My Invisible Guardian Angel – Part 5

Author     : Levina Putri (twitter @puputlevina)

Judul        : My Invisible Guardian Angel – Part 5

Kategori   : Romance, friendship

Rating      : Teens

Main cast : – Jung Ji Yeon as You

– B1A4 Gongchan as Gong Chan Shik

– B1A4 Jinyoung as Jung Jin Young

Other cast : – Super Junior Leeteuk as Park Jung Soo/Teuki

– Other B1A4 members

@Jinyoung’s home

Ji Yeon POV

Aku sudah tidak kuat menahan air mata. Entah Teuki oppa sadar atau tidak, sepertinya mataku sudah merah sedari tadi. Saat mobil diparkirkan, aku segera melihat-lihat ke arah rumah Jinyoung oppa. Kulihat halamannya begitu sepi tak ada orang, begitu pun pintu rumahnya tertutup. Kalau memang sudah terjadi sesuatu harusnya di sini ramai. Ah nani yo! Apa yang kupikirkan! Aku tidak boleh berpikiran macam-macam! Ya, seperti kata senseiku, aku harus selalu positive thinking agar hal-hal yang positif datang menghampiriku.

“Annyeonghasseyo.” ujarku sambil memencet tombol dan memposisikan wajahku di depan alat pendeteksi tamu.

“Ji Yeon-ah! Silahkan masuk, silahkan masuk!” terdengar suara yang tidak asing keluar dari alat itu.

“Ne, ahjumma. Kamsahamnida.”

Aku menengok ke arah Teuki oppa dan mengangguk tanda mengajaknya ikut masuk. Aku sudah tidak sanggup berkata-kata lagi. Aku takut menangis tiba-tiba jika banyak bicara. Kini aku sudah berada tepat di depan pintu rumah Jinyoung oppa. Terlihat sesosok wanita setengah baya yang cantik dengan senyum manisnya membukakan pintu untukku dengan ramahnya.

“Ji Yeon-ah, sudah lama tidak bertemu denganmu. Kau terlihat semakin kurus saja sama seperti anakku hohohoho. Ayo masuk masuk.”

Aku hanya menyambut kata-kata eommanya Jinyoung dengan senyum terpaksa. Eommanya Jinyoung memang supel dan berjiwa muda dan kadang ceplaas ceplos. Tapi aku suka dengan gayanya itu. Justru itulah yang membuatku bisa dekat dengan beliau.

“Ahjumma, Jinyoung oppanya mana?” tanpa banyak basa basi, aku langsung menanyakan inti dari maksud kedatanganku ke sini.

“Dia…eh sebentar, ada telepon.”

Aduh pake ada telepon segala lagi. Aku masih belum tenang. Apalagi jawaban barusan menggantung sekali. Ya Tuhan, tolong kuatkanlah aku.

“Ne ne, annyeong.” eommanya  Jinyoung terlihat menutup teleponnya, “Mian Ji Yeon-ah. Tadi sampai mana?”

“Jinyoung oppanya, ahjumma…” jawabku lesu.

“Oh iya. Dia sedang di kamarnya bersama anggota gangnya hahaha.”

“Maksudnya anak-anak B1A4, ahjumma?”

“Ne. Masuklah. Oh iya, kau juga temannya Jinyoung ya?” tiba-tiba eommanya Jinyoung melirik Teuki oppa.

“Ne, ahjumma, saya temannya Jinyoung juga.”

Teuki oppa memang dewasa (walaupun kadang aneh), dia bisa menyesuaikan keadaan.

“Tampan juga. Kalau aku masih muda, aku pasti akan mengajakmu kencan hohohoho.”

“Hahahaha sekarang juga masih boleh, ahjumma, kau masih terlihat cantik.”

“Ah kau ini bisa saja hohohoho.”

Teuki oppa dan eommanya Jinyoung cocok ternyata, sama-sama suka bercanda. Tapi saat ini aku tidak ingin tertawa. Yang aku inginkan sekarang hanyalah bertemu Jinyoung oppa.

“Ahjumma, aku permisi dulu ya.”

“Ah ne, silahkan.”

“Oppa, kau mau ikut?”

“Ani, aku tunggu di sini saja.” seakan mengerti apa yang kuinginkan, Teuki oppa lebih memilih untuk menunggu di luar.

Aku pun segera menuju kamar Jinyoung oppa yang letaknya tidak terlalu jauh dari ruang tamu. Segera kuraih gagang pintu berwana coklat kayu itu dan kubuka pintu. Kulihat empat orang laki-laki yang tidak asing bagiku sedang melihat ke arahku. Yang tiga sedang duduk di kursi, sedangkan yang satunya, yang sekarang paling ingin kutemui, sedang terbaring lemah di kasurnya yang bersprai putih polos.

“Oppa…” aku berlari menuju Jinyoung oppa dan langsung memeluknya. Dalam waktu seketika, tangisanku langsung buyar di pelukannya.

“Ya, Ji Yeon-ah, kau kenapa?”

“A…aku kira…hiks…kau…hiks”

“Aku kenapa?”

“Aku kira oppa akan meninggalkanku…”

“Mwo?”

Aku menceritakan semua yang kupikirkan tadi pada Jinyoung oppa. Tapi dia malah tertawa.

“Hahaha kau ini ada-ada saja.”

“Habis tadi Sandeul bicara seakan-akan kau akan meninggal.”

“Memang tadi dia berkata apa?”

“Tadi dia terdengar begitu serius dan langsung menutup telepon tanpa menunggu jawabanku. Kan aku jadi takut.”

“Haha dia memang drama king, Jagi. Eh mian, aku lupa.”

Kami terdiam sejenak. Rasanya aku jadi galau. Aku jadi ingin kembali pada Jinyoung oppa. Tapi rasanya ada sesuatu yang berbeda. Rasanya rasa cintaku pada Jinyoung oppa sudah agak sedikit berkurang dari biasanya. Dan rasanya hatiku sudah ada yang mengisi. Tapi aku sendiri juga tidak mengerti dengan perasaanku ini.

“Ji Yeon-ah?”

“Ne, oppa?”

“Kalau aku menitipkanmu pada seorang namja, apa kau tidak keberatan?”

“Mwo?”

“Aku tidak ingin membiarkanmu sendirian setelah putus denganku. Aku ingin ada seorang namja yang melindungimu.”

“Oppa, kau ini bicara apa? Bicaramu seperti…”

“Ah kau ini sebenarnya berpikiran atau mendoakanku mati sih?”

“Ani yo, oppa. Aku hanya terlalu takut dengan situasi seperti ini. Kalau di drama-drama tivi, biasanya adegan seperti ini diakhiri dengan ending yang menyedihkan.”

“Hahaha makanya jangan terlalu banyak melihat tayangan fiksi. Hiduplah dalam dunia nyata.”

“Oppa!” aku menggembungkan pipiku layaknya ikan kembung di pasar ikan.

“Kalau aku menitipkanmu pada Gongchan, apa kau tidak keberatan?”

CTAR! MWO?! Gongchan? My dongsaeng? Kenapa tiba-tiba dia berkata seperti itu.

“Bagaimana? Kau keberatan tidak?”

“Kenapa harus Gongchan, oppa? Kenapa tidak Baro saja hehehehe.” candaku. Jinyoung oppa tau kalau dulu aku sempat jatuh cinta pada Baro pada pandangan pertama. Habis dia paling imut sih >w<

“Hahaha Baro sudah punya pacar, Ji Yeon. Lagipula aku tidak akan menitipkanmu pada playboy macam dia. Seperti keluar dari mulut buaya, masuk mulut harimau, sama saja bohong. Aku ingin menitipkanmu pada Gongchan. Kulihat kalian berdua sangat dekat. Lagipula Gongchan sangat baik. Hanya akunya saja yang dari dulu selalu berpikiran buruk padanya karena dibutakan emosi. Bagaimana? Kau mau tidak?”

Deg! Pertanyaan singkat barusan membuat jantungku berdetak tak karuan lagi. Kenapa harus Gongchan? Kenapa tidak Sandeul yang sudah lama dekat denganku atau CNU oppa yang dewasa? Jinyoung oppa, apa maksud dari semua yang kau ucapkan ini?

“Kalau kau diam, itu tandanya setuju.”

“Eh, andwae! Oppa tidak bi….”

Telunjuknya mendarat di bibirku.

“Kali ini aku hanya bisa menghentikanmu dengan jariku, tidak dengan bibirku hahaha. Setuju tidak setuju, aku akan menitipkanmu pada Gongchan. Percayalah, apa yang kukatakan ini tidak akan membuatmu kecewa untuk kedua kalinya.”

Aku hanya terdiam mendengar ucapannya barusan. Jantungku masih berdetak tak karuan, tidak sesuai ritme biasanya.

“Dan satu hal lagi, aku sudah putus dengan Park Ji Yeon.”

“Mwo? Ke…kenapa, oppa?”

“Aku tidak ingin menyakitinya lebih dari ini. Jika aku teruskan juga hanya akan membuatnya sakit karena hanya menjadikannya sebagai pelarian.”

“Tapi dengan kau putuskan juga dia merasa sakit!”

“Memang. Tapi dari awal juga dia sudah siap-siap dengan konsekuensi itu karena dia sudah tau betul keadan saat aku memintanya menjadi pacarku. Jadi daripada dia mencintaiku lebih jauh lagi, lebih baik aku putuskan saja dari sekarang. Ya bagaimanapun dalam hidup ini, kebenaran tidak selalu manis.”

Aku lemas mendengarnya. Entah karena senang atau karena ikut sakit membayangkan perasaan Park Ji Yeon saat ini. Ya tapi yang dikatakan Jinyoung oppa ada benarnya juga, kebenaran tidak selalu manis.

“Jadi kau mau ya, aku titipkan pada Gongchan?”

“Ne, baiklah. Asal kau mau berjanji satu hal padaku.”

“Mwo ya?”

“Kau harus berhenti menjadi seorang cassanova. Aku sudah gagal untuk merubahmu. Jadi satu hal terakhir yang ingin kupinta darimu adalah, berubahlah.”

“As you wish, my princess. Sebenarnya selama terbaring di tempat tidur selama seminggu ini juga, aku sudah berniat untuk berubah. Kau tau kenapa saat itu aku tidak mengejarmu lagi dan tidak menghubungimu?”

Tanpa menunggu jawaban dariku, ia langsung melanjutkan kata-katanya.

“Itu karena aku sudah menyadari kesalahanku. Dan setelah itu aku jatuh sakit. Mungkin karena terlalu memikirkan masalah ini.”

“Oppa…” aku menatapnya dalam-dalam, “Semua ini tidak murni semuanya salahmu. Ini gara-gara aku juga. Semuanya tidak akan terjadi jika aku mau…” aku langsung menunduk.

“Sst, jangan diteruskan. Sudahlah, kita memang sama-sama salah. Jadi apakah kau mau memaafkanku?”

Aku hanya menganggukkan kepala dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Bahkan aku sudah tidak bisa untuk mengucapkan kalimat ‘maafkan aku juga’. Ah aku memang benar-benar cengeng!

“Oh iya” ia melirik ke laci di sebelah temapt tidurnya. Dibukanya laci berwarna krem keputih-putihan itu, lalu diambilnya sebuah kotak kecil berwarna biru dengna pita cantik di atasnya, “Ini.”

Aku langsung menutup mulut dan mataku terbelalak. Aku tidak menyangka Jinyoung oppa akan memberikanku kado di saat ada masalah seperti ini.

“Ini untukmu, ayo ambil.”

“Oppa…”

Jinyoung oppa membuka tangannya lebar, “Sini, peluk aku sebagai kekasih untuk terkahir kalinya. Ya walaupun kita sudah putus.” ucapnya sambil tersenyum.

Tanpa banyak bicara dan tanpa mempedulikan kadonya, aku langsung menghambur ke pelukan Jinyoung oppa. Air mataku kembali membasahi  pundaknya.

“Saengil chukhae, Jagi.”

Jinyoung POV

FLASBACK

“Ada apa tiba-tiba hyung memanggilku ke sini?”

“Ini tentang Ji Yeon.”

“Mwo?”

“Aku…aku ingin…kau menjaganya…”

“Mwo? Hyung, apa yang kau bicarakan? Kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu?”

“Aku tidak ingin meninggalkan Ji Yeon sendirian.”

“Apa? Meninggalkan? Hyung! Memangnya kau mau ke mana! Kau tidak boleh meninggalkan kami hyung!”

“Ya! Kau ini! Maksudku bukannya aku akan meninggalkan kalian untuk selamanya. Maksudku, aku tidak mau membiarkan Ji Yeon tanpa ada yang melindungi. Kau mengerti arah pembicaraanku kan?”

Gongchan hanya tertunduk. Hah lagi-lagi si kura-kura ini hanya diam tertunduk masuk ke dalam cangkangnya.

“Aku tau kalau kau menyayangi Ji Yeon…lebih dari seorang dongsaeng.”

Gongchan langsung menaikkan wajahnya dengan ekspresi tercengang.

“Sudahlah, Gongchan. Tidak usah berpura-pura lagi. Kami, semua member B1A4 bisa membaca perasaanmu. Mungkin Ji Yeon nya saja yang tidak peka. Dia memang sedikit (?) polos.”

Gongchan kembali menunduk.

“Jadi bagaimana? Apa kau mau menjaga Ji Yeon untukku?”

“Apa kau yakin menitipkan Ji Yeon noona padaku yang lemah dan tidak tau apa-apa ini?”

“Kau memang terlihat lemah dan tidak tau apa-apa. Tapi aku tau, kau yang sebenarnya adalah seorang namja yang kuat dan jauh dari kata brengsek. Jadi aku yakin, bahkan sangat yakin untuk menitipkan Ji Yeon padamu. Terlebih lagi kalian sudah merasa nyaman satu sama lain dan memiliki kesukaan yang sama. Kalian sama-sama suka Jepang, manga, Yui, Bleach. Kurasa kalian bisa menjadi pasangan yang baik. Bagaimana?”

Dia terlihat sedang berpikir.

“Hmm…ne, aku bersedia menjaganya untukmu, Hyung.” jawabnya tegas.

“Bagus. Kalau begitu, dengan ini aku resmi menitipkan Ji Yeon padamu. Tapi dengan satu syarat.”

“Apa syaratnya, Hyung?”

“Saat aku sudah sembuh dari sindrom cassanovaku, aku akan mengambilnya kembali. Jadi selama masih ada waktu, jaga Ji Yeonku baik-baik ya.”

Seakan mengerti maksud tersirat dari kata-kata lugasku di atas, Gongchan menanggapinya dengan senyuman.

“Ne, aku pegang kata-katamu, Hyung.”

Kami langsung berpelukan layaknya dua orang ksatria yang sudah selesai berunding mengenai masalah kenegaraan. Dan dengan ini, aku resmi ‘menyerahkan’ Ji Yeon pada Gongchan untuk dilindungi.

FLASHBACK END

Gongchan POV

“Aku harus bertemu dengan Ji Yeon noona malam ini!”

Ya hari ini adalah hari ulangtahunnya Ji Yeon noona. Aku berniat untuk memberikan boneka kucing yang sudah terbungkus rapi ini pada Ji Yeon noona. Tapi aku hanya akan menyerahkan ini sebagai kado ulangtahun, bukan pernyataan cinta. Untuk pernyataan cinta, masih butuh waktu. Aku tidak mungkin menyatakan cinta dalam waktu beberapa hari setelah dia putus dari Jinyoung hyung. Lagipula ada baiknya jika aku melakukan pendekatan dulu. Bukan karena kami belum dekat, maksudnya pendekatan sebagai seorang namja.

“Yeobeoseyo.” terdengar suara dari speaker teleponku.

“Yeobeoseyo, Noona. Apa malam ini kau tidak ada acara?”

Dua detik lamanya, tidak ada jawaban dari sana, baru kemudian…

Un. Wae?”

“Aku mau mengajakmu ke suatu tempat malam ini. Apa kau bisa?”

Lagi-lagi tidak ada suara dari sana.

“Noona?”

“Ah ne…ne…, bisa bisa.” jawabnya sedikit terbata.

“Noona? Gwaenchana?”

“Ne…nan…nan gwaenchana. Mm…mm…memangnya…kau mau mengajakku ke mana?” dia terbata-bata lagi.

Himitsu da (rahasia) hehe. Tapi Noona mau kan?”

“Hmm…un.

“Baiklah. Kalau begitu, aku jemput Noona sekarang ya?”

Ha…hai.” dia menjawab dengan terbata-bata lagi.

Tut tut tut’ tiba-tiba sambungan telepon kami terputus., kujauhkan ponselku dari telinga.

Ada apa dengannya? Apa dia sedang serius menonton drama? Dia kan suka sekali nonton drama, apalagi kalau namjanya tampan. Dan setiap dia menonton drama yang dia suka, dia selalu menonton dengan penuh penghayatan sampai hampir lupa dengan dunia nyata yang sedang dia hadapi saat itu. Hmm dasar Ji Yeon noona, aneh. Tapi aku suka.

Ji Yeon POV

Tidak ada yang ingin kukerjakan saat ini. Tiba-tiba mataku tertuju  pada sebuah kotak kecil di atas meja di samping tempat tidurku. Ya, kotak kecil itu adalah pemberian dari Jinyoung oppa tadi. Aku belum sempat membukanya.

“Kira-kira apa ya isinya? Kenapa kecil begini? Jinyoung oppa pelit!” rutukku sendiri sambil mengambil kotak kecil itu dan segera membukanya. Kulihat di dalamnya ada sebuah kertas yang dililit pita.

“Apa ini?” segera kubuka lilitan pitanya dan kulihat sederet tulisan berwarna biru terpampang di atas kertas putih itu.

Ji Yeon-ah, kuharap saat membaca ini, kau sedang dalam perasaan bahagia dan tentu saja, sudah memaafkanku juga. Selama hampir enam bulan kita bersama ini, aku merasa sangat nyaman denganmu. Walaupun kau berbeda dari tipe-tipe mantanku yang lain, tapi kau sangat spesial bagiku. Kau adalah yeoja pertama yang mebuatku sadar dan ingin kembali ke jalan yang benar hehehe. Mungkin Tuhan sudah menakdirkan semua ini agar aku berubah. Tapi aku tidak memanfaatkan semua itu. Aku malah menyia-nyiakan semuanya. Ya walaupun begitu, aku bersyukur sudah bisa bertemu, mengenal, dan sempat menjadi salah satu orang yang paling kau sayangi di dunia ini. Kuharap setelah ini, hubungan kita bisa baik kembali. Bukan berarti kau harus kembali padaku, tapi seperti dulu, sebelum kita pacaran. Kuharap sudah tidak ada dendam di antara kita. Sekarang aku akan merubah diriku dulu menjadi namja yang lebih baik. Untuk sementara itu, aku titipkan kau pada Gongchan. Aku yakin dia bisa menjagamu dengan baik. Tapi ingat, setelah aku benar-benar berubah, aku akan mengambilmu darinya hehehe ^^v. Mian aku hanya bisa memberikan tulisan tak berharga ini di ulang tahunmu. Tapi kuharap, kertas tak berharga ini bisa memperbaiki hubungan kita.

Saranghae my dongsaeng J

P.S. : Kado yang sebenarnya segera menyusul :p

 

                                                                                                                       

                                                                                                                        Your oppa

                                                                                                                    Jung Jin Young

 

Hiks, apa-apaan dia ini? Kenapa dia memberikan kado tak berharga yang hanya bisa membuatku menangis di ulang tahunku ini? Aigooooo dalam seminggu ini, sudah berapa kali dia membuatku menangis?

I remember you, nal tteonan neo, dorawa, so i need you baby

E~? Gongchannie? Ada apa dia meneleponku malam-malam begini? Oh iya! Dia kan baru mengucapkan selamat ulangtahun tapi belum memberiku kado. Jangan-jangan mau memberiku kado.” tiba-tiba perasaanku sedikit membaik. Kutarik nafas dalam-dalam dan mengaturnya suara sebaik mungkin agar tidak terlihat seperti orang yang sudah menangis.

“Ehm, yeobeoseyo.”

“Yeobeoseyo, Noona. Apa malam ini kau tidak ada acara?”

DEG! A…apa katanya barusan?

Un. Wae?”

“Aku mau mengajakmu ke suatu tempat malam ini. Apa kau bisa?”

‘Mengajakmu ke suatu tempat’? ‘Malam ini’?

“Noona?”

“Ah ne…ne…, bisa bisa.” jawabnya sedikit terbata.

“Noona? Gwaenchana?”

“Ne…nan…nan gwaenchana. Mm…mm…memangnya…kau mau mengajakku ke mana?” haduh kenapa aku jadi gugup begini?

Himitsu da (rahasia) hehe. Tapi Noona mau kan?”

“Hmm…un.

“Baiklah. Kalau begitu, aku jemput Noona sekarang ya?”

Ha…hai.

Langsung kututup sambungan teleponnya.

“Aigoo aigoo, aku harus pakai baju apa malam ini????”

Ups! Ada apa denganku? Kenapa aku jadi gugup begini? Kenapa aku sampai bingung memikirkan penampilan seperti mau pergi dengan Jinyoung oppa? Padahal kan aku hanya akan pergi dengan Gongchan. Bahkan pergi tanpa menyisir dan tanpa make up pun biasanya tidak masalah jika hanya bertemu dengan Gongchan. Aigooo apa yang salah dengan otak dan jantungku ini??????? *O*

*          *          *

            “Ji Yeon-ah, ada Gongchan di bawah!” teriak eomma tiba-tiba merusak konsentrasiku saat menata rambut.

“Ne, eomma! Aku akan segera turun!” balasku tak kalah keras.

Sekitar tiga menit kemudian, setelah mematut diri untuk yang ke sekian kalinya di depan cermin lemariku yang cukup lebar, aku mulai menuruni anak tangga satu persatu dan kulihat seorang namja imut berpenampilan rapi dengan blazer santainya, sedang duduk di kursi ruang tamuku dengan ditemani eommaku.

“Noona.” sapanya sambil tersenyum ketika menyadari keberadaanku di sampingnya.

Aku balas tersenyum. Entah kenapa rasanya tiba-tiba aku jadi kaku begini.

“Siap untuk berangkat sekarang, Noona?”

Un.” jawabku singkat.

“Ahjumma, aku pinjam Ji Yeon noonanya sebentar ya.” pintanya pada eommaku. Eommaku memang selalu dekat dengan teman-teman dekatku. Dia orangnya memang cepat akrab.

“Aku pergi dulu, eomma.” ujarku sambil beranjak pergi tanpa cipika cipiki terlebih dahulu. Aku memang agak berbeda dengan anak perempuan lain pada umumnya. Aku tidak terlalu suka bermanja-manja pada orangtuaku, ya walaupun aku ini anak tunggal dan selalu dimanja oleh kedua orangtuaku. Ya maksudnya bukan aku mandiri, aku jauh dari kata mandiri. Hanya aku tidak terlalu suka bermanis-manis seperti anak lain pada orangtuanya. Aku cenderung agak pasif di rumah. Agak kontras kalau sudah bertemu dengan teman-temanku di luar.

“Kau diizinkan membawa mobil?”

“Ini hasil kerja kerasku membujuk appa hehe. Aku berjanji akan kuliah lebih serius lagi, tidak ogah-ogahan seperti ini.”

“Jadi kau sengaja membujuk appamu dan berjanji akan berubah demi ini?”

“Ne. Untuk Noonaku, aku akan berusaha. Eh!”

Dia terkejut dengan ucapannya sendiri, seakan-akan apa yang dia ucapkan adalah suatu hal  yang salah. Omoooo aku jadi ikut salah tingkah! Aku harus mencairkan suasana.

“Hahaha terima kasih my dongsaeng. Kau memang sangat baik. Lagipula kau belum memberiku kado hehe.” candaku.

“Ah ne. Anggap saja ini adalah permintaan maafku karena terlambat memberimu kado hehe.” ujarrnya sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

“Hahaha baiklah. Ikuze! (let’s go!)”

*          *          *

Selama di dalam mobil aku berusaha sebisa mungkin mencairkan suasana. Walaupun aku merasa sedikit gugup. Tapi kelihatannya Gongchan bersikap seperti biasa. Aish kenapa aku ini? Bersikap aneh sendiri padahal tidak ada apa-apa.

“Ya, kita sampai.”

“Ini kan taman tempat kita biasa berkumpul dengan anak-anak B1A4 lain?”

“Ne, inilah tempat yang kumaksud.”

“Kenapa kau memilih tempat ini?”

“Tadinya aku ingin merayakan ulangtahun Noona di sini bersama member B1A4 yang lain.”

“Lalu ke mana mereka sekarang?”

“Jinyoung hyung kan masih sakit. Sedangkan yang lain sibuk dengan tugas kuliah masing-masing.”

“Oh ne, arasseo.”

“Tapi mereka sudah menitipkan kado mereka untuk Noona kepadaku. Itu, kadonya ada di kursi belakang.” ujar Gongchan sambil menunjuk kotak-kotak manis warna-warni dan berpita yang tertata rapi di kursi belakang mobilnya.

“Ah, gomawo. Aku kira mereka hanya akan memberiku kado ucapan selamat haha.”

“Tidak mungkin, Noona. Noona kan manager kami, jadi tidak mungkin kami seperti itu pada Noona hehe.”

Gongchan POV

“Ya, kita sampai.”

“Ini kan taman tempat kita biasa berkumpul dengan anak-anak B1A4 lain?”

“Ne, inilah tempat yang kumaksud.”

“Kenapa kau memilih tempat ini?”

“Tadinya aku ingin merayakan ulangtahun Noona di sini bersama member B1A4 yang lain.”

“Lalu ke mana mereka sekarang?”

“Jinyoung hyung kan masih sakit. Sedangkan yang lain sibuk dengan tugas kuliah masing-masing.”

“Oh ne, arasseo.”

“Tapi mereka sudah menitipkan kado mereka untuk Noona kepadaku. Itu, kadonya ada di kursi belakang.” ujarku sambil menunjuk kotak-kotak manis warna-warni dan berpita yang tertata rapi di kursi belakang mobil.

“Ah, gomawo. Aku kira mereka hanya akan memberiku kado ucapan selamat haha.”

“Tidak mungkin, Noona. Noona kan manager kami, jadi tidak mungkin kami seperti itu pada Noona hehe.”

Fiuuuuh syukurlah ternyata aku bisa berbohong juga. Gomawa hyung-hyungku, kalian sudah membantuku merencanakan semua ini. Memang aku tidak akan menyatakan perasaanku sekarang, tapi ini setidaknya menjadi salah satu cara untuk PDKT dengan Ji Yeon Noona.

“Kita keluar yuk, Noona? Kita duduk di bangku taman.”

Dia hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman. Manis sekali. Aku pun segera membukakan pintu untuknya.

“Noona, kau duluan saja ke sana.”

“Hah? Wae?”

“Sudah, Noona ke sana saja duluan.”

Terlihat sedikit berpikir, kemudian dia mengikuti apa yang kukatakan. Aku yakin, sebentar lagi dia akan terkejut dan menoleh histeris padaku.

CRING. Taman yang tadinya sedikit gelap, kini terlihat jauh lebih terang dengan lampu-lampu yang sudah aku dan hyung-hyungku persiapkan. Lampu-lampu itu menyala satu persatu dan kini sudah menerangi seisi taman. Kulihat Ji Yeon noona tiba-tiba berhenti berjalan dan terlihat mengangkat kedua tangannya.  Berhenti sejenak, lalu berbalik ke arahku. Kulihat matanya sedikit berkaca-kaca. Kuyakin rencana ini berhasil meluluhkan hatinya. Ya maksudnya membuatnya terharu, bukan langsung jatuh cinta padaku.

Oh my God, kini ia berlari ke arahku, dan…

“Gomawo, Gongchannie.” ujarnya sambil memelukku sedikit erat.

“Cheonma, Noona. Tanjoubi omedetou (selamat ulang tahun).” aku tidak bisa mebalas pelukannya karena aku sedang memegang sesuatu, “Ini.” lanjutku sambil menunjukkan sebuah kotak terbungkus kertas kado berwarna pink dengan pita putih berkilau setelah Ji Yeon melepaskan pelukannya itu.

“Huwaaaaaa besar sekaliiiiiii! Sudah kuduga, pasti kado yang paling besar itu milikmu. Tidak mungkin kan dari sahabat kecilku yang menyebalkan itu.” dia terlihat sangat senang dan segera mengambilnya dari tanganku, “Ige mwo ya?”

“Buka saja.”

Dia memanyunkan bibirnya dan segera membuka bungkusan tersebut. Begitu kado selesai dibuka, matanya terlihat terbelalak senang.

“Ini…ini….”

“Iya, itu boneka kucing yang Noona inginkan saat kita mencari kado untuk yeoja yang kusuka.”

Dia menatapku senang.

Arigatou, Gongchannie.”

DEG! Dia memelukku lagi! Aigoooooo!

“Aku senang sekali, Gongchan.” syukurlah dia segera melepaskan pelukannya. Kalau tidak, aku bisa terkena serangan asma saking sesaknya menahan perasaan berdebar-debar ini!

Ia langsung memeluk boneka kucing yang sudah lama ia idam-idamkan itu. Itu adalah boneka kucing yang ia inginkan saat jalan-jalan di mall denganku beberapa hari yang lalu. Saat itu alibiku adalah mencari boneka untuk yeoja yang aku sukai yang Ji Yeon noona tidak tau bahwa itu adalah dirinya sendiri. Tujuanku memang mencari barang yang dia suka. Jadi setelah dia menemukan barang yang dia suka, aku sudah tidak berniat mencari sesuatu lagi.

Sekarang kami duduk di bangku taman, di bawah pohon sakura yang sedang mekar dan lampu taman bulat yang menerangi tempat sedikit gelap itu karena bukan bagian dari tempat yang tadi kami beri lampu.

“Gongchannie~” ujarnya tiba-tiba sedikit manja.

“Ne, Noona?”

“Bukankah ini boneka kucing yang aku suka saat kita mencari hadiah untuk yeoja yang kau suka itu?”

“Ne. Ternyata Noona masih ingat ya?”

Un, mochiron (ya, tentu saja). Boneka ini lucu sekali tapi harganya sangat mahal. Sekali lagi, gomawo ya, Gongchannie.”

“Ne, cheonma, Noona.”

“Ngomong-ngomong, apa kau sudah menemukan kado untuk yeojamu itu? Lalu bagaimana perkembagnan hubunga kalian sekarang?”

DEG! Dia mengungkit masalah itu lagi! Aku kira dia sudah tidak peduli.

“Masih belum ada perkembangan, Noona. Mungkin aku akan menyatakan perasaanku di hari ulang tahunnya nanti.”

“Oh begitu ya.” dia terlihat menunduk kini.

“Noona, gwaenchana?”

“Ah, ne, nan gwaenchana, Gongchannie. Mm…memangnya yeojamu itu ulang tahunnya kapan?”

“Emm…sebentar lagi.” jawabku sedikit gugup.

“Oh.” ia menanggapinya singkat lalu menunduk dan memeluk boneka kucingnya erat. Ada apa dengan dia ya? Apa dia sedang sakit?

“Noona?”

“Ne?”

“Noona sedang sakit ya? Kenapa lesu begitu?”

“Ah ani ani, Gongchan. Aku hanya sedikit mengantuk, itu saja hahaha.”

“Oh kalau begitu, apa Noona mau pulang sekarang?”

“Ani, ani. Kau sudah susah payah menyiapkan semua ini untukku. Masa kita pulang begitu saja?”

Daijoubu, Noona. Kalau kau sudah ngantuk, lebih baik kita pulang saja. Lagipula besok Noona ada kuliah kan?”

“Ah, gwaenchana, Gongchan. Kita ngobrol-ngobrol saja dulu di sini. Aku mau sedikit curhat. Sudah lama kan kita tidak cerita-cerita. Ya sudah hampir seminggulah kita jarang bertemu.”

“Iya juga ya. Aku rindu pada Noona.”

Omigosh apa kubilang barusan? Kenapa aku mengatakan itu? Pasti pipiku sudah sangat merah sekarang. untung temaptnya sedikit gelap. Lebih baik aku menunduk agar Ji Yeon noona tidak bisa melihat wajahku yang sepertinya sudah seperti kepiting rebus ini.

“Jinjja? Aku juga.”

MWO? Apa dia bilang barusan?

Aku langsung melihat ke arah Ji Yeon noona. Kulihat ia menunduk dengan masih memeluk boneka kucingnya. Wajahnya sedikit tertutup oleh rambutnya yang panjang.

Setelah itu kami hanya terdiam. Hening. Tak ada yang berbicara. Sampai beberapa menit kemudian, Ji Yeon noona memulai pembicaraan tentang kejadian di rumah Jinyoung hyung tadi. Dia sedikit sedih dan terlihat berkaca-kaca. Ia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada mereka. Tapi mau bagaimana lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Toh ini juga sudah menjadi keputusan Jinyoung hyung untuk melepas Ji Yeon noona. Ia merasa tidak pantas untuk kembali pada Ji Yeon noona setelah kejadian itu. ia sudah sadar kini dan berniat untuk berubah. Ia tidak ingin Ji Yeon noona kecewa untuk kedua kalinya. Oleh karena itu, ia tidak ingin bersama Ji Yeon noona dulu sebelum dia benar-benar sudah berubah.

“Tapi aku lega mendengarnya, Noona. Walaupun kalian harus putus, tapi kalian putus secara baik-baik. Aku senang kalian sudah tidak bermusuhan lagi.”

“Iya, aku juga, Gongchan. Eh sudah malam. Pulang yuk?”

“Ne.”

Ji Yeon noona berjalan di depanku. Sebelum menuju mobil, aku menoleh ke arah banyak lampu tadi. Kulihat tiga orang namja sedang bersembunyi. Kukedipkan sebelah mataku sambil mengacungkan jempolku ke arah mereka. Ya, mereka adalah Sandeul hyung, Baro hyung, dan CNU hyung. Merekalah yang sudah membantuku yang sangat tidak berpengalaman dalam masalah cinta ini untuk merencanakan semua ini termasuk menyalakan lampu-lampu itu. Lalu kemana Jinyoung hyung? Tentu saja dia berada di rumahnya. Dia masih sakit. Tapi setidaknya sudah lebih baik daripada beberapa hari yang lalu.

*          *          *

Ji Yeon POV

Sekarang kami duduk di bangku taman, di bawah pohon sakura yang sedang mekar dan lampu taman bulat yang menerangi tempat sedikit gelap itu karena bukan bagian dari tempat yang tadi kami beri lampu.

“Gongchannie~” ujarku tiba-tiba.

“Ne, Noona?”

“Bukankah ini boneka kucing yang aku suka saat kita mencari hadiah untuk yeoja yang kau suka itu?”

“Ne. Ternyata Noona masih ingat ya?”

Un, mochiron (ya, tentu saja). Boneka ini lucu sekali tapi harganya sangat mahal. Sekali lagi, gomawo ya, Gongchannie.”

“Ne, cheonma, Noona.”

“Ngomong-ngomong, apa kau sudah menemukan kado untuk yeojamu itu? Lalu bagaimana perkembagnan hubunga kalian sekarang?”

Dia terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Masih belum ada perkembangan, Noona. Mungkin aku akan menyatakan perasaanku di hari ulang tahunnya nanti.”

“Oh begitu ya.”

Kenapa aku jadi lesu begini mendengar jawabannya?

“Noona, gwaenchana?”

“Ah, ne, nan gwaenchana, Gongchannie. Mm…memangnya yeojamu itu ulang tahunnya kapan?”

“Emm…sebentar lagi.” jawabnya.

“Oh”

Aigoo, ada apa denganku ini? Kenapa aku merasa tidak enak hati mendengar jawaban Gongchan barusan?

“Noona?”

“Ne?”

“Noona sedang sakit ya? Kenapa lesu begitu?”

“Ah ani ani, Gongchan. Aku hanya sedikit mengantuk, itu saja hahaha.”

“Oh kalau begitu, apa Noona mau pulang sekarang?”

“Ani, ani. Kau sudah susah payah menyiapkan semua ini untukku. Masa kita pulang begitu saja?”

Daijoubu, Noona. Kalau kau sudah ngantuk, lebih baik kita pulang saja. Lagipula besok Noona ada kuliah kan?”

“Ah, gwaenchana, Gongchan. Kita ngobrol-ngobrol saja dulu di sini. Aku mau sedikit curhat. Sudah lama kan kita tidak cerita-cerita. Ya sudah hampir seminggulah kita jarang bertemu.”

“Iya juga ya. Aku rindu pada Noona.”

DEG! Kenapa aku jadi berdebar-debar begini karena pernyataannya barusan? Wajar saja kan kalau dia bilang rindu padaku? Kami kan memang dekat. Wajar saja kalau dia rindu padaku. Aishhhh ada apa denganku? Aku harus jawab apa sekarang? Ah aku akan berusaha bersikap biasa saja.

“Jinjja? Aku juga.” timpalku sambil tertunduk dan memeluk boneka kucingku erat.

Setelah itu kami hanya terdiam. Hening. Tak ada yang berbicara. Sampai beberapa menit kemudian, aku memulai pembicaraan tentang kejadian di rumah Jinyoung oppa tadi.          “Tapi aku lega mendengarnya, Noona. Walaupun kalian harus putus, tapi kalian putus secara baik-baik. Aku senang kalian sudah tidak bermusuhan lagi.”

“Iya, aku juga, Gongchan. Eh sudah malam. Pulang yuk?”

“Ne.”

Kami segera menuju mobil. Aku berjalan di depan Gongchan. Aku tidak mau berjalan di sampingnya. Aku takut tiba-tiba salah tingkah karena perasaanku yan sedang aneh ini.

Sesampainya di dekat mobil, Gongchan membukakan pintunya untukku. Wah romantis sekali. Berbeda dengan Teuki oppa -__-

“Gomawo, gongchannie.”

“Ne, Noona.”

Omooooo senyumnya membuat hatiku berdebar-debar lagi. Omooooo, Jung Ji Yeon what’s wrong with you huh?

Beberapa menit pertama, kami saling diam. Baru beberapa menit kemudian, aku membuka permbicaraan karena baru teringat dengan sesuatu yang terjadi di taman tadi.

“Gongchannie?”

“Ne, Noona?”

“Tadi, tentang lampu-lampu itu, siapa yang menyalakannya?”

Bukannya menjawab, dia malah terlihat sedikit tegang.

“Ah, emm, itu…itu…itu rahasia! Hahaha.”

Aishhh jawaban macam apa itu? Tapi aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan itu. Biarlah dia menyimpan rahasianya sendiri. Lebih baik aku membicarakan hal lain.

*          *          *

Tak terasa sudah hampir sebulan semenjak ulangtahunku. Kini jantungku sudah normal. Aku sudah tiba berdebar-debar lagi jika dekat Gongchan. Hanya saja sekarang otak dan perasaanku yang tidak beres. Akhir-akhir ini wajah Gongchan sering mampir di otakku dan mendominasi di sana. Selain itu walaupun aku sudah tidak merasa berdebar-debar lagi, sekarang aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Aku merasa nyaman di dekat Gongchan. Ya dari dulu juga aku memang nyaman berada di dekatnya, karena itu aku sangat dekat dengannya. Hanya saja perasaan nyaman yang kurasakan sekarang berbeda dengan perasaan nyaman sebelumnya. Dan aku tidak yakin dengan perasaan macam apa yang sedang melandaku saat ini.

‘Dreeet dreeeet’ kurasakan iphoneku bergetar di dalam tas.

From : Teuki oppa

Ji Yeon-ah, eodi ya?

 

To : Teuki oppa

Aku sedang menuju ke taman, oppa. Aku baru selesai kumpul klub.

 

Aku sedikit mempercepat langkahku. Karena sepertinya Teuki oppa sudah sampai duluan.

“Mian, oppa. Aku sedikit terlambat.”

“Ne, gwaenchana. Ayo duduk sini.” ujar Teuki oppa sambil menepuk-nepuk bangku taman tanda mempersilahkanku duduk di sebelahnya.

Tanpa berbicara apa-apa, aku langsung duduk di sebelahnya. Setelah itu baru aku menagajaknya bicara.

“Wae, oppa? Apa yang ingin kau tunjukkan padaku?”

“Ini.” kini ia menyodorkan sebuah benda tipis lebar yang dibungkus kertas warna coklat.

“Ige mwo ya?”

“Buka saja.”

Ah kata-katanya sama saja dengan yang Gongchan ucapkan saat memberiku kado.

“Mwo? Bukankan ini…ini…lukisan wajahku?” tanyaku heran sekaligus terkejut ketika melihat isi dari bungkusan itu.

“Oppa, jangan cuma tersenyum. Jawab dulu pertanyaanku!”

“Ne, Ji Yeon-ah. Itu lukisan wajahmu.”

“Ke…kenapa…kenapa oppa melukis wajahku?”

“Bukankah kemarin aku sudah bilang akan melukis wajah seseorang? Oleh karena itu kemarin aku memintamu mengantarku untuk membeli peralatan melukis.”

“Ja…jadi…peralatan lukis yang kemarin kau beli itu untuk melukisku?”

Un.

“Ta…tapi…kenapa kau melukisku?”

“Karena ingin saja hahahaha.”

“Aishhhh oppa ini.”

“Bagaimana lukisannya? Jelek ya? Mian kalau jelek. Aku baru belajar melukis dua bulan terkahir ini.”

“Ani, oppa. Ini bagus sekali. Begitu pulang, pasti langsung aku pajang di kamar hehe.”

“Hahaha gomawo atas pujiannya.” kali ini dia mengacak rambutku. Tpai aku tidak merasa deg-degan. Aku hanya merasa nyaman, seperti dengan Gongchan dulu. Aneh juga sebenarnya jika kau tidak tertarik dengan namja setampan dan sekeren dia. Tapi nyatanya memang seperti itu.

“Sebenarnya, beberapa hari yang lalu, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Tapi mengingat pengalamanmu yang tidak menyenangkan dengan Jinyoung sebulan yang lalu, aku tidak jadi mengtakannya. Aku tidak ingin kau mengalami hal seperti itu untuk kedua kalinya.”

Ma….maksudnya?

“Apa kau mengerti maksudku?” seakan bisa membaca ekspresiku, dia bertanya seperti itu. Aku hanya menggeleng polos dengan dahi mengkernyit.

“Hmm, begini deh, kuberi petunjuk. Aku ini seorang playboy dan aku tidak ingin kau jatuh ke pelukan dua playboy sekaligus dalam kurun waktu yang cukup dekat. Apa kau sudah mengerti?”

Ma…maksudnya…

“Ma…maksudnya…oppa…menyuka…”

“Sst, tidak usah diteruskan. Jika kau sudah mengerti, simpan saja dalam hati. Dari ekspresi dan kata-kata yang belum selesai kau ucapkan barusan, kelihatannya kau sudah mengerti maksudku.”

Aku hanya diam terpaku mendengar pengakuan tersiratnya itu. Aku sama sekali tidak menyangka kalau Teuki oppa akan suka padaku. Aku ini kan orangnya polos dan kekanakkan. Bagaimana bisa Teuki oppa yang begitu keren dan tampan menyukaiku? Ya Tuhan, ini benar-benar sebuah mukjizat!

“Selain itu, dari cerita-cerita yang kudengar darimu tentang Gongchan, kurasa ada sesuatu yang tidak kau sadari dari apa yang kau rasakan selama ini.”

Mwo? Kali ini apa lagi yang ingin dimaksud Teuki oppa? Omo oppaaaaa jangan berbicara tersirat seperti ini lagi, otakku tidak sampai!

“Kurasa…kau menyukainya.”

DEG! Mwo? Kenapa jantungku tiba-tiba berdebar-debar seperti ini mendengar apa yang dikatakan Teuki oppa barusan?

“Apa ka masih tidak sadar juga? Kalau begitu, pergilah menemuinya, tatap wajahnya dalam-dalam, dan pikirkan baik-baik perasaanmu itu.”

MWO?

“Kenapa diam saja? Ayo telepon dia dan minta dia untuk menemuimu malam ini.”

“Emm…itu…kebetulan kami sudah berjanji untuk bertemu sekarang.”

“Good. Kalau begitu, persiapkan dirimu sebaik mungkin. Dan yakinkan perasaanmu dari sekarang.”

Aku hanya terbengong-bengong mendengar saran Teuki oppa barusan. Perasaanku sudah campur aduk dan tidak jelas.

*          *          *

Entah sudah yang ke berapa kalinya aku mematut diri di depan kaca toilet kampus. Entah apa yang mendorongku saat ini hingga ingin terlihat sempurna di hadapan Gongchan.

“Apa benar ya yang dikatakan Teuki oppa tadi?” tanyaku sambil masih berkaca dan memegangi kedua pipiku.

‘Dreeet dreeeet’ iphoneku bergetar.

From : B1A4 Gongchan

Noona, eodi ya?

 

To : B1A4 Gongchan

Aku masih di fakultas, sebentar lagi aku ke depan.

 

Benar kan jantungku sekarang sudah normal, tidak deg-degan lagi kalau ada sesuatu yang menyangkut Gongchan. Sayangnya perasaanku yang jadi aneh. Ahhhhhh Teuki oppa, apa benar yang kau katakan tadi?

TBC..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s