My Invisible Guardian Angel – Part 6

Author     :Levina Putri (twitter @puputlevina)

Judul        : My Invisible Guardian Angel – Part 6

Kategori   : Romance, friendship

Rating       : Teens

Main cast : – Jung Ji Yeon as You

– B1A4 Gongchan as Gong Chan Shik

– B1A4 Jinyoung as Jung Jin Young

Other cast : – Super Junior Leeteuk as Park Jung Soo/Leeteuk/Teuki

– Other B1A4 members

Jiyeon POV

Gomen, aku sedikit terlambat.”

“Ah, ani yo, Noona. Aku juga baru  sampai kok.”

“Oh. Kalau begitu ayo kita berangkat.”

Kami segera berjalan ke depan kampus, menuju halte bis yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan kampus kami. Tak lama kami menunggu, bis yang ditunggu-tunggu sudah datang. Tentu saja Gongchan mempersilahkanku masuk duluan. Kebetulan kondisi bis saat itu masih sedikit kosong, jadi kami bebas memilih tempat duduk. Aku memilih tempat duduk ketiga dari depan dan dekat jendela. Itu tempat duduk favoritku di bis. Gongchan duduk di sebelahku. Kami ngobrol-ngobrol sebentar, tapi tak lama kemudian rasa ngantuk menghampiriku. aku arahkan wajahku ke jendela dan beberapa saat kemudian…

“Noona, sudah sampai.” kurasakan seseorang menepuk bahuku.

“Emm…cepat sekali.” ujarku sambil mengucek mata. Aku masih ngantuk.

“Ini sudah lebih dari setengah jam, Noona.”

Maji de?

“Iya. ayo turun.”

Setelah turun dari bis, kami langsung berjalan ke sebelah kiri menuju Namsan Tower, salah satu ikon kota Seoul. Kalau berjalan berdua memang tidak terasa, sudah sampai lagi. Kami langsung menuju lift dan naik ke lantai paling atas. Pemandangan kota Seoul malam hari memang sangat indah. Lampu-lampu dan gedung-gedung yang tinggi menghiasi pemandangan dari dalam lift. Ditambah dengan jalanan yang ramai oleh mobil, orang-orang, dan jajanan pinggir jalan. Makin ramai saja suasana malam kota Seoul ini.

Sesampainya di lantai paling atas, kami bingung mau melakukan kegiatan apa. Sebenarnya ini juga ide spontan yang muncul dari Gongchan saat kami ngobrol dan aku langsung menyetujuinya. Kalau orang yang pacaran kan bisa sambil pacaran. Nah kalau aku dan Gongchan? Ya sama saja seperti pergi dengan teman. Dan tidak enaknya, ini satnite. Banyak orang-orang yang pacaran di sini. Hampir 80% pengunjung Namsan Tower malam ini adalah pasangan kekasih. Sedangkan aku dan Gongchan? Ya kalau orang yang tidak tau mungkin mengira kami pacaran. Tapi bagiku pribadi, ini cukup menyebalkan juga. Melihat orang yang pacaran di mana-mana (sementara aku sendiri sedang single -_-). Ya bodohnya aku malah mau pergi ke sini malam ini.

“Noona, lihat, itu gedung kampus kita! Terlihat kecil sekali ya dari sini.”

“Oh iya benar. Selama kuliah, aku baru dua kali ke sini. Dan itu sudah lama sekali, sekitar setahun yang lalu, saat aku pertama kali masuk kuliah.”

Tapi melihat-lihat pemandangan malam Seoul bersama Gongchan ternyata tidak buruk juga. Banyak yang bisa kami bicarakan di sini. Tapi sialnya di tengah-tengah ketenangan ini, rasa deg-deganku tiba-tiba muncul saat melihat senyum Gongchan. Aishhhh kurasa wajahku sedikit memerah. Ah aku jadi kepikiran lagi kata-kata Teuki oppa tadi!

Tak terasa sudah satu jam lebih kami mengelilingi Namsan Tower. Kurasa sudah saatnya pulang.

“Pulang sekarang yuk?” ajakku.

“Ayo.”

Kami berjalan menuju arah lift.

“Eh, ponselku…”

“Wae yo, Gongchannie?”

“Emm rasanya ponselku tertinggal di lantai tiga tadi saat aku memotret dan menyimpan ponselku di kursi. Ah pabo ya.”

“Oh kalau begitu ayo kita ke sana sekarang!”

“Tidak usah, Noona, biar aku saja.”

“Hmm baiklah, aku tunggu di sini ya. Semoga ponselnya masih ada di sana.”

“Iya.”

Author POV

Gongchan segera berlari masuk ke dalam lift menuju lantai tiga. Sesampainya di lantai tiga, Gongchan langsung berlari ke arah kursi yang diyakininya sebagai tempat kejadian tadi.

“Tidak ada…”

Sementara itu di tempat Ji Yeon…

“Gongchan? Oh ternyata ponselnya sudah ditemukan. Syukurlahl. Tapi kenapa dia meneleponku ya? Yeobeoseyo?”

“Yeobeoseyo. Ini dengan nona Jung Ji Yeon?”

‘Hah? Ini bukan suara Gongchan.’ gumam Ji Yeon.

“Ne, naneun Jung Ji Yeon imnida. Nuguseyo?”

“Saya menemukan ponsel ini di kursi lantai tiga. Karena takut ada yang mengambil, jadi saya berinisiatif untuk mengambil ponsel ini dan menelepon seseorang yang ada di speed dial ponsel ini.”

“Speed dial?”

“Ya, di sini nomor anda tercatat di speed dial nomor satu.”

‘Mwo? Nomor satu? Biasanya kan orang di speed dial nomor satu itu orang yang sangat penting. Dulu saja aku menyimpan nomor Jinyoung oppa di posisi satu (sebenarnya sampai sekarang juga masih, aku selalu lupa menggantinya).’

“Oh begitu ya. Ya sudah, sekarang anda ada di mana?”

“Saya masih di lantai tiga di dekat tangga.”

“Baiklah kalau begitu sekarang saya ke sana. Kamsahamnida.”

Ji Yeon berlari menuju tangga karena liftnya sedang penuh.

Sementara itu…

“Haduh, ponselku di mana ya? Ji Yeon noona pasti masih menungguku. Lebih baik aku turun dulu menemuinya sekarang.”

Dari dua lantai yang berbeda, mereka menelusuri tangga yang sama. Sampai di tengah-tengah tangga, saat mereka hendak belok, ternyata…chu~. Mereka tidak sengaja berciuman. Mereka sangat kaget sampai diam terpaku. Lalu tak lama kemudian, mereka melepaskan diri masing-masing. Ji Yeon langsung berbalik dan berlari menuruni tangga tanpa berkata apa-apa. Dan Gongchan yang biasanya sangat peduli dengan Ji Yeon kali ini sibuk dengan pikirannnya sendiri. Dia hanya diam terpaku dan memegangi bibirnya.

‘Omooooooo apa yang terjadi barusan?????’ gumam Ji Yeon di dalam taxi. ‘Lalu kenapa aku malah lari begitu saja????? Oh  iya, aku sampai lupa memberitahu masalah ponselnya! Lebih baik kuhubungi lagi orang tadi.’

“Yeobeoseyo.”

“Yeobeoseyo. Noona, kau di mana sekarang?”

E~, Gongchan? Ponselnya sudah ada di tangan Gongchan?’

“Kau sudah menemukan ponselmu?”

“Ne. Tadi ada orang yang mengamankan ponselku. Kebetulan tadi wallpaper ponselku adalah fotoku dan hyung-hyungku. Jadi saat melihatku yang juga terlihat sedang kebingungan mencari sesuatu, orang itu langsung menyapaku dan bertanya apakah ponsel ini milikku.” Gongchan menjelaskan panjang lebar.

“Oh, yokatta.

“Sekarang Noona di mana?”

“Aku…emm…aku sudah di taxi.”

“Oh begitu ya. Hati-hati, Noona. Maaf aku tidak bisa mengantarmu.”

“Ne.”

Tanpa membahas kejadian tadi, mereka memutus sambungan telepon mereka. Mereka masih sangat shock dengan kejadian tadi.

*          *          *

Dua bulan kemudian…

Ji Yeon POV

Musim semi yang sejuk telah berakhir dan kini angin musim panas mulai bertiup lembut di kotaku. Kurang lebih sudah dua bulan sejak kejadian di Namsan Tower itu. Aku sangat terkejut saat itu. Aku berciuman dengan Gongchan? Andwae, aku tidak pernah sama sekali membayangkan hal itu sebelumnya. Apalagi dengan cara seperti itu. Tapi aku bersyukur dengan adanya kejadian itu. Sekarang aku mengerti apa yang kurasakan. Ternyata perasaan aneh yang kurasakan selama ini adalah perasaan suka. Aku menyukai Gongchan. Karena kalau berciuman secara tidak sengaja dengan orang yang tidak aku suka, pasti aku akan sangat merasa kesal. Tapi tidak dengan perasaanku saat itu. Aku merasa fine-fine saja. Justru terselip rasa senang di balik keterkejutanku itu.

Rasa suka itu dimulai sejak dua hari setelah aku bermasalah dengan Jinyoung oppa, lebih tepatnya hari di mana aku resmi putus dengannya. Aku mulai merasakan rasa berdebar-debar itu sejak melihatnya bermain gitar dan menyanyikan lagu Fumiya Fuji. Aku sendiri juga heran kenapa bisa begitu. Itu pertama kalinya aku melihat Gongchan  dari sisi yang lain. Itu pertama kali aku melihat karismanya.

Mungkin aku terbilang cukup cepat menyukai namja lain. Tapi aku juga tidak mengerti, perasaan itu datang begitu saja. Mungkin itu muncul karena aku sudah lama merasa nyaman dengannya dan saat aku terpuruk, ia selalu ada di sampingku, termasuk saat ada masalah dengan Jinyoung oppa. Pelarian? Ani. Kalau memang pelarian, mungkin aku sudah menyadari perasaan ini sejak saat itu. Saat itu yang kurasakan hanya rasa berdebar-debar dan pikiran yang selalu penuh dengan wajah Gongchan, tapi tidak tau perasaan apa itu. Dan orang yang telah membantuku untuk menyadari semua ini adalah Teuki oppa. Arigatou, Teuki-niichan J

Gongchan POV

Sudah dua bulan semenjak insiden Namsan Tower itu. Dan semenjak itu, kami semakin dekat. Tapi tidak pernah kami membahas kejadian itu. Kami anggap saja itu mimpi. Dan bagiku, itu mimpi yang sangat indah walaupun aku sangat terkejut saat itu.

Sebenarnya aku belum yakin dengan perasaan Ji Yeon noona padaku saat ini. Tapi aku melihat ada sedikit perubahan sikap darinya. Aku rasa sekarang dia jadi lebih manja padaku, sudah hampir semanja dia pada Jinyoung hyung dulu. Dan sekarang dia jadi lebih sering berkomunikasi denganku, baik lewat sms, telepo, cyworld, dan juga kami lebih intensif bertemu dari sebelumnya. Kuharap ini pertanda baik.

Dan setelah mengumpulkan keberanian selama kurang lebih satu minggu, aku putuskan untuk menyatakan perasaanku hari ini!

“Huaaaa enak sekali lemonadenya!”

“Iya, segar sekali, Noona.”

Kami menyenderkan punggung di pohon besar di belakang bukit kampus untuk mencari keteduhan. Suasana di sini tenang sekali dan segar. Sangat cocok untuk menyatakan perasaan di musim panas!

“Oh iya, apa yang ingin kau katakan?”

“Eh…itu….emm….aku….aku….”

Ji Yeon noona hanya menatapku dengan polos sambil menyedot lemonadenya. Omooooo imut sekali!

“Itu…aku….aku sebentar lagi berulangtahun yang ke-18 hahahaha.”

E~? Gongchannie, kau ini….”

Omooooo dia mencubit pipiku sambil menggembungkan pipinya. Sudah seperti orang pacaran saja. Hmm…kesempatan pertama gagal. Aku harus mencobanya sekali lagi! Yosh!

“Emm…Noona…”

Un?

Omoooo dia menunjukkan wajah polosnya lagi! Itu berhasil membuatku mematung dan tidak bisa mengatakan apa-apa.

“Wae, Gongchan?”

“Emm…emm…” aku mulai meremas-remas tanganku yang berkeringat dingin, “Aku…aku…aku…aku sedang malas kuliah akhir-akhir ini, Noona hahahahahaha.”

My God! Apa lagi yang kukatakan barusaaaaaaaaaan!

“Ah, ii ne! Aku justru sedang malas-malasnya ini. Suasana musim panas benar-benar membuatku semakin malas. Suasana musim panas enaknya dipakai malas-malasan hahaha.”

Omoooo, Noona, kau tidak bisa menangkap arti dari situasi ini ya? apa kau ntidak mengerti dengan kegugupanku barusan? Arrrrrrggggh namja macam apa aku ini? Sudah mau 18 tahun tapi tidak berani mengungkapkan perasaan pada yeoja yang aku suka. Terlebih aku sudah menyukainya hampir selama setahun ini!

“Eh dengerin musik yuk?” ujar Ji Yeon noona sambil menyodorkan sebelah earphonenya padaku.

“Ini…”

Un.

(Backsong : Yui – Summer Song)

Omo, ini lagu kenanganku saat pertama kali menyukai Ji Yeon noona. Aku masih ingat, sepulang dari mencari gantungan ponselku setahun yang lalu, kami mendengarkan lagu ini di bis. Ya, karena saat itu juga musim panas, seperti sekarang. Ah aku jadi semangat lagi! Semangat Gongchan Shik!

“Noona.”

“Ne?”

Ah kali ini aku tidak akan kalah dengan wajah polosnya!

“Aku…aku…menyuka…”

I remember you, nal tteonan neo, dorawa, so i need you baby

“Yeobeoseyo.”

Oh my Gooooooooood cobaan macam apalagi kali ini? di saat aku sudah mengumpulkan keberanian, justru ada halangan! Arrrgh shit!

“Ne, eomma. Annyeong.”

Dia menutup teleponnya.

“Gongchannie, sepertinya aku harus pulang sekarang, barusan eomma meneleponku.”

Mwo?

“Emm…ne.”

Ahhhhh bagaimana ini? Kapan aku harus menyatakan perasaanku ini!

*          *          *

Ji Yeon POV

“Sandeul? Ada apa malam-malam begini dia menelepon?” ujarku heran saat melihat nama B1A4 Sandeul terpampang di layar iphoneku, “Ada apa marmut menelepon malam-malam begini?”

“Mwo? Kau ini ya! Padahal aku sudah berniat akan bicara baik-baik padamu! Hah ya sudahlah. Langsung ke inti pembicaraan. Aku mau minta bantuanmu, boleh tidak?”

“Bantuan? Bantuan apa?”

“Begini…”

“MWO? Berpura-pura jadi pacarmu?”

“Sst tenang dulu! Aku hanya butuh sehari kok, hanya untuk memanas-manasi yeoja yang kusuka. Jebaaaaal (ala di MV Only Learned The Bad Thing)”

“Hmm…baiklah baiklah. Tapi ngomong-ngomong aku lega sekali mendengar pengakuanmu barusan hihihi.” godaku.

“Hah? Lega?”

“Ya, selama ini kan kau tidak pernah dekat dengan seorang yeoja selain denganku. Apalagi curhat masalah perasaan suka.”

“Ya! Jadi selama ini kau khawatir aku homo ya?”

“Iya hahahaha. Aku kira kau benar-benar hanya suka pada Gongchan.”

“Hei memangnya selama ini kau pernah mengatakan aku suka pada Gongchan ya? Itu kan bisa-bisanya kalian saja mebuat gosip tidak jelas. Atau jangan-jangan…kau cemburu ya?”

Deg! Dia bisa-bisanya membalikkan kata-kataku! Selama ini aku memang sering curhat padanya tentang perasaanku pada Gongchan. Tapi aku tidak mengatakan perasaan sukaku apalagi masalah ciuman di Namsan Tower itu. Aku hanya menceritakan perasaan berdebar-debarku saat bersamanya. Memang aku sedikit malu, tapi kalau hanya dipendam saja atau hanya menceritakannya pada Minha dan Teuki oppa. Itu tidak cukup untuk menenangkanku.

“Ya! Lee Jung Hwan a.k.a Sandeul! Untuk apa aku cemburu hah? Kapan aku bilang kalau aku suka pada Gongchan?”

“Tidak suka tapi sering berdebar-debar hihihihi.”

“Hih ya sudah! Aku tidak mau membantumu kalau begitu! Sudah ya!” aku berbicara seakan mau menutup telepon.

“Ya ya ya! Mianhae mianhae, Ji Yeon-ah! Baiklah aku tidak akan menggodamu lagi. Pokoknya besok kau harus membantuku ya!”

“Begitu dong. Besok jam berapa? Terus tempatnya di mana?”

“Besok jam delapan malam aku jemput ke rumahmu. Jadi kau siap-siap saja ya! Dandan yang rapi dan cantik.”

“Ne, kalau masalah cantik tidak usah dandan juga aku sudah cantik. Kau sudah mengenalku selama 13 tahun, masa kau tidak sadar?”

“Ah mulai. Sudah ah, aku mau tidur. Sekali lagi, besok jangan lupa dandan yang cantik ya. Oyasuminasai.

*          *          *

Author POV

“Ternyata bisa juga ya kau berdandan cantik.” ujar Sandeul sambil memandangi Ji Yeon dari atas sampai bawah dan mengangguk-angguk layaknya seorang pemerhati style.

“Ya! Apa kau bilang? Ya sudah, aku tidak jadi membantumu.”

“Eh eh eh, ya sudah ya sudah mianhae, Jung Ji Yeon yang sangat cantik. Sekarang silahkan masuk ke dalam taxi.”

Tanpa banyak berkata, Ji Yeon masuk ke dalam taxi yang sudah dibukakan pintunya oleh Sandeul.

“Memangnya yeoja yang kau suka itu siapa? Maksudnya teman kampusmu atau apa?” tanya Ji Yeon setelah duduk di dalam taxi.

“Teman kampusku.”

“Hah? Yeoja itu sejurusan dengan kita?”

“Ani yo, dia teman satu klubku.”

“Oh. Kau punya fotonya tidak? Aku mau lihat yeoja pertama yang bisa membuatmu tertarik itu.” tanyanya dengan tatapan jahil.

“Ya! Biasa saja nyebut kata pertamanya!”

“Tapi memang kaaaan?” goda Ji Yeon lagi. Dia memang suka menggoda Sandeul.

“Nanti saja lihat di sana.”

“Hmm…baiklah. Awas ya kalau tidak lebih cantik dariku!” ujar Ji Yeon lagi sambil menjulurkan lidahnya.

“Itu sudah pasti!”

Beberapa menit kemudian…

“Nah, kita sudah sampai.”

“Oh…di restoran ini ya? Hmm romantis juga. Memang acaranya acara apa sih?”

“Lihat saja nanti. Ayo!”

Mereka masuk ke dalam restoran mewah itu. Sandeul berjalan ke sebuah ruang khusus di pojokan sana.

“Emm kau masuk saja duluan, aku mau ke toilet dulu.”

“Ah tidak mau, akukan tidak tau acaranya seperti apa.”

“Sudahlah masuk saja. Ya ya ya? Biasanya juga kau tidak malu-malu kan?”

“Hmm…ya sudahlah. Tapi jangan lama-lama ya.”

Sandeul hanya menjawab dengan acungan jempol ala 2PM di MV I’ll Be Back dan tanpa membalikkan badannya.

‘Tapi sepertinya ruangan ini sepi dan kecil. Rasanya tidak mungkin ada acara pesta di sini. Tapi kalau bukan acara pesta, lalu acara apa yang bisa mempertemukan Sandeul dan yeoja itu?’ gumam Ji Yeon.

Karena penasaran, dia segera meraih gagang pintu ruangan itu, membukanya dan melongok masuk ke dalamnya.

“Tidak ada orang?”

Dia melanjutkan langkahnya ke dalam. Terlihat ada sepasang kaki seseorang yang tidak terlihat wajahnya di balik piano klasik berwarna hitam.

“Annyeonghaseyo?” Ji Yeon melangkah menuju piano itu.

Bukan jawaban yang didapat, tapi dentingan piano yang begitu merdu diiringi sebuah nyanyian.

Don’t wanna hurt nobody. This is a song for you. Skippin all the afterparties, Girl, I’m goin home with you. Don’t even think about it, you gon feel what we gon do. Cause we’ll be falling in love all night long. Said I know she wanna be mine tonight.”

(Backsong : JYJ – Be My Girl)

One look from you girl and it’s too hard to get by. But excuse me girl, I been watchin you all night, that’s right, I’d like to take this night over. What I’m trying to say is you should be mine. You should be my baby, baby, baby, baby, baby, baby, you should be my girl. Would you be my girl?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s