Love Is Tennis

Author     : Levina Putri (twitter @puputlevina)

Title         : Love is Tennis

Genre       : Romance, a bit sport

Rating      : Teens

Main cast : – B1A4 Baro as Baro/Cha Sunwoo

–           Kim Richan (maybe) as You

Other cast : – B1A4 Jinyoung, Gongchan, Sandeul, CNU

–          IU as Lee Ji Eun

–          f(x) Sulli as Sulli and Choi Jinri (maksudnya beda orang tapi pemainnya itu-itu juga)

annyeong readerdeul ^^

ff ini terinspirasi dari pengalaman author (tapi endingnya beda -_-). tapi aslinya tentang bulu tangkis. cuma kalo ni ff dikasih judul ‘love is badminton’ kan ga unyu, jadi kaya slogan event olahraga atau ftv ftv gitu ㅋㅋㅋ

okay, happy reading, jangan segan-segan untuk tinggalkan jejak, gomawo ^^

 

Author POV

“Hahahahaha Teuki oppa itu memang unyu-unyuuuuu (?). Ah~ aku makin cinta saja padanya~” seorang yeoja berseragam sekolah terlihat berseri-seri saat membicarakan idol biasnya.

“Aaaaah!!” semua siswa di bis sekolah itu menjerit saat supir mengerem bis mendadak.

“Ish! Si ahjussi main rem mendadak saja! Hampir saja kacaku jatuh!” ujar seorang yeoja yang duduk di sebelah yeoja tadi.

Tiba-tiba naiklah seorang namja dan seorang yeoja ke dalam bis itu. Bis tampak hampir penuh, hanya 2 tempat di dekat dua yeoja tadi yang masih kosong.

“Ah, kau duduk di situ saja, aku di sini.” namja itu menyuruh si yeoja duduk. Sedangkan si namja duduk tepat di sebelah Richan. Richan sudah memperhatikan namja itu dari tadi.

‘Tampan juga.’ gumamnya dalam hati.

*          *          *

Richan POV

“Mwo?! Jinyoung oppa jadian dengan temanmu?!”

“Ne, dia jadian dengan Ji Eun, temanku di klub tennis.”

“Aigoo, untung aku sudah keluar. Sudah bisa kubaca, namja yang satu itu memang playboy! Aku menyesal sudah pernah masuk klub itu hanya gara-gara ingin dekat dengannya.”

“Ya, Sulli-ah, sadarkah kau siapa yang telah membawaku ke klub tenis?”

“Hehe aku…”

“Hmm sekarang aku tidak mungkin mundur lagi. Aku sudah kenal banyak sunbae walaupun belum dekat, kecuali si sombong Jinyoung itu cih! Karena aku sudah mengenal banyak sunbae, aku tidak mungkin keluar begitu saja. Sudah masuk klubnya agak telat, masa keluar paling cepat juga.”

“Kekeke sabarlah, Richan-ah. Aku yakin pasti ada hikmah di balik semua ini kekeke.”

Aku hanya mendelik ke arah Sulli. Sulli hanya cengengesan dengan gaya aegyonya.

*        *          *

“Aish malas sekali rasanya tiap kali berangkat latihan tenis, padahal setelah berada di sana pasti aku betah.”

“Richan-ah!”

“Ah, Ji Eun-ya!”

Aku tersenyum pada Ji Eun. Tapi rasanya aku ingin menarik kembali senyumku saat melihat namja di belakangnya. Jinyoung sunbae, ne, namja yang sok tampan. Dia hanya akan meladeni yeoja-yeoja cantik dan hanya akan meladeni yeoja pas-pasan jika yeoja itu menyapanya lebih dulu. Tapi aku heran kenapa dia selalu tidak menghiraukanku setiap aku ikut merespon perkataannya. Itulah yang membuatku kesal padanya. Pilih kasih sekali. Pernah suatu kali aku bercanda dengan Ji Eun dan aku tersenyum juga padanya, tapi dia sama sekali tidak tersenyum padaku. Bahkan saat ia bicara dan mengajak Jinri bercanda dan aku ikut dalam pembicaraan mereka, dia malah berhenti bicara dan langsung pergi. Bagaimana bisa aku tidak sebal padanya kalau kelakuannya seperti itu?

Padahal dia sangat tampan. Aku masih ingat dulu pertama kali melihatnya saat naik bis sekolah (sekolah kami begitu besar, jadi ada bis gratis sebagai transportasi di dalam sekolah) dan ternyata sorenya, saat aku pertama kali masuk klub tenis aku begitu kaget saat melihatnya juga ada di sana, masih dengan seragam, sepatu, dan tas yang sama.

“Ah, Ji Eun-ya, sunbae-ya, aku masuk duluan ne. Annyeong.”

Ji Eun terlihat sedikit heran, “Ne.”

Dan seperti yang kuduga, si Jung Jinyoung itu tidak merespon ucapanku bahkan tidak tersenyum sama sekali padaku.

“Ish menyebalkan sekali orang itu. Bahkan bertemu pun ia tidak senyum padaku. Aish sunbae macam apa…”

“Ya! Baru datang malah bicara sendiri!”

“Aigoo! Sandeul sunbae! Kau mengagetkanku!”

“Hahaha itu lebih baik daripada kau kerasukan karena melamun seperti itu.”

“Ya semuanya! Kita mulai latihannya!”

Baru saja datang, CNU sunbae sudah memulai latihan saja -_-

*          *          *

Baro POV

Yes! Akhirnya yeoja itu latihan lagi! Sudah seminggu ini aku menunggu yeoja itu latihan. Aku tidak tau namanya siapa. Yang jelas aku menyukainya. Aku lihat dia orangnya ramah dan lucu, ia sering tertawa dan bercanda dengan anggota lain. Wajahnya juga imut. Aku juga pernah mencoba bicara padanya sekali dan ia meresponnya. Ia memang ramah.

“Ya! Itu yang memakai kaus hijau!” yeoja itu menoleh ke arahku dengan wajah innocent tanpa rasa takut. Padahal aku sudah memanggil dengan nada tinggi seperti akan marah. Aku berniat untuk menjahilinya, tapi tidak jadi karena aku tidak tega dengan puppy eyesnya, “Siapa namamu?”

Gongchan yang sedang melatih langsung mendelik jahil ke arahku, “Kau mau apa hah?”

“A-apa yang sedang kau bicarakan? Wajar kan kalau seorang sunbae menanyakan nama hoobaenya?” aku berusaha membela diri, tapi nampaknya Gongchan mengerti maksudku, “Namamu siapa?”

“Richan, Shin Richan.”

Oh jadi namanya Richan. Yeay aku sudah tau namanya ^^

“Oh. Richan-ssi, lain kali kalau memegang raket harus diperhatikan. Karena cara memegang raket juga mempengaruhi permainanmu.” aku berusaha menutupi perasaanku.

“Oh ne, sunbae. Kamsahamnida untuk ilmunya.”

“Coba kau ajarkan padanya bagaimana cara memegang raket yang benar.” goda Gongchan.

Aku hanya mendelik ke arah Gongchan memberi sinyal. Gongchan hanya terkekeh geli melihat sikapku. Dia memang hoobae yang jahil, dia senang sekali menggodaku.

*          *          *

Author POV

“Huaaah cape juga.”

Richan duduk di bangku stadium dan meneguk air mineral.

“Annyeong.”

“A-annyeong.” Richan kaget karena tiba-tiba Baro -sunbae yang menanyakan namanya tadi- tiba-tiba mendekatinya.

“Kau kelas X ya?”

“Ne. Sunbae kelas berapa?”

“Aku kelas XII.”

“Sudah kuduga, kelihatan dari wajahnya kekeke.”

“Mwo? Jadi menurutmu wajahku tua ya?”

“Kekeke iya. Oh iya nama sunbae siapa?”

“Namaku Cha Sunwoo tapi biasa dipanggil Baro.” Baro mengulurkan tangannya.

“Richan.” Richan membalas uluran tangan Baro dan tersenyum.

“Ne, aku masih ingat. Oh iya kau bukan asli Seoul? Rasanya aku menangkap sedikit aksen Busan dari caramu berbicara.”

“Hehe ne, aku memang dari Busan.”

“Mwo? Aigoo, aku juga.” Baro berbicara dengan aksen Busan.

“Ah jinjja? Kekeke aku tidak menyangka bisa bertemu sesama Busan di sini.”

“Ah Pamyu! Jangan pipis di situ!” tiba-tiba seseorang berteriak.

“Aigoo, Sandeul! Makanya jangan bawa-bawa anjing kemari! Untung tidak pipis di dekatku.”

“Eh, sunbae, jangan kesal pada anjing itu. Lihatlah ia mirip sepertimu.”

“Mwo?”

“Bulunya warna coklat dan kalungnya merah. Sama seperti baju yang sunbae pakai sekarang kekeke.”

“Ish kau tega sekali padaku.” Baro pura-pura marah.

“Kekeke.” Richan menjulurkan lidahnya.

‘Yeoja ini…Ah kamsahamnida, Tuhan, akhirnya aku bisa mendapatkan momen ini.’ gumam Baro dalam hati.

“Next!” tiba-tiba CNU memberi aba-aba lagi.

“Ya! Baro sunbae, aku latihan dulu ya.”

Richan pun berlari menuju arena dan mulai berlatih. Baro memperhatikan Richan. Tapi lama kelamaan ia pun pergi. Richan yang menyadari itu diam-diam tersenyum. Ia sedikit heran dengan sikap Baro sejak menanyakan namanya tadi dan duduk di dekatnya, padahal tadi tempat latihan namja dan yeoja dipisah, seharusnya hanya ada Gongchan di sana sebagai pelatih. Tapi Richan memang pintar menyembunyikan perasaan. Ia akan tampak tidak peka padahal sebenarnya peka sekali pada sinyal-sinyal (?) seperti itu.

*          *          *

“Richan-ah!! Ayo main denganku!”

“Ah, nde!” Richan terlihat sangat senang ada yang mengajaknya bermain.

Mereka pun segera mengambil posisi.

“Siaaaaap?” tanya Richan memastikan.

“Neeeee!” jawab Jinri tak kalah semangat.

Dan mereka pun mulai bermain. Tanpa Richan sadari ternyata ada dua orang namja yang sedang memperhatikan dan membicarakannya.

“Cieee kau benar-benar menyukainya ya?” goda Gongchan tiba-tiba hingga membuyarkan konsentrasi Baro.

“Ish kau ini kepo (?) sekali.”

“Bukan kepo, hyung, lebih tepatnya aku selalu peduli dengan apapun yang hyung rasakan kekeke.”

“Ish…” Baro bergidik geli mendengar ucapan Gongchan barusan. Gongchan memang jahil dan sangat suka menggoda Baro.

“Kalau memang suka, jangan cuma diam di sini. Sana, datangilah. Ajari juga dia cara memegang raket yang benar. Lihat, cara memegang raketnya masih salah.”

“Aigoo kau pikir aku ini namja macam apa yang bisa agresif secepat itu eoh?”

Gongchan mulai tersrnyum jahil lagi, “Jadi hyung tidak berani? Baiklah, biar aku yang ajari.” Gongchan segera berdiri dan melangkah menuju tempat latihan para yeoja.

“Y-ya! Mau ke mana kau Gong Chanshik!” Baro mulai panik. Ia benar-benar tau seperti apa pesona Gongchan di mata para yeoja kalau sudah mulai tebar pesona.

“Jwesonghamnida, mian kalau aku lancang. Tapi, cara memegang raketmu itu kurang tepat.” ujar Gongchan lembut pada Richan.

“Ah jinjja?” Richan terlihat gugup. Bukan karena Gongchan, tapi karena caranya memegang raket selama ini salah.

“Cara memegang raketnya seperti ini.” Gongchan memberikan contoh pada raketnya sendiri.

“Seperti ini?” Richan meniru gerakan tangan Gongchan.

“Ah ani ani, tidak seperti itu, itu terlalu kaku, Ri…Ri siapa tadi namamu, nona?”

“Richan, Shin Richan.” jawab Richan mantap.

“Mwo? Bisa kau ulang sekali lagi? Di sini terlalu bising, aku tidak bisa mendengar suaramu.” Gongchan sedikit mendekatkan telinganya pada Richan. Baro mulai kalang kabut (?)

“Ri-chan.”

“Mwo? Coba kau ucapkan sekali lagi.” pinta Gongchan sambil menunjuk-nunjuk telinganya. Padahal sebenarnya ia sudah mengetahui namanya dan ia juga bisa mendengar suara Richan dengan jelas. Hanya saja ia ingin menggoda Baro.

“Shin-Ri-Chan.” ulang Richan pelan, tepat di kuping Gongchan. Adegan (?) itu sukses membuat Baro beranjak dari tempat duduknya. Ia tidak tahan melihat Richan begitu dekat dengan Gongchan dan membisikkan sesuatu dengan ritme pelan. Walaupun Baro tidak tau apa yang mereka bicarakan, Baro merasa sangat cemburu.

Akhirnya Baro berjalan ke arah tempat latihan para yeoja. Ia menghampiri Jinri yang sedari tadi hanya mengayun-ayun raketnya sendiri karena Richan sedang diajak bicara oleh Gongchan. Baro berjalan tanpa melihat Gongchan dan Richan, tadi memang posisinya Richan dan Gongchan membelakangi Baro, itu yang membuatnya semakin penasaran karena tidak bisa melihat ekspresi mereka.

‘Kekekeke akhirnya kau terpancing juga, hyung.’ kekeh Gongchan dalam hati.

“Ah jwesonghamnida, sepertinya caramu mengayunkan raket kurang tepat.”

“Harusnya seperti apa, sunbae?” tanya Jinri polos.

“Harusnya kau mengayunkannya bebas, seperti tidak ada beban, jangan terlalu kaku.” Baro memberi saran sambil melirik ke arah Gongchan. Gongchan hanya menunjukkan evil smirknya.

“Begini, sunbae?” tanya Richan lagi.

“Ah ani ani, masih kurang sedikit.” Gongchan sok pelatih. Ia terlihat mengangkat tangannya dan mulai mendekati tangan Richan, “Hmm eotte…aku sulit mengatakannya…” Gongchan melirik Baro, Baro terlihat tegang melihat tangan Gongchan yang terlihat akan melakukan sesuatu.

“Mian kalau aku lancang…” Gongchan mulai menyentuh tangan Richan.

“Ah ne gwaenchana.” Richan meyakinkan dengan wajah polosnya, ia tidak tau maksud Gongchan yang sebenarnya.

“Seperti ini cara memegang raket yang benar.” Gongchan menggenggam tangan Richan untuk memposisikan cara memegang raket yang benar. Mata Baro sontak membulat melihat adegan itu.

“Hmm coba kau latih lagi cara mengayunkan raketnya. Nanti sunbae lihat lagi ya perkembangannya, sekarang sunbae ada urusan dulu.” pamit Baro pada Jinri sambil tersenyum.

“Ne kamsahamnida, sunbae.”

Baro berjalan sangat cepat ke arah Gongchan dan Richan. Tangan Gongchan masih menggenggam tangan Richan.

“Cepat antar aku.” Baro menarik tangan Gongchan sedikit kasar.

“Wae?” Gongchan tersenyum santai.

“Ah pokoknya antar aku sekarang!” Baro menarik lengan Gongchan, “Richan-ssi, kami permisi dulu ne.” pamit Baro dengan senyumnya.

“Ah nde. Kamsahamnida Gongchan sunbae atas ilmunya.”

“Ne cheonma.” Gongchan mengedipkan matanya pada Richan.

Baro langsung melotot melihat tingkah Gongchan, “Ish, ppali!” Baro memutar kepala Gongchan. Gongchan hanya terkekeh geli melihat tingkah sunbaenya itu.

*          *          *

“Aigoo jam segini bis sekolah sudah berhenti beroperasi. Eotte?” Richan menggosok-gosokkan tangannya untuk mengatasi rasa dingin.

“Kau tidak ada tumpangan untuk pulang?” tiba-tiba Baro datang menghampiri Richan yang sedang berdiri di luar lapangan olahraga indoor yang dipakai latihan tadi.

“Ah…” Richan sedikit kaget, “Ne, sunbae. Aku masih terhitung baru di klub ini, belum terlalu dekat dengan yang lain baru kenal saja, jadi aku sedikit segan untuk meminta tumpangan. Biasanya aku jalan bersama temanku kalau sudah semalam ini latihannya.”

“Ah arasseo. Apa kau mau ikut denganku?”

“Nde?”

“Aku membawa motor. Mau ikut denganku? Kebetulan tidak ada yang menumpang padaku.”

“Ah jinjja?” Richan terlihat sangat senang, “Hmm ne…aku mau hehe.” Jawab Richan malu-malu.

“Biaklah. Kalau begitu tunggu di sini sebentar ya, aku mau mengambil raket dan helmku dulu.” Baro berbalik meninggalkan Richan, tapi tak sampai dua detik, ia berbalik lagi, “Pakai ini, kau terlihat kedinginan.” Baro menyampirkan jaketnya pada Richan.

Richan terperangah kaget, “Ah ne, kamsahamnida, sunbae…” jika ini tempat terang, pasti sudah terlihat pipi Richan yang mulai memerah sekarang.

“Ah tidak usah seformal itu, pakai bahasa informal saja. Dan cukup panggil aku…Baro oppa, ne?”

Richan kembali dikejutkan dengan sikap Baro yang begitu baik dan hangat padanya, “Nde…Baro oppa…”

Baro tersenyum dan mulai memasuki lapangan olahraga.

“Ya, hyung! Kau mau ke mana? Aku belum selesai latihan!” Gongchan membelalak saat melihat Baro terlihat akan segera pulang, Gongchan memang biasa menumpang pada Baro setiap latihan.

“Aku mau pulang duluan, siapa suruh tadi mengganggu yeojaku.” goda Baro, padahal sebenarnya ia tidak marah akan hal itu.

“Ya hyung! Tadi kan aku cuma bercanda! Aigoo…”

Baro hanya menjulurkan lidahnya pada Gongchan dan beranjak pergi untuk menjemput Richan bersamanya.

*          *          *

Richan POV

“Chagiya~” Baro oppa tiba-tiba merangkul bahuku.

“Ish, oppa~ kau mengagetkanku saja.”

“Hihihi.” Baro hanya tersenyum manis dengan deretan gigi hamsternya (?)

Ne, kami baru saja jadian dua hari yang lalu. Setelah kurang lebih satu bulan kami dekat, Baro oppa menyatakan perasaannya padaku dan memintaku untuk menjadi yeoja chingunya. Karena aku selalu merasa nyaman dengannya dan aku juga sedikit menyukainya, aku menerimanya sebagai namja chinguku.

“Aigoo pasangan baru di klub kita baru datang hahahaha.”

“Aish, Sandeul-ah, tidak usah berlebihan begitu, nanti yeojaku bisa malu.”

“Yeojaku? Aish sekarang hyung sudah resmi menyebutnya yeojaku ya, beda dengan dulu, kau sembarangan saja menyebut Richan yeoja…”

“Ish, kau ini banyak bicara sekali, Gong Chanshik!”

“Hahahahaha.”

Semua anggota klub tenis tertawa melihat Baro oppa membekap (?) mulut Gongchan oppa dengan tangannya. Gongchan oppa memang senang sekali menggoda Baro oppa hihi.

“Sudah sudah ayo kita latihan, sudah jam 4 ini.” ajak CNU sunbae.

*          *          *

“Huaaaaah latihan hari ini melelahkan sekali!” aku bergegas duduk dan minum setelah bagian latihanku selesai.

“Richan-ssi…”

“Jinyoung…sunbae?”

Apa-apaan si namja sombong ini mendekatiku? Tidak biasanya. Bahkan aku ajak bicara pun biasanya ia tidak mau merespon.

“Aku…ingin berbicara sesuatu padamu…”

Berbicara? Bicara soal apa? Bahkan mengobrol pun sepertinya kita tidak pernah.

“Ne silahkan, sunbae.” jawabku sambil meneguk kembali minumanku.

“Aku…sebenarnya…pernah menyukaimu…”

Hmppppt. Hampir saja aku menyemburkan air dari mulutku.

‘Me…menyukaiku? Bagaimana bisa?’

“Mungkin kau heran dengan pernyataanku barusan. Tapi itu memang benar. Aku bahkan menyukaimu sejak pertama kali kau masuk klub ini. Aku masih ingat aku cukup terkejut dan senang ternyata yeoja yang kulihat dan kuanggap menarik saat di bis siangnya, ternyata satu klub denganku di sore harinya. Aku benar-benar tidak menyangka.”

“Tapi…kalau memang seperti itu…kenapa kau selalu terlihat jutek padaku?”

Aigoo dari mana aku mendapat keberanian untuk menanyakan hal ini?

“Itu…karena aku ingin melihat reaksimu. Aku ingin tau apakah kau menyukaiku atau tidak dengan melihat responmu. Tapi ternyata sepertinya kau sama sekali tidak peduli, padahal begitu banyak yeoja yang berusaha untuk dekat denganku (pede amaaaat), tapi kau berbeda, kau malah tidak peduli dan tidak berusaha untuk dekat denganku. Lalu aku memutuskan untuk pura-pura jadian dengan Ji Eun, Ji Eun juga sudah tau dan setuju untuk pura-pura pacaran. Tapi sepertinya kau juga tetap tidak peduli. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti menyukaimu. Dan hasilnya, sekarang aku malah benar-benar menyukai Ji Eun, begitu pun dengan Ji Eun.”

“Oh jadi begitu. Hmm sebenarnya aku dan temanku juga sedikit tertarik pada sunbae dulu. Aku selalu berusaha untuk bisa berteman dengan semua orang yang kukenal termasuk sunbae. Tapi sunbae selalu terlihat dingin padaku, beda dengan sikap sunbae pada yang lain. Aku kira sunbae tidak mau berteman denganku.”

“Ah ani ani, sama sekali tidak begitu. Makanya sekarang aku mengatakan ini untuk menghindari kesalahpahaman. Aku tidak mau dianggap sunbae yang sombong, makanya aku mengatakan alasan kenapa aku seperti itu.”

“Hmm ne, gomawo sunbae sudah menghentikan kesalahpahamanku ini. Aku bahkan sempat sebal padamu karena sikapmu yang seperti itu hehe.”

“Ah jinjja? Hahaha sekali lagi mian ne, aku tidak bermaksud seperti itu.”

“Ne, aku juga minta maaf sudah berprasangka buruk padamu.”

Jinyoung sunbae tersenyum, “Ne. Oh iya chukae yo untukmu dan Baro ne.”

“Ne, selamat juga untuk sunbae dan Ji Eun.”

Oh ternyata selama ini aku sudah salah mengira Jinyoung sunbae, aku kira dia benar-benar sombong dan pilih-pilih dalam berteman, ternyata tidak. Tapi konyol sekali caranya mengetes perasaan yeoja yang ia sukai. Bukannya mendekati malah sok menjauhi begitu. Ya tapi bagaimana pun juga aku lega sekarang tidak ada orang yang kubenci di klub tenis ini. Dan yang terpenting, ada orang yang menyayangiku dan ada orang yang kusayangi di sini sekarang.

“Chagiya, sini! Aku mau main tenis denganmu!” Baro oppa melambai-lambaikan tangannya dari jauh.

Aku segera berdiri dan membawa raket, “Ne, oppa!”

Orang itu adalah Baro oppa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s