Phantera Calculus Paradiseae Love – Part 3 (end)

Author     : Puput

Judul        : Phantera Calculus Paradiseae Love – Part 3 (end)

Kategori   : Friendship, romance, little horror

Rating       : PG-15

Main cast : – B1A4 Sandeul as Sandeul/ Lee Jung Hwan

– Kim Chae Ri as You

Other cast : – Shin Hyorin

– Kim Yuna

 

Author POV

“Hiks…hiks…sekarang kau percaya kalau malam hantu dan malam Jumat kliwon itu benar-benar ada hah?”

“Ne, ne, sekarang aku percaya. Sudah sudah jangan menangis. Nanti orang-orang berpikir akulah yang telah membuatmu  menangis.”

“KAU PIKIR AKU MENGALAMI KEJADIAN SEPERTI INI KARENA IDE SIAPA HAAAAAH!”

“Aish! Berisik tau! Ingat, ini tempat umum! Sudah berhentilah menangis. Aku juga kesal karena hari ini aku jadi terpaksa bolos. Ini pertama kalinya aku bolos. Arrrrgh ini gara-gara aku lupa menyetting alarm di ponsel. Tapi ya sudahlah, Lebih baik kita masuk sekarang.”

Chae Ri masih sesenggukan. Ia memalingkan wajahnya dari Sandeul dan menatap tempat yang akan mereka masuki sekarang.

“Seoul Library Centre? Ya! Lee Jung Hwan! Kau mau menenangkanku dengan membawaku ke tempat seperti ini ya!”

“Wae yo? Ada yang salah? Saat moodku sedang buruk karena nilaiku, biasanya aku datang ke tempat ini dan menenangkan diri.”

Pletak! (suara kepala dijitak maksudnya)

“Pabo! Kau pikir aku sama denganmu hah? Aku orang normal. Dan orang normal akan menghibur dirinya ke taman hiburan, mall, atau setidaknya ke taman! Aigoo kau ini sebenarnya normal tidak sih? Tidak ada romantis-romantisnya sama sekali!”

“Romantis? Memangnya kau pacarku?” tatap Sandeul dingin.

‘Aish! Benar juga! Kenapa aku berharap di bawa ke tempat romantis oleh orang ini ya? Pabo!’

“Aish! Lebih baik sekarang kita ke tempat ice skating saja! Kajja!” Chae Ri menarik paksa lengan Sandeul.

‘Ice skating?’ wajah Sandeul mendadak pucat.

Sandeul POV

Ice skating? Aigoo aku kan tidak pernah main ice skating lagi semenjak kejadian itu!

Flashback

“Sandeul, ayo!”

“Nn…ne…” jawabku berat.

Dengan langkah malas, kugerakkan kakiku menuju bis sekolah kami. Hari ini ada seorang atlit ice skating terkenal, Kim Yuna, datang ke SD ku. SD ku memang salah satu SD favorit di Korea selatan. Tidak heran kalau banyak orang terkenal yang datang ke sekolahku. Mulai dari pejabat tinggi sampai bintang Hallyu, semuanya pernah hadir di sini. Baik itu untuk acara politik, ataupun sekedar hiburan dna penyuluhan. Semua teman sekelasku dan siswa lain pasti sangat senang begitu mendengar akan ada orang terkenal yang datang ke sekolah kami, terlebih kalau diliput di televisi. Lain halnya denganku. Entah eommaku dulu ngidam apa. Yang jelas, aku paling apatis di antara teman-teman, atau bahkan di antara semua siswa SD pada umumnya.

Apalagi yang akan datang sekarang adalah Kim Yuna, seorang atlit ice skating. Ini sangat mencekam bagiku. Sebelumnya aku tidak pernah bermain ice skating. Setiap orangtuaku mengajak bermain ice skating, aku selalu menolak. Aku tidak tertatik dengan hal-hal seperti itu. Aku lebih tertarik untuk berkunjung ke museum, perpustakaan, atau pusat IPTEK. Oleh karena itu, aku sangat tegang hari ini. Hari ini, sekolah kami diundang oleh Kim Yuna ke gelanggang ice skatingnya yang baru saja diresmikan dua hari yang lalu. Katanya tujuannya untuk memperkenalkan ice skating pada anak sedari dini. Tapi sialnya, kelasku lah yang mendapat undangan. Kelas unggulan, lagi-lagi kelas unggulan. Ini yang paling kusesali masuk kelas unggulan di SD ini. Terkadang ada acara tidak penting yang pesertanya adalah kelasku juga.

@Gelanggang Ice Skating

“YAAAAAAY!!!”

“Cih, dasar bocah.”

Aku mulai memasang sepatu ‘berpisau’ ini di kedua kakiku. Lagi-lagi dengan langkah malas, aku berjalan masuk arena ice skating itu dengan hati-hati. Kulihat arena itu sudah penuh oleh bocah-bocah polos yang terlihat sangat senang bermain ice skating. Ada yang meluncur ke kanan, ke kiri, ada yang berputar di tempat seperti atlit ice skating, ada juga yang minta diajari Kim Yuna.

“Hei, Lee Jung Hwan. Kenapa kau diam saja? Dan tanganmu…” Kang In, si bocah berbadan besar pembuat ulah di kelasku kini memperhatikan tanganku, “Kelihatan bergetar ya? Jangan-jangan kau tidak bisa main ice skating ya?” lanjutnya dengan pandangan merendahkan, “Hei, semuanya! Lee Jung Hwan, si RANKING SATU yang serba SEMPURNA ini…”

Hump! Kubekap mulut si beruang pembuat ulah itu sebelum dia menyelesaikan kata-katanya yang kutau apa lanjutannya. Fiuuuh untung tidak ada yang menyadari teriakan si bocah beruang ini.

“Jadi kau benar-benar tidak bisa bermain ice skating ya?”

“Bisa! Tentu saja bisa!”

Ups! Lagi-lagi gengsiku mengalahkan segalanya!

“Coba kau buktikan.”

“Nn-ne!”

Arrrrgh sudah terlanjur. Aku yang tidak pernah main ice skating ini dengan nekatnya meluncur bebas dan…

BRUK!

Kurasa kali ini aku kembali menjadi pusat perhatian seperti biasanya. Tapi kali ini bukan karena prestasiku tapi…

“Hahahahahahahaha”

Mati! Semua orang melihatku yang biasanya serba perfeksionis ini, kini dalam posisi yang sangat memalukan. Atau lebih tepatnya sangat konyol. Siapa yang tidak akan tertawa jika melihat seorang siswa kelas 6 SD yang sebentar lagi akan masuk SMP, terjatuh dalam posisi kepala di lantai, sedangkan kaki mengacung dan pantat berdebum keras mengenai dinding. Konyol, sangat konyol.

Kejadian ini membuatku sangat dikenang sang atlit ice skating, Kim Yuna. Setiap ditanya di suatu talk show mengenai hal yang paling lucu baginya dalam pengalamannya sebagai atlit, ia selalu menjawab ‘Seorang bocah SD berkacamata yang tersungkur dengan posisi yang lucu’. Yang tak lain dan tak bukan adalah aku. Bahkan setahun kemudian setelah kejadian itu pun, saat aku tidak sengaja bertemu dengannya dengan memakai seragam SMP di mall, ia masih mengenaliku. Mungkin kalau bertemu sekarang pun dia masih ingat denganku. Maklum saja, wajahku empat tahun yang lalu dan sekarang tidak jauh berbeda, tidak banyak perubahan. Hanya tinggiku saja yang bertambah. Dan yang pasti, sampai sekarang pun kejadian ini masih menyisakan trauma bagiku.

Flashback end

“Ayo, Sandeul!”

Cih dasar childish. Sebentar menangis, sebentar berapi-api. Tapi…arrrrrghh ada apa dengan otakku? Kenapa tiba-tiba wajahnya yang sedang tersenyum melintas di pikiranku? Dan sialnya entah kenapa wajah itu terlihat begitu manis di benakku.

“Hei Lee Jung Hwan. Kau ini kenapa? Jangan-jangan…kau tidak bisa bermain ice skating ya?”

“M-mwo? Hahaha jangan bercanda. Aku bisa, aku bisa!”

Aigoo apa yang kulakukan? Ya Tuhan, apa kejadian empat tahun yang lalu harus terulang lagi?

“Ah, kau ini pura-pura bisa. Aku ini lumayan jago ice skating. Aku bisa melihat mana yang bisa mana yang tidak. Sini aku ajari.”

Eh? Dia tidak mengejekku?

Dia menuntunku perlahan menuju arena ice skating. Dia menuntunku dengan sabar dari pinggir ke pinggir agar aku bisa pegangan pada besi penahan. Aigoo satu sisi lagi yang bisa kulihat dari seorang Kim Chae Ri yang selama ini selalu kuanggap menyebalkan.

Lama-lama aku mulai terbiasa dengan lantai es dan sepatu berpisau ini. Perlahan-lahan Chae Ri menuntunku menuju tengah arena. Tapi rupanya kakiku masih gemetaran.

“Jangan takut.” sekarang Chae Ri menggenggam kedua tanganku dan menarikku semakin ke tengah. Aigoo kenapa tiba-tiba pipiku terasa panas ya??? *O*

Cukup lama aku membiasakan diri tanpa berpegangan pada apapun. Kemudian Chae Ri melepaskan tanganku dan aku mulai meluncur sedikit demi sedikit dan…aku bisa!

“Nah, sudah kubilang kan. Bermain ice skating itu mudah dan menyenangkan. Asal ada niat dan usaha saja.”

Aigoo ada apa dengan mataku? Kenapa senyumnya terlihat manis di mataku? Dia terlihat lebih dewasa dari biasanya. Dan jantungku? Ada apa dengan jantungku? Kenapa tiba-tiba dia berdetak lebih kencang dari biasanya?

“N-ne.” jawabku singkat dan segera membalikkan tubuhku. Tapi…

Duk!

“AW!”

“Jwesonghamnida! Jwesonghamnida!” aku berkali-kali membungkukan tubuhku.

“Ah ne, gwenchana.”

Saat aku mengangkat wajahku…

“Eh? Lee…Lee…”

Aigoo! Kim Yuna!

“Kau, bocah yang tersungkur itu kan?”

Aigoo benar, ia masih mengenaliku.

“Jeoneun Lee Jung Hwan imnida, Noona.”

“Ah ne! Lee Jung Hwan! Lee Jung Hwan! Aku baru ingat hahaha. Aigoo wajahmu tidak banyak berubah.”

Noona yang satu ini masih saja seceria dulu. Ia tertawa lepas sambil mengacak rambutku.

“Eh? Sandeul? Kau…kenal dengan Kim Yuna eonni?”

“Annyeong, Kim Yuna imnida. Bangapsumnida.” dengan ramahnya Kim Yuna mengulurkan tangannya pada Chae Ri.

“A-annyeong, Kim Chae Ri imnida.” jawab Chae Ri terbata-bata. Aku tau, dia pasati nervous bertemu dengan orang terkenal seperti Kim Yuna.

“Kita duduk dulu yuk?”

Kim Yuna noona berjalan menuju bangku di pinggir arena ice skating. Kami pun mengikutinya.

“Eonni, kalau boleh tau, kenapa Eonni bisa kenal dengan Sandeul?” tanya Chae Ri penasaran begitu kami sampai di bangku.

“Eh? Sandeul? Nugu?”

“Emm maksudku Lee Jung Hwan.”

“Oh itu.” Yuna Noona mulai menceritakan semuanya.

“Huahahahahahahahahaha.”

Aigoo sudah kuduga akan seperti ini jadinya kalau yeoja ini tau mengenai kisahku yang satu itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku tidak bisa membalasnya. Aku terlalu malu. Aku yakin kali ini wajahku pasti sudah semerah kepiting rebus. Aku hanya bisa memandangnya sinis dengan pipiku yang sudah benar-benar memerah ini.

“Jadi…jadi…bocah SD berkacamata yang selalu Eonni ceritakan di talk show itu, ini ya? Hahahahahahahahaha aigoo aigoo perutku sakit sekali hahahahaha.”

“Hahahahahaha sudah, berhentilah tertawa, Chae Ri-ssi. Aku…aku tidak bisa berhenti tertawa kalau kau terus tertawa seperti itu hahahahaha.”

“Tertawa saja, tertawa saja sepuasmu.” ujarku kesal.

“Hahahahaha mianhamnida, Jung Hwan-ssi. Maaf kalau aku sudah membuatmu malu. Sekali lagi maaf  ya kekeke.”

“Agassi, sudah saatnya pulang. Anda harus siap-siap untuk acara kiss and cry nanti malam.” seorang ahjum eh ahjussi eh entahlah bentuknya itu, tidak jelas, memanggil-manggil Yuna Noona.

“Oh ne. Jung Hwan-ssi, Chae Ri-ssi, aku permisi dulu ya. Annyeonghaseyo. Sekali lagi maaf ya. Oh iya, Jung Hwan-ssi, jangan putus asa bermain ice skating ya karena kejadian itu. Kekekeke aduh aku jadi teringat lagi.”

“Hahahaha tenang saja, Eonni. Aku sudah mengajarkannya sampai bisa.”

“Jinjja? Ah suatu hari kalau kita bertemu lagi, kau harus menunjukkannya padaku. Sayang sekali sekarang aku harus pergi. Kalau ada waktu, pasti aku akan menyaksikannya. Hwaiting, Lee Jung Hwan! Ice skating itu sebenarnya sangat menyenangkan.”

“Ne, kamsahamnida, Noona.”

“Ne. Annnyeong.”

“Annyeong.”

Kim Yuna pergi menuju ahjumma eh ahjussi, entahlah tak jelas jenis kelaminnya, yang nampaknya adalah managernya.

“Hahahahaha aku tidak menyangka, ternyata orang yang paling berkesan untuk Yuna eonni itu ternyata kau! Hahahahaha aigoo.”

Lagi-lagi aku hanya menatapnya sinis.

“Aigoo ada apa dengan tatapanmu itu? Menyeramkan sekali. Makanya kau itu jangan terlalu apatis dengan dunia di sekitarmu. Jangan cuma main dengan buku saja! Hahahahaha.”

Tertawanya lepas sekali. Tapi kenapa aku tidak bisa membalas kata-katanya ya? Aku seperti terpaku melihatnya yang tertawa lepas begitu.

“Sudah ah, lebih baik kita meluncur lagi.”

“Aku mau istirahat dulu. Kalau kau mau main silahkan saja.”

“Dasar kakek-kakek! Weeeeek!” dia menjulurkan lidahnya dan pergi.

Dia kembali meluncur di tengah arena. Meluncur, berputar, persis seperti putri-putri di cerita-cerita dongeng. Dari kemarin malam ada yang tidak beres dengan sebagian organ-organ tubuhku. Jantungku, otakku, apalagi mataku. Entah kenapa dari kemarin aku sering melihat yeoja ini sebagai yeoja yang manis. Ya Tuhan, ada apa ini? Apa aku…apa aku masih waras? Jika…aku menyukai yeoja yang selalu kuanggap menyebalkan ini?

*              *          *

49 hari penelitian kami sudah selesai. Dan hasilnya sangat memuaskan. Penelitianku dan Chae Ri mendapat nilai paling tinggi di kelas. Sekali lagi aku bisa tersenyum lega dengan nilaiku. Syukurlah. Dan satu lagi yang kudapat dari penelitian ini selain nilai yang memuaskan. Cinta. Selama 49 hari bekerja sama dengan Chae Ri, aku semakin dekat dengannya.

Seumur hidup, aku baru dua kali dekat dengan yeoja. Mungkin karena sikapku yang dingin dan apatis ini. Yang pertama dengan mantan yeoja chinguku, Hyorin. Itu juga karena dicomblangkan Jinyoung, teman SMP ku. Eh ternyata ini hanya akal-akalan Hyorin saja. dia hanya memanfaatkan otakku saja. Dia sering minta bantuanku untuk mengerjakan PRnya. Lama-lama aku sadar. Apalagi banyak teman-temanku yang bilang seperti itu. Ditambah lagi banyak teman-temanku yang bilang kalau mereka pernah melihat Hyorin selingkuh dengan Jinyoung. Awalnya aku tidak percaya. Tapi suatu hari aku melihatnya sendiri dan itu sangat menyakitkan. Pertama kali pacaran sudah dikhianati begitu. Pantas saja Hyorin sering menyuruhku merubah penampilanku seperti Jinyoung. Dia memang tidak mencintaiku apa adanya. Untung aku belum mencintainya lebih dalam lagi jadi tidak menyisakan trauma apapun.

Hari ini rencananya aku dan Chae Ri akan merayakan keberhasilan kami di sebuah cafe favorit kami. Dan agenda pentingnya adalah aku akan menyatakan perasaanku. Sebenarnya aku tidak yakin dengan perasaan Chae Ri padaku. Aku tidak yakin dia memiliki perasaan yang sama denganku. Tapi tidak apa-apa. Baik ataupun buruk hasilnya bagiku, yang penting adalah sudah menyatakan perasaanku.

“Eh selain merayakan keberhasilan kita, katanya kau ingin mengatakan sesuatu kan? Apa?”

Deg!

“Emm…itu…emm…habiskan minumanmu dulu sajalah.”

“Hih dasar orang aneh.”

Ya Tuhan, tolong beri aku kekuatan untuk bisa menyatakan perasaanku! Ini pengalaman pertama dalam hidupku. Waktu jadian dengan Hyorin kan dianya sendiri yang menyatakan perasaannya padaku.

Author POV

“Aku keluar duluan ya.”

“Ne, hati-hati.”

“Hati-hati? Hei kau pikir aku mau ke mana hah? Haha ada-ada saja kau ini.” Chae Ri beranjak keluar meninggalkan Sandeul yang masih sibuk bergelut dengan dompetnya di depan kasir.

“Huwaaaa indahnyaaaa.” ujar Chae Ri begitu keluar dari cafe tersebut. Dari kecil dia memang sangat suka dengan salju. Tapi tiba-tiba…

Plakk!

“YA!”

“Rasakan itu! Aku sudah lama ingin melakukannya. Kebetulan hari ini kita bisa bertemu, nona Kim Chae Ri.”

“Ya! Siapa kau! Kenapa kau tau namaku?”

“Siapa aku? Hih konyol. Kau mendekati seorang namja tapi tidak tau yeoja yang pernah dekat dengannya.”

“Mendekati seorang namja?”

‘Sandeul kah?’ pikir Chae Ri.

“Masih tidak tau juga? Ini, sebagai imbalan atas kebodohanmu.” yeoja bertampang sinis itu mendaratkan (?) kue pie yang masih agak hangat terpat di tengah wajah Chae Ri.

“SHIN HYORIN! APA YANG KAU LAKUKAN!”

“Sa..sandeul…”

“Aigoo apa-apaan kau! Apa yang telah kau lakukan pada Chae Ri hah!”

“Emm…itu…itu…”

“Cepat minta maaf!”

“Shireo! Dia sudah merebutmu dariku! Dia…dia…”

“Merebut? Kau bilang merebut? Aku bilang kita sudah putus! Dan itu atas keinginanmu sendiri! Kau yang menginginkannya!”

“Aku tidak pernah berkata seperti itu, Sandeul…”

“Memang, tapi kau menyatakannya dengan sikapmu, dengan berselingkuh dengan Jinyoung! Lagipula aku tau kau hanya ingin memanfaatkanku.”

“Mwo? Itu hanya awalnya saja, Sandeul. Setelah kejadian itu aku mulai sadar. Aku mulai sadar kalau aku sudah benar-benar mencintaimu!”

“Terserah! Sekarang aku sudah mencintai yeoja lain! Yeoja yang jauh lebih baik darimu! Kim Chae Ri! Aku mencintai Kim Chae Ri!”

“Mwo? Kau menyukai yeoja pabo ini?”

“Pabo? Kau itu yang pabo! Bisanya hanya memanfaatkan orang saja. Ka! Aku tidak ingin melihatmu! Dan ingat satu hal, jangan pernah mengusik Chae Ri lagi. Jika kau mengusik Chae Ri, itu sama halnya dengan mengusikku juga!”

“Ne, jika aku maumu, aku akan pergi sekarang.”

Akhirnya Hyorin pergi dari hadapan Sandeul. Sandeul menatapnya tajam. Ia tidak habis pikir dengan apa yang telah Hyorin lakukan padanya, terlebih pada Chae Ri.

“Sandeul-ah…”

“Gwenchana yo?” Sandeul berbalik dan memegang bahu Chae Ri.

“Apa…apa benar yang…kau katakan barusan?”

“Mwo? Perselingkuhan itu? Ne, itu memang benar. Itulah alasanku putus dengannya.”

“Ani yo. Maksudku…maksudku…kata-kata…’aku…mecintai…Kim…Chae…Ri..’ ” Chae Ri terbata-bata.

Sandeul terhenyak. Ia baru sadar kalau tadi dia keceplosan. Dia terlalu emosi.

“Nn…ne…” jawab Sandeul malu sambil tertunduk.

“Jinjja?”

Sandeul hanya membalas dengan anggukan.

“Na do.”

Deg! Sandeul langsung mengangkat wajahnya.

“Na do saranghae, Sandeul-ah. Setelah mengenalmu dengan baik, aku…merasakan ada sesuatu yang berbeda. Aku semakin banyak melihat sisi baik darimu.”

“Aku…juga begitu. Tanggapan burukku padamu lama-lama menghilang seiring makin baiknya aku mengenalmu.”

Chae Ri tersipu malu mendengar pengakuan Sandeul.

“Ma…maukah…maukah kau menjadi yeoja chinguku?”

“Ne, aku mau.”

Sandeul terbelalak.

“Gomawo yo, Chae Ri-ah, gomawo.” Sandeul menggenggam kedua tangan Chae Ri, “Aigoo aku sampai lupa. Wajahmu masih penuh oleh sisa pie dari yeoja gila tadi. Sini biar aku bersihkan.”

“Kau mau membersihkannya memakai syalmu? Aigoo, aku bawa tissue kok. Mana mungkin kan seorang fashionista sepertiku tidak membawa tissue sebagai salah satu peralatanku hehe.” Chae Ri mengeluarkan tissuenya.

“Sini, biar aku saja yang bersihkan.” Sandeul merebut tissue yang hendak Chae Ri lap kan ke wajahnya. Sandeul mengelus pipi Chae Ri dengan lembut. Sentuhan lembutnya (?) berhasil membuat pipi yeoja berambut panjang itu memerah.

“Sudah bersih. Tapi sepertinya masih sedikit lengket ya? Kita masuk ke cafe saja lagi, ikut cuci muka.”

“Ne.” Chae Ri kehilangan kata-kata, ia terlalu gugup.

“Saranghae, Kim Chae Ri.” Sandeul menatap Chae Ri dalam lalu memeluknya.

Chae Ri terbelalak kaget.

“Na do.” balasnya lembut sambil terpejam di dalam pelukan Sandeul.

THE END

Yosh! Dekita dekita! Mian atas segala kekurangannya. Mian kalo kurang menarik, banyak typo, banyak kesalahan bahasa Koreanya, terlalu bertele-tele, dan sangat miskin konflik. Biasa nih, author pemula yang sujektif, jadi ga sanggup bikin konflik kekeke. Gomawo buat yang udah baca, jangan lupa komennya ^^

4 thoughts on “Phantera Calculus Paradiseae Love – Part 3 (end)

  1. SinyoungersBana Elf says:

    Daebak bgt, wkwkw from hate to be love… co cweet thor ^^ Thor punya FB gak? boleh minta FBnya?

  2. SinyoungersBana Elf says:

    Ok thor, ditunggu karya selanjutnya…. klu bisa yang genrenya fantasy kayak gini, coz aku lbh semangat yg fantasy and romancenya itu from hate to be love ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s