Harabeoji. Kami siswa Seoul International High School. Kami baru selesai melakukan penelitian dan ternyata terlalu malam. Kami juga tidak tau jalan pulang. Jadi, kami berencana untuk menginap di  sini.”

“Mwo? Menginap? Lee Jung Hwaaaan apa yang kau pikirkan hah? Bagaimana dengan eommaku? Eomma pasti akan membunuhku!!!”

“Kalau begitu beri tau aku jalan pulang dari bukit ini sekarang juga.”

“Kita bisa mencarinya malam ini atau bahkan meminta bantuan kepada orang tua kita!!”

“Itu hanya akan merepotkan, Kim Chae Ri! Sudahlah kau ikuti saja keputusanku ini!”

Chae Ri tidak melawan perkataan Sandeul. Dia terlalu takut melihat Sandeul yang seperti itu. Ini pertama kalinya Sandeul membentaknya dan berekspresi seperti itu. Bentakannya beda dari biasanya. Chae Ri hanya menatap Sandeul dengan mata berkaca-kaca. Situasi ini saling mendukung untuk membuatnya menangis.

“Sudah, sudah jangan bertengkar. Lebih baik kalian bicarakan ini di dalam.” harabeoji pemilik rumah itu berusaha menengahi, “Silahkan masuk.”

“Ne, kamsahamnida.”

Sandeul mulai melangkahkan kaki masuk ke rumah tradisional itu. Interior serba kayu dan peralatan tradisional menyambutnya begitu masuk dengan sempurna ke dalam rumah itu. Tapi sesuatu menahannya dari luar.

“Aigoo kau sedang apa di situ? Aku tidak bisa masuk karena jas hujanku ditarik terus olehmu!”

“Kalau kau mau masuk, masuk saja. Lepaskan jas hujannya. Aku akan mencari jalan pulang sendiri.” ujar Chae Ri dengan wajah super suram dan bibir manyun juga mata berkaca-kaca (suram sekali -_-)

“Ya sudah sana. Aku mau menginap di sini. Selamat mencari jalan pulang bersama para H-A-N-T-U dan mungkin binatang buas di sana.” timpal Sandeul cuek sambil melepas pegangannya dari jas hujan.

Mendengar kata ‘hantu’, wajah Chae Ri yang tadinya suram langsung berubah pucat. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia langsung melepaskan jas hujannya dan masuk ke dalam rumah beinterior serba kayu itu. Ia langsung duduk di depan meja kayunya.

“Dasar childish.” gumam Sandeul pelan sambil memungut jas hujannya.

“Silahkan diminum.” tiba-tiba harabeoji pemilik rumah itu sudah kembali dengan membawa nampan dengan dua cangkir tradisional di atasnya.

“Ne, kamsahamnida.” Sandeul tersenyum ramah pada harabeoji itu.

“Maaf, aku tidak punya apa-apa selain ini.”

“Ah, gwenchana yo, Harabeoji. Diizinkan menginap di sini saja, kami sudah sangat berterima kasih. Pasalnya akan sangat sulit dan berbahaya bagi kami untuk mencari jalan pulang mengingat ini sudah malam terlebih hujannya sangat lebat.”

“Ne, memang akan sangat sulit untuk mencari jalan pulang dalam kondisi seperti ini. Lagipula…hutan ini berhantu.”

‘Aigoo dasar orang tua, percaya takhayul.’ pikir Sandeul.

Greb! Ada sesuatu mencengkeram tangan Sandeul dari arah kanan. Saat ia tengokkan kepalanya, ia lihat Chae Ri terlihat sangat pucat. Saat ia telusuri lebih bawah, ia melihat tangan Chae Ri sedang mencengkeram tangannya erat.

‘Hah pasti yeoja ini ketakutan setengah mati mendengar kata hantu di tengah malam dengan kondisi hujan lebat seperti ini.’ pikir Sandeul.

My only hope it is you, naye soneul jabajwo

Terlihat sesuatu bersinar dari kantung jaket Chae Ri. Dengan lemasnya, ia merogoh sakunya dan meraih benda yang bersinar itu.

“Yeo-yeobeoseyo, Eomma.”

Ternyata eommanya yang menelepon.

“A…aku…aku…hiks…”

‘Dasar yeoja pabo! Dia malah menangis saat menerima telepon dari eommanya.’

“Ya! Dasar yeoja pabo! Sini berikan ponselnya!” bentak Sandeul pelan agar tidak terdengar oleh orang di seberang sana, “Yeobeoseyo, Ahjumma. Joneun Lee Jung Hwan imnida. Sekarang kami masih kerja kelompok di rumah Ji Yeon. Sepertinya masih banyak yang harus dikerjakan dan harus selesai besok. Jadi, sepertinya Chae Ri akan menginap di sini. Sedangkan namja-namjanya akan menginap di rumah Sunwoo. Jadi ahjumma tidak usah khawatir.”

“….”

“Oh itu, tadi ada kecoa yang hinggap di kepala Chae Ri. Dia sangat ketakutan dan masih menangis sampai sekarang.”

“…”

“Ne, ne, annyeonghaseyo.”

Selesai menutup telepon, Sandeul menengok ke arah Chae Ri yang masih sesenggukan dan melihat ke arahnya.

“Ini ponselmu. Selesai kan? Eommamu tidak seseram yang kau bayangkan. Itu sih kaunya saja yang tidak bisa melobi orangtua.”

“Hiks…hiks…huwaaaaa” tiba-tiba Chae Ri memeluk Sandeul, “Aku takut sekali, Sandeul, aku sangat takut.”

Sandeul POV

“Hiks…hiks…huwaaaaa…”

Deg! Tiba-tiba Chae Ri memelukku!

“Aku takut sekali, Sandeul, aku sangat takut.”

Ya Tuhan, ini pertama kalinya aku berpelukan dengan seorang yeoja selain eomma dan adikku sendiri! Bahkan terakhir berpelukan dengan mereka pun, itu sudah hampir tujuh tahun yang lalu, waktu aku masih kelas 3 SD! Bahkan dengan mantan yeoja chinguku saja tidak pernah! Aigoo *O*

‘Otte? Jujur aku sangat deg-degan! Tapi…tapi…aku tidak tega melepaskan pelukannya. Dia terlihat terlalu lemah malam ini.’

Tiba-tiba tanganku seakan bergerak sendiri menuju kepala Chae Ri. Tiba-tiba tanganku mengelus rambutnya.

“Su…sudahlah, Chae Ri. Uljimayo. Everything will be OK. Dan sekarang kita sudah aman di sini. Tidak ada yang perlu kau takutkan lagi ne?”

Entah malaikat apa yang telah membujukku untuk memiliki perasaan ingin melindungi yeoja ini. Keadaannya saat ini terlihat sangat lemah. Ini pertama kalinya aku melihat Chae Ri selemah ini. Ternyata dia memang benar-benar penakut. Dia benar-benar takut hantu seperti aku takut nilaiku turun. Sangat mengerikan. #lebay ga? biarin deh ._.v

Sekitar tiga menit Chae Ri menangis di pelukanku. Kini nampaknya dia sudah sedikit lebih tenang. Kini tubuhnya tidak bergetar lagi. Tangisnya pun mulai mereda.

“Mi…mianhae, Sandeul-ah. Aku…aku terlalu takut…” ia melepaskan pelukannya dan masih sedikit sesenggukan.

“Gwaenchana, Chae Ri-ah. Sekarang aku mengerti. Ternyata perasaan takutmu ternyata tidak main-main, sama seperti rasa takutku kalau nilaiku turun.”

“Pabo!”

“Aw!” dia menjitakku!

“Tentu saja tidak main-main! Kau kira dari tadi aku main-main apa? Mulai dari mengeluarkan bawang putih sampai menangis sejadi-jadinya barusan, apa itu tidak cukup untuk membuktikan kalau aku sangat ketakutan!”

Hih yeoja ini!!! Naluri menyebalkannya kambuh lagi! Tapi…melihat wajahnya yang masih basah karena air mata membuatku kehilangan tenaga untuk marah padanya. Ia terlihat begitu lemah dan pantas untuk dilindungi dan ditenangkan. Sungguh kontras dengan ekspresinya sehari-hari yang tengil dan menyebalkan -_-

“Sudah, sudah, jangan bertengkar terus. Belum menikah saja sudah seperti ini, bagaimana kalau sudha menikah nanti?” tiba-tiba harabeoji itu datang dari arah kamar.

“MWO? MENIKAH?”

“Ah, dasar anak muda jaman sekarang. Kalian pikir kalian pacaran untuk apa? Hanya untuk senang senang?”

Hah? Pacaran? Aigoo harabeoji ini sudah hilang muncul-hilang muncul tidak jelas, tiba-tiba muncul dan menyangka kami pacaran. Aigoo, memangnya aku dan Chae Ri seperti pasangan kekasih ya? Yang benar saja… -.-“

“Ani yo, Harabeoji. Kami cuma teman, benar-benar cuma teman.” aku berusaha menjelaskan. Tentu saja aku tidak mau disangka pacaran dengan yeoja menyebalkan ini. Walaupun dia cantik, eh? Pabo pabo pabo Lee Jung Hwan pabo! Kenapa kau bisa berpikiran dia cantiiiiik!!

“Eh? Kau ini kenapa? Memukul-mukul kepalamu sendiri. Jangan-jangan kau membayangkan hal yang tidak-tidak ya?” tanyanya sambil menyilangkan kedua tangan tepat di depan dadanya. Apa-apaan itu? Dia pikir aku ini pervert!

“Heh! Yeoja aneh! Kau pikir aku ini pervert apa? Menyilangkan tangan seperti itu. Kau pikir aku tergoda dengan ‘tubuh datarmu’ itu? Haaaah itu sih dasar kaunya saja yang yadong!”

“M-mwo?”

Sepertinya dia kelabakan mencari kata-kata untuk membalas perkataanku barusan. Hahaha makanya jangan coba-coba melawan Tuan Lee Jung Hwan HAHAHAHA *evilaugh #apasiiiih -_-

“Me…memangnya…aku…aku berpikir yang seperti itu ya? Itu…itu sih kaunya saja pervert jadi mengira aku sedang memikirkan yang macam-macam!”

“Heh! Anak umur lima tahun sekalipun pasti tau apa yang dipikirkan seorang yeoja saat mereka menyilangkan tangannya seperti itu!”

“K-kau…”

Nampaknya dia kehabisan kata-kata. Kekeke lucunya, wajahnya saat marah dan gugup sekarang terlihat sangat manis. Eh? Aigoo kali ini setan apa yang merasukiku hingga aku berpikiran seperti itu! Memang ini pertama kalinya aku melihat bermacam-macam ekspresi darinya. Biasanya ekspresi yang kulihat darinya hanya ekspresi tengil dan menyebalkan. Malam ini aku banyak melihat sisi lain darinya yang tidak pernah kulihat selama satu tahun sekelas dengannya. Hmm ada apa denganku?

“Hah dasar anak muda. Ya sudah, aku pergi dulu ya.”

“Harabeoji mau ke mana?”

“Ke rumah tetangga.”

“Hah? Malam-malam begini?”

Harabeoji itu tidak menjawab pertanyaan Chae Ri.

“Sudah ya, aku pergi dulu. Kamarnya ada dua. Jadi kau bisa pakai kamarku.” ujar harabeoji itu sambil melirik ke arahku, “Lalu kau Nona, kau bisa pakai kamar di seberangnya. Aku permisi dulu. Annyeong haseyo.”

“Eh, tapi nanti harabeoji kembali lagi kan?”

“Jangan menungguku. Kalian tidur saja duluan.” ujarnya santai sambil memakai sandal jeraminya, “Kusarankan sebaiknya kalian tidur sebelum jam dua belas.” Tambahnya lagi, masih dengan tubuh membelakangi aku dan Chae Ri.

“Memangnya kenapa, Harabeoji?” tanyaku penasaran.

Ia berbalik dengan ekspresi yang mencekam dan menjawab dengan suara sangat pelan, “Nan-ti a-da han-tu.”

Greb. Kurasakan ada yang mencengkeram tanganku lagi. Aku langsung menengok ke arah yeoja yang ada di sebelahku ini. Kulihat ia hanya sedang menunduk dengan ekspresi sangat tegang. Wajahnya terlihat pucat lagi. Ini pasti efek dari satu kata yang terdiri dari lima huruf itu, H-A-N-T-U. Wah harabeoji itu harus tanggung jawab.

“Ha…” tenggorokanku tercekat saat akan memanggilnya, “Mwo? Dia sudah menghilang? Cepat sekali? Dasar kakek-kakek aneh.”

Kupalingkan lagi wajahku ke arah Chae Ri. Kulihat wajahnya sudah mulai memerah lagi. Aku yakin, tidak sampai satu menit lagi juga dia akan menangis lagi.

“Sandeul-ah…” tiba-tiba dia menoleh ke arahku dengan mata berkaca-kaca.

“Ne?”

“Malam ini kau tidur bersamaku ya?”

“MWO?!”

“Dasar pervert! Maksudku kita tidur di kamar yang sama!”

Oh, begitu maksudnya. Aku kira… Ya tapi baguslah dia jadi semangat lagi, tidak tegang seperti tadi.

“Aku bercanda, aku bercanda.” aku membela diri, “Ya sudah ayo.”

Lagi-lagi Chae Ri menggenggam tanganku. Aku menengok sekilas ke arahnya. Ia menunduk dan terlihat sedikit tegang sambil menggigit kuku tangannya yang satunya lagi.

“Tidak usah takut, ada aku.”

Chae Ri POV

Aku takut, benar-benar takut. Selain karena suasana malam di pemukiman ini yang dihiasi hujan lebat, aku juga merasa tidak nyaman dengan rumah ini. Sejak awal melihatnya, aku merasa aura rumah ini tidak enak. Rumah ini tampak menyeramkan bagiku. Entah aku yang terlalu penakut atau apa, aku juga tidak mengerti.

“Tidak usah takut, ada aku.”

Eh? Sandeul? Barusan Sandeul kan yang bicara? Aku melihat ke arahnya. Kulihat dia menatap lurus ke depan. Aku tidak bisa melihat ekspresinya sekarang, wajahnya tertutup poni dan kacamata. Tapi mendengar suaranya barusan, entah kenapa aku jadi merasa tenang. Rasanya ada aura pelindung di sana. Ini pertama kalinya aku merasakan aura seperti ini saat di samping Sandeul. Omooo ada apa ini? Kenapa tiba-tiba pipiku terasa panas? Dan jantungku…jantungku…kenapa tiba-tiba terasa berdetak lebih cepat dari biasanya?

Pesssss (suara lampu mati maksudnya)

“KYAAAAA!”

“Ya! Chae Ri-ah! Tenanglah, Chae Ri-ah! Gwaenchana!”

“Aku…aku takut, Sandeul…”

“Ne, ne, aku tau. Tenanglah.”

Criiiing (ada cahaya maksudnya)

“Sedikit lebih baik kan?”

Sandeul menyalakan senternya. Aku melepaskan pelukanku dan hanya merespon pertanyaannya dengan sebuah anggukan kecil.

“Sudah, tidak usah takut. Tidak ada apa-apa di sini. Lebih baik sekarang kita tidur. Besok kita harus bangun pagi-pagi dan mencari jalan agar keburu sekolah.”

Lagi-lagi aku hanya mengangguk pelan. Dan aku mulai memeluk tangannya. Aku sangat takut. Tidak ada lagi yang bisa aku pakai (?) untuk bersandar sekarang selain Sandeul. Sungguh, malam ini aku melihat sisi lain dari Sandeul yang tidak pernah aku lihat sebelumnya selama satu tahun aku sekelas dengannya. Biasanya aku hanya melihat sisi galak, dingin, dan ambisiusnya. Tapi malam ini aku melihat sisi baik dan sisi pelindungnya. Sungguh di luar dugaan. Aku kira yang ada di pikirannya hanya prestasi dan prestasi. Ternyata tidak. Ternyata ia orang yang baik dan care juga. Ternyata dia manusia normal juga #._.v

“Kau tidurnya jangan jauh-jauh ya? Kau tidur di sampingku saja. Kita pakai tas saja untuk pembatasnya.”

“Ne. Eh, itu ada kasur lipat dan bantal.” (bantal kasur ala-ala Korea tradisional getooo)

Sandeul berjalan menuju peralatan tidur yang terletak di pojok kamar itu. Dia membawanya dan kembali ke tengah kamar, ke arahku.

“Eh, kasur dan bantalnya cuma satu.”

“Terus kenapa?”

Hih anak ini! Baru saja aku kagum padanya, dia sudah menjatuhkan imagenya lagi   -_-

“Maksudku, di sini kan ada dua orang. Jadi, kalau kasurnya cuma satu, yang satu lagi mau tidur di manaaaaa?”

“Oh. Tentang saja. Aku akan tidur di lantai.”

“Aigoo kau ini sangat ambisius masalah prestasi tapi apatis sekali dengan hal-hal lain ya? Ini kan demi kau juga! Kalau tidur di lantai nanti bisa-bisa kau masuk angin! Ayo ikut aku!” aku menarik tangan Sandeul dan merebut senternya.

Karena di sini ada dua kamar, kurasa ada satu kasur lipat lagi di kamar yang satunya.

“Omooo kenapa tidak ada ya?” aku sudah mengobrak-ngabrik ke seluruh penjuru kamar dan juga ke dalam lemarinya.

“Sudah kubilang tidak ada kan?”

Aku hanya mempoutkan bibirku.

“Lagipula ada yang salah ya denganmu? Kau ini penakut sekali tapi kenapa tiba-tiba jadi berani begini?”

Aigoo! Benar juga yang Sandeul bilang! Kenapa rasa takutku tidak terlalu muncul ya? Apa karena aku terlalu mengkhawatirkan Sandeul? Omoooo ada apa dengankuuuuu???? *O* Eh tapi setidaknya aku masih menarik Sandeul untuk menemaniku. Ini artinya aku masih waras. Ya masih waras!

“A-ani. Ayo tidur!”

Kami kembali ke kamar tadi.

“Ini.”

“Mwo?”

“Itu bantal.”

“Ne, tentu saja aku tau ini bantal. Maksudku kenapa kau memberikannya padaku?”

“Pabo! Tentu saja untuk ditiduri! Mana mungkin untuk dimakan? Kau pikir ini pillow pop hah?”

“Tidak usah, kau saja yang pakai.”

Ish namja ini!

“Aku sudah ada kasur, jadi kau saja yang pakai bantalnya. Chaljayo!” ujarku sambil melemparkan bantal yang ternyata mengenai wajahnya. Kekeke syukurin!

*              *          *

Author POV

Matahari pagi sudah terbit sempurna. Sinarnya masuk ke celah-celah jendela rumah usang itu dan berhasil mengusik dua insan yang masih terlelap di tengah ruangan ini. Salah satu di antara mereka perlahan-lahan membuka matanya. Kemudian disusul oleh yang satunya lagi, dan…

“KYAAAAAAAA!!”

“K-kau…kau…kenapa tangan dan kakimu tadi ada di atasku!!!”

“Ti-tidak tau! Aku benar-benar tidak tau! Itu bukan atas keinginan…eh…” Sandeul terdiam sejenak. Dia baru ingat dengan kebiasaan tidurnya yang tidak mau diam, “Mi…mianhae. Aku baru ingat kalau aku tidak bisa diam kalau sedang tidur…”

“MWO? KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI KEMARIIIIIN!” Chae Ri melemparkan bantal yang semalaman dipakai oleh Sandeul.

“MELIHAT WAJAHMU YANG BEGITU MENYEDIHKAN KEMARIN MANA INGAT AKU DENGAN HAL KECIL SEPERTI ITU!”

“MWO? MENYEDIHKAN KATAMU!!” Chae Ri terdiam sejenak, “Eh chamkaman. Apa kau merasa ada yang berubah dari rumah ini?”

Chae Ri melihat ke sekeliling ruangan itu. Sandeul yang belum menyadari apa yang Chae Ri sadari, segera mengikuti arah pandangan Chae Ri.

“Untuk kali ini saja, kau benar…” jawab Sandeul dengan tatapan kosong.

Lalu mereka saling berpandangan dan berlari menuju ruang tamu.

“Me…mejanya kok gosong begini ya? Padahal kemarin kan baik-baik saja.”

“Kalau memang ada kebakaran, kita juga pasti sudah hangus terbakar kan?”

“Apa jangan-jangan…”

Sandeul kembali ke kamar tadi. Chae Ri mengikutinya.

“Tapi…tas kita masih utuh juga, Chae Ri…”

“Kalau menurut pengalaman di film-film yang aku tonton…ini….”

“KYAAAAAAAAAAAA!”

Keduanya berlari keluar rumah itu (tidak lupa membawa tasnya). Dua orang ahjumma yang (nampaknya) mau pergi ke pasar dan tidak sengaja melintasi rumah itu, tentu saja sangat keget melihat dua orang remaja keluar dari sana sambil berteriak seheboh itu.

“Ada apa, Nak?” tanya salah satu ahjumma kepada mereka.

“I…i…itu…”

“Korban ke sembilan.” ujar ahjumma yang satu lagi dengan ekspresi misterius.

“Ko…korban?” Sandeul penasaran dengan apa yang dikatakan ahjumma barusan.

“Ya, kalian korban ke sembilan yang etrjebak di rumah ini.”

“Maksudnya?”

“Rumah ini dulunya dihuni oleh seorang harabeoji. Dia hanya tinggal sendiri di sini. Anak dan cucunya tinggal jauh dari beliau. Mereka jarang mengunjungi beliau. Oleh karena itu beliau sering merasa kesepian. Tapi karena kebaikan dan pribadinya yang supel, tetangga-tetangganya sangat menyayangi beliau. Mereka sering mengunjungi rumah harabeoji ini. Bahkan sesekali mereka mengirim makanan untuk beliau. Beliau juga sangat dekat dengan anak-anak. Sayangnya, sepuluh tahun yang lalu, rumah ini mengalami kebakaran yang disebabkan oleh lampu minyak milik beliau. Dan kebakaran ini akhirnya menewaskan beliau malam itu juga.”

“Ja…jadi…harabeoji yang kami temui kemarin…”

“Ne, itu arwah harabeoji itu. Beliau sangat menyayangi anak-anak, oleh karena itu ia senang jika ada siswa atau anak kecil yang tersesat saat malam bulan purnama. Tapi beliau adalah hantu yang baik. Beliau hanya ingin bersama dan melindungi anak-anak. Dalam dua tahun ini sudah terjadi sembilan kasus seperti ini. Tapi tidak pernah terjadi sesuatu yang buruk pada orang-orang yang mengalaminya itu. Jadi kalian tenang saja, tidak usah takut.”

“Hiks…hiks…” Chae Ri mulai sesenggukan dan menggenggam tangan Sandeul, “HUWAAAAAA”

“Ya! Ya! Kim Chae Ri! Uljima!!!”

TBC

4 thoughts on “Phantera Calculus Paradiseae Love – Part 2

  1. SinyoungersBana Elf says:

    Bagus banget chingu… kok ga dipost di grup FF? aku nungguin lho… aku pikir ga dilanjutin lg….

    • Puput Levina says:

      yang ini belom dimunculin chingu hehe. ff aku adanya di b1a4fanfictions.wordpress.com kalo fp fb di share exo fanfiction, tapi di sana masih beberapa. visit ya ntar baca2 di sana hehe 🙂

  2. SinyoungersBana Elf says:

    aih, iya emank maksud aku di bloh itu, hhehehe yg penting udh baca sampe end deh ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s