MARRIED? Shireoooo!! – part 4

Author     : Levina Putri (twitter @puputlevina)

Judul        : MARRIED? Shireoooo!! – part 4

Kategori   : Romance

Rating      : PG-15

Main cast : – Song Rae Soo/Yuki as You

– B1A4 Baro as B1A4 Baro/Cha Sun Woo

– B1A4 Jinyoung as B1A4 Jinyoung/Jung Jinyoung

Other cast : T-ARA Jiyeon as Jiyeon

 

 

Yuki POV

‘TIDAK MUNGKIN!! Jiyeon eonni?!’

“Mmh…mmh…” aku berusaha untuk berbicara. Aku bingung, aku tidak mengerti, apa maksud dari semua ini!

“Cup cup cup, tidak usah memberontak seperti itu, tidak ada gunanya. Tidak akan ada yang mendengarmu di sini. Ruangan ini terpencil dan sudah tidak ada orang yang berkunjung ke sini.”

Jiyeon eonni…Jiyeon eonni…apa maksudmu melakukan semua ini? Tolong katakan padaku kalau semua ini mimpi atau hanya sekedar sandiwara untuk menyambut ulangtahunku, jebaaaal!

“Oh iya, aku serius lho dengan semua ini. Jangan anggap ini kejutan ulangtahunmu!”

Mwo? Dia bisa membaca pikiranku? Ani, tidak mungkin.

“Kau pasti heran kenapa aku tau ulangtahunmu? Ya, aku tau dari Baro. Namja yang merupakan suamimu yang seharusnya menjadi suamiku.”

Baro? Dari mana ia tau ulangtahunku?

“Akhir-akhir ini ia sering cerita tentangmu. Pertengkarannya denganmu, kebodohanmu, semuanya.”

Jadi selama ini oppa lebih sering bersama Jiyeon eonni karena curhat tentangku? Benarkah semua yang kudengar ini? Apa…ini pertanda kalau oppa mulai menyukaiku? Ah jangan pabo, Yuki! Oppa hanya menyukai Jiyeon eonni! Tidak mungkin ia menyukaiku yang childish dan pabo ini.

“Bahkan yang terakhir yang membuatku memuncak adalah ia menanyakan sebaiknya kado apa yang ia berikan di hari ulangtahunmu. Semua itu…semua itu membuatku sangat cemburu. Aku…” Soehyun eonni mulai terisak, “Aku sangat mencintai Baro. Dia cinta pertamaku sejak TK. Bahkan kami sudah berjanji untuk menikah. Tapi…tapi…kau, kau malah datang tiba-tiba di kehidupan Baro dan menghancurkan semuanya. Semua mimpiku yang sudah lama kupendam bersama Baro hancur begitu saja. DAN ITU SEMUA GARA-GARA KAU SONG RAE SOO! GARA-GARA KAU!”

Ja…jadi benar Jiyeon eonni masih menyimpan rasa pada Baro oppa. Tapi…bukankah oppa juga masih mencintai eonni? Buktinya oppaa masih seperti itu padaku. Walaupun ia sudah bisa tersenyum padaku, tapi perlakuannya padaku masih belum bisa disamakan dengan perlakuannya pada Jiyeon eonni.

“Mmh…mmh…” aku ingin mengatakan semua ini pada eonni. Aku juga ingin mengatakan kalau Baro oppa masih menyimpan foto mereka berdua di kamarnya.

“Wae? Kau tidak terima dengan kata-kataku barusan?”

Aku menggeleng sejadi-jadinya. ‘Bukan, Eonni, jeongmal, bukan itu maksudku!’

“Hah sudahlah tidak usah berpura-pura. Aku benci melihat wajahmu yang sok baik itu. Sebaiknya aku pergi sekarang.”

“Mmh…mmh…”

“Mwo? Kau mau tanya aku mau pergi ke mana atau ingin bertanya kenapa aku tidak menyiksamu? Baiklah, aku akan jawab dua-duanya. Pertama, aku tidak mau menyiksamu karena orang-orang sudah terbiasa menjulukiku malaikat. Aku tidak ingin mengotori tangan malaikatku ini dengan menyiksa seseorang. Kedua, ke mana aku akan pergi? Aku mau pulang. Sungguh membosankan diam di sini dengan orang yang tidak bisa bicara sepertimu! Annyeong.”

Mwo? Makhluk apa dia ini? Bisa-bisanya ia tersenyum  tenang begitu seperti tidak ada apa-apa. Sangat berbeda dengan ekspresinya tadi. Benar-benar menakjubkan. Seperti psikopat. Dan apa barusan dia bilang? Orang yang tidak bisa bicara sepertiku? Hei! Memangnya kau pikir siapa yang membungkam mulutku seperti ini hah!

Aigoo dia pergi begitu saja dengan wajah tanpa dosa. Psikopat, benar-benar psikopat. Lalu apa tujuannya mengikatku seperti ini kalau tidak menyiksaku? Chotto (chamkaman). Dia bilang ruangan ini sudah tidak pernah dikunjungi orang. Apa dia ingin membuatku mati perlahan dengan tetap disekap di sini sampai berhari-hari sampai aku benar-benar kehabisan energi? Aigoo ini lebih menyakitkan daripada dibunuh langsung. Ditambah lagi aku sangat takut dengan ruangan gelap apalagi yang sempit dan tertutup seperti ini. Bisa dibilang setengah phobia. Jika lama-lama berada di ruangan gelap dan tertutup, bisa-bisa aku sesak nafas dan kehilangan kesadaran. Eomma, appa, maafkan semua kesalahanku pada kalian. Terima kasih sudah menyayangi dan membesarkanku sampai sekarang. Jinyoung oppa, terima kasih sudah mau menjadi teman pertamaku di Korea dan tidak pernah lelah mendengar semua cerita-ceritaku, setidakpenting apapun itu. Dan…Baro oppa, terima kasih sudah mau tersenyum kepadaku. Walaupun kau selalu galak kepadaku, tapi aku menyayangimu, bahkan mencintaimu. Sungguh suatu anugrah bisa bertengkar denganmu setiap hari apalagi tinggal denganmu selama setengah tahun sebagai istrimu. Sekarang aku mengerti kenapa banyak yeoja, khususnya para BANA, yang ingin menikah denganmu. Sekarang aku benar-benar mengerti. Kau memang  seseorang yang luar biasa, yang pantas untuk dikagumi. Sayangnya, sepertinya aku tidak bisa mengungkapkan semua ini.

Nafasku terasa makin sesak. Rasanya oksigen di paru-paruku sudah mulai berkurang dan tidak mampu untuk menyuplai ke otak. Dan efeknya, aku semakin mengantuk, semakin kehilangan kesadaran. Tuhan, apakah ini akhir dari segalanya? Apakah hidupku yang begitu indah ini harus berakhir tragis dengan alasan seorang namja yang kucintai? Atas sesuatu yang sebenarnya bukan salahku? Ya Tuhan…

BRAK!

Ruangan gelap ini mendadak terang.

‘Siapa itu? Siapa yang mendobrak pintu gudang ini?’

Orang itu berlari mendekat.

“Yuki-ah! Gwaenchana?!”

Suara itu…

“Op…pa…” aku berusaha berbicara semampuku dengan kesadaran yang masih tersisa setelah slotip hitam itu terlepas dari mulutku.

“Kau tidak apa-apa?”

“Nan…nan gwaen…”

 

*          *          *

 

 

Author POV

“Ngg…” yeoja yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu mulai siuman.

“Ah kau sudah siuman! Terima kasih, Tuhan.”

“Jinyoung…op…pa…” ucapnya terbata-bata.

“Ne, ini aku, Jinyoung.”

‘Mwo? Perasaan orang yang terakhir kali aku lihat Baro oppa. Kenapa sekarang berubah jadi Jinyoung oppa? Apa tadi hanya halusinasiku saja karena aku sangat mengharapkan Baro oppa?

“Oppa…yang tadi menyelamatkanku?”

“Eh…nn…ne…Sebentar lagi Baro akan datang kemari untuk menjemputmu. Kata dokter kau akan segera pulih, hanya perlu sedikit istirahat.”

“Oh yokatta (syukurlah).”

“Tapi kenapa kau tidak pernah cerita padaku kalau kau punya phobia tempat gelap dan tertutup?”

“Bukannya aku sudah cerita, Oppa?”

“Ani, tidak pernah. Kau hanya pernah cerita kalau kau takut gelap.”

“Jinjja? Oh aku lupa hehe.”

“Yuki-ah!”

“Oppa…”

“Kau memanggilku oppa? Bagus.”

“Ish, tidak jadi. Tadi aku tidak sengaja.”

“Bilang saja kau  memang berniat memanggilku oppa.”

“SHI-REO!”

“Hahaha kalian ini. Baro-ah, mengalahlah sedikit pada orang yang sedang sakit.”

“SHI-REO!”Baro meniru ucapan dan intonasi Yuki barusan dan menatapnya sinis.

“Hahaha ya sudahlah terserah kalian. Aku pergi dulu ya, ada yang harus kuselesaikan. Annyeong.”

“Eh, oppa, gomawo yo, jeongmal gomawo. Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku jika kau tidak menyelamatkanku.”

Jinyoung menatap Baro sekilas, kemudian kembali menatap Yuki.

“Ne.”

Jinyoung keluar dari ruang rawat Yuki. Ia menghempaskan tubuhnya di dinding ruangan Yuki. Ia menghela nafas berat.

“Rasanya tidak enak berbohong seperti ini dan menghilangkan jasa orang.”

 

FLASHBACK

Jinyoung POV

Akhir-akhir ini Yuki sering cerita tentang Baro padaku. Memang, dia tidak pernah bilang kalau dia suka Baro. Tapi aku bisa lihat dari wajah dan caranya bercerita, kalau dia suka pada Baro.  Kalau aku bilang dia suka Baro juga dia selalu mengelak. Tapi bisa kulihat wajahnya memerah saat itu juga. Begitu pun dengan Baro, sikapnya pada Yuki kian membaik. Ia juga kadang bercerita tentang Yuki padaku, padahal sebelumnya ia tidak pernah. Dari cara berceritanya, aku bisa menyimpulkan bahwa ia juga mulai menyukai Yuki. Sebenarnya ini sedikit menyakitkan karena aku sudah  menyukai Yuki sejak pertama bertemu saat perjodohan mereka. Saat mereka menikah pun sejujurnya aku sedikit kecewa, tapi bukan hak ku untuk melarang mereka. Oleh karena itu, sehari setelah mereka menikah, aku pergi ke Hongkong, seminggu lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Itu untuk menghindari Yuki. Aku tidak ingin lebih mencintainya. Harapanku saat itu adalah bisa melupakan Yuki dengan tidak bertemu dengannnya selama satu bulan. Tapi rupanya dia sering menghubungiku dan hasilnya aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang.

“Eh, itu Yuki. Yu…” aku tercekat saat akan memanggilnya. Kulihat ada seorang namja bertubuh besar menutup mulut Yuki dengan sapu tangan dari belakang. Dan sesaat kemudian Yuki terkulai lemas. Ya dia pingsan! Namja itu menggendong Yuki menuju suatu tempat. Aku mengikutinya diam-diam. Aku tidak ingin bertindak gegabah, itu bisa membahayakan Yuki.

Luamayan jauh namja itu berjalan membawa Yuki. Lalu ia masuk ke dalam sebuah ruangan kecil dan terpencil.

“Bukankah ini gudang yang sudah tidak terpakai?”

Aku mendekat ke gudang itu dan sembunyi di balik dindingnya. Ada sebuah jendela kecil di sana. Samar-samar kulihat namja itu mendudukkan Yuki di kursi, mengikatnya, dan menutup mulut Yuki dengan slotip hitam.

“Tugas saya sudah selesai kan, Agassi?”

Agassi? Ternyata namja itu hanya suruhan. Lalu…siapa yeoja yang menyuruhnya itu?

“Ne. Kamsahamnida.”

Mwo? Suara ini? Bukankah… Aku kembali memicingkan mataku. Agak sulit melihat di ruangan segelap ini. Namja itu menuju pintu keluar dan secercah cahaya memasuki ruangan ketika ia membuka pintu.

“MWO?”

Jiyeon! Ya itu Jiyeon! Aigoo aku tidak salah lihat kan?! Apa yang akan ia lakukan pada Yuki? Aku harus menelepon Baro sekarang juga!

“Yeobeoseyo.”

“Baro-ah, Yuki dalam bahaya! Kau harus ke sini sekarang juga! Ke gudang lama dekat gerbang belakan kampus!”

“A…”

Tut tut tut. Kumatikan sambungan teleponnya. Cepatlah, Baro! Cepat kemari! Aku  yakin Yuki pasti berharap diselamatkan olehmu, bukan olehku. Mataku kembali fokus pada kegiatan di dalam. Kulihat Jiyeon mengarahkan senter pada wajah Yuki. Dia sudah siuman! Kulihat ia meronta-ronta dengan berusaha lepas dari ikatan dan kursinya. Tapi Jiyeon tidak menghiraukannya. Ia tidak menyentuh Yuki sama sekali. Aku jadi penasaran apa yang akan ia lakukan pada Yuki.

Satu menit sudah kuperhatikan kegiatan mereka di dalam. Tapi tidak terjadi apa-apa. Aku tidak bisa melihat dan mendengar mereka dengan jelas. Terlalu gelap dan terlalu jauh dari sini. Secara samar-samar, kulihat mereka sedang berbicara karena mereka berhadapan dalam jarak yang begitu dekat. Hanya saja aku tidak bisa melihat ekspresi keduanya. Aku tidak bisa mengira-ngira bagaimana perasaan mereka sekarang tanpa melihat ekspresi dan mendengar percakapannya.

“…SONG RAE SOO!”

Jiyeon berteriak! Tapi…suasana kembali hening. Aku tidak bisa mendengar apa-apa lagi dari dalam. Yang bisa kudengar selanjutnya hanya hawar-hawar hentakan kursi dan kaki. Sepertinya itu Yuki yang berusaha untuk melepaskan diri. Kulihat yeoja yang berdiri dari tadi yang tak lain dan tak bukan adalah Jiyeon mulai berjalan menjauhi Yuki. Ia menuju pintu keluar dan secercah cahaya masuk ke dalam menyinari wajah Yuki yang terlihat pucat. Aku ingin menolongnya tapi akan lebih membahagiakan bagi Yuki jika Baro yang menolongnya.

 

Author POV

“Apa yang terjadi pada Yuki ya? Demi Tuhan, aku sangat khawatir padanya.”

Baro berlari sekencang mungkin setelah turun dari mobilnya. Duk!

“Jiyeon?”

Jiyeon terlihat sangat shock.

“A…annyeong.” ia berusaha tenang. Ia meremas-remas tangannya untuk menghilangkan kegugupannya. Baro menyadari itu, tapi tidak ada waktu untuk memikirkan apa yang membuat Jiyeon segugup itu.

“Apa kau melihat Yuki?”

“M-mwo? Yu-Yuki? Ah ani ya ani ya.”

Baro melihat ada sesuatu yang janggal pada Jiyeon.

“Ya sudah.” Baro meninggalkan Jiyeon begitu saja dan kembali berlari menuju tempat yang diberitaukan Jinyoung.

“Eotteohke?” mata Jiyeon mulai berkaca-kaca. Jantungnya berdegup begitu kencang. Ia sangat takut Baro akan membencinya karena pasti Baro akan segera mengetahui perbuatannya.

Sementara itu di gudang…

“Itu Baro!” Jinyoung sangat lega begitu melihat Baro. Baro tiba di tempat sesuai dengan waktu yang sudah diperkirakannya, “Syukurlah. Yuki pasti sangat bahagia mengetahui Barolah yang menyelamatkannya.” Jinyoung tersenyum pahit.

Brak! Baro mendobrak pintunya.

“Yuki-ah! Gwaenchana?!”

Baro melepas slotip hitam itu dari mulut Yuki.

“Op…pa…”

“Kau tidak apa-apa?”

“Nan…nan gwaen…”

“Yuki-ah? Yuki-ah!”

 

*          *          *

 

@Hospital

“Bagaimana keadaan Yuki?”

“Ah, Jinyoung. Dokter bilang dia baik-baik saja. Dia menderita sedikit phobia ruangan gelap, sempit, dan tertutup. Kalau lama-lama ada di ruangan seperti itu, ia akan sesak nafas dan lama-lama kehilangan kesadaran. Tapi katanya ia akan segera pulih.”

“Syukurlah kalau begitu.”

“Tadi kau ada di mana saat aku ke sana?”

“Aku ada di dekat gudang. Aku lihat kau berlari menggendong Yuki. Lalu aku mengikutimu.”

“Oh begitu. Ngomong-ngomong tadi kejadiannya bagaimana?”

“Tadi aku tidak sengaja melihat Yuki dibius oleh seorang namja bertubuh besar. Kemudian aku mengikutinya diam-diam karena tidak mau Yuki terluka. Aku memperhatikan apa yang dilakukan orang-orang itu pada Yuki. Lalu aku meneleponmu.”

“Pabo! Kenapa malah meneleponku? Harusnya kau langsung selamatkan Yuki!”

“Aku yakin Yuki akan lebih bahagia jika kau yang yang menyelamatkannya.”

Baro tertegun mendengar pengakuan Jinyoung. Dari kata-kata dan ekspresi Jinyoung barusan, ia menyadari bahwa ia menyukai Yuki.

“Dasar pabo.” ujar Baro lirih. Ia sangat kagum pada sahabat sekaligus namja ia anggap saudaranya itu. Ia kagum pada Jinyoung yang bisa menyembunyikan dan menjaga perasaannya dengan baik. Padahal selama ini Jinyoung paling tidak bisa berbohong atau menyimpan rahasia dari Baro, “Kalau begitu, kau saja yang menunggui Yuki.”

“Mwo?”

“Aku ingin kau yang ada di hadapan Yuki saat ia siuman nanti. Karena sesungguhnya kaulah yang menyelamatkannya.”

“Ani yo. Tidak bisa begitu.”

“Ya Jinyoung-ah, sejak kapan kau berani menolak keinginanku hah?”

“Itu…itu berbeda…”

“Sudahlah, aku tidak mau mendengar alasan apapun. Pokoknya nanti kau yang harus ada di hadapan Yuki. Aku akan ke supermarket dulu untuk membeli makanan. Dan jangan lupa katakan pada Yuki kalau kaulah yang menyelamatkannya.”

“Ta…”

Baro memotong kata-kata Jinyoung, “No buts. Eh iya, apa kau masih ingat wajah orang yang membius Yuki tadi? Apa kau menyimpan fotonya?”

“Itu…”

Baro menunggu kelanjutan kalimat Jinyoung.

“Apa…kau bertemu seseorang di dekat gudang tadi?”

Deg. Ia terbayang kejadian sebelum ia sampai di gudang tadi. Ia terbayang wajah dan gelagat Jiyeon tadi.

“Mungkinkah…” gumam Baro, “Jiyeon?”

Jinyoung hanya mengangguk mengiyakan. Tidak ada tenaga baginya untuk berkata apapun mengingat dalang di balik semua ini adalah sahabatnya dan Baro sejak kecil.

“Jadi…Seo…Hyun dalang di balik semua ini?” tanya Baro tercekat.

“Ne.” jawab Jinyoung lirih.

“Aigoo. Aku hampir tidak percaya jika bukan kau yang mengatakannya dan jika tadi tidak bertemu dengannya di situ. Tapi…apa alasan di balik semua ini?”

“Kau masih ingat kisah masa kecilmu dengan Jiyeon dulu?”

Baro terbelalak. Ia baru sadar kalau selama ini Jiyeon masih mengaharapkannya. Ia baru sadar kenapa selama ini Jiyeon selalu memilih satu sekolah dengannya. Sampai untuk kampus dan jurusan kuliah pun, Jiyeon memlih untuk sama dengan Baro. Untungnya kemampuan akademis dan financial mereka seimbang. Lalu Baro juga baru sadar kalau selama ini Jiyeon bilang ia selalu menolak namja yang mendekatinya demi seseorang yang dicintainya. Baro baru sadar kalau seseorang yang dimaksud Jiyeon adalah dirinya. Ternyata menjadi orang yang dingin dan apatis selama belasan tahun telah menggiringnya menjadi insan yang tidak peka. Di dalam hati, Baro jadi merasa miris. Ia menyesal tidak menyadari perasaan Jiyeon padahal mereka sudah bersahabat selama bertahun-tahun. Ia kira Jiyeon hanya menganggapnya sebatas sahabat. Ia kira Jiyeon sudah melupakan kisah masa kecil mereka.

“Aku jadi merasa bersalah, Jinyoung-ah. Aku merasa bersalah tidak menyadari perasaannya.” Baro tertunduk.

“Ani, Baro-ah. Itu semua bukan salahmu. Itu semua bukan keinginanmu. Lagipula tidak seharusnya ia menumpahkan semua kemarahannya dengan cara seperti ini. Jiyeon yang sangat baik dan selalu tenang, ini betul-betul bukan gayanya. Dan satu hal lagi yang membuatku kecewa. Yuki yang tidak tau apa-apa, yang tidak salah apa-apa jadi korbannya. Untung tidak terjadi sesuatu yang serius padanya.”

Baro dan Jinyoung sama-sama menghela nafas membayangkan apa yang terjadi jika Jinyoung tidak mengetahui kejadian itu. Mereka tau benar maksud dari strategi Jiyeon itu. Mereka tau benar cara yang dipilih Jiyeon untuk membuat Yuki menderita. Mereka juga sangat shock dengan apa yang dilakukan sahabat kecil mereka yang ibaratnya adalah manusia berhati malaikat. Ya, bagaimanapun Jiyeon itu manusia, tidak sempurna, tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan.

“Sepertinya aku harus bicara padanya. Aku ingin minta maaf padanya dan aku juga ingin ia meminta maaf pada Yuki.”

“Ani.”

Baro tidak mengerti maksud Jinyoung.

“Jika kau melakukan itu, itu bisa saja membuatnya semakin dendam pada Yuki. Bukankah perasaan manusia sangat sulit ditebak?”

Baro merenungkan baik-baik ucapan Jinyoung.

“Jadi sebaiknya kita hindari saja semuanya dari awal sebelum terlambat seperti kejadian ini.”

Baro mengangguk setuju.

“Baiklah. Kalau begitu aku mau ke supermarket sekarang. Jangan sampai appa kita dan orangtua Yuki mengetahui kejadian ini. Kau segeralah pergi ke temui Yuki, siapa tau dia sudah siuman. Bukan berarti aku menyerahkan Yuki padamu, jadi tenanglah. Aku hanya ingin kau mendapat imbalan yang setimpal. Karena nyawa Yuki mungkin bisa terancam jika tidak ada kau tadi.” ujar Baro sambil tersenyum pada Jinyoung. Jinyoung membalas senyuman Baro tulus dan langsung masuk ke ruang rawat Yuki setelah Baro pergi.

FLASHBACK END

 

Dua hari kemudian…

@B1A4’s Dorm

“MWORAGO!” teriak Sandeul tiba-tiba.

“Wae yo?” Jinyoung mendekati Sandeul yang sedang sibuk dengan laptopnya, dan disusul oleh yang lain, “Itu…”

“Aigoo!” kini giliran CNU yang berteriak.

“Tidak mungkin, tidak mungkin!”

“Ya Jinyoung hyung! Ada apa?!” Gongchan terheran-heran melihat Jinyoung yang tiba-tiba mundur dan langsung berlari.

 

Jinyoung POV

“Arrrrgh ponselnya tidak aktif! Baro juga! Aigoo, kuharap mereka sudah ada di rumah.”

Dengan kacamata hitam, masker, dan wig, aku segera menaiki motor Kang In hyung yang masih terparkir di depan. Kukendarai motor itu dengan kecepatan super penuh. Tempat pertama yang kudatangi yang paling sering menjadi tempat Yuki berada dan paling rawan dari serangan Bana adalah kampus.

Untungnya jarak dari dorm kami ke kampus tidak terlalu jauh. Dengan motor kecepatan penuh, cukup tiga menit untuk sampai sana. Kuparkirkan motor itu sekenanya di fakultas Yuki. Aku langsung berlari sekencang mungkin menuju kelas Yuki. Dan benar saja, belasan Bana paling fanatik di fakultas Yuki, sudah mengepungnya sempurna dan memojokkannya ke dinding. Tapi saat aku hendak berlari ke sana untuk melindunginya, tiba-tiba ada seseorang berjaket kulit hitam dan topi hitam berlari menerobos kepungan Bana lalu mendekap Yuki dan membelakangi para Bana. Alhasil tomat busuk, telur busuk, dan kol busuk (ga modal banget pake yang busuk-busuk ._.v) yang dilempar Bana, mengenai punggung orang itu yang terbalut jaket kulit.

“Sepertinya aku sudah bisa tenang. Lebih baik sekarang aku temui Jiyeon.”

 

 

TBC…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s