A Gloomy Day and Drazzle

Author     : Levina Putri (twitter @puputlevina)

Title         : A Gloomy Day and Drazzle

Genre       : Romance, school life

Rating      : Teens

Main cast : – B1A4 Baro as Baro/Cha Sunwoo

–           Hwang Kyuri (maybe) as You

Other cast : – B1A4 Gongchan as Gongchan

–          Miss A Suzy as Suzy

 

Annyeong readerdeul ^^

Judul ff nya unyu-unyu ya? kekeke. Padahal artinya sederhana ‘Hari yang Mendung dan Gerimis’. Tapi bahasa Inggrisnya unyu banget ya hehe, author jadi jatuh cinta sama judulnya :3 Tapi seperti biasa, author kurang yakin juga dengan isi ff nya. Nampaknya judulnya lebih bagus dari isinya hehehe mian ya. Oiya, ff ini terinspirasi dari imajinasi author andaikan kecengan author yang paling kece sesekolah tiba-tiba deketin author *KTCT=khayalan tingkat cukup tinggi. khayalan tingkat tinggi kan kalo author bayangin bisa nikah sama Teuki >.<*. Mohon doanya ya ders #readers (readers: “doa apa thor? doa naik kendaraan?”)

Cukup sekian cingcong-cingcong author kali ini, happy reading dan mian atas segala kekurangannya. Jangan lupa RCL nya hehehe gomawo ^^

 

 

Kyuri POV

Bruk.

“Arrrrgghh aku benci cuaca seperti ini!” teriakku frustasi sambil mengacak rambutku. Ya, sudah dua bulan ini aku sangaaat benci dengan hari yang mendung dan juga gerimis. Selama dua bulan ini, aku sering mengalami kesialan setiap kali hari mendung dan gerimis seperti ini. Ketauan menyonteklah, uang hilanglah, jatuh di depan banyak oranglah, ah pokoknya menyebalkan!

Dengan perasaan sangat dongkol, aku berjongkok dan mengambil buku-bukuku yang berserakan di tanah yang sedikit basah karena gerimis itu. Tuk. Tiba-tiba tanganku bersentuhan dengan tangan seseorang. Kulihat si pemilik tangan tersebut. Dilihat dari tangannya yang tergolong besar itu, nampaknya ia seorang namja. Dan benar saja…

“May I help you?” namja itu tersenyum padaku.

Omoooooo di…dia kan…

“Ne.” jawabku sok tenang.

Kami pun membereskan buku-bukuku.

“Igeo.”

“Gomawo.”

“Kau kelas 3-2 kan?”

“Nn…ne…” aku begitu terkejut namja ini tau kelasku.

“Pantas aku sering melihatmu, kelas kita bersebelahan, aku kelas 3-3. Hmm kalau begitu, sampai ketemu besok ya. Annyeong.” ia tersenyum dan melambaikan tangannya padaku.

“Annyeong…” aku membalas lambaian tangannya. Ia kembali tersenyum lalu berbalik dan berjalan menjauh dariku, “Baro…Cha Sunwoo…Kyaaaaaa! Gerimisnya makin deras saja!” aku pun berlari menuju gerbang sekolah untuk berteduh di halte bis sambil menunggu bis di sana.

 

*          *          *

 

Author POV

“Baro…” gumam Kyuri.

“Heh jangan melamun begitu! Bagaimana kalau kau menabrak orang lain!”

Kyuri menoleh ke arah Suzy sambil menggenggam tangannya sendiri dengan tatapan begitu berlebihan (bayangin ekspresi lebay Yang Eunbi di ramyun shop), “Baro, Suzy…Baro…”

Suzy mendelik begitu mendengar nama itu, “Sudah kubilang, jangan terlalu ge-er. Itu cuma tata krama saja. Dia memang sangat baik pada semua yeoja.”

“Aku tidak ge-er, aku hanya masih merasa senang saja. Omo, Baro…” Kyuri kembali bergumam.

“Annyeong.”

Tiba-tiba seorang namja imut dengan topi biru tua menyapa Kyuri.

“Annyeong.” seperti biasa, Kyuri tidak menunjukkan kegugupannya.

“Kelasnya baru selesai ya?”

“Nn…ne…” pipi Kyuri nampaknya tidak bisa diajak kompromi, pipinya menampakkan semburat merah di kedua sisinya.

Namja itu tersenyum padanya. Kemudian pandangan namja itu beralih ke arah buku yang dipegang Kyuri, “Namamu Kyuri?”

“Nde?” Kyuri terkejut karena sekarang ia sedang menikmati keindahan di depan matanya.

“Namamu Kyuri?” ulang Baro masih dengan senyum manisnya.

“Ne.” Kyuri kembali mengendalikan perasaannya.

“Kalau begitu perkenalkan, namaku Cha Sunwoo, tapi teman-teman biasa memanggilku Baro.” Baro mengulurkan tangannya, “Bangansumnida.”

Ya, Cha Sunwoo alias Baro adalah salah satu namja paling tampan di sekolah Kyuri. Bahkan mungkin di seluruh SMA se-Seoul. Sampai-sampai teman Kyuri yang beda sekolah pun mendadak menjadi ‘fans’nya saat menonton sebuah kompetisi beat box dan melihat performance Baro di sana.

Selera Kyuri memang tinggi, ia sangat selektif terhadap seorang namja. Tapi yang paling ia utamakan adalah tampilan fisik. Namja yang ia suka rata-rata yang berwajah tampan. Tapi sayang, ia selalu bertepuk sebelah tangan. Justru yang namja-namja yang menyukainya rata-rata bukan tipenya. Tidak heran kalau Kyuri jarang punya namja chingu karena terlalu mematok harga (?) tinggi. Sebenarnya ia tidak menaruuh perasaan pada Baro, tapi jika Baro mendekatinya, tentu ia sangat senang.

 

*          *          *

 

Kyuri POV

“Arrrrrghhhh lagi-lagi mendung dan gerimis. Kesialan apa lagi yang akan menghampiriku kali ini?” gumamku pasrah.

“Tidak membawa payung?” tiba-tiba gerimis tidak menyentuh kepalaku lagi, ada orang yang memayungiku. Dan suara itu…

“Baro?”

“Ayo berteduh dulu di depan kelas, nampaknya hujannya semakin deras.”

“Ne…” jawabku pelan karena masih terkejut dengan apa yang kudapati.

Baro, seorang namja yang dulu sangat kusukai tapi tidak kukenal, kini justru sering mengobrol denganku. Sudah seminggu ini kami sering bertemu dan tidak jarang pula mengobrol di sekolah. Bagiku…ini benar-benar mukjizat. Memang, wajahku tidak jelek juga. Tapi untuk dibandingkan dengan wajah Baro, kurasa levelku di bawahnya.

“Kenapa belum pulang?” tanya Baro saat kami sudah sampai di depan kelas dan berdiri untuk berteduh di sana.

“Hari ini jadwal piketku, jadi terpaksa harus menyapu kelas dulu.” jawabku dengan ekspresi sok cute dengan cara menggembungkan pipiku kekeke, tapi entah menurut Baro ini cute atau tidak -_- “Lalu kau sendiri kenapa belum pulang?”

“Tadi aku keasyikan bermain PSP di kelas.”

“Oh begitu.”

Hening. Tidak ada percakapan di antara kami. Hanya rintikan hujan yang terdengar di sekolah yang sudah cukup sepi ini.

“Kyuri-ya…” walau baru kenal seminggu, kami sudah cukup akrab.

“Ne?” tanyaku sok tenang, padahal sebenarnya sangat deg-degan.

“Apa…kau sudah punya namja chingu?”

“Nde?”

 

*          *          *

 

Seminggu kemudian…

Sejak kejadian di hari hujan itu, aku dan Baro semakin dekat. Bahkan setelah aku menjawab bahwa aku tidak punya namjachingu, ia meminta cyworld dan nomor handphoneku. Jadi semenjak hari itu, kami lebih sering keep in touch.

Kalau dipikir-pikir memang mengherankan. Mana mungkin Baro dengan kualitas wajah dan gaya nomor 1 di sekolah mau mendekatiku yang menurutku…mungkin hanya nomor 3.

Sexy free and single *suara telepon*

“Baro? Yeobseo.”

“Kyuri-ah, apa sore ini kau tidak ada acara?”

Deg. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba ia bertanya seperti ini padaku. Apa dia…

“Nn…ne. Wae yo?” jawabku berusaha tenang. Aku paling tidak mau kalau seorang namja mengetahui kalau aku suka padanya jika aku belum tau perasaan dia sendiri. Pasti akan sangat memalukan jika aku ketauan jatuh cinta sebelah pihak.

“Apa kau mau pergi ke Lotte World bersamaku?”

Lotte World? Ah, rasanya aku sedang melayang-layang sekarang. Bagaimana tidak, tempat kencan impianku Lotte World, dan yang mengajak pergi juga namja impianku. Aigoo, ini rasanya seperti mimpi!

“Hmm baiklah, daripada diam di rumah lebih baik aku pergi bersamamu.” jawabku penuh kebohongan. Tentu nista sekali jika aku berpikiran seperti itu. Aku ini tipe orang yang home sick, bahkan sangat home sick. Aku paling malas pergi kemana-mana. Jangankan keluar, ke kamar mandi saja malasnya minta ampun. Ya, pada dasarnya aku memang sangat pemalas.

“Oke, nanti aku jemput kau jam 5 sore, tepat di depan rumahmu. Nanti sms kan saja alamatmu ya.”

“Oke. Sampai jumpa jam 5.” ujarku terkesan tidak ingin berlama-lama di telepon, padahal sebenarnya aku masih ingin mengobrol dengannya. Tapi sekali lagi, aku tidak ingin menunjukkan perasaanku.

 

Jam 5 sore…

Tid tid *suara klakson*

“Ah jangan-jangan itu Baro.” aku yang sedang tiduran bermalas-malasan di kasur (seperti biasa) langsung menghambur menuju jendela. Ternyata benar. Di luar terlihat Baro sedang duduk manis (memang aslinya manis sih jadi mau gimanapun manis ajaaa) di atas motor ninjanya. Hh…membuatku melting saja.

“Chamkaman yo.” aku memberikan isyarat bibir dan tangan padanya. ia tersenyum dan mengacungkan jempol ke arahku. Nampaknya ia mengerti.

Aku segera berlari menuju cermin dan merapikan rambut serta bajuku. Tapi aku tidak memakai bedak. Aku memang terbiasa tidak memakai bedak karena kulitku sudah putih (SOMBONG LU! #authorganyante)

“Perfect.”

Segera kusambit (?) tas selempang yang tergantung di kursi belajarku dan berlari keluar kamar.

“Eommaaaa, aku pergi duluuuu.” teriakku sambil menuruni tangga.

“Mwo? Tumben kau mau pergi keluar rumah?” eomma melongok heran dari pintu dapur.

“Ada teman SMP ku yang baru pulang dari luar negeri, eomma. Jadi aku ingin menyambutnya.” jawabku santai. Aku memang jago berbohong ^^ “Aku pergi dulu ya, eomma, annyeong.”

“Ne, hati-hati di jalan, jangan terlalu malam.”

“Ne.”

Aku langsung melesat secepat kilat seperti Fabregaz (?) *author korban iklan* menuju pintu luar.

“Siap pergi sekarang?” tanya Baro begitu aku sampai di depannya.

“Ne.” jawabku (lagi-lagi) pura-pura tenang padahal aku begitu takjub melihatnya yang begitu tampan dan stylish dengan jaket kulit hitam dan topi biru kesayangannya.

 

*          *          *

 

Sore ini memang cukup mendung. Nampaknya nanti malam akan hujan. Biasanya hari yang mendung dan gerimis menandakan bahwa aku akan segera mengelami kesialan. Tapi nampaknya tidak untuk hari ini. Di hari yang mendung seperti ini, aku berboncengan dengan namja yang aku suka, menikmati pemandagan Seoul yang indah di sore hari. Beruhubung ini Sabtu sore, tidak heran kalau banyak pasangan muda yang berkencan di sepanjang jalan. Mereka jalan bersama dengan raut wajah yang sangat bahagia. Ah…andaikan aku dan Baro bisa seperti itu…

“Kyuri? Gwaenchana yo?”

“Ah, ne.” Baro membuyarkan lamunanku, “Aigoo! Mianhae mianhae!” aku baru sadar kalau tanganku memegang jaketnya dan kepalaku bersandar di punggunggnya.

“Mianhae? What for?”

“Mi…mian…aku tidak sengaja bersandar di punggunggmu. Tadi…aku melamun…”

“Melamun? Melamun tentang apa? Apa kau melamun tentangku?” godanya.

“Aishh, percaya diri sekali kau.”

Tapi tebakanmu memang benar Baro-ya…

 

Di Lotte World…

“Kyaaaaaa!! Aku sudah lama tidak ke Lotte World!”

“Jinjja? Kalau begitu kebetulan sekali ya aku mengajakmu ke sini.” Baro tersenyum kepadaku, membuatku hampir meleleh dibuatnya omooooo…

“Mau bermain ice skating?”

Mataku membulat mendengar jawabannya. Aku mengangguk pasti dengan mata yang kuyakin sangat bersinar sekarang, “Ne!”

 

*          *          *

 

“Hahaha aku tidak menyangka kalau kau tidak bisa bermain ice skating. Padahal tadi kau terlihat begitu bersemangat.”

Aku mengerucutkan bibirku, “Aku tidak tau kalau kemampuanku sudah hilang. Sudah 4 tahun lebih aku tidak bermain ice skating.”

“Hahaha gwaenchana yo, karena kau tidak bisa bermain ice skating…aku jadi bisa mengajarimu…”

Deg. Ia menatapku dalam. Apa yang ia bicarakan? Apakah menyenangkan bisa mengajariku ice skating?

“Apa kau suka naik bianglala?”

“Permainan apapun aku suka.”

‘Asal bersamamu, Baro…’ gumamku dalam hati.

Kami pun mengantri di wahana itu. Bisa kulihat pemandangan kota Seoul sudah mulai dihiasi lampu. Ya, ini sudah pukul 7 malam. Pasti sangat indah pemandangan di bianglala nanti.

“Ayo.”

Mwo? Apa-apaan dia? Baro menarik tanganku lembut saat giliran kami naik bianglala. Ishh jangan bertingkah seperti ini lagi, Baro, nanti pertahanan imageku bisa runtuh seketika.

“Kenapa kau duduk di situ?” tanya Baro heran saat aku malah duduk di seberangnya, bukan di sebelahnya.

“Ani, agar lebih enak saja kalau kita mengobrol nanti.” jawabku sok santai padahal jantungku sudah sangat berdebar kencang.

Sebenarnya alasanku duduk di sini untuk mengurangi kegugupanku dan agar lebih mudah menatap wajahnya juga…

Sudah 2 kali bianglala ini mencapai 360°, tapi tak ada sedikitpun kata yang lolos dari mulutku maupun Baro.

“Kyuri…”

“Ne?” lagi-lagi ia membuatku tersentak di tengah lamunanku.

“Apa…kau mau menjadi yeojachinguku?”

“MWO?!” sontak mataku membulat karena kaget. Yeo…yeoja chingu? “Ja…jangan bercan…”

Bruk. Tiba-tiba bianglala ini sedikit bergoyang. Tubuhku hampir tersungkur, refleks kakiku melakukan gerakan menahan. Tapi aku kehilangan keseimbangan sehingga tubuhku makin tersungkur ke depan hingga akhirnya Baro menangkapku. Kini aku duduk di pangkuan Baro. Saat aku mengangkat wajahku yang sempat tertunduk, aku begitu kaget saat wajahku dan Baro hanya terpaut beberapa cm. Tatapan kami bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Tentu, ini membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Di saat yang bersamaan, gerimis pun mulai ramai membuat suara gemercik di luar sana.

 

*          *          *

 

Baro POV

“MWO?! CIUMAN?! Aigoo…neo jeongmal micheosseo!”

“Ne, kalian sudah pacaran tiga minggu dan hanya berpegangan tangan? Oh yang benar saja, Cha Sunwoo, itu hampir sebulan. Tidak masuk akal kalau kau yang sangat populer di kalangan para yeoja itu berkencan begitu santai huh.”

“Hajiman…kau kan tau sendiri aku hanya pura-pura. Mana bisa aku lebih tega lagi padanya dengan memperlakukannya lebih istimewa lagi.”

“Hahahaha ya, mana Cha Sunwoo si cassanova, eoh? Bukankah kau bilang kau penakluk yeoja? Kau jauh lebih baik dariku?”

“Aish, itu beda, Gong Chansik! Aku benar-benar tidak mencintai yeoja ini!”

“Ah bilang saja kau tidak berani. Pokoknya, kau harus mencium yeoja itu dan menunjukkan fotonya padaku!”

Tut tut tut…

Sambungan telepon pun terputus.

“Aish! Si bocah tengik ini! Apa lagi maunya kali ini! Apa dia masih tidak terima kalau dia kalah taruhan denganku?”

 

Flashback

Author POV

“Mianhae, bukannya aku tidak menyukaimu tapi…mianhae, aku tidak bisa!” seorang yeoja membungkukkan badannya dan berlari meninggalkan seorang namja yang kini mematung dengan sebuket bunga mawar di tangannya.

“Aishh bilang saja kalau kau tidak suka padaku! Tidak usah basa basi begitu!” gerutu namja itu sambil menghempas kasar bunganya ke tanah. Tanpa ia sadari, sepasang mata sedang mengawasinya.

“Hahahahahaha.” namja yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu tiba-tiba keluar dari persembunyiannya dan tertawa kencang sambil memegangi perutnya.

Namja yang tadi ditolak cintanya mendelik tajam pada namja yang merupakan sahabatnya itu.

“Wae? Ada yang lucu?” tanya namja itu ketus.

“Kekekeke mianhae, aku tidak bisa menahan tawa melihat ekspresi konyolmu saat ditinggalkan dan menggerutu.”

“Ya, jangan sembarangan menertawakanku. Yeoja yang baru saja menolakku itu bukan yeoja sembarangan. Dia memang sangat selektif.”

“Selektif? Dia yang selektif atau tingkahmu yang seperti anak kecil yang membuatnya tidak tertarik padamu?” ledek namja itu.

“Heh jangan tertawa lagi. Wajahmu tidak terlihat lebih tampan dengan ekspresi seperti itu, Cha Sunwoo.”

“Wae yo? Hahaha kalau saja aku yang memintanya menjadi yeoja chinguku ia pasti mau. Seselektif apapun dia, wajahnya hanya level 3, pasti kalah dengan pesona wajahku yang level 1.”

“Jinjja? Tapi setauku tidak sembarangan namja tampan bisa meraih hatinya. Dan ingat, wajahmu juga tidak lebih dewasa dari wajahku.”

“Perlu bukti?” tantang namja yang bernama Sunwoo itu.

“Sure.” jawab namja itu dengan tatapan menantang.

Flashbackend

 

“Grrr…sudah menantangku untuk memacari yeoja itu, sekarang ia menantangku untuk melakukan yang lebih gila. Ia memang benar-benar sahabatku, ia tau benar kalau aku paling tidak suka diremehkan grrrrr.”

 

*          *          *

 

@Baro’s home

Author POV

“Baro-ya…rumahmu…sepertinya sepi…”

“Ne, tidak ada siapa-siapa di sini. Orangtuaku sedang di luar negeri.” Jawab Baro sambil menaruh seteko (teko tembus pandang gitu) air es dan dua gelas kosong.

“M-mwo? Ja…jadi…”

“Tenang saja, aku tidak akan melakukan apa-apa. Tujuan kita kan belajar.” Baro tesenyum manis untuk menenangkan Kyuri.

Tujuan sebenarnya Baro mengajak Kyuri ke rumahnya bukan untuk belajar bersama. Tapi untuk melaksanakan tantangan Gongchan. Ia ingin melaksanakan tantangannya di rumah agar tidak ada yang melihat, karena kebetulan orangtuanya sedang pergi ke luar negeri. Tentu saja ia tidak ingin ada yang melihatnya berciuman dengan yeoja yang sebenarnya tidak ia cintai ini.

“Chagi…” panggil Baro sedikit mendesah setelah kira-kira dua jam mereka di sana.

“Hmm…” jawab Kyuri sambil terus mengerjakan soal.

Baro mendekatkan wajahnya.

“Ya ya ya! Apa yang kau lakukan?” Kyuri sedikit beringsut menjauh.

“Wae yo? Kau tidak menyukainya?”

“A…ani…bukan begitu…aku…aku mau cuci muka dulu!” tiba-tiba ia berdiri dan mengambil sabun mukanya di tas lalu berlari menjauh.

“Aigoo sepertinya ia sedikit polos, eotte?” Baro menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal lalu mulai menonton tv, “Ya, chamkaman…memangnya dia tau di mana toiletnya?”

Baro bergegas menuju toliet untuk memeriksa.

“Aish syukurlah, dia menemukan toiletnya. Eh, tapi kenapa ia tidak menutup pintunya.”

Ia mendekat menuju toilet. Kyuri terlihat sedang membuat busa dengan sabun mukanya, “Ya, bagaimana kau bisa menemukan toiletnya?”

“Ah, Baro-ya.” ia baru menyadari kehadiran Baro, “Aku tidak sengaja menemukannya.”

“Oh begitu. Tapi…kenapa kau tidak menutup pintunya.”

“Aku orangnya penakut.” jawab Kyuri sambil menutup matanya. Sekarang wajahnya sudah penuh dengan sabun. Ia mencuci muka sambil tersenyum.

‘Apa ia bergitu senang berada di dekatku?’ batin Baro.

“Chagi, kenapa kau mencuci muka sambil tersenyum?” tanya Baro heran sambil bersender di dinding sebelah wastafel tempatnya mencuci muka.

“Katanya mencuci muka sambil tersenyum itu baik.”

Entah apa yang salah dengan otaknya, Baro bahkan tidak peduli atas jawaban yang didapat atas pertanyaannya sendiri. Ia malah terfokus pada wajah Kyuri. Senyum Kyuri terlihat begitu tulus bagi Baro. Dan…chu~ Kyuri langsung membelalakkan matanya saat merasa ada sesuatu yang lembut menempel di bibirnya.

“KYAAAA!!” busa sabun membuatnya bereteriak perih sekaligus kaget karena kejadian barusan.

 

*          *          *

 

“Lalalalala~”

Kyuri melangkah riang dengan sebuah keranjang piknik di tangan sambil bersenandung. Ya, hari ini adalah hari jadinya dan Baro setelah satu bulan. Tadi pagi ia sudah membuat dua potong sandwich tuna berbentuk hati.

“Pasti Baro menyukainya.” Kyuri memandangi keranjangnya saat hampir sampai di kelas Baro.

“A…” tapi langkahnya terhenti saat melihat Baro seperti sedang terlibat pembicaraan serius dengan sahabatnya, Gongchan, namja yang pernah ia tolak dulu. Ia sembunyi di balik pintu kelas.

“Jadi kau belum putus dengannya padahal ini sudah genap satu bulan? Aigoo, bahkan bukti kalian ciuman pun tidak ada. Apa kau tidak berhasil mengambil hatinya? Atau jangan-jangan…kau…”

“Apa yang sedang mereka bicarakan? Bukti? Mengambil hati? Apa mereka sedang membicarakanku?” gumam Kyuri.

“Ani yo, tentu saja tidak! Aku tidak menyukainya! Dari awal taruhan denganmu sampai sekarang, aku sama sekali tidak menaruh perasaan padanya! Untuk masalah bukti itu filenya benar-benar tidak sengaja terhapus dan tidak ada duplikatnya!” Baro sedikit berbohong. Sebenarnya ia memang lupa mengambil fotonya saat mencium Kyuri. Saat itu ia memang memikirkan hal lain jadi lupa dengan taruhannya, “Aku akan memutuskannya hari ini juga! Jadi kau tidak usah khawatir!”

Deg.

‘A…apa-apaan ini? Taruhan? Jadi…’ batin Kyuri.

Dengan hati-hati, ia berjalan cepat menuju kelasnya untuk mengambil tas dan berniat untuk pulang.

“Aigoo, apa-apaan dia? Jadi selama ini dia mempermainkanku? Baiklah, kalau ia menemuiku…eh, chamkaman, untuk apa aku marah? Awalnya juga aku memang tidak punya perasaan padanya, mungkin selama ini aku hanya kagum dengan ketampanannya, berbeda dengan perasaanku pada Suho oppa yang sudah lama aku sukai dari kelas 1 dulu. Shh…baiklah, aku juga memanfaatkannya karena aku ingin punya namja chingu yang tampan, dan aku tidak mencintainya. Jadi…kurasa aku tidak perlu marah padanya.”

Saat Kyuri sampai di pintu kelas…

“Kyuri-ya…”

“Wae yo?” tanya Kyuri dengan wajah pura-pura tak tau apa-apa.

“Aku…hmm…aku…” Baro menunduk sambil meremas-remas lengan seragamnya sendiri.

“Mau putus denganku?” tanya Kyuri santai.

Baro langsung mendongak dengan mata membulat.

“Aku sudah tau semuanya. Tadi aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan Gongchan.”

“Jadi…”

“Ne. Tapi jangan khawatir, jangan merasa bersalah. Karena…sejujurnya aku juga tidak mencintaimu. Aku menerimamu karena aku ingin pamer pada teman-temanku saja karena kau salah satu namaj populer di sekolah. Jadi, setelah ini pun kita tetap beteman saja, tidak usah merasa canggung padaku.” Kyuri menunjukkan wajah baik-baik saja di depan Baro, “Aku pulang duluan, ya, annyeong.”

Kyuri meninggalka Baro begitu saja. Baro mematung tidak bisa berkata apa-apa. Ia benar-benar bingung dengan sikap Kyuri dan bingung dengan sikap yang harus ia ambil. Dan langit seakan mengerti perasaan kedua orang ini. Langit tampak mendung, semendung perasaan dua insan yang baru putus cinta ini.

 

*          *          *

 

Kyuri’s home…

“Kyuri-ya, tolong kupas bawangnya, eomma mau membuat acar.”

“Ne.” jawab Kyuri malas sambil duduk di depan meja makan dengan semangkuk bawang bombay di depannya.

Sejak kejadian tadi Kyuri memang sangat lesu. Ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ia tidak mau mengakui apa yang ada dalam hatinya.

Ia pun mulai mengupas bawang sambil mendengarkan musik dengan earphone di kedua telinganya. Tapi lama kelamaan sebulir cairan bening mulai meluncur dari sudut matanya, “Aishh, mengupas bawang memang paling menyebalkan.”

Ia meneruskan kegiatannya. Tapi bayangan-bayangannya bersama Baro mulai tergambar jelas silih berganti di otaknya. Ia terus mengupas bawang tanpa menghiraukan bayangan-bayangan itu. Tapi ternyata air matanya makin mengalir deras.

“Aigoo lain kali aku tidak mau mengupas bawang lagi.” rutuknya sambil sesekali menyeka air matanya dengan lengan bajunya, “Ish, kenapa lagu ini malah muncul!” rutuknya sekali lagi saat ipodnya memainkan sebuah lagu, “Dan aish! Benar saja! Gerimis mulai turun di saat perasaanku sedang tidak enak!”

 

(Backsong : Bachelor’s Vegetable Store OST – Living Like a Fool by Miss A Min)

 

Sementara itu di tempat lain…

“Aigoo apa otakku sudah rusak? Untuk apa juga bayangan-bayanganku dengan Kyuri tiba-tiba muncul? Ish. Ne, kami tidak saling mencintai, jadi yang perlu kulakukan besok tinggal meminta maaf padanya, tidak usah merasa canggung apalagi memikirkan saat-saat bersama.” Baro pun menarik selimutnya dan mematikan lampu. Menyelimuti tubuh dan pikirannya ditemani suara gerimis malam ini.

 

Why do I keep shedidng tears?

Why am I still the original me?

I want to hug you tightly in my heart

But you are far away

 

Such a foolish love

My love is such a foolish love

I could not approach a step closer

Unknowingly you are getting far away

Don’t go

 

Even if it blows away in the sky with wind

My love is still the same

I miss you, but even if you flicker before my eyes

I can’t touch you

 

Him who is vague, him whom I love

Is only you

 

I’m living like a fool

My love is such a foolish love

I cry because my heart hurts

I’m a fool who only knows you one person

 

The person that I love

If I can see you in my dream

It’s allright, even if my heart stops

I’ll love you till my breath stops

I’ll love you

 

*          *          *

 

Seminggu setelah putus mereka lalui tanpa pertengkaran. Hanya saja hubungan mereka tidak berjalan lancar. Semenjak Baro meminta maaf sehari setelah hari putus mereka, mereka tidak pernah bertegur sapa lagi. Saat berpapasan, mereka selalu pura-pura tidak melihat satu sama lain. Sampai akhirnya Baro menyadari sesuatu.

“Aku harus menghentikan semua ini!”

 

@Kyuri’s class

“Jwesonghamnida, aku sedikit mengganggu kalian semua. Kyuri-ya, ikutlah denganku.”

Kyuri hanya berdiri dengan wajah sangat shock dan mengikuti tarikan lembut tangan Baro. Ia benar-benar kaget dan tidak mempercayai hal ini.

“Bukankah…namja itu mantannya Kyuri?” tanya salah seorang teman Kyuri yang sedang mengobrol dengannya tadi.

“Ne, benar, itu Baro.” jawab yang satunya tanpa mengalihkan pandangannya dari dua orang yang baru pergi itu.

 

@Taman belakang sekolah

“Mau apa kau membawaku ke sini?” tanya Kyuri begitu jiwanya sudah kembali. Ia bertanya tanpa memandang wajah orang yang ia ajak bicara.

“Tolong katakan padaku…bagaimana perasaanmu yang sebenarnya padaku?”

Kini Kyuri mengalihkan pandangannya pada Baro dengan tatapan sedikit sinis.

“Mwo?”

“Jebal, katakan padaku bagaimana perasaanmu yang sebenarnya.” Baro memandang Kyuri dengan serius, “Jika memang kau benar-benar tidak menaruh perasaan padaku seperti yang kau bilang saat kita putus, harusnya sekarang kau bersikap ramah padaku.”

Kyuri ingat akan kata-katanya dan mulai berubah sikap, ia berusaha tersenyum.

“Ah, mianhae yo, Baro-ya. Mungkin ini efek pembicaraan dengan teman-temanku. Tadi kami sedang membicarakan guru yang galak.” Kyuri berbohong. Memang tidak terlihat canggung karena Kyuri pandai berakting. Tapi nampaknya untuk urusan ini Baro bisa merasakan adanya kebohongan.

“Geojitmal.”

Kyuri tesentak kaget. Ia tidak menyangka kebohongannya yang ia kira sudah rapi ternyata terbongkar oleh orang yang baru ia kenal bahkan belum genap 2 bulan mereka saling mengenal.

“Katakan padaku…bagaimana perasaanmu padaku.” pinta Baro tergas.

“Wae…wae yo? Ke…kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal ini? Haha ayolah, bahkan kita sudah sepakat untuk tidak membahas hubungan kita lagi sejak kau meminta maaf padaku.”

Kini Baro meletakkan kedua tanganya di bahu Kyuri, “Kau juga mencintaiku kan?”

Deg. Pertanyaan dan tatapan Baro yang begitu serius membuat Kyuri seketika mematung di sana.

‘A…apa-apaan dia?’ batin Kyuri dalam hati.

“Saranghae.”

Deg. Jantung Kyuri semakin berdebar tak karuan.

“Aigoo, kalau hanya ingin mengajakku bercanda tidak usah membawaku ke sini, cukup di depan kelas saja.” Kyuri berusaha menutupi ketidakpercayaannya dan rasa gugupnya.

“Aku tidak bercanda, Hwang Kyuri.” Baro menatap Kyuri dengan tatapan tajam, “Aku serius.”

Baro pun menceritakan semuanya dari awal. Lalu ia menjelaskan perasaannya sekarang yang mulai berubah saat mereka masih pacaran. Perasaan Baro berubah perlahan seiring berjalannya waktu. Bahkan saat putus pun sebenarnya ia sudah menyukai Kyuri, hanya saja ia belum menyadarinya. Ya, walaupun baru mengenal Kyuri selama kurang dari 2 bulan ini, Baro merasa nyaman dengannya.

“Ji…jinjja? Apa…kau serius dengan yang kau katakan?”

“Ne, kali ini aku tidak berbohong, tidak seperti saat di Lotte World dan sebelum-sebelumnya. Kali ini aku benar-benar menyadari perasaanku, Kyuri.”

Raut Kyuri berubah murung. Ia menundukkan kepalanya, “Hajiman…level kita berbeda. Aku hanya yeoja biasa di sekolah dengan wajah yang biasa juga. Berbeda denganmu yang cukup populer di sekolah dengan wajah di atas rata-rata. Jadi…mustahil jika kau menyukai yeoja sepertiku.”

“Aigoo, apa yang kau katakan, Hwang Kyuri? Neo neomu paboya. Cintalah yang membuat seseorang terlihat indah di mata orang yang mencintainya, bukan cantik atau tampan yang membuat jatuh cinta. Lagipula kau tidak jelek, wajahmu tidak pas-pasan, hanya gayamu saja yang mungkin harus sedikit diubah agar aura cantikmu lebih memancar. Sungguh, aku tidak berbohong, itu sebabnya tidak jarang pula namja yang mendekatimu. Jadi…jebal, jangan jadikan ini alasan untuk menolakku.”

‘Menolak? Maksudnya…’ batin Kyuri.

“Maukah kau kembali jadi yeoja chinguku?” pinta Baro sungguh-sungguh.

Kyuri menatap Baro dengan tatapan bingung, ia ragu harus menjawab apa.

“Jebal, Kyuri-ah…aku beanr-benar mencintaimu sekarang.”

Kyuri mencari celah kebohongan dalam sorot mata Baro, tapi ia tidak menemukannya. Yang ia lihat hanya tatapan tulus dari seorang namja pada yeoja yang dicintainya.

“Baiklah…aku mau kembali menjadi yeoja chingumu lagi.”

“Ji…jinjja?”

Kyuri mengangguk dan tersenyum, “Ne.”

Spontan Baro memeluk Kyuri begitu erat, “Gomawo, gomawo, chagi. Mianhae…sekali lagi mianhae karena aku pernah menyakitimu. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu untuk kedua kalinya, aku berjanji tidak akan bertindak bodoh dengan menyia-nyiakanmu lagi, yakseok. Saranghae Hwang Kyuri.”

Kini Kyuri membalas pelukan Baro dan tersenyum dalam dekapannya, “Nado, nado saranghae, Cha Sunwoo.”

Langit pun seakan menitikkan air mata bahagia saat melihat kedua insan ini bersatu. Menitikkan kebahagiaannya dalam rintikan gerimis yang membasahi bumi di sore yang mendung ini.

 

(Ending theme : My Fair Lady OST – I Love You)

 

END

 

             Eotte? Mian kalo jelek dan sangat jauh ekspektasinya dari judul. Sebenernya ini agak maksa sih judulnya, cuma pengen nampilin judul ini aja soalnya unyu kekeke jadi ya dipaksa related sama ide yang udah ada hehe. Mian kalo mengecewakan, ga semanis dan ga sebagus judulnya. Untuk segala kekurangannya, mohon komentarnya ya untuk perbaikan ke depannya, gomawo ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s