This Time is Over (Mianhae, I Love Her) – B1A4 CNU version

Author     : Puput

Judul        : This Time is Over (Mianhae, I Love Her)

Kategori   : Romance, fantasy

Rating      : PG-13

Main cast : – B1A4 CNU as CNU/Shin Dong Woo

– Shin Je Sung as You

Other cast : – Lee Min Ji

–          Kang Yuri

–          B1A4 Baro as Cha Sunwoo

–          Other B1A4 member

Annyeong readerdeul ^^

Kali ini aku membawakan ff bergenre sedikit fantasy, tapi tetep jalur utamanya romance (ga mampu bikin ff genre lain -_-). Sebenernya ff ini ga ditujukan fantasy, cuma ide tiba-tiba aja muncul di tengah-tengah cerita, so terciptalah cerita panjang nan geje ini. ini terinspirasi dari kisah nyata saya (readers: “siapa yang nanya?”), jadi tanggung kalau ada peritiwa yang di cut hehehe. Dan ini awalnya berjudul Mianhae, I Love Her, tapi terinspirasi lagu B1A4 yang baru, aku tambahin deh. Tapi geje ga geje tolong RCL aja ya chingudeul hehehe. Gomawo 😀

CNU POV

Sudah dua hari ini aku memikirkan yeoja itu. Ingin rasanya aku menyapa yeoja itu di cyworld. Tapi aku malu. Aku tidak punya keberanian untuk itu. Sebenarnya aku sama sekali tidak mengenal yeoja itu. Hanya saja ia hoobaeku di sekolah. Dia angkatan baru, aku tau itu dari biodatanya di cyworld. Dan tahun ajaran baru tahun ini sudah menginjak tiga bulan. Tapi aku merasa tidak pernah melihatnya secara langsung padahal kelas kami sebelahan. Mungkin karena aku terlalu banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Aku memang sudah kelas tiga SMA, jadi banyak yang harus kupersiapkan untuk ujian kelulusan dan ujian masuk perguruan tinggi nanti. Selain itu aku juga tidak melihat yeoja itu saat malam orientasi terakhir sekolah kami. Padahal aku hadir di sana.

“Eh, dia sedang online!” pekikku senang, “Aku akan mencoba menyapanya!”

CNU             : Annyeong…Ini Shin Jesung kelas 1-1 ya?

Aku termenung terdiam menunggu balasan darinya. Satu menit, dua menit, tiga menit, sampai akhirnya setengah jam, tidak ada jawaban.

“Hmm mungkin aku terlalu frontal langsung to the point begitu…”

Kutinggalkan laptopku dan tiduran di kasur. Tanpa terasa aku tertidur. Sampai akhirnya aku lihat jam sudah menunjukkan pukul lima sore.

“Lumayan juga aku tertidur empat jam.”

Aku berdiri dan kembali menuju laptopku. Kulihat sebaris kalimat di cyworldku.

Shin Je Sung             : Ne. Kau anak kelas 1 juga ya? Tapi rasanya aku tidak pernah                                               melihat ataupun mendengar namamu?

Tanpa banyak basa basi, aku langsung mengetikkan beberapa kata di laptopku.

CNU                         : Ani, aku sunbaemu.

Satu menit. Dua menit. Lagi-lagi, yeoja ini membuatku menunggu. Tak lama kemudian…

Shin Je Sung          : Oh, aku kira kau kelas 1 juga. Karena kalau tidak salah aku

menemukan akunmu di grup angkatanku.

CNU                         : Oh itu untuk keperluan promosi festival olahraga sekolah kita.                                               jadi aku masuk grup angkatan kalian.

Shin Je Sung             : Oh begitu.

“Aigo dia dingin sekali. Sepertinya ia sama sekali tidak tertarik padaku.”

CNU                         : Festival olahraganya sudah dimulai tiga hari yang lalu lho.                                                      Tapi sepertinya aku tidak pernah melihatmu hadir di sana?

Shi Je Sung               : Aku malas, Sunbae hehe.

“Akhirnya dia tertawa juga hihi. Aku jadi membayangkannya tersenyum langsung.”

CNU                         : Aigo dukunglah teman-temanmu. Besok datang ne?

Shin Je Sung             : Hmm kita lihat saja nanti. Tergantung moodku hehehe.

“Ya Tuhan, yeoja ini makin membuatku penasaran. Semoga besok ia datang ke festival olahraganya. Semoga.”

Keesokan harinya…

“Shin Woo hyung!!”

“Baro-ya!”

“Aku kira kau tidak akan datang.”

“Tidak mungkin aku tidak datang. Mustahil seorang atlet basket terbaik di sekolah ini tidak datang ke festival olahraga hahaha.”

Baro memandangku penuh selidik, “Jinjja? Lalu ke manakah ATLET TERBAIK kita selama tiga hari kemarin?”

“Aigo biasa saja menyebut atlet terbaiknya! Tidak usah ditekankan seperti itu hahaha. Kemarin aku sedang sibuk, jadi tidak ada waktu untuk mengunjungi kalian.”

“Jinjja?” tanya Baro masih dengan tatapan menyelidik, “Ya sudah yang penting hari ini kau datang, Hyung.” kini tersungging senyuman di bibir Baro.

Ya festival olahraga memang sudah dimulai tiga hari yang lalu. Tapi selama tiga hari itu aku tidak pernah datang, bahkan saat upacara pembukaan sekaligus. Padahal aku salah satu sunbae paling penting yang menjadi pioneer terlaksananya acara ini. Akhir-akhir ini pikiranku banyak disibukkan oleh urusan ujian dan prospek kuliah. Aku ingin lulus dengan nilai terbaik dan masuk perguruan tinggi favorit di Seoul ini. Dan satu hal lagi yang menyibukkan pikiranku akhir-akhir ini, Shin Je Sung. Yeoja imut dan manis itu seakan-akan selalu menari-nari di pikiranku.

“Dia jadi datang tidak ya?”

“Mwo? Nugu, Hyung?”

Eh ternyata aku bergumam terlalu kencang.

“Jinyoung, ne, Jinyoung. Ke mana dia?” aku berbohong. Padahal sebenarnya yang aku harapkan Je Sung, bukan Jinyoung.

“Oh, Jinyoung hyung katanya tidak bisa hadir hari ini. Ada janji dengan yeojanya.”

Aish si Jinyoung ini. Selalu saja mengalahkanku! Baik dalam hal basket maupun yeoja. Aku juga harus segera memiliki yeoja chingu. Min ji? Ani, aku tidak menyimpan perasaan padanya. Lee Min Ji, dia adalah seorang yeoja yang sudah menyukaiku sekitar satu tahun yang lalu. Kedekatan kami dan sikap perhatianku karena kami satu ekskul membuatnya jatuh cinta padaku. Tapi aku tidak menyukainya. Aku hanya menyukai dan menyayanginya sebagai sahabat. Tapi rupanya ia menginginkan lebih dari itu. Perasaannya padaku terus seperti itu, tidak berubah. Sayangnya hatiku juga tetap tidak berubah. Aku tetap tidak bisa membalas perasaannya. Dan yang kuinginkan sekarang untuk menjadi yeoja chinguku hanyalah Je Sung, Shin Je Sung. Memang aku tidak pernah bertemu dengannya apalagi mengenalnya. Tapi aku benar-benar jatuh cinta padanya. Wajahnya yang manis dan imut membuatku terus memikirkannya. Phisicly? Ne. Bukankah kebanyakan orang merasa jatuh cinta diawali dengan melihat fisik orang yang disukainya? Dan aku termasuk dalam orang kebanyakan itu. Shin Je Sung. Shin Je Sung. Ya, aku tidak boleh tinggal diam. Aku harus melakukan sesuatu.

‘Kebetulan dia sedang online.’

CNU                         : Annyeong 🙂

Aku online di ponselku.

Shin Je Sung             : Annyeong 🙂

CNU                         : Kau tidak datang ke festival olahraga?

Shin Je Sung             : Ani hehe

CNU                         : Wae?

Shin Je Sung             : Aku malas hehe.

CNU                         : Ya kau harus dukung teman-temanmu, Je Sung-ssi.

Shin Je Sung             : Aku malas hehe. Lagipula sekarang sedang hujan.

CNU                         : Kalau begitu aku akan menjemputmu, eotte?

Shin Je Sung             : Ani, tidak usah. aku memang sedang malas hehe

Aigo yeoja ini benar-benar tidak bisa dibujuk.

CNU                         : Baiklah. Kalau begitu, ini nomor teleponku. Kalau kau mau                                                   pergi dan butuh bantuan, hubungi aku saja.

Aku mengetikkan beberapa angka yang membentuk kombinasi menjadi sebuah nomor.

*          *          *

Empat hari berlalu terasa begitu cepat. Kini festival olahraga telah selesai. Selama empat hari terakhir aku selalu datang ke festival itu sambil sesekali melirik ponselku menanti sebuah panggilan atau setidaknya satu pesan masuk dari nomor tak dikenal. Ya memang beberapa terkahir ini ada beberapa nomor tak dikenal yang masuk. Tapi itu hanya dari partner-partner basketku di luar sekolah atau orang-orang tidak jelas yang pura-pura salah sambung. Tak satupun di antara nomor tak dikenal itu adalah nomor Je Sung. Disappointing.

Hari ini aku kembali dipertemukan dengan acara ekskul. Hari ini akan diadakan pemilihan ketua ekskul yang baru. Sebenarnya aku sangat malas. Selain karena aku yakin ia tidak akan hadir, aku juga memang sudah bosan dengan pola hidup ini. Aku ingin segera keluar dari kehidupan sekolah dan masuk ke dalam lingkungan baru yang lebih dewasa.

“Hei, kau Yuri-ssi kan?” sapaku pada seorang yeoja yang baru saja melintas di hadapanku.

“Ne. Ternyata kau mengenaliku ya, Sunbae?”

“Tentu saja. Tiga hari terkahir ini kita kan selalu keep in touch.” tak lupa aku menyunggingkan sebuah senyum di akhir penjelasanku, “Mana sahabatmu?”

“Je Sung?”

“Hmm.” aku menganggukkan kepala tanda mengiyakan.

“Dia ada di rumahnya. Mungkin sedang bermalas-malasan seperti biasa.”

“Aigo dia benar-benar pemalas ya?”

“Haha tak usah ditanya lagi, itu sama halnya dengan matahari yang sudah pasti terbit di timur. Sebuah kebenaran mutlak.”

“Kau ini haha. Sampaikan salamku padanya ne?”

“Ne. Aku permisi dulu ya, Sunbae. Annyeong.”

“Annyeong. Eh jangan lupa sampaikan salamku ya hehe.”

Sekilas Yuri memandangku sambil memringkan kepalanya dengan tatapan menyelidik, “Ne.” kemudian ia tersenyum dan beranjak pergi.

Yuri adalah sahabatnya Je Sung. Aku mengenalnya dari cyworld juga. Aku lihat mereka dekat dari percakapan dan foto mereka di cyworld. Kemudian aku mencoba memberanikan diri untuk berkenalan dengan Yuri. Ternyata dia lebih friendly dibanding Je Sung. Entah karena perasaanku yang membuatku sedikit lebih sulit untuk akrab dengan Je Sung dibanding dengan Yuri. Ya kalian yang pernah jatuh cinta pasti mengerti kondisi ini. Mengakrabkan diri dengan orang yang disukai itu lebih sulit.

Je Sung POV

Seperti biasa hari ini aku harus berkutat dengan buku-buku tebal ini. Ya, sudah sebulan ini aku membaca buku-buku ini. Walaupun berat, tapi aku harus membacanya karena aku yang menginginkan semua ini. Aku yang bersikeras meminta pada appa dan eomma untuk terjun ke dunia ini. Jadi aku harus berjuang.

My Only hope, it is you.

From : Yuri

Je Sung-ah, ada salam dari CNU sunbae. Cieeeee cukhae yoooo hahaha

 

“??”

To: Yuri

Cukhae? What for?

 

From : Yuri

Aigo kau ini pabo atau polos sih? Maksudku sepertinya dia menyukaimu!

 

To : Yuri

Oh…aku tidak tahu, aku kan masih amatir. Kau kan sedikit lebih senior dariku.

 

From : Yuri

Ah berarti kau harus banyak belajar lagi, Shin Je Sung.

 

To : Yuri

Neeee -.-

 

Hmm ternyata kalau seperti itu, itu tandanya suka ya? Aku memang masih sangat amatir. Lalu kemarin-kemarin CNU sunbae juga sering mengobrol denganku lewat cyworld. Dia juga memberikan nomor ponsel serta berniat menjemputku untuk ke festival olahraga. Apakah itu juga bisa diartikan suka? Hmm kuharap semua ini benar.

CNU POV

“Tumben sepuluh menit sebelum jam masuk perpustakaan belum buka. Padahal biasanya 30 menit sebelum jam masuk juga sudah buka.”

Lima menit sudah aku duduk di depan perpustakaan sekolah untuk meminjam beberapa buku.

“Eh, bukankah itu Je Sung dan Yuri?”

Kugerak-gerakkan kacamataku untuk memastikan apa yang kulihat. Ya, benar. Tapi…kenapa Je Sung tidak terlihat secantik di foto? Dia terlihat sedikit berbeda.

“Sunbae!”

“Hei, Yuri-ah!”

“Sunbae sedang apa di sini?”

“Aku sedang menunggu perpustakaan buka.”

“Eh ini Je Sung. Salammu sudah kusampaikan kemarin kekeke.”

Aigo anak ini ceplas ceplos sekali -.-

“Annyeonghaseyo.” sapa Je Sung sambil membungkukkan badannya di hadapanku.

“Ah annyeong.” jawabku terbata karena masih sedikit kecewa dengan apa yang kulihat.

“Tidak usah terlalu gugup begitu, Sunbae. Kau seperti melihat seorang peri saja kekeke. Sudah ya, kami duluan. Annyeong.”

“Annyeong.”

Hmm ternyata Je Sung tidak secantik di fotonya. Rasa sukaku jadi sedikit berkurang. Memang bila dibandingkan dengan Min Ji, Je Sung masih lebih cantik. Tapi tetap saja ternyata Je Sung tidak sesuai harapanku. Lagipula ia sulit didekati. Apa aku harus menerima Min Ji? Kalau dengan Min Ji kan aku tidak usah susah-susah mendekatinya. Menyebalkan? Tapi mau bagaimana lagi? Aku mennyukai Je Sung karena penampilan fisiknya. Jadi kalau tampilan fisiknya ternyata tidak sesuai harapan, aku tidak bisa apa-apa. Aku tidak bisa merubah perasaanku. Dan aku akui itu. Aku tidak mau menjadi orang munafik yang menampik perasaan sendiri.

Tiga hari kemudian…

@Cafe

“Kau mau bilang apa?” tanya Min Ji yang duduk di hadapanku sambil memegangi sedotannya. Kyeopta memang. Tapi tetap saja yang ada di pikiranku wajah Je Sung yang sedang tersenyum dan memakai seragam sekolah yang ia pajang di cyworldnya.

“Aku hanya ingin mengatakan…kalau aku ingin memintamu menjadi yeoja chinguku.” ungkapku tanpa gugup sedikitpun. Yang kurasakan saat ini hanyalah sebuah keraguan.

Kulihat matanya yang sipit membulat dan ia hampir tersedak.

“Ji…jinjja?”

Aku mengangguk mengiyakan. Dan masih dengan keraguan. Aku ragu apakah ini keputusan yang tepat? Apakah tepat menjadikan Min Ji sahabatku sendiri sebagai pelarian? Tapi jika kemudian aku bisa mencintainya, gwaenchana.

“Bagaimana? Apa jawabanmu?” tanyaku datar. Tidak tersirat rasa penasaran di sana.

Min Ji mengangguk berulang kali hingga akhirnya ia menjawab, “Ne, ne, i do!”

Sejak saat itu, kami resmi menjadi sepasang kekasih. Dan mulai saat ini aku berjanji, aku akan belajar mencintainya.

*          *          *

Tiga bulan berlalu semenjak aku meminta Min Ji untuk menjadi yeoja chinguku. Dan syukurlah, sekarang aku sudah mulai bisa mencintainya walaupun belum sepenuh hati. Aku memang bukan seorang playboy. Tapi sayangnya aku selalu menaruh rasa sukaku pada seorang yeoja dari penampilan fisiknya. Itulah kekuranganku.

Hari ini aku kembali disibukkan dengan kegiatan ekskul padahal seharusnya aku sudah pensiun. Sekarang aku harus menghadiri pelantikan anggota baru klub basket di kampusku. Sebenarnya aku sangat malas, tapi Min Ji dan teman-teman lain termasuk Baro sang ketua klub periode tahun ini, terus saja memaksaku. Akhirnya aku hadir juga. Tapi karena malas aku datang malamnya saja, saat inti pelantikan.

Semua anggota baru diperintahkan untuk berkeliling sekolah di malam hari. Lalu sunbaedeul berjaga di pos-pos berbeda yang tersebar di seluruh sekolah. Di pos-pos itu anggota baru diajak untuk bermain game dan menambah pengetahuan tentang basket. Karena aku datang terlambat, aku langsung saja menempatkan diri di pos terakhir yang letaknya dekat gerbang.

“Ya, Hyung. Kau ke mana saja? Sudah mau kelompok terakhir kau baru datang.”

“Hehe mianhae, Baro-ya, mianhae semuanya.” jawabku sambil cengar cengir garing.

Tak lama setelah aku duduk dan berbincang dengan hoobae-hoobaeku, kulihat segerombolan anak berjumlah enam orang datang menghampiri kami. Sepertinya mereka kelompok terakhir yang Baro sebutkan tadi. Eh, chamkaman. Bukankah itu Je Sung? Ne, itu Shin Je Sung! Woaaaa dia terlihat cantik malam ini. Rambutnya yang sudah lebih panjang dibanding tiga bulan lalu, membuatnya secantik di foto. Aigo sepertinya aku mulai tertarik lagi padanya.

*          *          *

Beberapa hari kemudian…

@Basecamp ekskul basket

Hmm sudah dua jam ini aku dikacanggaringkan oleh dua yeoja ini. Yang satu Min Ji, yeoja chinguku, yang satu Yun Hi, anggota baru ekskul basket. Dia juga temannya Je Sung. Berbicara mengenai Jesung, sudah sekitar tiga hari ini aku tidak melihatnya sejak malam pelantikan.

“Annyeonghaseyo.”

“Annyeo…” tenggorokanku tercekat seketika saat kudapati seorang yeoja yang sedang kupikirkan tiba-tiba ada di hadapanku. Ia sedang tersenyum manis di ambang pintu  basecamp kami. Aku yang sedang serius menonton film Sad Movie seketika langsung mengalihkan perhatianku padanya, “Je…Je Sung-ssi?”

“Annyeong.” ia kembali memberi salam sambil membungkukkan badannya setelah masuk ke dalam basecamp. Tubuhnya yang mungil dengan balutan kemeja dan rok mengembang selutut membuatnya makin terlihat manis di mataku, “Gongchan dan Sandeul belum datang ke sini ya?”

“Memangnya Gongchan dan Sandeul mau ke sini?”

“Ne, Yun Hi-ssi. Tadi kami sudah janjian untuk bertemu di sini. Mereksa ingin meminta mv-mv SNSD dariku hehehe.”

Oh jadi dia ke sini untuk bertemu Gongchan? Aish aku jadi kecewa. Jangan-jangan mereka sedang pedekate? Waktu malam pelantikan kan mereka sekelompok dan terlihat lumayan akrab juga.

Saat aku melihat ke arahnya, ia juga melihat ke arahku lalu tersenyum padaku. Aku tersenyum membalas senyumannya. Lima belas menit berlalu setelah kami kembali pada kegiatan masing-masing. Aku kembali menonton film, Min Ji dan Yun Hi kembali melanjutkan obrolan mereka. Dan Je Sung ikut masuk dalam percakapan mereka. Ternyata dia orangnya sangat supel. Dengan mudahnya ia beradaptasi dengan orang yang baru ditemuinya. Tanpa kusadari pandanganku telah fokus pada yeoja-yeoja yang sedang mengobrol di sampingku. Kuperhatikan mereka dari sudut mataku. Namun yang menjadi fokusku bukan yeoja chinguku, tapi Je Sung. Kulihat ia begitu mudahnya bercanda dan tertawa dengan Min Ji dan Yun Hi. Tawanya terlihat sangat natural, tidak dibuat-buat ataupun berusaha menjaga image, namun tetap terlihat manis.

“Oppa, kau masih menonton?” tiba-tiba Min Ji berjalan ke arahku dan duduk tepat di depanku sambil sedikit menyender. Aigo kurasa tanpa harus diberitau pun pasti Je Sung sudah tau apa hubungan yang sedang terjalin di antara kami. Kulihat ia menolehkan kepalanya dan melihat ke arah kami sekilas lalu kembali mengobrol dengan Shin Ri. Raut mukanya terlihat sedikit kecewa. Apa mungkin ia cemburu melihat kedekatan kami setelah beberapa bulan ini aku terlihat sedikit pedekate padanya? Aish kau jangan kegeeran seperti itu, Shin Dong Woo!

*          *          *

Suasana siang kota Seoul di musim panas terasa sangat menyengat. Dan bodohnya aku malah berniat pergi ke restoran jam segini. Tapi aku memang sudah sangat lapar dan ingin makan di restoran Itali.

“Tapi kalau makan sendirian sepertinya tidak seru.”

Tiba-tiba di otakku terlintas hangul membentuk sebuah nama, “Shin Je Sung.”

Dengan cepat kucari sebuah nama berinisial S di phonebook ponselku. Tidak sampai lima detik, orang yang kutuju sudah mengangkat teleponnya.

“Yeobeoseyo.”

“Yeobeoseyo, Je Sung-ah.” aku memanggilnya dengan panggilan yang lebih akrab. Memang semenjak malam pelantikan itu dan setelah latihan basket beberapa kali kami jadi lebih dekat. Tentu saja aku yang berusaha untuk bisa dekat dengannya.

“Wae yo, Oppa?” bahkan sekarang ia pun sudah memanggilku dengan panggilan oppa, bukan sunbae lagi.

“Mm…itu…apa kau sedang sibuk?”

“Ani. Wae yo?”

“Temani aku makan ya? Aku ingin makan tapi tidak ada teman. Kau orang keempat yang kutelepon. Aku harap kau tidak menolak seperti tiga orang sebelumnya.” lidahku begitu lancar untuk berbohong. Pasti Je Sung berpikir tiga orang itu adalah Min Ji, Jinyoung, dan Baro. Je Sung tau tiga orang itulah yang paling dekat denganku.

“Aku sedang malas keluar, Oppa. Hehehe.”

“Aigo tenang saja. Kau tinggal berdiri di depan rumahmu dan menungguku sebentar, aku akan menjemputmu.”

“Aku malas ganti baju, Oppa.”

“Tidak usah ganti baju. Dengan baju biasa juga kau sidah terlihat cantik.”

‘Omo aku keceplosan!’

“Emm…maksudku…tentu saja kau masih terlihat cantik dengan baju biasa. Tidak mungkin kan kau terlihat tampan hahaha.” aku berusaha menutupi kegugupanku.

“Hahaha Oppa benar juga. Tapi tetap saja aku malas, Oppa. Hehehe.”

Benar yang Yuri bilang. Kemalasan Je Sung itu layaknya matahari yang sudah pasti terbit dari timur. Sebuah kebenaran mutlak. Berulang kali aku coba membujuknya dengan berbagai cara, tetap saja gagal.

“Hmm ya sudah, aku akan cari partner lain hehehe. Gomawo yo, annyeong.”

“Ne, annyeong.”

Sepertinya aku memang harus makan sendiri. Aku sedang malas bertemu dengan Min Ji ataupun teman-teman. Yang aku inginkan untuk menemaniku saat ini hanyalah Je Sung, Shin Je Sung. Setelah lebih mengenalnya, aku jadi lebih menyukainya. Bukan hanya karena tampilan fisiknya. Tapi juga karena pribadinya yang hangat dan humoris.

Setelah hari itu, aku rutin menelepon Je Sung. Ini berlangsung sampai sekarang, sampai tiga bulan. Kalau aku merasa kangen padanya, aku pasti meneleponnya dengan alasan sedang menghabiskan bonus telepon dan sedang tidak ada kerjaan. Padahal sebenarnya aku tidak pernah peduli akan bonus telepon. Mau habis atau tidak, aku tidak peduli. Selain itu tidak mungkin aku memiliki waktu luang. Begitu banyak buku yang harus kubaca untuk ujian kelulusan dan ujian masuk perguruan tinggi favorit yang aku impikan.

Dan sudah tiga hari ini aku tidak melihatnya di sekolah. Ini aneh karena letak kelas kami bersebelahan.

“Jangan-jangan dia sakit?”

Aku berjalan menuju kelas Je Sung. Langsung saja aku clingak clinguk  dari ambang pintu mencari sesosok yeoja cantik dan imut itu. Lima yeoja di kelas itu terlihat berjalan ke arahku.

“Sunbae cari siapa?” tanya salah seorang di antara mereka.

“Shin Je Sung. Apakah hari ini ia masuk sekolah?”

Yeoja itu terlihat mengernyitkan dahinya, “Shin Je Sung?”

“Ne, Shin Je Sung. Ini kelas 1-1 kan?” tanyaku memastikan sambil melihat papan di atas pintu kelas tersebut. Tapi benar ini kelas 1-1, “Apa kau murid baru di sini?” aku kembali bertanya karena kelihatannya yeoja ini asing dengan nama Je Sung, begitu pun dengan teman-temannya yang lain. Ini sangat tidak wajar. Tahun ajaran baru sudah berjalan sembilan bulan. Tidak mungkin yang namanya teman sekelas tidak saling mengenal.

“Ani. Aku sudah sekolah di sini dari tahun ajaran baru.”

“Lalu kenapa kau tidak mengenal Shin Je Sung? Dia juga kelas 1-1. Kau tidak bercanda kan?”

“Bercanda? Ani yo, aku serius, Sunbae. Mungkin kau yang sedang tidak fit atau terlalu banyak menonton drama jadi terlalu banyak berkhayal kekeke. Sudah ya, aku mau ke kantin dulu. Annyeong.” yeoja itu membungkukkan badannya lalu berjalan melewatiku sambil masih terkekeh diikuti oleh teman-temannya yang menatapku konyol. Nampaknya mereka menganggapku mengada-ada. Tapi aku tidak mengada-ada hei! Aku serius!

Tanpa sedikitpun beranjak dari tempat itu, aku langsung merogoh saku seragamku dan meraih ponselku. Kupencet beberapa tombol untuk menelepon seseorang.

“Yeobeoseyo.”

“Yeobeoseyo. Je Sung-ah, kau di mana? Kenapa kau tidak masuk sekolah? Lalu benar kan kau kelas 1-1? Kenapa teman-teman sekelasmu ada yang tidak mengenalmu?” aku bertanya bertubi-tubi. Kurasakan ada sesuatu yang tidak beres di sini. Dan perasaanku, entah apa yang terjadi dengan perasaanku. Tiba-tiba aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi yang tidak kuinginkan. Tapi aku tidak tau apa itu.

“Oppa, datanglah ke rumahku sekarang juga.”

Deg. Tiba-tiba kurasakan jantungku berdegup kencang. Sepertinya firasatku benar. Tersirat sesuatu yang nampaknya tidak beres di balik kalimat yang diucapkan Je Sung barusan.

‘Apa ini?’ batinku sambil mencengkeram erat bajuku tepat di posisi jantung.

“Ne, aku akan ke rumahmu sekarang. Smskan saja alamat dan ciri-ciri rumahmu ke nomorku.”

“Ne.”

Tut tut tut sambungan telepon terputus. Tak sampai satu menit kemudian, kulihat satu pesan di ponselku yang tak lain dan tak bukan adalah dari Je Sung.

*          *          *

Author POV

Ting tong. Bel rumah Je Sung berbunyi. Diletakkannya majalah yang sedang ia baca di atas meja begitu saja. Ia berjalan lesu ke arah pintu. Dilihatnya seorang namja yang ia kenal di display alat penerima tamunya.

“Silahkan masuk, Oppa.”

Mengenali suara yeoja yang berbicara di mesin penerima tamu, namja bernama Shin Dong Woo atau yang biasa dipanggil CNU itu memasuki pintu gerbang dan berjalan menuju rumah yang ia tuju.

“Masuk, Oppa.” Je Sung  membukakan pintu sambil tersenyum. Senyum yang terlihat dipaksakan.

“Silahkan duduk.” ujarnya begitu mereka sudah mencapai ruang tamu, “Kau bolos ya, Oppa? Ini kan masih jam pelajaran.”

“Aku sangat khawatir padamu, Je Sung-ah. Sudah tiga hari ini aku tidak melihatmu di sekolah. Kupikir kau sakit. Tapi begitu melihat keadaanmu sekarang sepertinya tidak mungkin. Kau terlihat begitu sehat walaupun sedikit lesu. Dan yang lebih aneh lagi saat aku bertanya pada teman-temanmu, mereka malah tidak mengenalmu. Apa mereka hanya berpura-pura?” tanya CNU yang duduk persis di hadapan Je Sung.

Je Sung menatap CNU dan tersenyum sekilas, “Mereka tentu tidak akan mengenaliku, Oppa.”

“MWO?”

“Pihak penanggung jawab sudah menghapus ingatan mereka tiga hari yang lalu. Semua hal yang menyangkut aku, baik itu foto, nomor ponsel, dan semuanya pasti sudah dihapuskan secara otomatis seiring selesainya waktu perjuanganku.”

CNU semakin mengernyitkan keningnya. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Je Sung. Lagipula menghapus ingatan? Itu adalah kata-kata yang tidak masuk akal untuk menghapus ingatan orang lain. Memangnya ini di dunia Doraemon? Begitu mungkin batin CNU.

“Haha kau pasti sangat kebingungan, Oppa. Baiklah aku akan menjelaskan semuanya.”

Je Sung mulai menceritakan semuanya pada CNU. Sebenarnya Je Sung yang CNU kenal selama ini bukanlah seorang manusia. Sebenarnya dia adalah seorang peri. Dia turun ke bumi untuk menjadi manusia. Tidak sedikit peri yang tertarik dengan dunia manusia yang begitu pelik, beragam, dan penuh tantangan. Berbeda dengan dunia peri yang begitu-begitu saja, datar. Dan saking banyaknya peri yang ingin menjadi manusia, Je Sung pun sampai harus menunggu tiga hari untuk dikembalikan ke dunia peri dengan transportasi yang sengaja dibuat terbatas.

“Hahaha selera humormu bagus sekali, Jesungie. Harusnya kau gunakan kemampuanmu ini untuk menulis cerita atau bahkan novel hahaha.”

“Mungkin ini terdengatr lucu bagi manusia. Tapi ini nyata. Aku serius, Oppa. Jeongmal.”

Melihat ekspresi Je Sung yang tidak main-main, CNU menghentikan tawanya dan berganti raut muka.

“Jadi…kau benar-benar serius dengan apa yang kau ucapkan barusan?”

Je Sung mengangguk lemah dengan tetap berusaha tersenyum.

“Oleh karena itu mungkin kau heran kenapa merasa belum pernah melihatku di tiga bulan pertama ajaran baru. Itu memang aku belum datang ke dunia manusia. Masih banyak berkas yang harus diurus jadi kedatanganku telat tiga bulan dari yang sudah dijadwalkan.”

“Pantas saja aku merasa tidak pernah melihatmu padahal kelas kita bersebelahan. Tapi kenapa sampai sekarang ingatanku belum terhapus?”

“Itu karena kau namja yang tulus mencintaiku. Semua peri yang turun ke bumi berusaha untuk mencari cinta yang tulus. Itulah syarat yang harus dipenuhi dari pihak penanggung jawab jika kami ingin menjadi manusia. Kami hanya diberi waktu enam bulan untuk memenuhi syarat itu. Sangat singkat bukan? Peraturan itu sengaja dibuat agar tidak terlalu banyak peri yang berhasil menjadi manusia. Tapi kami juga bebas memilih. Apakah cinta itu ingin didapatkan dari seorang namja, cinta tulus dari seorang ibu terhadap anak, dan sebagainya. Aku memilih untuk mendapatkan cinta dari seorang namja. Karena aku ingin merasakan cinta pertama yang belum pernah kurasakan. Dan aku ingin mendapatkan cinta pertama itu di dunia manusia. Tapi ternyata strategiku salah. Aku yang tidak berpengalaman dalam hal cinta justru malah menginginkan ini untuk menjadi syaratnya. Aku memang pabo haha.”

“Tapi…bukankah kau bilang aku adalah namja yang mencintaimu dengan tulus? Berarti kau sudah berhasil menjadi seorang manusia? Lalu kenapa kau malah bilang kau pabo dan kenapa mereka malah menghapus ingatan orang-orang tentang dirimu?”

Je Sung menggelengkan kepalanya sambil tertunduk.

“Syaratnya bukan hanya itu saja, Oppa. Cinta yang kami dapat harus dari orang yang tulus juga.”

CNU terlihat tidak mengerti lagi.

“Kau tidak tergolong orang yang tulus karena kau mencintaiku sekaligus mengkhianati seorang yeoja dalam waktu yang bersamaan. Kau memiliki yeoja chingu yang begitu menyayangimu tapi kau mengkhianatinya dan berniat memilikiku.”

CNU terlihat melemah mendengar kata-kata Je Sung. Ia menyadari kesalahannya pada Min Ji yang begitu tulus mencintainya.

“Jadi kau harus segera kembali ke duniamu?” tanya CNU sedih, “Memangnya tidak ada namja lain yang tulus mencintaimu?”

Je Sung kembali menggelengkan kepalanya, “Ani. Memang banyak namja yang menyukaiku. Tapi hanya dari tampangku saja, tidak tulus. Kau juga dulu begitu kan, Oppa? Tapi aku bisa melihat, sekarang kau mulai tulus mencintaiku. Hanya caramu itu yang salah, Oppa.”

“Jadi…sudah tidak ada kesempatan bagimu untuk menjadi manusia?”

“Ada. Tapi sepertinya aku akan kembali dua tahun lagi. Aku akan menyelesaikan SMA ku dulu di dunia peri. Selama itu aku akan berusaha juga untuk lebih memahami seluk beluk manusia dan dunianya. Jujur saja, aku terbilang ngebut untuk turun ke dunia manusia. Aku tergiur dengan Yuri yang sudah berhasil jadi manusia setahun yang lalu.”

“Yuri? Jung Yuri?”

“Ne. Dia datang ke dunia manusia hampir dua tahun yang lalu. Dia memang lebih pintar dariku. Jadi saat disuguhi buku-buku tebal tentang manusia, dia lebih cepat menyerapnya dari pada aku.”

CNU tertegun. Dia tidak menyangka kalau Yuri juga seorang peri. Pantas saja kedua sahabat ini begitu cantik di matanya. Tapi tetap, Je Sung lah yang bisa merebut hatinya.

Tiba-tiba jam tangan yang dipakai Je Sung berkedip-kedip mengeluarkan sinar merah kecil.

“Kurasa ini waktunya, Oppa.”

“Ma…maksudmu?” tanya CNU dengan harapan Je Sung akan mengeluarkan jawaban berbeda dengan apa yang dipikirkannya sekarang.

“Giliranku untuk dijemput ke dunia peri sudah tiba, Oppa.”

“Bukankah…peri memiliki kekuatan untuk menghadirkan sebuah keajaiban? Kenapa kau tidak gunakan kekuatanmu itu sekarang?”

“Tidak untuk hal ini, Oppa. Kekuatan yang kami punya hanya bisa digunakan di dunia kami dan untuk hal-hal tertentu saja.”

Mata CNU mulai berkaca-kaca ketika melihat sepasang sayap mulai menyembul di belakang tubuh Je Sung. Ia tau bahwa ini adalah sinyal kalau Je Sung akan segera pergi.

“Maafkan aku jika selama ini aku mempunyai kesalahan padamu, Oppa. Gomawo sudah tulus mencintaiku selama ini. Ingat, jangan pernah khianati ataupun sakiti Min Ji eonni. Dia adalah yeoja yang sangat baik. Aku yakin Oppa akan bahagia jika terus bersamanya. Tolong jaga Min Ji eonni dan Yuri ya. Jika kau rindu padaku, datang saja pada Yuri dan minta bantuannya untuk menyambung komunikasi. Dia pasti mau membantumu. Dan tunggu aku dua tahun lagi, Oppa. Tapi bukan sebagai seorang namja, tapi sebagai seorang chingu atau bahkan seorang oppa terhadap dongsaengnya. Sampai jumpa, Oppa. Gomawo atas semuanya, gomawo atas perhatian Oppa selama ini. Kuharap Oppa, Min Ji eonni, dan Yuri bisa hidup lebih baik lagi. Annyeong.”

Sayap Je Sung mulai mengangkat tubuhnya ke atas. Tubuhnya semakin lama semakin transparan. Makin atas, makin transparan, lalu kemudian mulai menghilang dan…lenyap. CNU hanya bisa menyaksikan fenomena aneh dan menyakitkan itu tanpa bisa menahan Je Sung untuk tetap tinggal. Tangan dan tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak sedikit pun. Yang ada di pikirannya saat ini hanya Je Sung. Sampai-sampai rumah mewah yang ia masuki tadi yang kini telah berubah menjadi sebuah taman nan indah pun tak disadarinya. Air matanya terurai begitu saja sedikit membasahi pipinya.

“Je Sung-ah, saranghae. Tapi sepertinya kau memang bukan takdirku. Sesuai dengan yang kau pinta tadi, aku akan berusaha mencintai Min Ji. Ah, bukan. Lebih tepatnya berusaha setia padanya. Kalau untuk mencintai, aku pun sudah berusaha dari dulu dan sedikit berhasil.” CNU berbicara sambil memandang langti luas seakan bisa melihat Je Sung terbang di atas sana, “Sampai jumpa dua tahun lagi, Je Sung-ah. Kuharap saat itu kau masih mengenalku dan kita bisa menjadi teman atau bahkan adik dan kakak sesuai keinginanmu. Dan kuharap saat itu aku sudah bisa mencintai Min Ji sepenuhnya. Min Ji-ah…” kini tatapan CNU beralih ke layar ponselnya dengan wallpaper bergambar fotonya dan Min Ji, “Mianhae, I loved her. Mianhae karena selama ini aku telah menyia-nyiakanmu. Tapi mulai saat ini aku akan benar-benar berubah. Mulai saat ini aku akan berusaha hanya menyimpan seorang yeoja di hatiku, yaitu kau.”

CNU berusaha tersenyum walaupun pahit. Ia berjalan keluar taman tanpa tujuan dengan gontainya.

(Ending theme : 49 Days OST – Can’t It Be Me by TIM)

THE END

 

 

Eotteokhae? Serukah? Anehkah? Kecewakah? Mian kalo kurang seru, bertele-tele dan aneh hehehe. Tapi yang penting gomawo banget deh buat yang udah baca. Dan jangan lupa komennya ya hehehe. Oh iya sebenernya ending themenya ga terlalu nyamnbung sih sama cerita. Cuma gak tau kenapa kayanya kalo tanpa liat artinya, melodi lagu ini cocok buat suasana ending ff ini hehe. Oke deh, gomawo all, ditunggu komennya ^^

2 thoughts on “This Time is Over (Mianhae, I Love Her) – B1A4 CNU version

  1. sica says:

    daebak eonni!!
    aku hampir ngeluarn air mata..
    heheheh..
    *cengeng amat*
    nice ff eon..
    buat lagi ya!!
    ^^

  2. huaaaah aku kira itu ga sedih hehehe
    udah baca yang namsan tower belom saeng? menurut aku sedihan yang itu hehehe
    udah baca yang married juga belom?
    eh bantu promotin blognya dong sama temen2 kamu yang suka ff hehehe
    kamu punya blog juga saeng?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s