My Invisible Guardian Angel – Part 4

Author     : Puput

Judul        : My Invisible Guardian Angel – Part 4

Kategori   : Romance, friendship

Rating       : PG-15

Main cast : – Jung Ji Yeon as You

– B1A4 Gongchan as Gong Chan Shik

– B1A4 Jinyoung as Jung Jin Young

Other cast : – Super Junior Leeteuk as Park Jung Soo/Leeteuk/Teuki

–  Jang Min Ha

–  B1A4 Sandeul as Sandeul

–  B1A4 CNU as CNU

–  B1A4 Baro as Baro

 

Author POV

Begitu melihat wajah masing-masing dalam jarak yang begitu dekat, mereka refleks saling menjauh dan mienya putus terbagi dua. Keduanya terlihat tersengal-sengal. Mereka tidak melanjutkan makan ramennya. Untuk sejenak mereka hanya terdiam dan saling menunduk. Sesaat kemudian, barulah ada yang memulai pembicaraan lagi.

“Hahahaha aku kaget sekali, wajahmu yang seperti kelinci itu tadi terlihat sangat besar! Ayo kita makan lagi! Nanti keburu dingin. Apalagi sekarang awal musim semi jadi masih terasa aura musim dinginnya, jadi pasti makanan lebih cepat dingin hahahahahahaha.”

Ji Yeon berbicara sekenanya untuk mencairkan suasana.

“Ah ne hahahahaha.”

Keduanya tertawa garing, tidak tulus. Tampaknya mereka masih sangat shock dengan kejadian tadi. Kalau Gongchan shock, itu sudah jelas jawabannya, karena dia suka pada Ji Yeon. Tapi kalau Ji Yeon? Apa yang membuatnya hingga se-shock itu? Mungkinkah Ji Yeon juga…menyukai Gongchan?

 

*          *          *

 

Gongchan POV

Ya ampun, apa yang terjadi barusan? Kalau saja tadi kami tidak keburu sadar, pasti kami sudah…Omooooo, eommaaaaa pipiku terasa sangat panas!

“Ah akhirnya habis juga. Pulang yuk?”

“Bukankah tadi Noona bilang belum mau pulang?”

“Ah, eh, itu…mungkin karena tadi aku lapar jadi…ya jadi belum mau pulang hahaha.”

Mwo? Alasan yang aneh.

“Ya sudah kalau begitu kita pulang sekarang saja.”

Kami segera beres-beres dan memasuki lift. Berbeda dengan biasanya, kali ini Ji Yeon noona sedikit pendiam. Sepertinya gara-gara dia putus dengan Jinyoung hyung. Memang biasanya yang lebih banyak bicara di antara kami berdua adalah Ji Yeon noona. Saat Ji Yeon noona terdiam, aku juga jadi ikut merasa kaku. Terlebih karena aku tau kondisinya saat ini.

Dan akhirnya kami sampai di lantai satu. Pintu lift mulai terbuka, kaki kami melangkah keluar besamaan. Masih sama seperti beberapa detik yang lalu, kami masih saling diam. Aku juga bingung apa yang harus aku katakan untuk mencairkan kekakuan ini. Atau mungin sebaiknya aku diam saja? Ya, mungkin sebaiknya aku tidak mengajaknya bicara dulu sekarang. Aku yakin pasti saat ini ia sangat hancur. Sangat kontras dengan ekspresi luarnya. Ji Yeon noona memang pintar menyembunyikan perasaan. Saat ada masalah di sekolah atau di kampus juga, dia mah bisa terlihat ceria di rumahnya. Itulah salah satu hal yang membuatku mengaguminya.

Sudah sekitar lima menit kami bersama sejak di lift tadi. Tapi dia masih belum mengeluarkan suara juga. Dan kini kami sudah berada di bis. Kebetulan rumah kami searah dari arah kampus.

“Noona?” aku yang sedari tadi memperhatikan Ji Yeon noona, refleks mengeluarkan suara ketika melihat dia menggeleng-gelengkan kepala seperti sedang memikirkan sesuatu yang tidak diinginkan.

“Ah ne, Gongchannie?”

“Gwaenchanayo? Kenapa tiba-tiba geleng-geleng seperti itu?”

Dia terdiam sejenak dengan ekspresi sedikit kaget.

”Terus dari tadi Noona diam saja. Apa Noona masih memikirkan Jinyoung hyung?”

“Ah, ani yo, Gongchannie, jangan berkata seperti itu. Nanti aku menangis lagi.” ujarnya sambil menggembungkan pipinya. Manis sekali.

“Hmm…baiklah. Tapi besok Noona jangan begini lagi ya? Aku tidak sanggup melihat Noona yang seperti ini. Aku jadi ikut merasa sedih.”

Dia tersenyum ke arahku.

“Gomawo, Gongchannie. Kau sudah mengkhawatirkanku. Aku janji besok akan lebih semangat lagi.”

Omoooooo kali ini dia mengacak rambutku! Ini yang biasanya dia lakukan saat aku sedang sedih. Dan selalu manjur mengembalikan semangatku. Satu lagi, ini selalu berhasil membuat jantungku hampir berhenti. Entah apa yang bisa membuatku bertahan dengan perasaan dan keadaan seperti ini selama hampir satu tahun. Yang jelas aku sangat menyayanginya. Tentunya sebagai seorang namja, bukan hanya sebagai dongsaeng. Dan bukan hanya karena ia cantik, tapi karena aku selalu merasa nyaman dan tenang di dekatnya.

*          *          *

 

Ji Yeon POV

Aduh tidak enak sekali rasanya diam-diaman seperti ini. Tapi entah kenapa semenjak melihat Gongchan membawakan lagu True Love dan kejadian tadi…omo omo omo! Tiba-tiba saja aku teringat kejadian tadi!

“Noona?”

Omigosh! Gongchannie, kau mengagetkanku saja!

“Ah ne, Gongchannie?”

“Gwaenchanayo? Kenapa tiba-tiba geleng-geleng seperti itu?”

DEG! Apa yang harus kukatakan? Tidak mungkin aku jujur kalau aku sedang memikirkan kejadian tadi!

”Terus dari tadi Noona diam saja. Apa Noona masih memikirkan Jinyoung hyung?”

“Ah, ani yo, Gongchannie, jangan berkata seperti itu. Nanti aku menangis lagi.”

“Hmm…baiklah. Tapi besok Noona jangan begini lagi ya? Aku tidak sanggup melihat Noona yang seperti ini. Aku jadi ikut merasa sedih.”

Oh my dongsaeng, you are so kind.

“Gomawo, Gongchannie. Kau sudah mengkhawatirkanku. Aku janji besok akan lebih semangat lagi.”

Kini aku mengacak rambutnya. Aku memang suka mengacak rambut dongsaengku ini. Dia tersenyum. DEG! Lagi-lagi! Perasaan ini!

 

*          *          *

            Aku sudah sampai di pemberhentian bis dekat rumahku. Kulambaikan tangan pada Gongchan yang juga sedang melambaikan tangannya dari jendela bis, lengkap dengan senyuman manisnya. Dan lagi-lagi…ah sudahlah! Aku tidak mau menghiraukan kinerja jantungku yang tiba-tiba aneh ini!

Aku segera berlari menuju rumah. Kubuka pintu. Dan seperti yang sudah kuduga, ibuku sedang khusyuk menonton channel kesayangannya. Ya, channel kesayangannya, bukan acara kesayangannya. Maksudnya, acara apapun yang ada di channel itu, ibuku pasti suka. Aneh -_-

“Ah, kau sudah pulang rupanya.”

“Ne, eomma. Aku ke atas dulu.” tidak seperti biasanya, aku bersikap dingin pada ibuku. Entah kenapa hari ini aku tidak ingin banyak bicara. Bukan hanya karena masalah dengan Jinyoung oppa, tapi juga karena ada sesuatu yang mengganggu pikiranku dan aku pun tidak tau apa itu sebenarnya.

“Akhirnyaaaaa sampai jugaaaaaa…”

Segera kuhempaskan tubuhku di kasur yang bisa dibilang merupakan sarangku sendiri. Inilah tempat yang paling sering kutempati di rumah. Ya, aku memang pemalas. Jarang sekali aku beranjak dari kasur empukku ini. Tapi anehnya tubuhku ini tetap kering kerontang. Biasanya kan orang yang malasn identik dengen kegemukan. Kulirik iphoneku dan segera kuraih. Hah sepi sekali, tidak ada yang menghubungiku. Ah tiba-tiba aku jadi teringat Jinyoung oppa. Biasanya iphoneku selalu ramai oleh Jinyoung oppa. Sms, telepon, e-mail, ah pokoknya semuanya Jonyoung oppa! Tapi sekarang sama sekali tidak ada.

Semenjak kejadian tadi pagi, Jinyoung oppa tidak ada respon lagi. Apa dia benar-benar sudah tidak ingin kembali denganku? Apa dia senang bisa berpisah denganku? Apa dia senang bisa pacaran dengan Park Ji Yeon? Arrrrgggghhhhh!!!

O.K. Girl noegeman yes man

“Gongchan?”

From : B1A4 Gongchan

Noona, apa kau sudah tidur? Jujur saja tadi aku sedikit khawatir melihat Noona yang pendiam seperti itu. Jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan, Noona. Kuatkan hatimu. Jika berpisah adalah yang terbaik bagimu, maka teruskanlah. Tapi jika kau tidak sanggup, ada baiknya kau coba bicarakan kembali dengan Jinyoung hyung.

 

‘Gongchannie…’

Kurasakan mataku kembali berkaca-kaca. Tapi ada kedamaian di balik semua kesedihan ini. Dan aku masih tidak mengerti apa yang sebenarnya kurasakan ini.

 

To : B1A4 Gongchan

Aku belum tidur, Gongchan. Tapi setelah ini aku akan segera tidur untuk menenangkan pikiranku. Berpisah mungkin cara yang terbaik untukku, Gongchan. Karena aku tidak tahu hal apa lagi yang akan terjadi jika aku kembali dengannya. Soredemo, arigatou gozaimasu, my dongsaeng J

 

Aku segera membenamkan kepalaku di bantal. Kurasakan mataku sudah semakin berat dan…

 

*          *          *

            Wah …pagi yang cerah. Semoga ini juga akan menjadi hari yang cerah bagiku.

Deg! Tiba-tiba terasa ada seseorang yang menepuk punggungku dari belakang. Aku segera menoleh dan menyiapkan tampang garang. Tapi begitu melihat sosok yang tidak asing itu, aku segera mengganti tampang garangku.

“Teuki oppa!”

Ohayou!

Omoooooo pagi-pagi begini dia sudah mengagetkanku dan langsung membuatku terpesona dengan senyum manis dan lambaian tangannya.

O…ohayou…” jawabku sedikit terbata.

“Semenjak bertemu secara tidak sengaja dua hari yang lalu, kita jadi sering bertemu ya?” ujarnya sambil terus berjalan. Akupun segera menyesuaikan langkah, kebetulan aku juga mau lewat jalan ini.

“Iya. Kalau jodoh memang begitu ya.”

Ups! Apa yang kukatakan barusan!

“Mwo? Hahaha kata-katamu seperti orangtua saja. Hari ini kau kuliah sampai jam berapa?”

Syurkurlah dia tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.

“Hari ini sampai sore lagi, sekitar jam tiga.”

“Oh ya sudah, ganbatte ne! (do your best!)”

Hih aku kira ada apa, ternyata cuma mau bilang itu saja. Mengecewakan. Tapi benar juga yang dikatakan Teuki oppa. Sudah tiga hari berturut-turut kami selalu bertemu. Apa ini pertanda kalau kami jodoh? Ah kalau memang begitu sih aku mau :3. Ah sial tiba-tiba aku jadi teringat Jinyoung oppa lagi L.

 

*          *          *

            “Aku duluan, ya. Aku ada kencan dengan Yoochun oppa hari ini. Daaaah!”

“Mwo? Oppa katamu? AH-JU-SSI!”

Minha langsung menjitak kepalaku begitu mendengar kalimat yang begitu sering aku ucapkan itu. Lalu aksinya itu diakhiri dengan juluran lidah dan dia langsung pergi meninggalkanku. Ya di mataku pacarnya Minha itu sudah ahjussi. Secara, pacarku kan baru mahasiswa tingkat tiga. Aishhh! Apa lagi yang kupikirkan! Aku ini sudah tidak punya pacar! Aku sudah putus dengan orang itu. Sepertinya aku harus segera punya pacar agar bisa benar-benar melupakannya. MWO? Kenapa tiba-tiba wajah Gongchan terbersit di pikiranku? Omo omo! Ada apa ini? Kenapa dari kemarin aku jadi sering teringat dongsaengku itu?

“Teuki oppa?” lamunanku langsung buyar ketika melihat sosok namja tinggi berambut coklat dengan poni tebal itu, “Teuki oppa!” aku segera berteriak memanggilnya yang berada di radius kurang lebih lima meter di hadapanku itu.

Dia dan kedua temannya langsung menengok ke arahku. Wah sepertinya untuk berteman saja dia harus mengadakan seleksi layaknya management-management artis. Kedua temannya itu juga tidak kalah tampan. Kalau dilihat-lihat keduanya agak mirip artis. Tapi siapa ya? Aha! Aku tau! Mereka agak mirip member Super Junior! Yang satu agak mirip Siwon dan yang satunya lagi agak mirip Kyuhyun! Aduh aduh Teuki oppa ini. Andaikan aku bisa dekat dengan ketiganya. Haaaa aku jadi berandai-andai sebagai Go Minam. Yang mirip Kyuhyun jadi Taekyungnya, yang mirip Siwon jadi Sinwoonya, dan Teuki oppa jadi Jeremynya!

“Ji Yeon-ah? Gwaenchana?” tiba-tiba saja Teuki oppa sudah ada di depanku dan mengibas-ngibaskan tangannya di hadapanku.

“A..ah..ne, oppa.” aku terhenyak melihatnya yang tadi masih berjarak lima meter dariku dan kini sudah ada di hadapanku. Aduh tapi sepertinya tampangku barusan terlihat cukup bodoh. Telihat bodoh di depan tiga namja cakep? Pabo pabo! >_<

“Hei nona.” Deg! Tiba-tiba namja yang menyerupai  Kyuhyun itu berbicara padaku.

“Ne?” balasku dengan memasang senyum yang paliiiing manis.

“Tampangmu barusan terlihat bodoh sekali.”

“Mm…mwo?” tanyaku sedikit terbata.

Tidak sopan sekali namja yang satu ini! Wajah seperti malaikat, tapi attitude seperti evil! Bahkan dia berkata seperti itu dengan santainya! Arrrrrgh ingin kusumpit saja mulutnya yang kecil tapi berbisa itu!

“Ya! Kau ini! Tidak boleh berkata sekasar itu pada seorang yeoja! Apalagi yeoja yang tidak kau kenal.” ucap seorang lagi yang agak mirip Siwon.

“Ji Yeon-ah, kare o yurushite kudasai ne? (tolong maafkan dia ya?). Dia memang seperti itu. Makanya kami juluki dia evil maknae. Soalnya dia paling muda di antara kami tapi paling kasar perkataannya.”

Aku hanya tersenyum dengan terpaksa. Kalau bukan temannya Teuki oppa yang super baik, sudah kusumpit kau!

“Hei evil! Ayo cepat minta maaf.”

“Ya lagi-lagi aku disuruh minta maaf.” ujarnya tanpa rasa bersalah sambil menggembungkan pipinya, “Ya sudah. Mianhae.”

Hih dia meminta maaf sambil membuang muka. Apa-apaan itu? Terus apa dia bilang barusan? Lagi-lagi? Oh sepertinya korban mulut berbisanya itu bukan hanya aku.

“Huh dasar, evil! Ayo antar aku ke toko buku. Aku mau cari alkitab.” ujar yang agak mirip Siwon. Sepertinya dia cukup religius.

“Iya iya Bapak Pastur. Hyung, kami duluan ya!”

Seseorang yang agak mirip Siwon itu membungkukkan badannya dan tersenyum padaku dan Teuki oppa. Tapi si evil itu? Hih dia langsung pergi begitu saja dengan gaya santainya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jeansnya, tanpa memperdulikanku yang tadi disebutnya bertampang bodoh itu. Hiiiiih ingin kuacak-acak saja rambut ikal coklatnya itu!

“Ji Yeon-ah? Waeyo?”

Ups! Tanpa sadar aku mengangkat kedua tanganku dalam posisi mengepal dan di arahkan pada sosok evil barusan.

“Kau masih kesal pada temanku ya? Sekali lagi jwongsahamnida.” kali ini teuki oppa membungkukkan badannya. Ah aku jadi merasa tidak enak.

“Ah ani, oppa. Barusan aku hanya sedang senam tangan saja, iya senam tangan hahaha.” aku berusaha berdalih.

“Hmm jinjja yo? Tapi tetap saja aku jadi merasa tidak enak. Bagaimana kalau sekarang aku traktir kau makan saja sebagai permintaan maafku.”

Mwoooooooo? Apa-apaan ini? Aku diajak makan oleh Teuki oppa? Omooooo *O*

“Kau tunggu saja di depan gerbang fakultas. Nanti aku jemput.”

Tanpa menunggu persetujuan dariku, dia langsung menuju ke tempat parkir dan meninggalkanku. Ya aku tidak punya pilihan lain sekarang selain mengikuti keinginannya. (Yey! XD)

 

*          *          *

 

Orang bilang Tuhan selalu menyimpan hikmah di balik musibah. Dan ini terbukti padaku. Gara-gara si bocah tengil tadi, aku jadi bisa berkencan dengan Teuki oppa! Eh maksudnya jalan bersama, bukan berkencan. Biasa, aku terlalu bersemangat hehehehe.

‘Tid tiiiid’

Tiba-tiba sebuah mobil sport putih berhenti di hadapanku dan membuyarkan lamunanku.

‘Mau apa orang ini? Mau menanyakan alamat? Tapi tidak usah membunyikan klakson juga doooong. Mau pamer mobil mewah di hadapanku? Yang duduk di sini kan cuma aku, jadi mau pamer ke siapa lagi selain padaku?’ batinku dalam hati.

Sesosok pria berkacamata hitam dengan poni tebal berwarna coklat agak terang membuka jendela mobilnya dan berteriak padaku, “Hei, nona manis! Kenapa kau diam saja? Ayo cepat naik!”

“Teuki oppa!”

“Ayo cepat naik!” kali ini ia mengajakku masuk sambil membuka kacamatanya itu dan tersenyum dengan gayanya yang santai.

Aku segera berlari menuju mobil mewah itu. Tapi namja tampan yang kelihatan playboy ini sama sekali tidak romantis. Dia hanya membukakan pintu dari dalam. Tidak seperti namja-namja di drama-drama televisi yang turun dari mobil untuk mempersilahkan yeojanya masuk. Teuki oppa, kau orang yang betul-betul sulit ditebak.

Begitu memasuki mobilnya, aku langsung disuguhi nuansa serba putih. Sepertinya di sangat menyukai warna putih. Ditambah dengan aroma bunga lavender yang begitu khas. Dan yang terpenting adalah namja tampan yang sedang menyetir di sampingiku ini. Ah rasanya sudah seperti di surga saja! Ini pertama kalinya aku hanya berdua dengan seorang namja tampan di dalam mobil. Biasanya dengan Jinyoung oppa, aku selalu naik motor. Dan tidak jarang (alias sering) aku dibawanya menuju ‘sirkuit F1’. Biasanya aku langsung marah jika dia membawaku kebut-kebutan seperti itu di jalan. Karena itu akan membuat rambutku yang telah ditata rapi dengan susah payah ini menjadi hancur berantakan. Setiap aku marah-marah mengenai hal itu, dia selalu menghentikannya dengan meletakkan jarinya tepat di bibirku atau kalau naluri playboynya sedang kambuh, biasanya dia langsung mengecupku. Arrrrrghhhhh shit! Orang (tampan) ini selaluuuuu saja menghantui pikiranku! Sret! Apa lagi ini? Tiba-tiba aku teringat Gongchan lagi! Ya Tuhaaaaan ada apa dengan kinerja organ-organ tubuhku akhir-akhir ini? Sudah jantung, otak juga jadi ikut-ikutan aneh *O*

O..Oo…Oo..Neo gatteun saram tto eopsseo

(Backsong : Super Junior – No Other)

 

Wah ini lagu kesukaanku! Makin betah saja aku di mobil ini :3

“Juwireu dureobwado geujeo georeohdeongeol” Teuki oppa menirukan suara dari tape klasiknya itu sambil mengangguk-anggukan kepala mengikuti irama. Gayanya sudah seperti Leeteuk Super Junior saja. Wajahnya juga lumayan mirip, apalagi namanya.

Aku juga ingin ikut menyanyi. Biasanya kalau dengan Minha, aku selalu berduet saat mendengar lagu apapun yang kami kenal dan suka karena suara kami imbang (‘bagusnya’). Tapi kalau dengan Teuki oppa apa daya. Daripada mempermalukan diri di depan oppa yang keren ini, lebih baik aku diam saja. Ada pepatah yang mengatakan ‘diam itu emas’.

“Kenapa kau diam saja? Kau masih kesal dengan kejadian tadi?” Teuki oppa membuyarkanku yang lagi-lagi sedang melamun.

“Ah ani ani, oppa. Aku sudah tidak kesal kok. Tadi aku hanya sedang menikmati lagu saja.” jawabku sekenanya sambil cengengesan. Tidak mungkin juga kan kalau aku jujur sedang memikirkan berbagai hal yang campur aduk seperti tadi.

“Atau kau tidak suka lagunya?”

“Ani yo, justru aku suka sekali lagunya.”

“Kalau begitu ayo nyanyi bersama!”

CTAR! Layaknya petir di siang bolong. Ajakan singkatnya itu berhasil membuatku terdiam. Apa yang harus kukatakan? Masa terang-terangan bilang suaraku jelek?

“Ani, oppa. Aku tidak terlalu hapal lagu ini.”

“Katanya suka?”

JLEB!

“Ma…maksudku aku baru suka akhir-akhir ini, iya akhir-akhir ini hahaha.” aku menjawab sekenanya sambil tertawa garing dan langsung membalikkan wajahku ke arah jalan.

“Kalau begitu kita nyanyi lagu Laruku saja. Aku punya semuanya, lengkap. Mana yang kau hapal?”

Aku menatapnya dengan tatapan seakan ingin mengatakan ‘Ya ampun, oppaaaaa, apa kau tidak kasihan padaku?’. Tapi tiba-tiba aku melihat sebuah restoran kimchi di sebelah kiri.

“Oppa, restoran kimchi itu bagus, ya?” aku menunjuk restoran kimchi itu, berusaha mengalihkan  pembicaraan.

“Ah kau suka kimchi ya? Aku juga suka. Yosh! Kalau begitu kita parkir di sini saja!”

Nani yoooooo? Oppa yang selalu ceria dan sangat penuh semangat (mungkin bisa dibilang grasa grusu) ini lagi-lagi memutuskan sesuatu tanpa minta pendapatku terlebih dahulu. Dan kenapa dia bisa menyimpulkan seperti itu? Aku kan cuma bilang restorannya yang bagus, bukan kimchinyaaaaa!

Yosh yosh! (allright, allright) coba yang mana ya sekarang?” kulihat dia tersenyum lebar memandangi daftar menu restoran itu sambil menggosok-gosokkan tangannya tanda tidak sabar ingin segera menyantap hidangan di restoran minimalis tapi elegan itu.

Sementara aku, hanya duduk lesu sambil memandangi daftar menu yang membuatku menelan ludah. Bukan karena aku kaget melihat harganya atau tertarik melihat gambar-gambarnya. Tapi karena aku sudah cukup ngeri dengan membaca judulnya saja.

“Yup sudah kuputuskan untuk memesan menu spesial! Kau mau pesan apa, Ji Yeon?”

“Mwo? Hmm..aku yang ini saja.” ujarku sambil menunjuk menu modifikasi yang lebih banyak daging ketimbang sayurannya.

“Baiklah. Nona!” Teuki oppa langsung memanggil pramusaji terdekat. Dan begitu pramusaji mendekat, ia langsung menyebutkan pesanannya, ehm maksudnya pesanan kami dengan semangat.

Melihatnya seperti itu aku makin tidak tega saja untuk mengatakan yang sebenarnya. Aku sebenarnya tidak suka kimchi. Walaupun itu adalah makanan khas negaraku, tapi aku tidak suka. Bukan karena kurangnya nasionalisme atau karena aku terlalu cinta Jepang, tapi karena kimchi itu dasarnya sayuran. Dan aku sangaaaaat tidak suka sayuran. Mungkin itulah salah satu sebab badanku ini kecil dan juga kurus kerontang (tidak sampai segitunya juga sih). Tapi tidak mungkin juga kalau aku mengatakan hal ini pada Teuki oppa yang sudah sangat semangat. Pasti dia akan merasa tidak enak karena mengajakku makan makanan yang tidak aku sukai. Sebenarnya salah dia juga sih tidak bertanya dulu padaku. Bahkan sepertinya tadi aku tidak memiliki kesempatan untuk mengungkapkan yang sebenarnya karena dia langsung memarkirkan mobilnya dan memasuki restoran ini tanpa membukakan pintu untukku dan mempersilahkanku jalan duluan atau berbarengan dengannya. Justru dia malah jalan lebih dulu dariku. Benar-benar tidak romantis. Atau karena dia terlalu semangat? Entahlah. Yang jelas sekarang aku terjebak di posisi yang tidak menyenangkan.

Itadakimasu!

Jika dilihat dari postur tubuhnya, sama sekali tidak mencirikan kalau dia itu orangnya rakus. Eh ternyata begitu makan, dia bisa begitu lahap. Benar kata orang, don’t judge a book from the cover.

“Waeyo, Ji Yeon-ah? Kenapa kau diam saja? Apa kau terpesona melihat ketampananku yang semakin menjadi-jadi saat aku makan hah? Hahahahaha.”

“Ah? Hahahaha.” aku hanya tertawa garing menanggapi kenarsisannya.

Tapi yang jelas bukan hal itu yang sedang kupikirkan sekarang. Yang kupirkirkan sekarang hanya dua. Satu, aku tecengang melihatnya bisa makan kimchi dengan begitu semangat. Kedua, aku sudah tidka sanggup melihat makanan di hadapanku ini. Bukan karena sudah tidak sabar untuk melahapnya, tapi karena aku bahkan tidak sanggup untuk menyentuh sumpitnya!

“Kau masih tidak makan juga? Ah sepertinya kau harus disuapi!”

Mwo?!

Hap! Dalam waktu yang sangat sekejap, rasa aneh yang tidak kusukai ini telah menyebar luas di mulutku layaknya bisa ular meracuni tubuh seseorang. Dan sialnya lagi, Teuki oppa menyuapiku sayurnya, bukan dagingnya!

“Nah enak kan? Ayo lanjutkan makannya!” dia kembali sibuk dengan kimchinya. Sedangkan aku…

Aku langsung meraih gelas tradisional di samping kimchiku. Aku langsung meminumnya habis layaknya seorang lelaki setengah baya yang minum bir setelah mendapat surat PHK. Setelah itu aku langsung melahap daging di hadapanku untuk menghilangkan rasa sayur yang aneh ini. Ya walaupun cita rasanya tidak jauh berbeda dengan sayur fermentasi yang barusan Teuki oppa masukkan ke mulutku, tapi setidaknya cita rasa daging dapat memulihkan kondisiku (lebayyyyyyy).

Huaaaaah akhirnya selesai juga walaupun masih banyak sekali kimchi tersisa di piringku. Tapi setidaknya aku sudah memakannya beberapa lembar (tidak lebih dari lima lembar termasuk yang disuapi Teuki oppa tadi).

“Huaaaaah enak sekali! Rasanya aku ingin nambah lagi.”

What’s? Nambah lagi? Omo oppaaaaa kau sangat luar biasa -_-

“Tapi perutku yang sixpack ini sudah tidak muat hahahaha.”

Aduh oppa kau ini walaupun aneh tapi tetap mempesona.

“Setelah ini mau ke mana?”

“Eh? Itu…ke mana ya? Hmm…” jujur saja aku masih ingin jalan-jalan bersama Teuki oppa walaupun masih sedikit kalap akibat kimchi tadi.

“Kau suka bermain game tidak?”

“Game apa dulu, oppa?”

“Ya game-game seperti di game center. Suka tidak?”

“Waaaaah suka sekali, oppa!”

Melihat ekspresiku yang sangat takjub, Teuki oppa tidak banyak bicara lagi. Dia langsung memanggil pelayan, minta bon, dan membayar tagihannya. Ah aku jadi tersipu-sipu sendiri melihat ada pria tampan yang mentraktirku makan. Shit! Jadi ingat Jinyoung oppa lagi.

Setelah keluar dari restoran, kami langsung menuju mobil Teuki oppa yang masih terparkir rapi di sana (tentu saja masih terparkir rapi) dan segera meluncur menuju game center di pusat kota Seoul.

 

@Game Center

“Ah~ oppa~ rasanya ini seperti surga dunia bagiku.” ucapku terpana saat memasuki tempat favoritku itu. Dan aku senang sekali, tadi di mobil, dia tidak terlalu membahas masalah kimchi dan tidak mengajakku nyanyi lagi. Dia hanya bercerita bahwa dia suka sekali makan kimchi. Pantas saja tadi dia makan begitu lahap. Yang banyak kami bicarakan tadi di mobil adalah tentang game. Ternyata dia juga sangat menyukai game, sama sepertiku. Sepertinya cukup banyak kesamaan selera di antara kami (kecuali KIMCHI -_-).

Boku mo boku mo!(aku juga aku juga!).” dia (lagi-lagi) terlihat begitu bersemangat, “Ayo main basket!”

YOSH!” ujarku tak kalah semangat.

Kami berdua langsung berlari menuju permainan basket seperti dua anak SD yang baru mengenal game center. Tak kami pedulikan antrian di belakang kami. Biar saja mereka mengantri di baris yang lain, kan masih ada tiga baris lagi. Yang jelas dua baris permainan ini hanya untuk kami!

Setelah puas bermain basket, kami langsung menuju permainan balap motor. Memang tidak banyak orang dewasa yang main permainan ini. Tapi aku (lebih tepatnya kami) tidak peduli. Kami asyik bermain permainan ini. setelah itu kami beringsut ke permainan di sebelahnya, yaitu balap kuda. Ini lebih parah lagi, lebih childish lagi. Tapi saat itu entah kemana urat malu kami, kami terlalu dibutakan oleh game, game, dan game!

Sudah hampir semua permainan kami jamah. Tinggal satu yang belum kami sambangi, yaitu tembak-tembakan, dance, dan drum-druman. Ketiganya permainan favoritku (semua saja favorit). Terutama drum-druman.

“Hah cape juga! Tinggal satu lagi! Kita belum ngedance!”

“Tunggu apa lagi, oppa?”

Kami saling tersenyum evil lalu berlomba menuju permainan dance.sesampainya di tempat, aku langsung bersiap-siap sementara Teuki oppa memencet-mencet tombol untuk memilih lagu.

“Yang ini saja ya?”

“…… ya? Oke!”

Teuki oppa segera bersiap-siap. Lagu pun dimulai…

(Backsong : Super Junior – …..)

 

Waaaah Teuki oppa lancar sekali! Gerakan dancenya juga terlihat bagus! Daebak daebak! X)

“Waw oppa hebat!” pujiku sambil bertepuk tangan dan memasang wajah kagum.

“Ah, bukan apa-apa haha. Wah sudah cukup malam ternyata. Kau tidak ada tugas untuk besok?”

“Ani.”

“Hmm baguslah kalau begitu. Kau masih ingin bermain?”

“Ani, oppa. Sudah malam, aku takut kesiangan besok.”

“Ne, kalau begitu kita pulang sekarang ya.”

Aku hanya mengangguk tanda setuju. Sudah tidak ada lagi tenaga yang tersisa gara-gara tadi terlalu bersemangat. Seperti kesan pertama yang aku tangkap saat pertama kali mengobrol dengannya setelah insiden dengan Jinyoung oppa di lorong kampus itu, Teuki oppa memang orang yang menyenangkan (ya walaupun sedikit aneh). Tapi anehnya aku tidak merasa se-deg-degan dengan Jinyoung oppa. Padahal dia ini tidak kalah tampan dengan Jinyoung oppa. Yang aku rasakan saat bersama Teuki oppa hanyalah rasa nyaman dan terpesona tiap melihat wajahnya. Tidak deg-degan. Sama seperti saat bersama Gongchan. Apa mungkin karena aku belum terlalu dekat dengannya ya? Tapi justru sekarang saat bersama Gongchanlah aku agak sedikit aneh. Itu baru terjadi akhir-akhir ini.

“Jungsoo-ssi!” panggil seorang bapak berpakaian rapi lengkap dengan jasnya, yang sedang berdiri di depan pintu game center pada Teuki oppa.

“Ah, Pak Kim. Annyeonghasseyo.” Teuki oppa membungkukkan badannya.

“Annyronghaseyo. Sudah cukup lama rasanya saya tidak melihat Jungsoo-ssi berkunjung ke mari.”

Saya? Jungsoo-ssi? Sopan sekali bapak ini pada Teuki oppa. Padahal kan bapak ini (jelas) lebih tua.

“Ne, Pak Kim. Akhir-akhir ini aya sibuk memikirkan bahan untuk skripsi.”

“Oh iya ya. Sekarang Jungsoo-ssi sudah tingkat empat ya? Saya doakan semoga cepat lulus ya dan segera bergabung dengan perusahaan.”

Perusahaan? Naluri ‘ingin tau urusan orang lain’ku muncul. (kepo lah istilah gaolnya.red)

“Terima kasih atas doanya, Pak Kim. Saya pasti akan berusaha keras agar bisa segera bergabung dengan perusahaan. Saya pemisi dulu, annyeonghasseyo.”

“Annyeonghasseyo.”

Naluri keingintauanku sudah tidak dapat dibendung.

“Oppa, bapak yang barusan itu siapa? Kenapa dia sangat sopan padamu?”

“Oh, Pak Kim. Dia itu manager di perusahaan kami. Dia orang kepercayaan  ayahku. Dia sangat dekat dengan keluarga kami.” jawabnya tetap dengan senyuman manisnya.

“Oh jadi ayahmu seorang pengusaha, oppa?”

“Ne.”

“Kalau aku boleh tau, perusahaan apa itu?”

“Game center.”

Mwo?!

“Game center yang tadi maksudmu?”

Un. Dan cabang-cabangnya juga.”

Omoooooo perkataannya barusan seperti di drama-drama televisi saja. jadi saat ini aku sedang jalan berdua dengan seorang putra pemilik perusahaan game besar? Omoooooo Teuki oppa kau menyimpan begitu banyak kejutan. Tapi aku jadi tambah suka setelah mengetahui fakta ini (kekekeke matre ^^a)

*          *          *

 

Sudah seminggu semenjak kejadian itu, aku jadi semakin dekat dengan Teuki oppa. Bukan karena dia seorang anak pengusaha atau apa, tapi karena aku merasa nyaman bersamanya. Tapi rasa nyaman ini bukan rasa nyaman  dengan seorang namja, bukan seperti yang kurasakan pada Jinnyoung oppa.  Masih belum berubah seperti yang aku rasakan sebelumnya. Aku masih merasakan perasaan nyaman yang sama seperti yang aku rasakan tiap bersama Gongchan. Deg! Nah justru perasaan ku pada Gongchanlah yang sedikit mengalami perubahan. Aku sering deg-degan tiap bersamanya atau bahkan saat aku hanya memikirkannya saja. Dan kadang-kadang wajahnya yang sedang tersenyum tiba-tiba muncul di pikiranku. Hmm…rasanya seperti orang yang sedang kasmaran saja. Tapi masa aku jatuh cinta sama bocah bau kencur? Ya walaupun cuma beda setahun, itu cukup masalah bagiku karena sebelumnya aku tidak pernah tertarik apda namja yang lebih muda. Apalagi dia sudah kuanggap sebagai dongsaengku sendiri. Ini tidak masuk akal. Jadi kupikir semua ini hanya perasaan aneh yang tidak jelas arahnya saja, bukan rasa suka. Dan aku cukup terganggu dengan perasaan seperti ini. Jadi akhir-akhir ini aku agak menghindari Gongchan sampai menunggu jantung dan otakku ini ‘pulih’. Akhir-akhir ini aku lebih sering pergi dengan Minha atau Teuki oppa, seperti sekarang ini…

Tanjoubi omedetou (saengil chukhae), Ji Yeon-chan!”

“Omooooo sankyu, niichan! (terima kasih, kak *oniichan=oniisan=kakak laki-laki)” kuraih kado kecil yang terbungkus rapi kertas kado warna pink dengan dibalut pita biru itu dari tangan Teuki oppa, “Padahal kita baru kenal sepuluh hari. Tapi kau sudah menjadi orang ketiga yang memberikan kado setelah orangtuaku dan Minha. Sekali lagi, sankyu ne, niichan.”

Doumo, Ji Yeon-chan. Ayo dibuka!”

“Aduh isinya apa ya? Aku jadi deg-degan nih haha.”

I remember you, nal tteonan neo, dorawa, so i need you baby

Tanganku terhenti seketika saat iphoneku berbunyi.

“Sandeul? Tumben dia meneleponku.” kutekan yes di layar sentuh iphoneku, “Ada apa?”

“Hei kucing garong? Eodi ya?”

“Hah dasar, marmut! Aku sudah baik-baik juga masih saja memanggilku seperti itu. Kenapa? Kau rindu padaku ya?”

“Aigoo percaya diri sekali kau! Yang ada aku bosan satu sekolah denganmu terus! Kau di mana sekarang? Aku serius.”

“Aku masih di kampus, mau pulang. Kenapa?”

“Kau sedang tidak sibuk kan? Bisakah kau ke rumah Jinyoung hyung sekarang juga?”

“MWO?” mendengar nama itu, kupingku langsung sensitif, “Untuk apa kau menyuruhku ke rumah orang itu hah? Kau ingin menonton pertandingan tinju?”

“Hah dasar kucing garong. Mantan pacarmu itu sedang sakit.”

“Lalu? Apa hubungannya denganku? Suruh saja Ji Yeon nya yang baru itu merawatnya sampai sembuh dan bisa terbang seperti super junior, eh superman.” ujarku asal sambil menggembungkan pipiku jengkel.

“Ah kau ini! Sudahlah ke sini saja! Kau yang dibutuhkan di sini!”

Cklek tut tut tut. Tanpa menunggu balasan dariku, Sandeul langsung menutup sambungan teleponnya.

Aku jadi kepikiran Jinyoung oppa. Apa maksud dari kata-kata terkahir Sandeul barusan? Apa jangan-jangan Jinyoung oppa sedang se…..ah andwae! Jangan berpikiran macam-macam Jung Ji Yeon!

Doushite?” Teuki oppa membuyarkan pikiranku yang sedang kacau.

“Barusan Sandeul yang meneleponku. Katanya aku harus pergi ke rumah Jinyoung oppa sekarang juga.” jawabku murung.

“Kenapa tiba-tiba dia menyuruhmu ke rumah Jinyoung?” Teuki oppa yang sudah kuceritakan mengenai masalahku dengan Jinyoung oppa, mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti.

“Molla.” jawabku singkat diakhiri dengan gelengan kepala lesu.

“Baiklah kalau begitu aku antar.”

 

Author POV

Perkataan Sandeul barusan membuat Ji Yeon bertanya-tanya. Ia pikir sesuatu yang buruk telah menimpa Jinyoung. Ia berpikir kalau sekarang Jinyoung sedang meregang nyawa dan ingin minta maaf padanya terlebih dahulu. Oleh karena itu, dia jadi sangat cemas dan tak karuan. Ia teringat kata-kata Jinyoung sehari setelah kejadian itu. Ia ingat Jinyoung berkata ia selingkuh karena tidak tahan melihat kedekatan Ji Yeon dengan Gongchan. Jadi ia merasa semua ini adalah salahnya. Ia merasa Jinyoung selingkuh dengan teman sekelasnya karena kesalahannya.

“Oppa…” Ji Yeon menangis pelan dan lirih sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela karena takut ketauan Teuki. Ia tidak ingin membuatnya khawatir.

Sementara itu di rumah Jinyoung…

“Semua ini gara-gara aku. Kalau saja aku bisa berpikir positif dan menahan naluri playboyku, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Lagipula kalau dipikir-pikir benar juga kata Ji Yeon dan teman-teman. Walaupun mereka dekat, tapi tetap saja Ji Yeon lebih dekat dan lebih sering bersamaku daripada Gongchan. Ha…emosi memang bisa menghancurkan segalanya.”

Kini mereka berdua hanya termenung memikirkan kesalahan masing-masing. Mereka larut dalam penyesalan. Mereka sangat menyesal dengan miss komunikasi yang terjadi yang telah menyebabkan akhir yang tidak diharapkan ini.

“Mianhae, Jagi…” ucap mereka bersamaan di tempat yang berbeda.

(Backsong : B1A4 – Only Learned The Bad Thing)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s