Back in Time (Imjin River)

Author     : Levina Putri (twitter @puputlevina)

Judul        : Back in Time (Imjin River)

Kategori   : Romance, sad

Rating       : PG-15

Main cast : – B1A4 Sandeul as Lee Junghwan

– Kim haneul (maybe) as You

Other cast : – Other B1A4 member

–         Jung Ilwoo

 

Annyeong readerdeul ^^

Author cantik adik kembarnya tiffany, jessica, victoria sekaligus kakak kembarnya suzy Miss A juga (kembar kok banyak? beda-beda wajah lagi) kembali ke peredaran dengan membawa ff baru (baruàbarutut *barutut dalam bahasa Sunda berarti jelek-jelek). Kali ini author membawakan ff dengan setting tahun 60-an dengan background perang Korea. Tapi ini ceritanya setelah perang ‘usai’ sih (sebenernya emang masih belum bener-bener usai kan?). Cerita ini terinspirasi saat author dan eomma lagi nonton berita (tumben gue nonton berita *kepaksa ga ada acara laen) tiba-tiba muncul berita Korut-Korsel. Eomma author komen (lupa komennya apa). Author jadi kepikiran bikin ff deh (anak fisip murtad, liat berita yang dipikirin bukan unsur politiknya malah kepikiran bikin ff #donttrythisathome). Selain itu author juga terinspirasi cerita Love Rain (padahal cuma pernah numpang nonton aja bareng temen plus dapet sinopsisnya) tentang cinta tak sampai yang kemudian terbayarkan oleh generasi berikutnya.

Korea, Februari 1960

Author POV

“Ya! Palli palli, Sunwoo-ya (Baro)!” seorang namja berambut hitam itu terus melihat ke belakang sambil mengingatkan temannya.

“Aigoo, aku belum selesai, Junghwan-ah! Aku perlu mengambil sedikit lagi agar kita tidak usah kembali ke sini.” namja yang diperingatkan oleh Junghwan itu masih betah dengan kegiatannya memotong tanaman di taman belakang rumah warga.

“Ya! Apa yang sedang kalian lakukan!” seorang ahjussi tiba-tiba muncul dari arah selatan mereka.

Junghwan dan Sunwoo saling berpandangan.

“LARI!!!”

 

(Opening theme : Beat Crusaders – Tonight, Tonight, Tonight)

 

“Tadi kan sudah kubilang cepat, Cha Sunwoo!” teriak Junghwan sambil berlari sekencang mungkin.

“Arrrggh sudahlah! Yang harus kita lakukan sekarang hanya lari secepat-cepatnya!”

“Ya! Berhenti!!” ahjussi tadi masih mengejar mereka.

Junghwan melihat ke arah belakangnya lalu semakin mempercepat gerakannya, “Aigoo!! Sunwoo!!”

“Ya! Kubilang berhenti!!!”

“Ada apa, Tuan Park?” tanya seorang warga saat ahjussi tadi lewat di depan mereka.

“Cepat bantu aku menangkap dua pemuda itu! Mereka sudah mencuri daun naga di halaman belakang rumahku!”

“Mwo?! Ne!” beberapa ahjussi yang ada di sana serempak berdiri dan ikut mengejar Junghwan dan Sunwoo.

Junghwan dan Sunwoo menyadari langkah kaki di belakang mereka semakin ramai. Dan saat mereka melihat ke belakang…

“Arrrrggghh!! Kupastikan kau akan mati di tanganku setelah sampai di Gangwon nanti, Sunwoo!!!” teriak Junghwan.

“Pastikan dulu kau masih hidup saat tiba di Gangwon nanti, Lee Junghwan!”

Mereka pun berlari semakin cepat dan berpisah saat menemukan dua cabang jalan. Junghwan berlari ke arah kanan dan Sunwoo ke arah kiri. Junghwan memasuki halaman belakang rumah warga.

“App…KYAAAAAAA!!!” seorang yeoja yang sedang menyiram tanaman di sana refleks memejamkan matanya dan berteriak saat mendapati Junghwan di halaman belakang rumahnya. Dengan sigap, Junghwan langsung membekap mulut yeoja itu dari arah belakang dengan tangannya.

“Sst, jangan berisik.” bisik Junghwan.

Perlahan yeoja itu membuka matanya saat mendengar suara Junghwan yang begitu lembut. Di saat yang bersamaan, Junghwan memalingkan wajahnya ke arah yeoja itu.

 

(Backsong : Super Junior Kyuhyun – Hope is A Dream That Doesn’t Sleep)

 

Junghwan tersenyum, “Kam-sa-ham-ni-da.” ujarnya pelan sambil melepas bekapan tangannya. Yeoja itu terpana melihat ketampanan Junghwan. Di mata yeoja itu, Junghwan terlihat sangat tenang dan berkarisma. Entah kenapa auranya membuat yeoja itu merasa nyaman di dekatnya. Padahal biasanya saat ada orang asing, yeoja itu akan merasa takut karena ia masih trauma dengan keadaan negaranya yang baru saja lepas dari kemelut panjang. Terlebih rumahnya berada di daerah Sungai Imjin yang merupakan perbatasan antara Korea Utara dan Korea Selatan. Itulah sebabnya ia refleks berteriak saat pertama kali melihat Junghwan di halaman rumahnya.

“Nu-nugu ya?” tanyanya terbata-bata.

“Junghwan imnida.”

“Kau…dari daerah mana? Rasanya…aku tidak pernah melihatmu sebelumnya?” tanya yeoja itu lagi mengingat jarang sekali orang yang lewat ke daerahnya selain orang-orang daerah situ yang mungkin sudah ia kenal semua.

“Aku…dari Gangwon…” jawab Junghwan sambil menunduk.

“Ga…Gangwon? Ko…Korea…Utara?” yeoja itu kembali bertanya setengah tak percaya.

Junghwan hanya mengangguk sambil tertunduk. Entah apa yang membuatnya menjawab pertanyaan yeoja itu dengan jujur. Padahal hubungan kedua negara bagian ini masih belum membaik.

“Ma…mau apa kau ke sini?” tanya yeoja itu lagi sambil mundur beberapa langkah dan berusaha meraih alat yang bisa ia jadikan senjata perlindungan.

“Cha…chamkaman…aku…tidak bermaksud apa-apa…aku hanya…”

Junghwan menceritakan semuanya. Ia bercerita kenapa ia bisa sampai di daerah perbatasan Korea Selatan.

“Jadi…semua ini karena temanmu?”

“Ne. Yeoja cingunya sakit cukup parah. Biaya pengobatannya cukup tinggi, sementara keluarga yeoja itu dan ia sendiri pun tidak mampu membiayainya. Hanya ada satu cara alami yang bisa menyembuhkannya, yaitu ramuan daun naga (author ngarang. ceritanya kan jadul, jadi nama tanamannya juga ala-ala penamaan orang jadul gitu, belum terlalu ilmiah (?)). Dan sialnya di seluruh Korea Utara, daun ini tidak ada (this story is just fiction). Daun ini hanya ada di Korea Selatan. Dan yang kami tau, daun itu ada di sekitar Sungai Imjin. Tepatnya di sini, di Yeoncheon.”

“Hmm arasseo. Apa kalian sudah mendapatkan daunnya?”

“Sudah,tapi sepertinya masih kurang. Itu sebabnya kami hampir tertangkap, karena tadi kami ingin mengambil lebih banyak.”

“Ah, kalau begitu kau tunggu di sini ya. Aku akan mengambil daun itu di rumah. Tadi aku baru saja mengambil beberapa daun itu dari tetangga dan membersihkannya untuk makan siang.”

“Jadi daun itu bisa dijadikan makanan juga?”

“Ne, tentu saja. Tunggu ya, aku akan segera kembali. Kau tunggu saja di sini. kebetulan orangtuaku sedang tidak ada di rumah.” yeoja itu tersenyum pada Junghwan.

‘Neomu areumdapta…(mian kalo bahasa Koreanya salah)’ entah apa yang terjadi, tiba-tiba Junghwan terpesona pada yeoja itu.

“Ah, ne.” Junghwan tersadar dari lamunannya saat yeoja itu mulai beranjak meninggalkannya, “Agassi…siapakah namamu?” gumam Junghwan tanpa melepas sedikitpun pandangannya pada yeoja itu.

Beberapa menit kemudian, yeoja itu kembali dengan sekantung daun naga.

“Igeo.” ia menyodorkan kantung itu pada Junghwan.

“Kamsahamnida.” Junghwan menerima kantung itu dengan kedua tangannya sambil membungkukkan badannya.

“Apakah itu cukup?” tanya yeoja itu sambil tersenyum, yang membuat jantung Junghwan tiba-tiba berdetak lebih cepat.

Tapi nampaknya Junghwan tidak mendengar pertanyaan itu. Ia terlalu terpesona dengan yeoja berambut panjang itu, “Agassi, bolehkah aku tau namamu?”

 

*        *          *

 

Junghwan POV

Kim haneul. Nama yang cukup cantik. Tapi, pemiliknya jauh lebih cantik. Kim haneul, yeoja pertama yang bisa membuat jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Apakah aku jatuh cinta padanya?

“Ya, Junghwan-ah! Kenapa kau melamun?”

“Ah, Sunwoo-ya, kau mengagetkanku saja.”

“Wae? Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Eo-eobseo.” jawabku terbata tapi berusaha meyakinkan, “Bagaimana keadaan yeoja chingumu?”

“Hyeri? Keadaannya lumayan membaik. Gomawo yo kemarin kau sudah mau membantuku.”

“Cheonma. Emm…apa…kau masih membutuhkan daun itu?”

Sunwoo sedikit mengernyitkan dahinya, “Ssh aku tidak tau. Jika keadaannya semakin membaik, sepertinya tidak.”

“Hmm tapi antisipasi lebih baik kan?”

“Maksudmu?”

“Lebih baik kita mencari daun itu lagi. Siapa tau nanti ada yang membutuhkan lagi.”

“Benar juga. Tapi…aku masih trauma, Junghwan-ah. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan menimpaku kalau tertangkap oleh orang-orang Korea Selatan.”

“Ah, tidak usah khawatir. Lebih baik kita ke sana saja.”

Sunwoo memandangku penuh tanya, “Kenapa kau terlihat bersemangat begitu?”

“Ah hahahaha, kenapa kau bisa menyimpulkan begitu? Tidak, aku tidak terlalu bersemangat, biasa saja.” aku berusaha tenang.

“Hmm ya sudah, kita cari besok saja ya? Hari ini aku ingin bertemu dengan yeoja chinguku.”

“Hmm ne, arasseo.”

Nampaknya aku harus berangkat sendiri.

*        *          *

 

@Yeoncheon

Ya, akhirnya aku berangkat diam-diam ke sini. Memang, setelah keadaan mereda sejak 2 bulan terkahir, penjagaan di perbatasan sedikit mengendor. Dan itu menguntungkanku saat ini. Ini kedua kalinya aku menyeberang perbatasan, pertama kalinya tentu saja kemarin saat membantu Sunwoo. Sebenarnya kemarin aku benar-benar kesal pada Sunwoo. Pasalnya kemarin nyawa kami bisa saja habis jika tertangkap oleh warga-warga Korea Selatan itu. Tapi ternyata ini justru membuatku bertemu dengan bidadari itu. Sungguh, sampai sekarang aku masih belum bisa melupakan senyuman yeoja itu. Bahkan kemarin aku hampir tidak bisa tidur karena ingin bertemu dengannya. Entah apa yang merasukiku hingga bisa seperti ini.

“Omo, apa aku tidak salah lihat?” kukucek-kucek (?) mataku untuk memastikan bahwa aku tidak salah lihat. Kulihat di sana, sekitar 7 meter dari arahku, ada seorang yeoja sedang duduk sendiri di tepi sungai Imjin. Dan yang membuatku tak percaya, yeoja itu terlihat seperti Haneul.

Rasa ingin tau mendorongku berjalan ke sana. Perlahan, jarakku dengannya semakin dekat. Dan kini aku yakin, ini bukan sekedar fatamorgana. Ini nyata, Haneul ada di depanku.

“Soo…hee…ssi?” sapaku ragu.

Ia terlihat amat terkejut, “Junghwan-ssi?”

“Ne, ini aku.”

“Ta…tapi…kenapa kau ada di sini? Apa kau tidak takut tertangkap petugas perbatasan?”

Aku berpikir sejenak dan menggelengkan kepalaku dengan pasti, “Walaupun baru dua kali ke sini, aku sudah pandai.”

Ia tersenyum padaku. Demi Tuhan, ia sangat manis.

“Bolehkah aku duduk di sini?” tanyaku sambil menunjuk tempat di sebelah Haneul.

Ia memandangku penuh tanya, “Tentu saja, kenapa tidak?”

“Gomawo.”

Aku pun duduk di sampingnya. Aku menoleh ke arahnya dan ia hanya menatap lurus ke depan sambil tersenyum.

“Apa…yang sedang kau lihat?” tanyaku sedikit hati-hati karena aku takut ia tidak suka dengan sikapku.

“Na?” ia menoleh ke arahku kemudian kembali menatap lurus ke depan, “Aku…iri pada air ini.”

“Air?”

Ia mengangguk, “Ne. Air ini bisa mengalir ke mana pun. Ia bisa mengalir dari suangai Han sampai sungai Imjin, bahkan sungai-sungai di seberang sana tanpa harus khawatir dan takut mengenai masalah perbatasan.”

Aku yang sedari tadi menatapnya, ikut mengalihkan pandanganku pada sungai di depan kami, “Benar juga. Indah sekali rasanya jika negara kita bisa kembali seperti dulu. Tidak usah memikirkan kapan harus menyeberang, kapan tentara berhenti jaga, dan kapan keadaan ini akan berakhir…”

“Ne. Pasti menyenangkan rasanya bisa hidup tenang tanpa mendengar peperangan dan persaingan.”

“Ne.”

“Oh iya, bagaimana keadaan temanmu dan yeoja chigunya?”

“Ah temanku baik-baik saja, sesuai perkiraanku, ternyata dia sudah kembali duluan kemarin. Dan yeoja chingunya sudah agak membaik. Gomawo yo untuk daunnya kemarin.”

“Cheonmaneyo. Syukurlah kalau mereka berdua baik-baik saja. Tapi ngomong-ngomong…ada perlu apa kau ke sini lagi?”

“Eh…eh…itu…aku…butuh daun naga lagi! Ne daun naga!” jawabku sedikit gugup.

“Eoh? Jadi yang kemarin tidak cukup?”

“Nn…ne…” ya, lagi-lagi aku berbohong. Padahal biasanya aku paling tidak bisa berbohong. Tapi untuk urusan Haneul, nampaknya aku bisa berusaha.

“Oh kalau begitu ayo ke rumahku. Seperti biasa, pagi-pagi begini appa dan eommaku sedang tidak ada di rumah. Appaku sedang bekerja di kebun dan eommaku berdagang di pasar.”

“Ba…baik!” refleks, aku langsung berdiri begitu melihat wajah innocentnya dan ajakannya itu.

 

*        *          *

 

Hari demi hari terus berlalu begitu cepat. Tidak terasa kurang lebih sudah hampir setengah tahun aku mengenal Haneul. Hampir setiap hari aku pergi ke Yeoncheon untuk bertemu dengannya. Bermacam-macam alasan kugunakan jika ia bertanya kenapa aku sering ke Yeoncheon. Kadang aku juga membuat janji dengannya untuk bertemu di Sungai Imjin. Ya, hari-hari banyak kami lalui bersama di sungai Imjin. Menatap indahnya sungai Imjin dan terkadang kami bermain air di sana. Tapi akhir-akhir ini aku jarang pergi ke sana karena keadaan kembali memanas. Penjagaan yang mulanya mengendor, kini kembali ketat. Karena hal itu, aku harus lebih bersabar sekarang. Bersabar menahan rasa rinduku. Padahal makin hari rasa cintaku semakin besar untuk Haneul. Pribadinya yang tenang dan ramah tapi tidak membosankan, membuatku semakin mencintainya. Setiap hari selalu saja ada hal yang ia ceritakan padaku. Dan banyaknya, hal-hal berfalsafah yang membuatku dari tidak menyadari seseuatu, menjadi sadar akan sesuatu.

“Ah, sudah lama aku tidak bertemu dengan Haneul. Hari ini hari Minggu, semoga saja penjagaan sedang tidak ketat.”

Kuperhatikan keadaan sekitar, kutengok kanan-kiri untuk memastikan bahwa keadaan memang aman.

“Yup, aman!”

Seperti biasa kupanjat tebing ini (author ga ngerti juga perbatasannya pake apa dulu *yang sekarang juga ga tau* jadi author ngarang aja ya ._.v). Hup. Aku berhasil melewati tebing. Sekarang tinggal melewati sungai ini dengan melewati batu-batu. Tidak mungkin juga kan kalau aku harus melewati sungai ini sambil berenang? Nanti bajuku ba…

‘BYUURRRR’ *suara orang kejebur maksudnya*

“Junghwan-ah!!!”

 

*        *          *

 

Author POV

“Brrrr…”

“Minum ini.” Haneul menyodorkan secangkir susu untuk Junghwan yang kini duduk berselimutkan selimut. Bajunya baru saja diganti dengan baju appanya Haneul. Baju Junghwan basah karena tercebur di sungai tadi.

“Go-gomawo.” ia masih kedinginan.

“Mianhae yo, di sini tidak ada alat penghangat.” Haneul duduk di samping Junghwan.

“Ah gwaenchana. Dipinjami baju saja aku sudah sangat berterimakasih. Tapi…apa appamu tidak akan marah?”

“Ani. Mungkin ia akan mengira kalau ia lupa menyimpan bajunya atau apalah. Pokoknya kau tenang saja.” Haneul tersenyum pada Junghwan dan itu berhasil membuatnya tenang.

“Emm…Haneul-ya…”

“Ne?”

“Boleh aku pinjam kertas putih polos dan pensil?”

Haneul terlihat heran dengan permintaan Junghwan, “Untuk apa?”

“Ambilkan saja dulu.”

Haneul masih heran dengan permintaan Junghwan. Tapi ia memenuhi keinginan Junghwan. Ia pergi ke kamarnya dan mengambil secarik kertas dan sebuah pensil.

“Igeo?” Haneul menyodorkan kertas dan pensil itu pada Junghwan masih dengan rasa herannya.

“Duduklah di depanku dan jangan bergerak.”

Haneul mengernyitkan dahinya, “Wae?”

“Ikuti saja.” Junghwan tersenyum pada Haneul dan berhasil menghipnotis Haneul untuk mengikuti kenginannya.

Junghwan tersenyum dan mulai menggoreskan pensil pada kertas putih itu. Sedikit demi sedikit, goresan pensilnya semakin banyak dan membentuk sebuah gambar. Dan tampaknya Haneul juga sudah mengerti apa yang dilakukan Junghwan dengan melihat kepala Junghwan yang sesekali turun pada kertas dan sesekali menatapnya dengan seksama.

“Apa kau sedang melukisku?” tanya Haneul tiba-tiba.

Junghwan hanya tersenyum tenang sambil terus menunduk meneruskan kegiatannya pada kertas itu, “Lihat saja nanti.”

 

*Beberapa menit kemudian*

 

“Sekarang kau sudah boleh bergerak.” Junghwan menghantikan kegiatannya dan menatap Haneul.

“Boleh aku lihat hasilnya?”

“Igeo.” Junghwan menyodorkan kertas itu pada Haneul.

Haneul meraihnya. Betapa takjubnya ia begitu melihat hasil karya Junghwan. Di kertas itu terlihat seorang yeoja berambut panjang lurus sedang duduk di sebuah kursi dan mengenakan hanbok.

“I…ini…” Haneul sedikit tidak percaya melihat gambar dirinya yang begitu anggun.

“Itu adalah kau, Haneul-ya.”

“Tapi…kenapa…di sini menggunakan hanbok?” tanya Haneul, dan kini ia mengalihkan padangannya pada Junghwan.

“Karena sepertinya yeoja Korea yang anggun sepertimu sangat pantas memakai hanbok.”

Haneul kembali menatap gambar itu.

“Bolehkah…aku menyimpan gambar itu?” tanya Junghwan.

“Eoh?”

“Te…tentu saja…itu kan hasil karyamu.” Haneul memberikan gambar itu pada Junghwan. Junghwan meraihnya.

“Kamsahamnida.”

Kemudian suasana hening sejenak. Junghwan sibuk memperhatikan hasil karyanya itu. Sedangkan Haneul sibuk dengan pikirannya sendiri. Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul dan mengganggu pikirannya.

“Apa…kau memiliki seseorang yang ingin kau temui di Korea Selatan?” akhirnya Haneul mengeluarkan isi pikirannya.

Deg. Jantung Junghwan berdetak begitu cepat karena pertanyaan Haneul.

“Ne?”

“Ah ani ya, bukan apa-apa.” Haneul tersenyum malu lalu menunduk merutuki dirinya sendiri dalam hati. Ia merutuki dirinya sendiri yang begitu bodohnya bertanya seperti itu pada Junghwan.

“Sebenarnya…ada…” tiba-tiba Junghwan menjawab pertanyaan Haneul.

Haneul terperanjat dengan pernyataan Junghwan barusan.

“Ma…maksudmu…”

“Ada seseorang yang ingin selalu ingin kutemui di sini.”

Kini giliran jantung Haneul yang harus berdetak lebih kencang karena pernyataan Junghwan.

“Neorago.”

Haneul benar-benar tidak percaya dengan perkataan junghwan barusan.

“Nn…nde?”

“Aku…selalu ingin bertemu denganmu…” Junghwan menghentikan kata-katanya sejenak, “Karena…aku menyukaimu…”

 

*        *          *

 

 

 

Junghwan POV

Seminggu sudah aku tidak bertemu dengan yeoja chinguku, Kim haneul. Ya, sejak aku mengutarakan perasaanku pada Haneul 2 bulan yang lalu, kami resmi menjadi sepasang kekasih. Aku tidak menyangka, ternyata Haneul juga menyimpan perasaannya padaku. Tidak percuma, aku sering menyeberang perbatasan dan tentu saja saat itu kemungkinanku bertemu dengan Haneul tidak 100%. Mungkin saja Haneul sedang tidak ada di rumah ataupun di sungai Imjin (ya aku juga pernah mengalami hal itu, sudah capek-capek menyeberang, ternyata tidak bertemu Haneul). Tapi ternyata Tuhan merestui kami. Di hari-hari berikutnya, kami bisa bertemu lagi (memang karena di hari-hari berikutnya, kami janjian).

Rasanya hampa sekali harus bekerja tanpa bisa bertemu dengan Haneul. Biasanya aku berkerja menjadi kasir di rumah makan appaku sambil membaca buku-buku politik. Ya, aku ingin bisa menyelesaikan permasalahan negaraku ini, jadi aku harus banyak membaca buku untuk menambah pengetahuanku dan agar menjadi pintar. Aku jadi jarang bertemu dengan Haneul pun memang gara-gara masalah ini. Aku tidak ingin ke depannya ada orang-orang yang bernasib seperti kami. Sulit untuk bertemu dengan orang yang disayanginya karena faktor takdir. Takdir karena kami dilahirkan di daerah yang berkonflik.

“Ah sepertinya aku harus pergi sekarang. Appaaaa!! Tolong jaga toko! Aku harus pergi ke suatu tempat!!”

 

@Yeoncheon

Ah, akhirnya aku sampai juga di tempat ini.  Tempat di mana aku dan Haneul sering menghabiskan waktu bersama. Ne, Imjingang (sungai Imjin). Tapi nampaknya hari ini ia tidak datang ke sini. Ya, lebih baik aku pergi ke rumahnya.

“Ah!” baru beberapa langkah dari Imjingang, seseorang mengejutkanku saat aku hendak berbelok menuju perkampungan warga. Dan orang itu… “Haneul?!”

“Junghwan-ah!”

“Beogeoshippo, Haneul-ah.” aku tersenyum menatapnya.

“Na do.” ia balik tersenyum padaku. Omona, rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat senyumnya. Aku benar-benar merindukannya.

“Ayo.” aku mengulurkan tanganku. Haneul menyambutnya segera. Ia tau benar ke mana aku mengajaknya pergi. Ne, Imjingang. Ia tau, aku mengajaknya ke sana.

“Ternyata benar firasatku untuk pergi ke sini.” ujarnya setelah kami sampai di tepi sungai Imjin.

“Eoh? Jadi kau sengaja pergi ke sini karena merasa aku akan datang?”

Ia mengangguk, “Ne. Sudah beberapa hari ini aku tidak pergi ke Imjingang karena penjagaan kembali ketat. Dan aku takut saat aku ke sini, aku justru tidak bertemu denganmu.”

Aku tersenyum padanya, lalu mengelus rambut indah panjangnya yang halus.

“Apa kau benar-benar merindukanku?”

Ia mengangguk lagi dan tersenyum manis, “Tentu saja, chagi-ya.”

Aku membalas senyumnya. Butuh waktu beberapa menit bagi kami untuk saling menatap wajah masing-masing tanpa perlu kata-kata, mengingat sudah seminggu kami tidak bertemu padahal kami baru saja menyatakan perasaan masing-masing 2 bulan yang lalu.

“Emm apa kau sudah makan?”

“Tentu saja, wae?”

“Hmm tadinya aku ingin memberimu kimbab buatanku.”

“Mwo? Ah kalau begitu aku mau makan dua kali pagi hari ini.”

“Kau yakin?”

“Jika itu buatanmu, makan berapa kali pun aku mau.”

Haneul tersenyum tersipu malu. Pipinya memerah seperti memakai riasan. Neomu areumdapta.

“Mau kusuapi?”

Aku tersenyum. Tentu saja, chagi. Siapapun pasti mau disuapi oleh yeoja secantik kau.

“Ne.”

Suapan pertama yang kuterima dari Haneul. Entah kimbab ini memang enak, entah karena Haneul yang menyuapiku jadi terasa lebih enak.

“Mashita?”

Aku mengangguk dengan mulut penuh kimbab. Kimbab yang dibuat Haneul memang besar-besar, membuatku sulit untuk berbicara.

“Neomu mashita.” aku berusaha berbicara walaupun mulutku penuh.

Ia tersipu malu, “Kau juga makan.” Aku mengambil sebuah kimbab di dalam keranjang makanan Haneul lalu menyodorkannya ke mulut Haneul. Awalnya ia kaget, tapi dengan segera ia memakan kimbab yang kusodorkan itu. Ia tersenyum dengan pipi yang gembung. Lucu sekali.

Tidak terlalu banyak kimbab yang dibawa Haneul, tapi cukup memuaskan perutku.

“Apa kau masih suka melukis?” tanyanya setelah kimbab kami habis.

“Ne, wae? Kau ingin kulukis lagi?”

Ia menggeleng dengan senyum manisnya.

“Lalu?”

“Tolong lukis wajahmu.”

“Mwo?”

“Keadaan kembali memanas, kita jadi sulit bertemu. Jadi…sepertinya aku butuh lukisan wajahmu. Untuk…mengobati rasa rinduku saat tidak bisa bertemu denganmu…”

“Ta…tapi…bagaimana bisa aku melukis wajahku sendiri?”

“Igeo.” ia memperlihatkan sebuah kaca, “Aku akan memegangi kaca ini. Jadi kau bisa melihat wajahmu sendiri sambil melukis.”

“E-eh?”

 

*        *          *

 

Author POV

“Apakah sudah selesai?”

Junghwan mengangguk.

“Boleh aku melihatnya sekarang?”

“Ne, tentu saja.” Junghwan menyodorkan kertas hasil lukisannya itu pada Haneul.

Haneul menerimanya. Matanya terlihat membulat sesaat ketika melihat hasil lukisan Junghwan, kemudian kembali menyipit membentuk eye-smile (ala-ala kakak kembarku gitu #re : snsd tiffany).

“Mirip sekali…benar-benar sama seperti yang kulihat.” Haneul mengalihkan pandangannya pada Junghwan. Junghwan terperanjat dan tersipu malu melihat Haneul tersenyum padanya, padahal mereka sudah 2 bulan pacaran. Ya, Junghwan memang benar-benar mencintai sekaligus mengagumi Haneul.

“Gambar ini…untukku kan?” Haneul mengeluarkan pertanyaan basa basi yang sudah pasti ia tau jawabannya.

Junghwan mengangguk, “Ambillah. Jika kau merindukanku, gambar itu mungkin akan sedikit mengobati rasa rindumu padaku. Selama seminggu ini aku juga selalu melihat gambarmu setiap aku merasa rindu padamu.”

Haneul tersenyum tersipu mendengar perkataan Junghwan. Kemudian ia menyimpan gambar itu di keranjang makanannya. Ia takut lupa membawa gambar itu, jadi ia segera memasukkannya. Kemudian ia menekuk kakinya dan memeluk lututnya sendiri menghadap sungai. Ia menghela nafas kecil.

“Hmm…andaikan selamanya bisa seperti ini.”

Junghwan mengikuti apa yang dilakukan Haneul.

“Ne. Aku juga berharap kita bisa seperti ini selamanya. Neo wa hamkke, yeongwonhi. Tapi…aku tidak yakin orangtua kita akan menerima keadaan ini atas dasar kenegaraan.”

“Ne. Apalagi makin hari keadaan justru makin memanas.”

Mereka merenungi kisah mereka sendiri. Sangat kecil kemungkinan bagi keluarga masing-masing untuk saling menerima mengingat hubungan Korea Utara dan Korea Selatan tak kunjung membaik.

“Haneul-ah…”

Haneul mengalihkan pandangannya pada Junghwan. Greb. Junghwan langsung memeluknya. Haneul terperanjat kaget. Ini pertama kalinya mereka berpelukan.

“Joo…Junghwan-ah…”

“Bersamamu…sampai kapanpun…aku ingin bersamamu…”

Mata Haneul mulai berkaca-kaca. Ia pun mulai menangis tanpa suara. Mereka hening dalam diam untuk beberapa saat. Tapi tiba-tiba tes…tes…*suara gerimis*. Setetes air hujan mengenai kepala Haneul.

“Gerimis…” Haneul melepaskan pelukannya. Junghwan pun mengikuti Haneul. Lalu kepalanya mendongak ke atas dan setetes air hujan hampir mengenai matanya sebelum ia refleks menutup sebelah matanya.

“Sepertinya kau harus pulang sekarang, chagi.” saran Haneul.

“Tapi…”

“Sudahlah, appa dan eommaku juga kadang pulang cepat kalau hujan begini. Jadi kita tidak bisa ke rumahku.”

“Tapi…aku masih ingin bersamamu…”

Haneul tersenyum lalu menggenggam tangan Junghwan, “Chagi, dengarkan aku. Jika memang berjodoh, kita pasti bisa bertemu lagi. Jadi, jika kau yakin kita berjodoh, pulanglah sekarang. Aku tidak mau kau sakit.”

Junghwan sedikit mengerucutkan bibirnya, “Ne.” jawabnya terpaksa, “Kalau begitu,aku pamit ya, chagi.”

“Ne, hati-hati ya.”

Junghwan mengangguk lalu membelai rambut Haneul, “Saranghae.”

“Na do, na do saranghae.”

Junghwan pun mulai memanjat tebing perbatasan. Haneul memperhatikan namja chingunya dari kejauhan. Tapi belum sampai setengah tebing, dua orang petugas perbatasan Korea Selatan melihat Junghwan.

“Ya! Berhenti!”

Junghwan dan Haneul benar-benar kaget.

“Aigoo!” Junghwan mempercepat langkahnya. Tapi ternyata takdir berkata lain, ia terpeleset sehingga jatuh ke sungai dan kedua petugas pun menghampirinya. Mereka menyeret Junghwan ke daratan.

“Junghwan-ah!” Haneul berlari ke arah mereka.

“Siapa kau! Apa yang kau lakukan barusan hah!” bentak seorang petugas yang memakai label nama Shin Dongwoo (CNU) di seragamnya.

“Na…na…” Junghwan benar-benar gugup. Ia bingung harus menjawab apa.

“Perlihatkan tanda pengenalmu!” bentak petugas yang satunya yang berlabel nama Gong Chanshik.

“A…aku…tidak membawanya…”

“Chanshik, periksa!” perintah petugas yang bernama Shinwoo.

Petugas yang bernama Chanshik mengikuti perintah seniornya. Ia pun menggeledah celana Junghwan. Dan sialnya saat ini Junghwan membawa kartu identitas yang menyatakan bahwa ia adalah warga Korea Utara di dalam dompetnya.

“Sunbae! Dia warga Korea Utara!”

“Mwo?!” petugas yang bernama Shinwoo merebut kartu identitas Junghwan, “Ah, benar. Mau apa kau kemari hah!” Shinwoo menarik kerah baju Junghwan hingga ia berdiri dengan leher hampir tercekik.

“Hentikan! Hentikan!” Haneul berusaha melepaskan cengkeraman Shinwoo.

“Diam kau, nona.” petugas yang bernama Chanshik menarik Haneul.

“Lepaskan! Lepaskan dia!” Haneul berusaha melepaskan cengkeraman Chanshik dari tangannya, “Dia tidak bermaksud jahat! Dia hanya ingin menemuiku!” tangisan Haneul makin menjadi.

“Oh, jadi namja ini namja chingumu? Hmm apa kau juga memiliki niat untuk mengkhianati Korea Selatan dan bergabung dengan Jeoseon hah!” bentak Shinwoo sambil melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Junghwan dan mendorongkannya begitu saja.

“Ahhh…” Junghwan tersungkur.

“Junghwan-ah!” Haneul berlari menghampiri Junghwan saat Chanshik melepaskannya.

“Cha…chagi…” Junghwan masih kesakitan karena ia terjatuh dari tebing tadi.

“Chagi…gwaenchana?” Haneul menyentuh lengan Junghwan hati-hati.

Junghwan tetap berusaha tersenyum di balik kesakitannya, “Gwaenchana yo, chagi.”

Tiba-tiba…

‘Prok prok prok’ seorang panglima berwajah aromanis, ehm arogan maksudnya, (author terhipnotis seketika #pingsan di tempat, bangun lagi dan lanjutkan ff) tiba-tiba datang dan bertepuk tangan.

“Romantis…benar-benar romantis.”

Semua orang menatap ke arah sumber suara.

“Pa…panglima Jung Ilwoo…” kedua petugas itu memberi hormat pada atasannya.

“Tadi aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Sepertinya…ada syuting drama ya di sini? Ya neo, warga Jeoseon…” (bayangin ekspresi tengilnya Jung Ilwoo di ramyun shop)

Junghwan menatap panglima itu sambil memegangi lengannya yang sakit.

“Apa kau tidak pernah merasakan…butiran peluru?” tanya sang panglima santai sambil mengeluarkan sebuah pistol kecil.

Haneul langsung berlari dan bersimpuh di kaki sang panglima, “Tuan…Tuan…tolong ampuni kami…tolong ampuni kami, tuan…”

“Hmm? Kau ingin aku mengampuni kalian berdua?” tanya sang panglima sambil melihat-lihat pistolnya dengan santai.

“Ne, tuan, ne…” jawab Haneul dengan nada bergetar mengingat jarang sekali orang Korea Utara yang selamat jika tertangkap. Jika selamat pun, pasti akan sangat menderita terlebih dahulu. “Kau boleh melakukan apapun untukku…asal kau mau melepaskan ia…”

“Hmm apa kau yakin?”

“Ne, tuan, aku yakin…”

“Kau begitu cantik dan sangat mirip dengan yeoja chingu anakku, Jung Jinyoung. Tapi yeoja chingunya itu baru meninggal beberapa bulan yang lalu karena terkena serangan Korea Utara. Sejak saat itu…anakku jadi sangat pemurung. Kukira…jika ada penggantinya…Jinyoung akan kembali ceria. Jadi… maukah kau menikah dengannya?”

Semua yang berada di sana refleks terbelalak, terutama Haneul dan Junghwan.

“Ani! Ani! Kau tidak boleh menikah dengan namja lain, Haneul-ah!”

Haneul melihat ke arah Junghwan. Air matanya semakin deras. Tapi kemudian ia tersenyum kepadanya. Senyuman yang terlihat…sangat pahit.

“Ne, aku bersedia.” Haneul menjawab sambil menunduk. Ia semakin tidak bisa menahan tangisnya. Tapi tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginan panglima Jung Ilwoo jika ingin menyelamatkan Junghwan.

“Haneul!!!!” Junghwan berteriak histeris.

“Panglima, tolong izinkan saya untuk menemui Junghwan untuk terakhir kalinya?”

“Sure.”

Haneul pun menghapus air matanya dan berdiri untuk menghampiri Junghwan. Ia berjalan amat gontai.

“Ha…Haneul…” Junghwan berdiri tertatih-tatih menghampiri Junghwan. Saat Haneul mendekat, Junghwan memeluknya erat, “Andwae…andwae…kau tidak boleh menikah dengan namja lain…kau harus selamanya bersamaku…”

Haneul mengelus lembut punggung Junghwan, “Sudah kubilang, jika kita berjodoh, kita pasti akan kembali, apapun yang sudah terjadi. Untuk saat ini, ikuti saja alur takdir yang sudah Tuhan buat untuk kita. Aku yakin, ini pasti yang terbaik untuk kita berdua.”

“Haneul-ah…”Junghwan menangis histeris.

Haneul melepaskan pelukannya, “Mulai sekarang…jangan datang ke sini lagi…tunggu dulu sampai keadaan benar-benar membaik…baru temui aku…”

“Eonje? Eonje na! Kita tidak tau kapan keadaan akan membaik!!”

Haneul tersenyum pahit, “Tunggulah…tunggulah saat-saat itu…walaupun dengan cara yang berbeda…aku pasti akan kembali pada waktunya…”

“Haneul-ah…HANEUL-AH!!!”

“Cepat pisahkan mereka berdua! Dan kembalikan namja itu ke negara asalnya!” perintah panglima Jung.

“Baik, tuan!” kedua petugas Shinwoo dan Chanshik dengan sigap memisahkan mereka dan menyeret Junghwan menuju perbatasan.

“HANEUL!!! HANEUL-AAAAHHH!!!”

 

(Backsong : OST The Moon That Embraces The Sun – Back in Time by Lyn)

 

Gerimis mulai berubah menjadi hujan. Semakin lama, semakin lebat. Haneul kembali menitikkan air matanya. Ia berbalik karena tidak kuat melihat wajah Junghwan yang akan segera berpisah dengannya, mungkin untuk selamanya. Ia berjalan mengambil keranjang makanannya yang berisi lukisan wajah Junghwan hasil karya Junghwan sendiri. Tak dipedulikannya teriakan Junghwan yang tak hanti-henti dan malah makin histeris. Ia pun berjalan menuju panglima Jung, sepenuhnya berusaha menyiapkan hati untuk hidup bersama namja yang sekarang bahkan tidak ia kenal dan tidak pernah ia lihat sama sekali.

 

*        *          *

52 years later…

Di sebuah universitas kenamaan Korea Selatan, bernama … University, tahun ajaran baru, baru saja dimulai. Setiap kelas mempersilahkan murid-muridnya untuk memperkenalkan diri.

@Kelas 1-1 Jurusan Hubungan Internasional

“Annyeonghaseyo.” seorang yeoja dengan rambut panjang yang diikat di belakang memperkenalkan diri di depan kelas, “Naneun Kim Jihwan imnida. Manasseo bangaseumnida.”

 

Sementara itu…

@Kelas 3-2 Jurusan Seni Rupa

“Annyeonghaseyo. Lee Sandeul imnida. Manasseo bangapseumnida.”

 

Lalu kedua orang ini tidak sengaja mengucapkan kata-kata yang sama secara serempak padahal di tempat yang berbeda.

“Kata-kata favorit saya, I’ll Be Back in Time.”

 

END

 

Eotte eotte? Apa agak sulit dimengerti? Apa readers ngerti maksud judul Back in Time ini apa? Kalau ga ngerti mian ya, berarti antara author yang jelek cara penyampaian meaningnya atau readers yang agak sulit nyernanya kekeke ._.v kalo ada yang ga ngerti, coba baca aja lagi pendahuluan (?) ff nya (cuap-cuap ga penting author maksutnya), terus perhatikan juga marga-marga castnya. Insya Allah, readers akan mengerti (kalo masih ga ngerti juga, saya kasih Junghwannya aja deh *MAAAAUUUU*)

2 thoughts on “Back in Time (Imjin River)

  1. ksaena says:

    Annyeong eonni ^^
    *bolehkah aku manggil eonni?
    Devi imnida, 95 lines, kpop lovers ^^
    Wuaahhhh hal pertama yang bkin aku tertarik sama ff ini adalah judulnya >.< yang kduaa karena yang main salah satu bias aku *plak

    Aku kagum banget sama ff ini karena temanya yang emang jarang bgt ada jadi memberikan warna yang gimana gituu pas aku bacanya
    dri awal aku udah bisa nebak masa klo sii Sandeul sama Haneul bakalan pisah T___T makanya nyesek2 sendiri pas liat adegan mereka berdua duhhh -__-

    Ditambah pembawaan eonni yang santai buat ff ini alurnya ga maksa dan dibiarin ngalir aja walau[un agak kecepetan di awal
    hmmm tebakan aku sihh mereka berdua akhirnya dipertemukan di dunia lain dengan kisah yang lain sebagai tanda reinkarnasi mereka kan ? *sotoy
    emang jodoh mah ga kemana smoga aja mereka bisa ketemu lagi
    hahahahay

    oke akhir kata
    salam kenal eonni
    *lari ke I'll be back in time part 1

  2. Puput Levina says:

    annyeong saengiiii 😀 waaah pertama kalinya ada yg komen panjang untuk ffku di wp ini haha gomawo saengi 😀
    Oh awalnya agak kecepetan ya hehe. Duh ketebak ya alurnya haha dan tepat sekali!! kkkk xD udah baca sequelnya saeng? tp di sini cuma 1 part, sisanya 2 part lg di http://b1a4fanfictions.wordpress.com
    Ne salam kenal jg saengiiii 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s