MARRIED? Shireoooo!! – part 3

Author     :Levina Putri (twitter @puputlevina)

Judul        : MARRIED? Shireoooo!! – part 3

Kategori   : Romance

Rating      : PG-15

Main cast : – Song Rae Soo/Yuki as You

– B1A4 Baro as B1A4 Baro/Cha Sun Woo

– B1A4 Jinyoung as B1A4 Jinyoung/Jung Jinyoung

Other cast : T-ARA Jiyeon as Jiyeon

 

 

“Wah tidak terasa sudah satu bulan aku hidup tanpa Jinyoung oppa. Oppa, beogeoshippo.”

“Oppa oppa. Jinyoung saja kau panggil oppa. Aku, kau panggil oppa hanya saat kau ketakutan saja. Oppa aku takut.” ejek Baro dengan menirukan ekspresi Yuki sejelek mungkin.

“Ya! Cha Sun Woo!”

No i can’t stop thinking ‘bout you girl’ (jadul amat ringtonenya)

“Ah pasti dari Jinyoung.” Baro bersemangat mengambil ponselnya, tapi raut wajahnya berubah seketika, “Yeobeoseyo.”

“….”

“Mwo? Besok? Kenapa jadwalnya berubah semendadak ini?”

“…”

“Mworago! Dan apa itu maksudnya kami harus berlatih dari pagi? Sudah kubilang kan besok aku tidak bisa! Bukankah kita sudah menyepakatinya dua minggu yang lalu?”

“…”

“Arrrrgh aku tidak mau dengar lagi!”

Yuki tercengang melihat sikap Baro. Ia yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres.

“Wae yo?” tanyanya khawatir sambil duduk di samping Baro.

“Mereka…mereka…lagi-lagi mereka merubah jadwal seenaknya! Mereka juga tidak pernah memperhatikan kondisiku dan yang lain! Yang mereka pikirkan hanya uang! Uang! Aku benar-benar sudah tidak tahan! Kalau bukan karena Jinyoung, aku sudah berhenti dari dulu! Atau bahkan aku tidak akan pernah masuk dunia egois ini!”

“Jinyoung oppa?”

“Ne. Dulu aku ikut audisi karena iseng menemani Jinyoung. Tapi ternyata aku lulus. Awalnya aku ingin menolak ini. Tapi Jinyoung selalu menyemangatiku. Dia juga selalu mengingatkanku kalau eommaku menginginkanku menjadi seorang penyanyi. Itu yang selalu menguatkanku untuk bertahan. Tapi kalau terus seperti ini…arrrrrgggh!!” Baro mengacak rambutnya frustasi.

“Ya! Baro! Berhenti! Jangan menyakiti dirimu sendiri!” Yuki menghentikan Baro dengan kedua tangannya.

“Kalau hari-hari lain aku masih bisa sedikit tahan asal ada Jinyoung di sampingku. Tapi…tapi besok itu hari peringatan kematian eommaku…” ujar Baro lirih dengan kepala tertunduk.

Walau Baro tidak menatap matanya saat ini, Yuki menyadari kalau mata Baro mulai berkaca-kaca. Ia tidak tahan melihat Baro seperti ini. Ia tau kalau ini sangat berat bagi Baro, apalagi Jinyoung, orang terdekatnya tidak ada di sisinya saat ini dan sebulan ke belakang. Yuki pun memeluk Baro.

“Jika kau bilang eommamu menginginkan kau menjadi penyanyi, kurasa eommamu akan tersenyum di sana saat kau harus konser besok. Kurasa ini akan menjadi kado terindah untuknya.”

Baro terbelalak mendengar ucapan Yuki.

“Jadi, kau tidak usah bersedih jika besok kau tidak bisa memperingati hari kematian eommamu dengan cara yang kau inginkan. Tuhan selalu menyimpan hikmah di balik musibah. Tuhan selalu memiliki caranya sendiri yang mungkin tidak diinginkan manusia, tapi itulah yang sesungguhnya terbaik. Mungkin eommamu mengirim pesan pada Tuhan kalau beliau ingin melihat dan mendengarmu konser di hari peringatan kepergiannya besok. Ia ingin melihat anaknya menjadi penyanyi dan menghibur hati orang-orang di hari pentingnya besok. Jadi kau tidak usah bersedih.”

Baro kembali terbelalak. Sesaat kemudian matanya kembali menyipit penuh genangan air mata yang siap membuncah. Badannya mulai bergetar menahan tangis. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Yuki yang selalu bertengkar dengannya.

“Jika kau ingin menangis, menangislah. Sekarang aku tidak sedang melihat wajahmu. Jadi kau tenang saja, tidak usah merasa malu, ara? Lagipula ini hal yang wajar. Aku pun pasti akan menangis jika ada di posisimu. Bahkan mungkin aku sudah menangis sejadi-jadinya dari tadi.”

Bahu Yuki mendadak basah. Ya, Baro mulai menangis. Ia sudah tidak bisa menahan semuanya. Lima menit berlalu tanpa suara. Baro menangis dengan rapi, tanpa suara sedikitpun. Yuki hanya diam mengelus-elus punggung Baro layaknya seorang ibu. Dan nampaknya kini Baro sudah mulai tenang. Yuki melepaskan pelukannya.

“Sudah, berhentilah menangis. Kurasa air matamu tadi sudah cukup untuk membuatmu lebih tenang. Sekarang saatnya bangkit untuk eommamu.”

Baro masih tertunduk. Ia tidak ingin Yuki melihatnya dalam keadaan seperti itu.

“Sudah, kubilang sudah. Aku yakin eommamu pasti tidak mau melihatmu sedih terlalu lama.” kini Yuki menggenggam kedua tangan Baro, “Jangan bersedih lagi ne?” Yuki memiringkan wajahnya dan sedikit turun agar bisa melihat wajah Baro yang sedang tertunduk.

Deg. Tiba-tiba Baro merasa ada yang berbeda dengan senyuman Yuki barusan. Dia melihat wajah Yuki yang tidak biasa, ia melihat Yuki yang dewasa untuk saat ini.

“Aku akan buatkan kimchi spesial untukmu. Kau suka kimchi kan?” Yuki melepaskan tangannya dari Baro dan beranjak menuju dapur.

Sementara itu Baro memandang Yuki begitu dalam dari belakang. Kemudian ia mencengkeram bajunya sendiri. Ia merasa jantungnya berdetak tak beraturan.

“Perasaan apa ini?”

 

Yuki POV

“Aku akan buatkan kimchi spesial untukmu. Kau suka kimchi kan?” aku melepaskan tanganku dari Baro dan beranjak menuju dapur.

Oppa, aku akan berusaha membuatmu tersenyum kembali. Aku tau kau suka kimchi, jadi aku akan membuatkannya untukmu.

Sudah sebulan ini aku sedikit merubah sikap pada Baro oppa. Walaupun masih suka bertengkar, tapi sekarang aku sering berbuat baik padanya. Seperti membuatkan sarapan, memberi cemilan dan minum saat dia main game, dan hal lain yang bisa kulakukan. Dan sekarang bukan rasa kesal yang kurasakan saat bertengkar dengannya. Tapi rasa senang dan nyaman. Justru kalau sehari saja tidak bertengkar dengannya, aku merasa ada yang kurang. Bahkan sekarang aku memanggilnya oppa. Tapi hanya dalam hati. Kalau secara langsung sih aku tidak mau, pasti dia besar kepala kalau aku memanggilnya oppa.

Entah sejak kapan aku menyimpan perasaan ini. Yang pasti setelah satu bulan tinggal berdua dengannya, kini aku merasa nyaman. Aku selalu merasa ingin di dekatnya. Dan aku merasa nyaman setiap kali ada di dekatnya. Apalagi saat mendengar ia bernyanyi dan main piano. Itu sungguh membuatku meleleh dibuatnya.

Mungkin aku sudah gila bisa mencintai namja yang dulu sangat kubenci ini. Mungkin aku sudah gila mencintai namja yang sedingin ini. Tapi jujur, walaupun menyebalkan, dia cukup perhatian. Pernah suatu hari aku pulang malam, dia meneleponku. Mungkin ini yang dimaksud Jinyoung oppa kalau Baro oppa itu sebenarnya baik. Tapi sayangnya ini hanya sekedar kebaikan biasa, tidak ada maksud spesial darinya. Aku yakin itu.

 

*          *          *

 

“Woaaaaa sugoi (daebak)!” teriakku sekencang mungkin di tengah  ribuan BANA sambil bertepuk tangan. Dan yang pasti aku membawa spanduk I LOVE BARO. Kalau si Hambaro itu tau, ia pasti akan sangat besar kepala. Tapi aku duduk di kursi paliiiing tengah-tengah dan tidak terdeteksi mungkin agar segala macam tindakan fanatikku padanya tidak terlihat olehnya. Aku ke sini bersama sahabatku di kampus, Shin Je Sung. She’s also an BANA, itu salah satu yang membuat kami cocok ^^

 

@Backstage

“Daebak daebak!” teriakku tiba-tiba. Tentu saja semua member B1A4 menengok ke arahku.

“Eh? Nugu ya?” tanya Gongchan, sang magnae.

“Ah itu Yuki, anak dari sahabat appa kami.” jawab Jinyoung oppa.

Oh jadi member B1A4 pun tidak ada yang tau tentang ini ya? Hmm…

“Annyeong.”

Oh ada Jiyeon eonni juga ternyata. Dia memberi salam padaku sambil membungkukan badannya.

“Ah annyeon, Eonni. Eonni ke sini untuk bertemu Baro?”

“Tentu saja, dia kan yeojanya Baro. Setiap ada konser dia selaaaaalu datang. Iya kan Baro, iya kan?” goda salah seorang di antara mereka yang aku tau namanya adalah Sandeul.

“Cieeeeee. (author ga tau kata-kata yang dipake orang Korea buat cengcengin orang)” yang lain ikut-ikutan Sandeul oppa. Jiyeon eonni hanya tersenyum tersipu malu. Aigoo kenapa aku harus berada di situasi yang sulit seperti ini? Aku hanya bisa meremas-remas tanganku untuk meredam emosi yang hendak keluar. Ya Tuhan, tolong aku, aku tidak bisa menolak rasa cemburu ini.

“Yuki-ah, ayo kita pulang.”

“Eh?” apa Jinyoung oppa bisa menyadari perasaanku? Apa dia tau kalau aku menyukai Baro oppa? Padahal kami baru bertemu kemarin malam. Apa dia bisa menyimpulkan perasaanku dari cerita-cerita dan ekspresiku kemarin?

“Kita juga pulang yuk, Baro?”

“Mianhae, Jiyeon-ah. Malam ini aku akan pulang bersama Yuki.”

Mwo? Sontak semua member B1A4 langsung mengalihkan pandangannya padaku.

“Kali ini aku menitipkanmu pada Jinyoung. Jinyoung-ah, tolong antarkan Jiyeon malam ini. Gomawo.”

Eh?

“Nn…ne.” Jinyoung oppa terlihat sangat terkejut.

“Palli.”

Eh eh eh!

“Setidaknya kau harus pamitan dulu pada yang lain.” aku membalikkan badan untuk pamitan pada semuanya, “Semuanya, kami duluan ya, annyeonghaseyo.”

“Annyeong.”

Jiyeon eonni? Kulihat ia hanya menunduk, tidak menjawab salamku. Anehnya lagi ia yang selalu ramah dan tenang, wajahnya terlihat kesal dan ia mengepal-ngepalkan tangannya. Apa ia kesal padaku?

 

*          *          *

 

Ano (emm…) Baro-ah, kenapa kau…memilih pulang bersamaku daripada bersama Jiyeon eonni?” tanyaku begitu mobil Baro mulai melaju menyusuri jalan.

“Memangnya aku terlihat ingin pulang bersamamu ya?”

“Molla yo. Hanya saja tadi kau malah menolak mengantar Jiyeon eonni dan malah mengantarku.”

“Itu…karena aku ingin mengajakmu ke makam eommaku hari ini.”

“Mwo?”

“Wae? Kau tidak suka?”

“Ani yo.” sebenarnya aku takut pergi ke makam malam-malam, tapi bukan itu yang membuatku kaget, “Kenapa kau tidak mengajak Jinyoung oppa juga?”

“Kalau aku mengajaknya, siapa yang akan mengantar Jiyeon?”

Benar juga. Eh tapi kenapa ia tidak mengajak Jiyeon eonni saja sekalian? Bukankah mereka sudah berteman sejak kecil?

“Tapi, kenapa kau tidak mengajak Jiyeon eonnni sekalian? Bukankah kalian sudah berteman sejak kecil?”

“Dari mana kau tau kami sudah berteman sejak kecil? Bukankah aku tidak pernah cerita tentang itu padamu?”

A…ano… Jinyoung oppa, ya aku tau dari Jinyoung oppa.” fiuuuuh benar juga, aku kan awalnya tau dari Jinyoung oppa. Kenapa aku harus gugup begini? Pasti gara-gara aku merasa bersalah sudah masuk kamarnya tanpa izin waktu itu dan tidak sengaja melihat foto mereka.

Suasana hening sejenak. Aku hanya melamun sambil melihat jalan. Tidak sengaja aku melihat pantulan Baro oppa di kaca spion. Oppa, neo do saranghamnikka? (mian kalo bahasa Koreanya salah hehehe)

 

Baro POV

“Ani yo. Kenapa kau tidak mengajak Jinyoung oppa juga?”

Benar juga! Aku memang berniat mengajaknya saja, khusus.

“Kalau aku mengajaknya, siapa yang akan mengantar Jiyeon?” dia terdiam sejenak, “Tapi, kenapa kau tidak mengajak Jiyeon eonnni sekalian? Bukankah kalian sudah berteman sejak kecil?”

Aish yeoja ini. Kau sengaja ingin mengetes seberapa cekatannya aku ya?

“Dari mana kau tau kami sudah berteman sejak kecil? Bukankah aku tidak pernah cerita tentang itu padamu?” aku berusaha tenang.

A…ano… Jinyoung oppa, ya aku tau dari Jinyoung oppa.”

Hah? Wae yo? Kenapa dia jadi gugup begitu? Memang sebenarnya dia tau tentang itu dari mana? Pasti sebenarnya bukan hanya dari Jinyoung. Tapi…kalau benar dari Jinyoung…berarti dia sudah tau janji masa kecilku? Aigoo so embarassing (mian kalo b.inggrisnya salah kekeke) Eh rasanya ada yang sedang memperhatikanku.

“Wae? Ada yang ingin kau katakan?”

Dia terlihat kelabakan, “A…ani yo!”

Kulihat wajahnya memerah dan ia langsung memalingkan wajahnya. Kenapa ia harus segugup itu? Lalu..kenapa barusan ia memandangiku seperti itu? Apakah ia mulai menyukaiku?

 

@Graveyard

“Hambaro, aku takut…” ujarnya sambil merangkul tanganku sangat erat.

“Dasar penakut. Tenang saja, makam eommaku tidak terlalu jauh. Nah, ini sudah sampai. Annyeonghaseyo.” aku meletakkan bunga lili kesukaan eommaku di atas pusaranya.

“A…Annyeonghaseyo.” Yuki mengikutiku memberi salam.

“Mianhae, Eomma, aku baru bisa datang sekarang. Dari pagi sampai malam, jadwalku sangat padat. Pagi sampai petang latihan, malamnya langsung konser. Aku sudah sangat lelah dengan rutinitas ini, Eomma. Apalagi kalau si tuan-tuan berkuasa itu sudah mulai bertingkah seenak mereka.”

“Ya, Baro-ah, kau tidak boleh berkata seperti itu pada eommamu! Eommamu pasti sedih mendengarnya.” dia berbisik kepadaku.

“Ne.” timpalku, “Oh iya. Eomma, perkenalkan, ini istriku, Song Rae Soo. Tapi ia biasa dipanggil Yuki.”

“Annyeong, Song Rae Soo imnida. Bangapsumnida.”

“Tapi sebenarnya aku terpaksa menikah dengannya.”

“Ish kau ini. Tidak usah dibahas!”

“Terserahku.”

Yuki mencubit tanganku.

“Aw! Sakit tau!”

“Rasakan!”

Kau lihat eomma? Inilah rutinitas baruku yang sudah berjalan selama kurang lebih satu bulan. Yeoja ini, yeoja yang merupakan istri sahku secara hukum, adalah yeoja yang selalu membuatku semangat akhir-akhir ini selain Jinyoung, appa, dan Jiyeon. Memang kami terlihat tidak akur. Aku juga terkesan jutek padanya. Tapi jauh di dalam hatiku, aku merasa ada suatu perasaan nyaman saat bertengkar dengannya. Aku merasa terhibur. Selama ini orang-orang selalu baik padaku, mengagumiku. Dengannya, aku merasakan suatu sensasi baru yang sudah lama tidak kurasakan selama bertahun-tahun. Ia berani melawan kata-kata pedasku, beda dari yang lain. Ini membuatku merasa dekat dengannya. Aku merasa tidak kesepian lagi.

Tapi ada yang aneh akhir-akhir ini. Aku merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ini terjadi sejak kemarin, sejak ia menenangkanku dan membuatkan makanan kesukaanku, kimchi. Rasa nyaman itu kini bertambah dengan rasa berdebar-debar. Setiap aku menatap wajahnya yang polos saat diam atau tertidur, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Dan sekarang dia jadi sering muncul di pikiranku tanpa diundang. Ini aneh, Eomma. Aku tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Menurut pengalaman yang kudengar dari teman dan hyung-hyungku di B1A4, ini namanya cinta. Apakah itu benar eomma? Tolong beri tau aku, perasaan apa ini?

“Ya Baro-ah, kenapa kau jadi melamun begitu? Ayo bicara lagi pada eommamu.” ia tersenyum kepadaku, senyum yang terlihat sangat tulus.

“Aku sedang berbicara dalam hati, apa kau tidak mengerti?”

Gomen (mian)”

Hihi lucu sekali ekspresinya yang merasa bersalah seperti itu.

“Ayo kita  pulang.”

“Mwo? Cuma sebentar? Kau yakin?”

“Ne. Aku kasian melihat wajah ngantukmu yang menyedihkan itu.”

“Ya! Cha Sun Woo!”

“Kajja. Eomma, kami pulang dulu ya. Kasian bocah ini sudah kelelahan dan mengantuk. Neomu saranghae, Eomma, yeongwonhi. Annyeong.”

“Kami permisi dulu, Ahjumma. Suatu hari kami pasti akan berkunjung lagi. Annyeonghaseyo. Ya! Hambaro! Jangan tinggalkan aku!”

Haha aku sengaja berjalan duluan saat ia membungkuk memberi salam. Langkahku semakin cepat di jalan menurun ini. Setelah kurasa agak sedikit jauh, aku menoleh ke belakang.

“Bar…”

KYAAAAA apa-apaan ini? Wajahnya terlihat begitu besar sekarang. Dan bibirnya…bibirnya…bibirnya menempel di bibirku! Ya dia terpeleset saat aku menoleh dan aku segera menangkapnya. Tapi…tapi…bukan ini maksudku menangkapnya!!!

“Hah…hah…hah…” kami melepaskan ‘ciuman’ kami dan bernafas terengah-engah.

Deg deg deg. Kuletakkan tanganku di dada dan kurasakan jantungku berdetak sangat kencang. Aigoo, Eomma, inikah caramu untuk meyakinkan perasaanku?

 

Author POV

Wanita setengah baya bergaun putih itu tersenyum sangat manis di balik pohon.

“Ne, itu caraku untuk meyakinkanmu, Nak. Eomma yang menaruh kulit pisang itu tepat di pijakan Yuki. Eomma tau Yuki anak yang baik. Eomma sangat setuju dengan pernikahan ini. Dan percayalah, Eomma tidak benar-benar meninggalkanmu. Eomma selalu memperhatikanmu dari tempat Eomma dan selau meminta pada Tuhan agar Dia selalu mengirimkan hamba-hamba terbaiknya untuk menemanimu.”

 

*          *          *

 

Yuki POV

18°C, temperatur udara yang terpampang di termometer dinding rumahku. Ya, ini sudah hampir memasuki musim dingin. Aku sudah tidak sabar menanti pergantian musim gugur ke musim dingin. Aku sudah tidak sabar menunggu teman-temanku turun dari langit. Hai, Yuki (ya, salju). Hontou ni yuki ga daisuki na no (aku benar-benar sangat suka salju). Kuharap di musim dingin pertamaku di Korea setelah belasan tahun ini, aku bisa mendapatkan pengalaman yang berkesan. Dan semoga menjadi kado terindah juga untuk ulangtahunku yang kedua puluh yang tinggal tiga hari lagi.

Enam bulan sudah aku tinggal satu rumah dengan Baro oppa. Dan aku pribadi merasa kalau kami tambah dekat. Ya walaupun masih selalu bertengkar, tapi kadang kami sharing mengenai kejadian sehari-hari yang kami alami. Kami sering bercerita bersama. Dan Baro oppa juga semakin terbuka padaku. Bahkan sekarang dia lebih sering tertawa dan tersenyum di hadapanku, seperti pada Jinyoung oppa dan Jiyeon eonni. Dan saat aku menceritakan ini pada Jinyoung oppa, dia malah menanggapi seperti ini,

“Chukae yo. Berarti hidup Baro sudah sempurna sekarang. Asalnya hanya ada empat hal yang bisa mendapat senyuman dari Baro. Aku, Jiyeon, B1A4, dan tentu saja BANA. Tapi kali ini ada kau yang bisa mendapat senyuman darinya. Bukankah ada istilah 4 sehat 5 sempurna? (emang ada juga ya di Korea?) Dan kaulah hal kelima yang membuatnya jadi sempurna.”

Aishhhhh mendengar kata-kata Jinyoung oppa yang lebih terdengar seperti joke itu, wajahku langsung memerah. Aigoo kenapa tiba-tiba aku jadi teringat kejadian di hari peringatan kematian eommanya Baro ya? Aigoo aigoo, pasti wajahku sudah sangat merah sekarang.

“Ada apa dengan wajahmu tiba-tiba merah begitu? Seperti tomat busuk saja.”

“YA! CHA SUN WOOOOO!”

Ia tidak menggubrisku. Ia meneruskan kegiatan menguyah rotinya dengan wajah datar. Huft melihat sikapnya yang seperti ini aku jadi pesimis. Sepertinya hanya aku yang merasakan hal bodoh ini. Sepertinya aku bertepuk sebelah tangan. Mungkin dia masih suka pada Jiyeon eonni. Buktinya foto yang waktu itu saja masih ada di meja belajarnya (biasa, aku sering masuk kamar Baro tanpa seizinnya. Salah dia sendiri ceroboh tidak pernah mengunci pintu kamar). Dan celakanya aku tidak pernah menceritakan perasaan ini pada siapapun, termasuk pada Jinyoung oppa. Aku merasa ini sangat memalukan. Ini pertama kalinya aku jatuh cinta. Dan sekalinya jatuh cinta malah pada orang yang awalnya sangat aku benci. Bukankah itu namanya cinta pertama yang sangat konyol?

“Aku berangkat duluan, annyeong.”

“Ne, hati-hati.”

Deg. Itulah kalimat sederhana yang selalu berhasil membuat hatiku berdebar-debar setiap pagi. Semenjak beberapa bulan kemarin, dia selalu menambahkan kata-kata itu di akhir kalimatnya setiap aku mau keluar. Apakah sekarang lebih peduli padaku? Apakah ia menyukaiku? Aish aku ini terlalu kegeeran. Melihat sikapnya yang tetap cuek dan masih saja suka bertengkar denganku, tentu saja itu tidak mungkin. Lagipula sekarang aku lebih sering melihat Baro bersama Jiyeon eonni. Sepertinya mereka tambah dekat saja.

Hmm…aroma musim gugur begitu terasa saat aku memasuki gerbang kampus yang masih sepi. Secara, sudah banyak fakultas yang libur duluan dan ini masih terhitung sangat pagi.  Tapi kali ini aromanya begitu menyengat. Makin menyengat, makin menyengat dan…

 

 *         *          *

 

“Hmm…doko…ni…(ini di mana?)” kubuka mataku perlahan. Omo kepalaku terasa sangat pusing. E, nani kore (eh, apa ini)?Kenapa tanganku tidak bisa menyentuh kepalaku? Ini…tempat apa? Ke…kenapa gelap sekali? Kowai, totemo kowai…(aku takut, sangat takut)

“Mmh…mmh…” aku hendak berteriak tapi…tapi…mulutku…mulutku ditutup oleh slotip hitam tebal! Aku tidak bisa bicara!

“Hmm…kau sudah bangun rupanya, Tuan Putri.”

Sebuah sinar menyorot wajahku tepat.

‘Su…suara ini…’

“Sudah sejak lama aku menantikan saat-saat ini.”

‘TIDAK MUNGKIN!!’

 

 

 

 

 

 

TBC…

 

 

Author     : Puput

Judul        : MARRIED? Shireoooo!! – part 3

Kategori   : Romance

Rating      : PG-15

Main cast : – Song Rae Soo/Yuki as You

– B1A4 Baro as B1A4 Baro/Cha Sun Woo

– B1A4 Jinyoung as B1A4 Jinyoung/Jung Jinyoung

Other cast : T-ARA Jiyeon as Jiyeon

 

 

“Wah tidak terasa sudah satu bulan aku hidup tanpa Jinyoung oppa. Oppa, beogeoshippo.”

“Oppa oppa. Jinyoung saja kau panggil oppa. Aku, kau panggil oppa hanya saat kau ketakutan saja. Oppa aku takut.” ejek Baro dengan menirukan ekspresi Yuki sejelek mungkin.

“Ya! Cha Sun Woo!”

No i can’t stop thinking ‘bout you girl’ (jadul amat ringtonenya)

“Ah pasti dari Jinyoung.” Baro bersemangat mengambil ponselnya, tapi raut wajahnya berubah seketika, “Yeobeoseyo.”

“….”

“Mwo? Besok? Kenapa jadwalnya berubah semendadak ini?”

“…”

“Mworago! Dan apa itu maksudnya kami harus berlatih dari pagi? Sudah kubilang kan besok aku tidak bisa! Bukankah kita sudah menyepakatinya dua minggu yang lalu?”

“…”

“Arrrrgh aku tidak mau dengar lagi!”

Yuki tercengang melihat sikap Baro. Ia yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres.

“Wae yo?” tanyanya khawatir sambil duduk di samping Baro.

“Mereka…mereka…lagi-lagi mereka merubah jadwal seenaknya! Mereka juga tidak pernah memperhatikan kondisiku dan yang lain! Yang mereka pikirkan hanya uang! Uang! Aku benar-benar sudah tidak tahan! Kalau bukan karena Jinyoung, aku sudah berhenti dari dulu! Atau bahkan aku tidak akan pernah masuk dunia egois ini!”

“Jinyoung oppa?”

“Ne. Dulu aku ikut audisi karena iseng menemani Jinyoung. Tapi ternyata aku lulus. Awalnya aku ingin menolak ini. Tapi Jinyoung selalu menyemangatiku. Dia juga selalu mengingatkanku kalau eommaku menginginkanku menjadi seorang penyanyi. Itu yang selalu menguatkanku untuk bertahan. Tapi kalau terus seperti ini…arrrrrgggh!!” Baro mengacak rambutnya frustasi.

“Ya! Baro! Berhenti! Jangan menyakiti dirimu sendiri!” Yuki menghentikan Baro dengan kedua tangannya.

“Kalau hari-hari lain aku masih bisa sedikit tahan asal ada Jinyoung di sampingku. Tapi…tapi besok itu hari peringatan kematian eommaku…” ujar Baro lirih dengan kepala tertunduk.

Walau Baro tidak menatap matanya saat ini, Yuki menyadari kalau mata Baro mulai berkaca-kaca. Ia tidak tahan melihat Baro seperti ini. Ia tau kalau ini sangat berat bagi Baro, apalagi Jinyoung, orang terdekatnya tidak ada di sisinya saat ini dan sebulan ke belakang. Yuki pun memeluk Baro.

“Jika kau bilang eommamu menginginkan kau menjadi penyanyi, kurasa eommamu akan tersenyum di sana saat kau harus konser besok. Kurasa ini akan menjadi kado terindah untuknya.”

Baro terbelalak mendengar ucapan Yuki.

“Jadi, kau tidak usah bersedih jika besok kau tidak bisa memperingati hari kematian eommamu dengan cara yang kau inginkan. Tuhan selalu menyimpan hikmah di balik musibah. Tuhan selalu memiliki caranya sendiri yang mungkin tidak diinginkan manusia, tapi itulah yang sesungguhnya terbaik. Mungkin eommamu mengirim pesan pada Tuhan kalau beliau ingin melihat dan mendengarmu konser di hari peringatan kepergiannya besok. Ia ingin melihat anaknya menjadi penyanyi dan menghibur hati orang-orang di hari pentingnya besok. Jadi kau tidak usah bersedih.”

Baro kembali terbelalak. Sesaat kemudian matanya kembali menyipit penuh genangan air mata yang siap membuncah. Badannya mulai bergetar menahan tangis. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Yuki yang selalu bertengkar dengannya.

“Jika kau ingin menangis, menangislah. Sekarang aku tidak sedang melihat wajahmu. Jadi kau tenang saja, tidak usah merasa malu, ara? Lagipula ini hal yang wajar. Aku pun pasti akan menangis jika ada di posisimu. Bahkan mungkin aku sudah menangis sejadi-jadinya dari tadi.”

Bahu Yuki mendadak basah. Ya, Baro mulai menangis. Ia sudah tidak bisa menahan semuanya. Lima menit berlalu tanpa suara. Baro menangis dengan rapi, tanpa suara sedikitpun. Yuki hanya diam mengelus-elus punggung Baro layaknya seorang ibu. Dan nampaknya kini Baro sudah mulai tenang. Yuki melepaskan pelukannya.

“Sudah, berhentilah menangis. Kurasa air matamu tadi sudah cukup untuk membuatmu lebih tenang. Sekarang saatnya bangkit untuk eommamu.”

Baro masih tertunduk. Ia tidak ingin Yuki melihatnya dalam keadaan seperti itu.

“Sudah, kubilang sudah. Aku yakin eommamu pasti tidak mau melihatmu sedih terlalu lama.” kini Yuki menggenggam kedua tangan Baro, “Jangan bersedih lagi ne?” Yuki memiringkan wajahnya dan sedikit turun agar bisa melihat wajah Baro yang sedang tertunduk.

Deg. Tiba-tiba Baro merasa ada yang berbeda dengan senyuman Yuki barusan. Dia melihat wajah Yuki yang tidak biasa, ia melihat Yuki yang dewasa untuk saat ini.

“Aku akan buatkan kimchi spesial untukmu. Kau suka kimchi kan?” Yuki melepaskan tangannya dari Baro dan beranjak menuju dapur.

Sementara itu Baro memandang Yuki begitu dalam dari belakang. Kemudian ia mencengkeram bajunya sendiri. Ia merasa jantungnya berdetak tak beraturan.

“Perasaan apa ini?”

 

Yuki POV

“Aku akan buatkan kimchi spesial untukmu. Kau suka kimchi kan?” aku melepaskan tanganku dari Baro dan beranjak menuju dapur.

Oppa, aku akan berusaha membuatmu tersenyum kembali. Aku tau kau suka kimchi, jadi aku akan membuatkannya untukmu.

Sudah sebulan ini aku sedikit merubah sikap pada Baro oppa. Walaupun masih suka bertengkar, tapi sekarang aku sering berbuat baik padanya. Seperti membuatkan sarapan, memberi cemilan dan minum saat dia main game, dan hal lain yang bisa kulakukan. Dan sekarang bukan rasa kesal yang kurasakan saat bertengkar dengannya. Tapi rasa senang dan nyaman. Justru kalau sehari saja tidak bertengkar dengannya, aku merasa ada yang kurang. Bahkan sekarang aku memanggilnya oppa. Tapi hanya dalam hati. Kalau secara langsung sih aku tidak mau, pasti dia besar kepala kalau aku memanggilnya oppa.

Entah sejak kapan aku menyimpan perasaan ini. Yang pasti setelah satu bulan tinggal berdua dengannya, kini aku merasa nyaman. Aku selalu merasa ingin di dekatnya. Dan aku merasa nyaman setiap kali ada di dekatnya. Apalagi saat mendengar ia bernyanyi dan main piano. Itu sungguh membuatku meleleh dibuatnya.

Mungkin aku sudah gila bisa mencintai namja yang dulu sangat kubenci ini. Mungkin aku sudah gila mencintai namja yang sedingin ini. Tapi jujur, walaupun menyebalkan, dia cukup perhatian. Pernah suatu hari aku pulang malam, dia meneleponku. Mungkin ini yang dimaksud Jinyoung oppa kalau Baro oppa itu sebenarnya baik. Tapi sayangnya ini hanya sekedar kebaikan biasa, tidak ada maksud spesial darinya. Aku yakin itu.

 

*          *          *

 

“Woaaaaa sugoi (daebak)!” teriakku sekencang mungkin di tengah  ribuan BANA sambil bertepuk tangan. Dan yang pasti aku membawa spanduk I LOVE BARO. Kalau si Hambaro itu tau, ia pasti akan sangat besar kepala. Tapi aku duduk di kursi paliiiing tengah-tengah dan tidak terdeteksi mungkin agar segala macam tindakan fanatikku padanya tidak terlihat olehnya. Aku ke sini bersama sahabatku di kampus, Shin Je Sung. She’s also an BANA, itu salah satu yang membuat kami cocok ^^

 

@Backstage

“Daebak daebak!” teriakku tiba-tiba. Tentu saja semua member B1A4 menengok ke arahku.

“Eh? Nugu ya?” tanya Gongchan, sang magnae.

“Ah itu Yuki, anak dari sahabat appa kami.” jawab Jinyoung oppa.

Oh jadi member B1A4 pun tidak ada yang tau tentang ini ya? Hmm…

“Annyeong.”

Oh ada Jiyeon eonni juga ternyata. Dia memberi salam padaku sambil membungkukan badannya.

“Ah annyeon, Eonni. Eonni ke sini untuk bertemu Baro?”

“Tentu saja, dia kan yeojanya Baro. Setiap ada konser dia selaaaaalu datang. Iya kan Baro, iya kan?” goda salah seorang di antara mereka yang aku tau namanya adalah Sandeul.

“Cieeeeee. (author ga tau kata-kata yang dipake orang Korea buat cengcengin orang)” yang lain ikut-ikutan Sandeul oppa. Jiyeon eonni hanya tersenyum tersipu malu. Aigoo kenapa aku harus berada di situasi yang sulit seperti ini? Aku hanya bisa meremas-remas tanganku untuk meredam emosi yang hendak keluar. Ya Tuhan, tolong aku, aku tidak bisa menolak rasa cemburu ini.

“Yuki-ah, ayo kita pulang.”

“Eh?” apa Jinyoung oppa bisa menyadari perasaanku? Apa dia tau kalau aku menyukai Baro oppa? Padahal kami baru bertemu kemarin malam. Apa dia bisa menyimpulkan perasaanku dari cerita-cerita dan ekspresiku kemarin?

“Kita juga pulang yuk, Baro?”

“Mianhae, Jiyeon-ah. Malam ini aku akan pulang bersama Yuki.”

Mwo? Sontak semua member B1A4 langsung mengalihkan pandangannya padaku.

“Kali ini aku menitipkanmu pada Jinyoung. Jinyoung-ah, tolong antarkan Jiyeon malam ini. Gomawo.”

Eh?

“Nn…ne.” Jinyoung oppa terlihat sangat terkejut.

“Palli.”

Eh eh eh!

“Setidaknya kau harus pamitan dulu pada yang lain.” aku membalikkan badan untuk pamitan pada semuanya, “Semuanya, kami duluan ya, annyeonghaseyo.”

“Annyeong.”

Jiyeon eonni? Kulihat ia hanya menunduk, tidak menjawab salamku. Anehnya lagi ia yang selalu ramah dan tenang, wajahnya terlihat kesal dan ia mengepal-ngepalkan tangannya. Apa ia kesal padaku?

 

*          *          *

 

Ano (emm…) Baro-ah, kenapa kau…memilih pulang bersamaku daripada bersama Jiyeon eonni?” tanyaku begitu mobil Baro mulai melaju menyusuri jalan.

“Memangnya aku terlihat ingin pulang bersamamu ya?”

“Molla yo. Hanya saja tadi kau malah menolak mengantar Jiyeon eonni dan malah mengantarku.”

“Itu…karena aku ingin mengajakmu ke makam eommaku hari ini.”

“Mwo?”

“Wae? Kau tidak suka?”

“Ani yo.” sebenarnya aku takut pergi ke makam malam-malam, tapi bukan itu yang membuatku kaget, “Kenapa kau tidak mengajak Jinyoung oppa juga?”

“Kalau aku mengajaknya, siapa yang akan mengantar Jiyeon?”

Benar juga. Eh tapi kenapa ia tidak mengajak Jiyeon eonni saja sekalian? Bukankah mereka sudah berteman sejak kecil?

“Tapi, kenapa kau tidak mengajak Jiyeon eonnni sekalian? Bukankah kalian sudah berteman sejak kecil?”

“Dari mana kau tau kami sudah berteman sejak kecil? Bukankah aku tidak pernah cerita tentang itu padamu?”

A…ano… Jinyoung oppa, ya aku tau dari Jinyoung oppa.” fiuuuuh benar juga, aku kan awalnya tau dari Jinyoung oppa. Kenapa aku harus gugup begini? Pasti gara-gara aku merasa bersalah sudah masuk kamarnya tanpa izin waktu itu dan tidak sengaja melihat foto mereka.

Suasana hening sejenak. Aku hanya melamun sambil melihat jalan. Tidak sengaja aku melihat pantulan Baro oppa di kaca spion. Oppa, neo do saranghamnikka? (mian kalo bahasa Koreanya salah hehehe)

 

Baro POV

“Ani yo. Kenapa kau tidak mengajak Jinyoung oppa juga?”

Benar juga! Aku memang berniat mengajaknya saja, khusus.

“Kalau aku mengajaknya, siapa yang akan mengantar Jiyeon?” dia terdiam sejenak, “Tapi, kenapa kau tidak mengajak Jiyeon eonnni sekalian? Bukankah kalian sudah berteman sejak kecil?”

Aish yeoja ini. Kau sengaja ingin mengetes seberapa cekatannya aku ya?

“Dari mana kau tau kami sudah berteman sejak kecil? Bukankah aku tidak pernah cerita tentang itu padamu?” aku berusaha tenang.

A…ano… Jinyoung oppa, ya aku tau dari Jinyoung oppa.”

Hah? Wae yo? Kenapa dia jadi gugup begitu? Memang sebenarnya dia tau tentang itu dari mana? Pasti sebenarnya bukan hanya dari Jinyoung. Tapi…kalau benar dari Jinyoung…berarti dia sudah tau janji masa kecilku? Aigoo so embarassing (mian kalo b.inggrisnya salah kekeke) Eh rasanya ada yang sedang memperhatikanku.

“Wae? Ada yang ingin kau katakan?”

Dia terlihat kelabakan, “A…ani yo!”

Kulihat wajahnya memerah dan ia langsung memalingkan wajahnya. Kenapa ia harus segugup itu? Lalu..kenapa barusan ia memandangiku seperti itu? Apakah ia mulai menyukaiku?

 

@Graveyard

“Hambaro, aku takut…” ujarnya sambil merangkul tanganku sangat erat.

“Dasar penakut. Tenang saja, makam eommaku tidak terlalu jauh. Nah, ini sudah sampai. Annyeonghaseyo.” aku meletakkan bunga lili kesukaan eommaku di atas pusaranya.

“A…Annyeonghaseyo.” Yuki mengikutiku memberi salam.

“Mianhae, Eomma, aku baru bisa datang sekarang. Dari pagi sampai malam, jadwalku sangat padat. Pagi sampai petang latihan, malamnya langsung konser. Aku sudah sangat lelah dengan rutinitas ini, Eomma. Apalagi kalau si tuan-tuan berkuasa itu sudah mulai bertingkah seenak mereka.”

“Ya, Baro-ah, kau tidak boleh berkata seperti itu pada eommamu! Eommamu pasti sedih mendengarnya.” dia berbisik kepadaku.

“Ne.” timpalku, “Oh iya. Eomma, perkenalkan, ini istriku, Song Rae Soo. Tapi ia biasa dipanggil Yuki.”

“Annyeong, Song Rae Soo imnida. Bangapsumnida.”

“Tapi sebenarnya aku terpaksa menikah dengannya.”

“Ish kau ini. Tidak usah dibahas!”

“Terserahku.”

Yuki mencubit tanganku.

“Aw! Sakit tau!”

“Rasakan!”

Kau lihat eomma? Inilah rutinitas baruku yang sudah berjalan selama kurang lebih satu bulan. Yeoja ini, yeoja yang merupakan istri sahku secara hukum, adalah yeoja yang selalu membuatku semangat akhir-akhir ini selain Jinyoung, appa, dan Jiyeon. Memang kami terlihat tidak akur. Aku juga terkesan jutek padanya. Tapi jauh di dalam hatiku, aku merasa ada suatu perasaan nyaman saat bertengkar dengannya. Aku merasa terhibur. Selama ini orang-orang selalu baik padaku, mengagumiku. Dengannya, aku merasakan suatu sensasi baru yang sudah lama tidak kurasakan selama bertahun-tahun. Ia berani melawan kata-kata pedasku, beda dari yang lain. Ini membuatku merasa dekat dengannya. Aku merasa tidak kesepian lagi.

Tapi ada yang aneh akhir-akhir ini. Aku merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ini terjadi sejak kemarin, sejak ia menenangkanku dan membuatkan makanan kesukaanku, kimchi. Rasa nyaman itu kini bertambah dengan rasa berdebar-debar. Setiap aku menatap wajahnya yang polos saat diam atau tertidur, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Dan sekarang dia jadi sering muncul di pikiranku tanpa diundang. Ini aneh, Eomma. Aku tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Menurut pengalaman yang kudengar dari teman dan hyung-hyungku di B1A4, ini namanya cinta. Apakah itu benar eomma? Tolong beri tau aku, perasaan apa ini?

“Ya Baro-ah, kenapa kau jadi melamun begitu? Ayo bicara lagi pada eommamu.” ia tersenyum kepadaku, senyum yang terlihat sangat tulus.

“Aku sedang berbicara dalam hati, apa kau tidak mengerti?”

Gomen (mian)”

Hihi lucu sekali ekspresinya yang merasa bersalah seperti itu.

“Ayo kita  pulang.”

“Mwo? Cuma sebentar? Kau yakin?”

“Ne. Aku kasian melihat wajah ngantukmu yang menyedihkan itu.”

“Ya! Cha Sun Woo!”

“Kajja. Eomma, kami pulang dulu ya. Kasian bocah ini sudah kelelahan dan mengantuk. Neomu saranghae, Eomma, yeongwonhi. Annyeong.”

“Kami permisi dulu, Ahjumma. Suatu hari kami pasti akan berkunjung lagi. Annyeonghaseyo. Ya! Hambaro! Jangan tinggalkan aku!”

Haha aku sengaja berjalan duluan saat ia membungkuk memberi salam. Langkahku semakin cepat di jalan menurun ini. Setelah kurasa agak sedikit jauh, aku menoleh ke belakang.

“Bar…”

KYAAAAA apa-apaan ini? Wajahnya terlihat begitu besar sekarang. Dan bibirnya…bibirnya…bibirnya menempel di bibirku! Ya dia terpeleset saat aku menoleh dan aku segera menangkapnya. Tapi…tapi…bukan ini maksudku menangkapnya!!!

“Hah…hah…hah…” kami melepaskan ‘ciuman’ kami dan bernafas terengah-engah.

Deg deg deg. Kuletakkan tanganku di dada dan kurasakan jantungku berdetak sangat kencang. Aigoo, Eomma, inikah caramu untuk meyakinkan perasaanku?

 

Author POV

Wanita setengah baya bergaun putih itu tersenyum sangat manis di balik pohon.

“Ne, itu caraku untuk meyakinkanmu, Nak. Eomma yang menaruh kulit pisang itu tepat di pijakan Yuki. Eomma tau Yuki anak yang baik. Eomma sangat setuju dengan pernikahan ini. Dan percayalah, Eomma tidak benar-benar meninggalkanmu. Eomma selalu memperhatikanmu dari tempat Eomma dan selau meminta pada Tuhan agar Dia selalu mengirimkan hamba-hamba terbaiknya untuk menemanimu.”

 

*          *          *

 

Yuki POV

18°C, temperatur udara yang terpampang di termometer dinding rumahku. Ya, ini sudah hampir memasuki musim dingin. Aku sudah tidak sabar menanti pergantian musim gugur ke musim dingin. Aku sudah tidak sabar menunggu teman-temanku turun dari langit. Hai, Yuki (ya, salju). Hontou ni yuki ga daisuki na no (aku benar-benar sangat suka salju). Kuharap di musim dingin pertamaku di Korea setelah belasan tahun ini, aku bisa mendapatkan pengalaman yang berkesan. Dan semoga menjadi kado terindah juga untuk ulangtahunku yang kedua puluh yang tinggal tiga hari lagi.

Enam bulan sudah aku tinggal satu rumah dengan Baro oppa. Dan aku pribadi merasa kalau kami tambah dekat. Ya walaupun masih selalu bertengkar, tapi kadang kami sharing mengenai kejadian sehari-hari yang kami alami. Kami sering bercerita bersama. Dan Baro oppa juga semakin terbuka padaku. Bahkan sekarang dia lebih sering tertawa dan tersenyum di hadapanku, seperti pada Jinyoung oppa dan Jiyeon eonni. Dan saat aku menceritakan ini pada Jinyoung oppa, dia malah menanggapi seperti ini,

“Chukae yo. Berarti hidup Baro sudah sempurna sekarang. Asalnya hanya ada empat hal yang bisa mendapat senyuman dari Baro. Aku, Jiyeon, B1A4, dan tentu saja BANA. Tapi kali ini ada kau yang bisa mendapat senyuman darinya. Bukankah ada istilah 4 sehat 5 sempurna? (emang ada juga ya di Korea?) Dan kaulah hal kelima yang membuatnya jadi sempurna.”

Aishhhhh mendengar kata-kata Jinyoung oppa yang lebih terdengar seperti joke itu, wajahku langsung memerah. Aigoo kenapa tiba-tiba aku jadi teringat kejadian di hari peringatan kematian eommanya Baro ya? Aigoo aigoo, pasti wajahku sudah sangat merah sekarang.

“Ada apa dengan wajahmu tiba-tiba merah begitu? Seperti tomat busuk saja.”

“YA! CHA SUN WOOOOO!”

Ia tidak menggubrisku. Ia meneruskan kegiatan menguyah rotinya dengan wajah datar. Huft melihat sikapnya yang seperti ini aku jadi pesimis. Sepertinya hanya aku yang merasakan hal bodoh ini. Sepertinya aku bertepuk sebelah tangan. Mungkin dia masih suka pada Jiyeon eonni. Buktinya foto yang waktu itu saja masih ada di meja belajarnya (biasa, aku sering masuk kamar Baro tanpa seizinnya. Salah dia sendiri ceroboh tidak pernah mengunci pintu kamar). Dan celakanya aku tidak pernah menceritakan perasaan ini pada siapapun, termasuk pada Jinyoung oppa. Aku merasa ini sangat memalukan. Ini pertama kalinya aku jatuh cinta. Dan sekalinya jatuh cinta malah pada orang yang awalnya sangat aku benci. Bukankah itu namanya cinta pertama yang sangat konyol?

“Aku berangkat duluan, annyeong.”

“Ne, hati-hati.”

Deg. Itulah kalimat sederhana yang selalu berhasil membuat hatiku berdebar-debar setiap pagi. Semenjak beberapa bulan kemarin, dia selalu menambahkan kata-kata itu di akhir kalimatnya setiap aku mau keluar. Apakah sekarang lebih peduli padaku? Apakah ia menyukaiku? Aish aku ini terlalu kegeeran. Melihat sikapnya yang tetap cuek dan masih saja suka bertengkar denganku, tentu saja itu tidak mungkin. Lagipula sekarang aku lebih sering melihat Baro bersama Jiyeon eonni. Sepertinya mereka tambah dekat saja.

Hmm…aroma musim gugur begitu terasa saat aku memasuki gerbang kampus yang masih sepi. Secara, sudah banyak fakultas yang libur duluan dan ini masih terhitung sangat pagi.  Tapi kali ini aromanya begitu menyengat. Makin menyengat, makin menyengat dan…

 

 *         *          *

 

“Hmm…doko…ni…(ini di mana?)” kubuka mataku perlahan. Omo kepalaku terasa sangat pusing. E, nani kore (eh, apa ini)?Kenapa tanganku tidak bisa menyentuh kepalaku? Ini…tempat apa? Ke…kenapa gelap sekali? Kowai, totemo kowai…(aku takut, sangat takut)

“Mmh…mmh…” aku hendak berteriak tapi…tapi…mulutku…mulutku ditutup oleh slotip hitam tebal! Aku tidak bisa bicara!

“Hmm…kau sudah bangun rupanya, Tuan Putri.”

Sebuah sinar menyorot wajahku tepat.

‘Su…suara ini…’

“Sudah sejak lama aku menantikan saat-saat ini.”

‘TIDAK MUNGKIN!!’

 

 

TBC…

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s