I’ll Be Back in Time (Han River) – part 1

Author     : Levina Putri (twitter @puputlevina)

Title         : I’ll Be Back in Time (Han River) – Sequel of Back In Time (Imjin River)

Part          : 1 of 3

Genre       : Fantasy, romance

Rating       : Teens

Main cast  : – B1A4 Sandeul as Lee Sandeul

–          Kim Jihwan (maybe) as You

Other cast : SNSD Tiffany as Tiffany

 

 

Sebelumnya di ‘Back in Time’

Di sebuah universitas kenamaan Korea Selatan, bernama … University, tahun ajaran baru, baru saja dimulai. Setiap kelas mempersilahkan murid-muridnya untuk memperkenalkan diri.

@Kelas 1-1 Jurusan Hubungan Internasional

“Annyeonghaseyo.” seorang yeoja dengan rambut panjang yang diikat di belakang memperkenalkan diri di depan kelas, “Naneun Kim Jihwan imnida. Manasseo bangaseumnida.”

 

Sementara itu…

@Kelas 1-2 Jurusan Seni Rupa

“Annyeonghaseyo. Lee Sandeul imnida. Manasseo bangapseumnida.”

 

Lalu kedua orang ini tidak sengaja mengucapkan kata-kata yang sama secara serempak padahal di tempat yang berbeda.

“Kata-kata favorit saya, I’ll Be Back in Time.”

 

 

I’ll Be Back in Time

Author POV

“Annyeonghaseyo. Lee Sandeul imnida. Manasseo bangapseumnida.” namja yang bernama Sandeul itu membungkukkan badannya, “Kata-kata favorit saya, I’ll Be Back in Time. Dan alasan saya masuk jurusan ini adalah…karena saya sangat membenci konflik terutama konflik sengit antar negara.”

“Oh berarti tema lukisan favoritmu tentang perdamaian?” tanya dosen di kelas tersebut.

“Ne, ne, benar sekali. Hajiman…kenapa seonsaengnim tau kalau aku suka melukis?”

Dosen itu tampak mengernyitkan dahinya, “Tentu saja, kau masuk jurusan seni rupa karena menyukai lukisan juga kan?”

“Seni rupa?” gumam namja itu bingung. Lalu ia pun berlari keluar kelas, “Aigoo! Benar ini jurusan seni rupa!” namja itu menepuk dahinya saat ia melihat papan di atas kelasnya itu. Papan itu menunjukkan kode ruangan untuk fakultas seni, “Aish! Neo neomu pabo ya, Lee Sandeul!” ia pun berlari kembali menuju kelas dan mengambil tasnya dengan tergesa-gesa, “Jwesonghamnida, seonsaengnim, saya salah kelas!” setelah membungkukkan badannya, ia pun berlari secepat kilat meninggalkan kelas itu. Semua orang di dalam ruangan hanya melongo heran tanpa komentar apapun karena kelakuan aneh namja itu.

 

*          *          *

 

“Aish! Bagaimana bisa aku salah kelas di hari pertamaku kuliah! Salah fakultas pula! Pasti ini bawaan 3 tahun lalu!”

Sandeul terus berlari menuju tempat tujuannya, “Ah, ini dia!” ujarnya saat melihat kode di atas pintu kelas yang dilihatnya sekarang, “Jwesonghamnida, seonsaengnim, saya sedikit terlambat!”

Kedatangan Sandeul tentu menarik perhatian seluruh isi kelas.

“Kenapa kau bisa terlambat?” tanya seonsaengnim.

“Tadi saya salah kelas.” jawab Sandeul masih dalam keadaan membungkuk.

Tentu seisi kelas tertawa dibuatnya.

“Cih, dia jujur, polos, atau tidak tau malu?” salah seorang yeoja di kelas itu bergumam.

“Ya, sudah perkenalkan dirimu.”

“Ne, seonsaengnim. Annyeonghaseyo. Lee Sandeul imnida. Manasseo bangapseumnida. Kata-kata favorit saya, I’ll Be Back in Time. Dan alasan saya masuk jurusan ini adalah…karena saya sangat membenci konflik terutama konflik sengit antar negara.”

“Mwo? Kata-kata favorit dan alasannya masuk jurusan ini sama denganku? Aigoo.” gumam yeoja itu lagi.

“Ya sudah, cepat duduk di sana.”

“Ne, seonsaengnim.”

Sandeul berjalan menuju tempat duduknya.

“Aw!”

“Aigoo aigoo, mianhamnida.” Ternyata Sandeul tidak sengaja menginjak kaki seorang yeoja. Kemudian Sandeul duduk di samping yeoja itu karena kebetulan hanya itu tempat duduk yang kosong.

Yeoja tadi mendelik pada Sandeul, ‘Aish, bisa-bisanya ia duduk tenang dengan wajah tidak bersalah dan hanya meminta maaf sekali!’

 

*          *          *

 

Jihwan POV

“Ye ye ye ye! Aku sudah tidak sabar memberikan kue ini untuk Fany eonni!” kupegang erat-erat kotak transparan berisi kue buatanku itu. Kutatap lekat-lekat dan sesekali tersenyum.

“AH!”

Ku…kueku…

“Ya! Kalau jalan hati-hati! Lihat! Kueku sekarang berantakan di tanah karena ulahmu!”

“Mi…mianhae yo…”

“Nn-neo?!”

“Neo?”

“Arrrgggh! Setiap kau muncul pasti selalu ada masalah!”

“Kenapa kau jadi marah-marah padaku! Setidaknya aku kan sudah minta maaf. Lagipula kau juga salah! Jalan tidak memperhatikan ke depan!”

“Arrrghhh aku tidak mau tau, tidak mau tau! Aku sudah susah payah membuat kue ini untuk Fanny eonni dan kau menghancurkannya!”

“Ne ne mianhae yo. Besok pasti aku ganti kuenya. Sekarang aku sedang buru-buru. Sekali lagi mianhae!”

“Ya…ya! Kau mau pergi ke mana? Ya!”

Ish Lee Sandeul! Setelah menghancurkan kerja kerasku di dapur klub memasak tadi, dia malah pergi begitu saja! Bahkan ia tidak membantuku berdiri! Aish jinjja!

“Eommaaaa! Eotteokhae…”

Akhirnya aku putuskan untuk berdiri karena ini sudah hampir malam. Aku takut Fanny eonni menungguku dan khawatir. Apalagi tadi aku sudah bilang padanya akan membawakan kue buatanku. Hajiman…hajiman…kuenya sudah hancur gara-gara si Sandeul itu! Dengan sangat terpakasa, akhirnya aku membersihkan kueku yang sudah jatuh ke tanah, lalu membuangnya ke tempat sampah.

Grrrr….setiap ada orang itu pasti ada kesialan yang menimpaku! Mulai dari pertama bertemu dengannya, kakiku terinjak olehnya. Di hari berikutnya berebut makan siang di kantin sampai makanannya tumpah ruah (?) dan kami disuruh membersihkannya saat itu juga di depan orang banyak. Saat presentasi minggu lalu aku sekelompok dengannnya dan aku jatuh di depan orang banyak saat kembali ke kursi karena tesandung kaki Sandeul. Dan sekaraaaaang ia merusak kue hasil jerih payahku untuk Fanny eonni! Grrrrr baru satu bulan sekelas dengannya saja sudah banyak kesialan yang kualami, apalagi kalau sudah setahun!

“Ah~ syukurlah timingnya pas, aku tidak usah menunggu bis lagi.”

Aku pun langsung berlari memasuki bis begitu melihat ada bis di depan halte.

“Aigoo, tempat duduknya sudah hampir penuh semua.” aku terus berjalan sampai bagian tengah bis, “Ya! Akhirnya ada bangku kosong!” dengan sangat semangat, aku pun langsung bergegas duduk. Tapi…duk! Tubuhku bertabrakan dengan seseorang.

“Jwe…jwesonghamnida.” aku membungkuk berkali-kali.

“Ah ani, seharusnya saya yang minta maaf.”

Mwo? Suara itu…

“Neo?!”

Ternyata orang yang bertabrakan denganku adalah Sandeul (lagi!). Ia terlihat tak kalah terkejutnya sepertiku.

“Ke…kenapa kau ada di sini?”

“Mwo? Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu! Aku selalu naik bis tujuan Gangnam setiap hari! Apartemenku di situ!”

Sandeul terlihat memikirkan sesuatu. Tanpa aba-aba lagi, kugunakan kesempatan ini untuk mendapatkan tempat duduk.

“Eit!” tiba-tiba Sandeul menghalangiku.

“Ish! Aku ini yeoja! Seharusnya kau mengalah padaku!”

“Tidak bisa, kakiku sedang pegal-pegal karena bermain basket kemarin.”

“Iiiih, aku duluan yang menemukannya!”

“Siapa bilang?”

“Ish kau ini!”

“Ini tempat dudukku!”

“Aku!”

“Aku!”

“Aku!”

“Aigoo kalian ini hanya menghalangi penumpang lain saja.” tiba-tiba seorang ahjumma datang dan memotong perdebatan kami, “Sudah, berikan tempat duduknya untuk ahjumma yang sudah renta ini” ahjumma itu segera duduk dengan santainya di tempat duduk yang sudah kami ributkan tadi. Aku dan Sandeul hanya melongo dibuatnya. Terpaksa kami berdiri.

“Ini semua gara-gara kau.”

“Mwo? Kenapa gara-gara aku? Semua ini gara-gara ahjumma itu.”

Aku hanya mendelik kesal padanya lalu memalingkan wajahku.

Bruuk…

“Ah!”

Aigoo, kenapa bisnya direm mendadak! Aku hampir jatuh jadinya. Tapi Sandeul berhasil menyelamatkanku. Kami saling berpandangan sejenak. Tapi kemudian aku segera berdiri dan Sandeul melepaskanku. Kami saling membelakangi dengan ekspresi wajah yang canggung.

 

*          *          *

 

Sekarang aku sudah turun dari bis dan berjalan menuju apartemenku. Tapi si Sandeul itu seakan mengikutiku.

“Ya, kau mengikutiku ya?”

“Mwo? Haha jangan gila! Aku memang mau ke apartemen temanku.”

“Apartemen temanmu?”

Di area sini kan apartemennya cuma satu? Hanya apartemen yang kutinggali.

“Jangan-jangan temanmu satu apartemen denganku. Siapa nama temanmu itu? Siapa tau aku kenal?”

Sandeul mendelik padaku, “Bukan urusanmu.”

“Ish jawaban macam apa itu?”

Aku pun berbelok arah menuju mini market.

“Ya, mau ke mana kau?”

Aku berbalik dengan wajah sinis, “Bukan urusanmu.” lalu aku kembali berjalan menuju mini market.

“Kau marah ya?”

Aku pura-pura tidak mendengar. Marah? Mana mungkin aku marah hanya karena hal seperti itu? Aigoo, yang benar saja haha. Aku hanya ingin membeli softdrink dan snack.

 

*          *          *

 

“Ahhhh segar sekali minumannya!”

Hmm tapi aku tidak tau harus berkata apa pada Fanny eonni tentang kue tadi. Aku kan sudah berjanji padanya. Ini pertama kalinya aku memberinya hadiah sejak kami tinggal bersama di apartemen selama 3 bulan ini. Sedangkan Fanny eonni sering memasak dan membawa oleh-oleh untukku.

“Aku jadi tidak enak…”

Sekarang aku sudah berada di depan pintu apartemenku.

“Eh, sepatu siapa ini?” kulihat ada sepasang sepatu sport (yang nampaknya) milik seorang namja, “Apa ini milik temannya eonni?”

Aku membuka pintu, “Aku pul…NEO?!”

 

*          *          *

 

Author POV

“Oh…jadi namja menyebalkan yang sering kau ceritakan ini Sandeul?” tanya Tiffany sedikit terkekeh.

Jihwan mengangguk sambil mendelik ke arah Sandeul. Sandeul membalas tatapan sinis Jihwan dengan tatapan sebal yang seakan ingin mengatakan ‘Kau menyebutku namja menyebalkan?’

“Hahahaha dunia begitu sempit ya. Aku tidak menyangka adik kesayanganku ini ternyata sekelas dengan temanku.”

“Adik? Bukannya kau anak tunggal ya (aslinya Fanny eonni punya sodara kandung ga? Mian author ga tau ._.)”

“Orangtua kami sudah lama bersahabat, jadi kami sudah dekat dari kecil. Dia sudah seperti yeodongsaengku sendiri.”

“Oh begitu. Aku kaget karena wajah kalian sangat jaaaauh berbeda.”

“Ya, apa maksudmu mengatakan ‘jaaaauh’ dengan nada seperti itu?”

“Tidak apa-apa.” jawab Sandeul cuek sambil menyesap teh hijau buatan Tiffany.

“Cih.”

“Ah iya! Mana kuenya, Jihwan-ah?”

Jihwan hampir tersedak saat mendengar pertanyaan itu.

“Itu…kuenya…jatuh…”

“Mwo?”

“Kue yang sudah susah payah kubuat bersama anggota klub memasak jatuh…dan itu…gara-gara dia!”

“Ya, aku kan sudah minta maaf tadi. Aku benar-benar tidak sengaja. Lagipula kau jalan sambil memandangi kuemu saja tanpa memperhatikan keadaan sekitar.”

“Tau seperti itu, kenapa kau tidak hati-hati hah?”

“Eh sudah sudah. Gwaenchana kalau kuenya jatuh, yang penting kau sudha berusaha untuk eonni, Jihwan-ah.”

“Tapi tetap saja, eonni…”

“Ish sudah kubilang, besok aku ganti. Kau tidak tau ya aku pandai membuat kue?”

“Tentu saja tidak tau! Memangnya aku ini fansmu! Eh lagipula aku tidak percaya! Pasti kau membeli kue mahal lalu mengatakan kalau itu buatanmu!”

“Enak saja! Perlu bukti? Baiklah, aku akan membuat kue di sini. Tapi kau yang beli bahan-bahannya, ini uangnya.”

“Mwo? Jadi kau menyuruhku?”

“Tentu saja, memang kenapa?”

“Shireo.”

“Hmm begini saja. Supaya adil, kalian belanja saja berdua, eotte?”

“Mwo? Kan Sandeul yang salah, kenapa aku harus ikut belanja juga?”

“Sandeul kan tidak tau daerah sini, chagi.”

Jihwan hanya bisa mempoutkan bibirnya. Ia paling tidak bisa berkata tidak jika Tiffany sudah mengeluarkan eye smilenya.

“Nah selama kalian belanja, aku mau mandi dulu. Jadi jangan lupa membawa kunci ya.”

Jihwan merasa ada aura yang aneh. Ia melirik ke arah Sandeul.

‘Oh ternyata auranya datang dari sini ya?’ gumam Jihwan dalam hati.

Sandeul terlihat membayangkan sesuatu dengan ekspresi yang menurut Jihwan…pervert, saat mendengar Tiffany menyebut kata ‘mandi’.

“Ish.” Jihwan menginjak kaki Sandeul, “Jangan berpikir macam-macam!” desis Jihwan.

“M-mwo?” Sandeul terlihat kaget.

Tiffany memperhatikan mereka dengan tatapan ‘Kapan kalian akan berangkat?’

“Kami pergi dulu, eonni.” Pamit Jihwan dengan nada terpaksa, “Kajja!”

Mereka pun keluar dari apartemen. Mereka menuju mini market yang Jihwan tuju tadi. Di sana barangnya cukup lengkap.

“Oh iya ngomong-ngomong kenapa kau bisa berteman dengan Fanny eonni?”

“Mwo? Memang kenapa? Memangnya hanya kau saja yang boleh berteman dengan Fanny?”

“Ish dasar sensi. Maksudku kau kenal dia dari mana? Teman sekolah atau bagaimana? Oh iya, kenapa kau tidak memanggilnya noona? Kau kan lebih muda darinya?”

“Sebenarnya kami seumur. Dulu kami teman sekelas waktu aku kuliah di jurusan seni. Tapi setelah setahun kuliah, aku merasa aku salah jurusan. Untuk menenangkan diri, aku memutuskan untuk ikut wajib militer dulu.”

“Hfftt…”

“Ya! Kenapa ekspresimu seperti itu? Apanya yang lucu?”

“Kau ini, menenangkan diri dengan wajib militer. Memangnya tidak ada hal lain yang lebih menyenangkan dari wajib militer eoh?”

“Aigoo, kuliah di bidang politik tapi tidak cinta negara. Ini bentuk pengabdianku untuk negara. Lagipula nanti juga kita harus kmengambil cuti kan, jadi lebih baik kuambil di awal untuk kegiatan mulia seperti ini.”

“Cih gaya bicaramu seperti orang baik saja.”

“Memangnya aku orang jahat?”

“Nappeun. Neon neomu nappeun!”

“Mwo?”

“Weeeeeek!” Jihwan menjulurkan lidah.

“Awas kau ya!”

Refleks, Jihwan langsung berlari tak tentu arah.

“Tangkap aku kalau bisa weeeeek!”

“Neo!!!”

Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Matanya tertuju ke tengah jalan.

“Nah kena…” belum sempat Sandeul menyelesaikan kata-katanya, Jihwan kembali berlari. Tapi kali ini ia berlari lebih kencang. Ia berlari ke tengah jalan.

“A…apa yang…”

Sandeul heran dengan apa yang dilakukan Jihwan. Tapi kemudian ia sadar apa tujuan Jihwan. Di tengah jalan, ada seekor anjing kecil yang sedang duduk manis tanpa menyadari bahaya yang mendekat ke arahnya. Dari arah atas, ada sebuah mobil yang melaju di atas kecepatan rata-rata.

“Jihwan-ssi! Awaaaaasss!”

Sandeul berlari menyusul Jihwan. Jihwan berhasil meraih anjing itu dan melemparkannya ke tepi jalan. Tapi naas, ia tidak bisa menyelamatkan dirinya. Begitu pun dengan Sandeul.

 

*          *          *

 

@Hospital

“Ngg…di mana ini?” Jihwan membuka matanya, “Sshh…” ia menyentuh dadanya yang terasa sakit karena tertabrak mobil tadi, “M-mwo…” dia meraba-raba dadanya sendiri, “Wae…wae yo…” ia sangat panik, “Su…suara ini…ke…kenapa suaraku…” sekarang ia meraba tenggorokannya. Ia merasakan ada sebuah tonjolan tepat di tengah sana. Ia pun mencabut infusannya dan berlari menuju cermin di toilet kamar rumah sakitnya.

“Kyaaaa!!!” Jihwan sangat kaget begitu mendapati bayangan di cermin.

Ia pun segera berlari menuju ruang informasi.

“Suster, ruangan tempat pasien Kim Jihwan yang mengalami kecelakaan tadi di mana ya?”

“Kim Jihwan agassi di ruang 308.”

“Ah kamsahamnida.”

Jihwan segera berlari menuju ruangan yang disebutkan tadi.

 

Sementara itu di ruang 308…

“Ngg…” Sandeul membuka matanya.

“Ah! Jihwan! Jihwan! Kau sudah siuman?”

‘Mwo? Fanny? Eh chamkaman…apa aku tidak salah dengar? Barusan…ia…memanggilku…Jihwan?’ gumam Sandeul dalam hati.

“Na…nan…”

‘Hah? Ke…kenapa suaraku jadi seperti suara yeoja?’

“Jihwan-ah! Aigoo syukurlah kau sudah siuman!”

‘Aigoo aigoo apa yang Fanny lakukan? Kenapa ia memelukku seperti ini? Tepat di dadanya!’ pekik Sandeul dalam hati.

“Fa…”

“Lee Sandeul!”

‘MWO?!’

Sandeul begitu kaget begitu melihat sesosok namja datang ke kamarnya rawatnya. Yang membuatnya kaget adalah namja itu persis seperti dirinya. Mutlak, itu memang dirinya!

‘Ke…kenapa…aku ada di sana? La…lalu…ini tubuh siapa!’

 

*          *          *

 

“Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Mana mungkin dalam kehidupan nyata ada kejadian bertukar jiwa!”

“Dasar pabo! Ada! Tentu saja ada! Sudah mengalaminya sendiri masih saja membantah!”

“Aigoo ini sungguh tidak masuk akal!”

“Aku juga tidak pernah berpikir kalau kejadian seperti ini bisa terjadi. Aku pikir ini hanya ada dalam film atau dongeng-dongeng saja. Aish aku hampir tidak bisa mempercayai semua ini.”

“Dan kenapa aku harus bertukar jiwa dengan yeoja sepertimu? Kenapa tidak dengan Fanny saja? Aigoo bahkan aku ragu untuk menyebutmu sebagai seorang yeoja.” Sandeul meremas-remas dadanya (tubuh Jihwan)

“Heh! Apa yang kau lakukan! Jangan sembarangan menyentuh dadaku!” Jihwan langsung menarik tangan Sandeul.

“Ini kau sebut dada?” tunjuk Sandeul dengan heran pada dadanya, “Ne, kureom, ini memang dada, benar-benar dada. Tidak ada breastnya.”

“Ish dasar pervert!” Jihwan menjitak kepala Sandeul.

“Aish! Appo yo!”

“Kuperingatkan ya, jangan sembarangan menyentuh tubuhku!”

“Tapi mau bagaimana lagi? Aku sekarang terperangkap di dalam tubuhmu. Memangnya nanti tubuhmu tidak akan mandi? Tidak akan pipis?”

“Itu…arrgh aku tidak mau seperti ini huaaaaa…”

“Aigoo aigoo! Kau jangan sembarangan menangis menggunakan tubuhku! Apa yang orang-orang pikirkan tentangku kalau melihatku menangis seperti itu!”

“Tapi mau bagaimana lagi? Aku sekarang terperangkap di dalam tubuhmu.”

“Aish, dalam keadaan seperti ini saja kau masih bisa balas dendam. Ne ne, kalau keadaan ini berlangsung lebih dari sehari, aku akan membersihkan tubuhmu tanpa melihatnya. Aku akan membersihkan tubuhmu sambil memejamkan mata. Tenang saja, aku tidak akan berfantasi macam-macam dengan tubuh ratamu ini.”

Orang-orang yang lewat langsung menoleh kearah Sandeul dan Jihwan. Mereka terkejut dengan apa yang Sandeul (dalam tubuh Jihwan) katakan.

“Aigoo! Jangan kencang-kencang! Lihat orang-orang memperhatikan kita! Pasti mereka salah paham!” Jihwan membekap mulut Sandeul.

“Ngg…ngg…” Sandeul meronta-ronta minta dilepaskan.

Nampaknya besok akan jadi hari sangat yang melelahkan bagi mereka.

 

 

 

 

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s