MARRIED? Shireoooo!! – part 5

Author     : Levina Putri (twitter @puputlevina)

Judul        : MARRIED? Shireoooo!! – part 5

Kategori   : Romance

Rating      : PG-15

Main cast : – Song Rae Soo/Yuki as You

– B1A4 Baro as B1A4 Baro/Cha Sun Woo

– B1A4 Jinyoung as B1A4 Jinyoung/Jung Jinyoung

Other cast : – T-ARA Jiyeon as Jiyeon

–          All B1A4 member

 

Ini dia part 5nya. selanjutnya ending part dan akan disusul dengan special part. just looking forward! ^^

 

Jinyoung POV

“Annyeonghaseyo.”

“Annyeonghaseyo, Jung Jinyoung imnida.”

“Silahkan masuk, Jinyoung-ah.” ujar suara di seberang sana di mesin penjawab.

Pintu rumah gerbang itu terbuka otomatis. Lalu aku masuk ke pekarangan rumahnya dan menuju pintu depan.

“Silahkan masuk, Jinyoung-ah.” seorang yeoja setengah baya yang sangat kukenal, dengan senyuman dan wajah kalemnya membukakan pintu untukku.

“Ne, kamsahamnida, Ahjumma.”

“Silahkan duduk.”

“Apa kabar ahjumma?”

“Aku baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana? Sudah lama sekali kau dan Baro tidak main ke sini.”

“Aku juga baik-baik saja, Ahjumma. Iya, akhir-akhir ini kamu sedang sibuk dengan skripsi dan jadwal kami dengan B1A4. Mm…Jiyeonnya ada, Ahjumma?”

“Ada. Tapi dari tadi pagi ia tidak mau keluar kamar. Ahjumma suruh sarapan juga tidak menjawab. Saat ahjumma intip dari lubang pintu kamarnya, ahjumma lihat ia sedang tertunduk di kasurnya sambil memeluk lutut. Ahjumma sudah membujuk sebisanya, begitu pun dengan appanya. Tapi kami tidak berhasil.”

“Bolehkah aku mencoba membujuknya, Ahjumma?”

“Ne. Semoga ia mau keluar kalau kau yang membujuk.”

Ahjumma mengajakku menaiki tangga menuju kamar Jiyeon.

‘Tok tok tok’

“Jiyeon-ah, ini aku, Jinyoung.” tidak ada jawaban dari dalam sana, “Jiyeon-ah.”

Aku coba mengintip keadaannya dari lubang pintu. Kulihat keadaannya masih sama seperti yang ahjumma ceritakan tadi.

“Ahjumma, boleh kudobrak pintunya?”

Ahjumma mengangguk lemas, ia sangat khawatir dengan putri satu-satunya itu.

Brak! Aku berhasil mendobrak pintunya. Jiyeon sangat terkejut mendapati pintu kamarnya berhasil didobrak.

“Mm, Ahjumma, bisakah tinggalkan kami berdua?” pintaku dengan segala hormat. Aku tidak ingin ahjumma mendengar percakapan kami, aku tidak ingin beliau mengetahui kekhilafan putrinya yang selama ini sangat baik di matanya. Cukup aku, Baro, Yuki, dan Tuhan yang mengetahui semua ini.

“Ne, aku serahkan semuanya padamu. Semoga berhasil, Jinyoung-ah.”

“Ne, kamsahamnida, Ahjumma.”

Ahjumma membalas dengan senyuman dan pergi meninggalkanku ke lantai bawah. Aku berjalan menuju tempat tidur Jiyeon. Jiyeon masih dalam keadaannya semula.

“Jiyeon-ah.” aku duduk di hadapannya. Ia tidak bergeming, “Apa ini tentang skandal Baro?”

Jiyeon kini menatapku, “Kau sudah lihat ya?” tanyanya dengan suara sangat pelan. Dan wajahnya terlihat kusut dengan kelopak mata sembab.

Aku hanya mengangguk mengiyakan.

“Semua ini…semua ini…semua ini salahku…semua ini salahku…” Jiyeon kembali menenggelamkan wajahnya di balik kedua lututnya dan mulai menangis.

Awalnya aku mengira ini adalah perbuatan Jiyeon. Tapi melihat ekepresinya sekarang, aku rasa aku salah. Sepertinya ada orang lain yang terlibat dalam masalah ini.

Aku mendekatkan diri pada sahabatku itu. Kuulurkan tanganku dan kutarik tangannya lalu kugenggam. Ia masih menangis.

“Ini semua bukan sepenuhnya salahmu. Yang paling bersalah dalam kasus ini adalah orang yang menyebarkan fotonya.” aku berusaha menenangkannya.

“Tapi…tapi…semuanya tidak akan terjadi jika aku tidak menculik Yuki kemarin…”

“Sudahlah. Wajar jika kau merasa bersalah atas hal itu. Tapi bukan salahmu jika foto itu tersebar. Lebih baik sekarang kau tenangkan dirimu. Berdoalah agar ada jalan keluar dari semua ini. dan terakhir yang perlu kau lakukan adalah meminta maaf pada Yuki. itu semua sudah cukup. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk  merubah kejadian yang sudah terjadi. Yang bisa kita lakukan hanyalah memperbaiki keadaan.”

Tiba-tiba Jiyeon memelukku.

“Aku merasa bersalah pada mereka, Jinyoung, aku merasa bersalah…”

“Tenanglah, Jiyeon. Aku yakin semua ini akan segera selesai dengan baik. Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Tenanglah.” kuelus rambut Jiyeon untuk menenangkannya. Kubiarkan ia menangis di bahuku.

‘Aku harus melakukan sesuatu. Insiden ini tidak boleh bertahan lama.’

 

Author POV

“Ne, annyeong.” Yuki melambaikan tangan pada temannya. Tapi saat ia berbelok ke kiri, saat akan menuju gerbang fakultasnya, belasan yeoja muda yang bervariasi mulai dari teman seangkatannya, hoobaenya, sampai sunbaenya di fakultas, sudah berkumpul untuk menunggunya. Saat melihat Yuki, salah satu di antara mereka yang kelihatannya adalah pemimpin aksinya, berdiri dan memandang Yuki dengan pandangan sinis.

“Kau yang bernama Yuki kan?”

Yuki sangat heran, tapi di sisi lain ia juga merasakan firasat buruk dari tatapan sunbaenya itu.

“Nn-ne.” jawabnya terbata.

“Oh jadi yeoja ini ya? Huh bisa-bisanya Baro oppa tertarik pada yeoja seperti ini. sudah wajah standar, tinggi pas-pasan, kerempeng lagi (ngebash ceritanya, padahal sebenarnya tokoh Yuki ini digambarkan sebagai yeoja yang cantik).”

“Ma-maksud Sunbae?” Yuki mulai merasa tau masalah apa yang membuat mereka seperti ini. Ya, masalah Baro.

“Pakai pura-pura lagi! Kami tau kalau kau sudah menikah dengan Baro! kau sudha merebut Baro dari kami!”

“YA! KAU TELAH MEREBUT BARO!!”

Satu persatu dari mereka berdiri dan suasana mulai gaduh. Mereka berkeliling mengepung Yuki. Yuki berjalan mundur sampai akhirnya stuck menemui tembok.

“AYO SEMUANYA!! SERANG YEOJA INI!!!!”

“AYOOOOO!!”

Saat mereka akan melemparkan berbagai makanan busuk ke arah Yuki, tiba-tiba datang seseorang berjaket kulit hitam dan bertopi hitam. Merasa ada yang mendekap tubuhnya, Yuki membuka matanya yang sempat terpejam tadi. Meskipun orang itu memakai masker, ia sangat mengenali sorot mata itu.

“Ba…ro…”

“Jangan banyak bicara, nanti amarah mereka tambah memuncak.”

“Siapa orang yang melindungi si Yuki itu? Ayo lempari dia juga!” seru si pemimpin pasukan. Karena rasa cemburu yang begitu tinggi, mereka tidak sadar kalau sebenarnya orang itu adalah idola mereka sendiri, Cha Sun Woo. Mereka tidak ingat kalau para bintang hallyu sering menyamar untuk menghindari publik.

Plok plok plok, berbagai macam makanan busuk mengenai punggung Baro. Baro semakin mempererat dekapannya. Yuki hanya memejamkan mata ketakutan, di dalam pelukan Baro.

“Cukup semuanya. Persediaan kita sudah habis (keliatan kalian ngebash and ngebully orang tapi ga modal :P). Besok kita sediakan persediaan lebih banyak. Kalau besok si yeoja gatal ini tidak datang ke kampus, kita cari saja rumahnya. Kaja!”

Yeoja-yeoja itu pergi meninggalkan Yuki dan Baro. Setelah keadaan benar-benar aman, Baro melepaskan pelukannya.

“Gwaenchana?”

“Ne.” jawab Yuki lemas.

“Kita pulang.” Baro menarik tangan Yuki, “Kita diskusikan semuanya di rumah.”

 

*          *          *

 

“Jadi kau belum tau akar permasalahannya?”

Yuki menggeleng sekali lagi.

“Aigoo.” Baro memegang keningnya sendiri, “Ini.” ia memperlihatkan sebuah foto berisi gambar dirinya dan Yuki.

Yuki menutup mulutnya kaget dan matanya terbelalak, “Ini…ini…aku?”

“Ne. Memang sebenarnya tidak terlalu jelas. Tapi kalau dizoom, orang-orang yang kenal atau selalu melihatmu tiap hari, pasti akan menyadarinya.” ujar Baro sambil memperbesar fotonya.

“Benar juga.”

“Dan sialnya, yang membuat mereka sangat marah adalah berita pernikahan kita. Mereka sudah mengetahuinya. Dan aku mencurigai seseorang yang menjadi dalang di balik semua ini. Apa kau berpikiran sama denganku?”

Yuki berpikir sejenak (maklum, ceritanya Yuki orangnya agak lemot ala- yeoja-yeoja di k-drama kebanyakan kekeke ._.v).

“Ah jangan-jangan kau tidak mengerti yang aku maksud. Hilangkanlah kebiasaan lemotmu itu untuk kali ini!”

“Ani, aku mengerti. Jiyeon eonni?”

Baro mengangguk sambil menunduk memikirkan sebuah solusi.

“Jadi…kau tau kalau Jiyeon eonni yang menculikku dua hari yang lalu?”

“Ne.” Baro masih tertunduk.

“Da…dari mana kau tau? Aku kan tidak pernah menceritakannya pada siapapun termasuk Jinyoung oppa. Jinyoung oppa juga kelihatannya memang tidak tau pelaku penculikan i…” Yuki menghentikan kata-katanya, “Aku baru sadar. Yang difoto itu adalah kau yang menggendongku. Itu berarti foto itu diambil saat aku pingsan. Tapi…bukankah yang menyelamatkanku Jinyoung oppa? Iya kan? Tidak mungkin Jinyoung oppa berbohong padaku…”

“Sebenarnya begini ceritanya…”

Baro menceritakan semua kejadian sebenarnya pada Yuki karena sudah terlanjur. Kebohongannya dan Jinyoung di rumah sakit juga secara tidak sengaja ikut terbongkar dengan sebuah foto berisi ia yang sedang menggendong Yuki itu.

“Pantas saja sebelum aku pingsan, yang aku dengar adalah suaramu. Dan aku bahkan sempat melihat wajahmu walaupun samar-samar. Aku kira aku salah lihat.aku kira itu hanya halusinasiku saja.”

“Jadi secara ridak langsung, jika kau hampir kehilangan kesadaran, orang yang ada di pikiranmu itu aku ya?”

“Aish!” sebuah bantal sofa mendarat tepat di wajah Baro, “Dasar pabo! Sedang genting begini juga masih saja sempat menggodaku.”

“Siapa yang menggodamu?” Baro menatap kedua mata Yuki dalam-dalam, “Aku serius.”

Deg! Jantung Yuki mulai berdegup tidak sesuai ritme yang seharusnya. Baro makin mendekatkan wajahnya sedikit demi sedikit. Yuki hanya bisa menutup mata dan…

No I can’t stop thinking ‘bout you girl

Baro menghentikan gerakannya. Terpampang sebuah nama di layar ponselnya.

“Jinyoung-ah, eodi ga?”

“Aku ada di rumah Jiyeon. Kau pasti berpikiran sama denganku. Tapi ternyata salah, bukan Jiyeon yang menyebar foto itu.”

“Jinjja?”

“Ne. Tadi ia sangat depresi karena merasa bersalah. Karena tidak mungkin ada foto itu jika ia tidak menculik Yuki. Tapi sekarang ia sudah sedikit lebih tenang.”

“Oh syukurlah.”

“Kalian sudah di rumah kan?”

“Ne, kami aman di sini.”

“Syukurlah. Kita harus cepat-cepat melakukan sesuatu untuk menyelesaikan semua ini. Aku akan mendiskusikan ini dengan semua member. Jika kau dan Yuki punya ide, langsung hubungi aku ya. Annyeong.”

“Ne, mohon bantuannya. Annyeong.”

“Barusan Jinyoung oppa bilang apa?”

“Dia ingin memastikan kalau kita aman dan ia ingin memberi tau kalau bukan Jiyeonlah yang menyebarkan foto ini.”

“Jinjja? Aigoo kita sudah berpikiran negatif pada eonni…”

“Semua orang juga kalau ada di posisi kita pasti berpikiran seperti itu. Ini pasti ulah para paparazzi, insting mereka memang sangat kuat. Tapi memang lambat laun semua ini pasti akan terbongkar. Lagipula suatu hari nanti aku pasti akan menikah, jadi semua ini hanya masalah waktu saja. Lebih baik sekarang kita pikirkan jalan keluar dari masalah ini.”

 

Sore harinya…

B1A4 PERS CONFERRENCE

Empat namja tampan mempesona, tinggi, dan berkarisma berjalan masuk ke sebuah ruangan menuju meja panjang yang telah disediakan. Jepret jepret jepret, cahaya dari kamera para paparazzi silih berganti menyilaukan ruangan megah itu.

“Annyeonghaseyo.”

“Annyeonghaseyo.”

“Saya Jinyoung, leader dari B1A4 mewakili B1A4 untuk meminta maaf atas kabar dan konferensi pers yang serba mendadak ini.”

“Jinyoung-ssi, saya lihat di sini cuma ada empat member, di mana satu lagi member kalian?” seorang paparazzi yang terkenal paling ceriwis dan tidak tau diri seantero Korea Selatan menjadi yang pertama bertanya, tak lupa dengan tatapan menyelidik dan senyum khasnya yang super menyebalkan (bayangkan saja paparazzi ini paparazzi sableng yang di You’re Beautiful)

“Baro sedang di luar negeri dari kemarin. Dan karena ada kasus ini, ia berjanji akan pulang besok dan bicara langsung dengan Bana. Jadi sore hari ini saya mewakili Baro untuk menjelaskan semuanya.”

“Apa yang bisa anda jelaskan dari foto yang sudah beredar di internet hari ini?” tanya paparazzi yang lain.

“Lalu benarkah rumor yang menyatakan bahwa itu adalah istri dari Cha Sun Woo? Apa benar Baro sudah menikah?” sambung yang lain.

“Ne, semuanya benar.”

Suasana mendadak gaduh dan jepretan kamera kembali mewarnai ruangan itu. Ditambah lagi dengan suara sesenggukan para Bana yang hadir di sana.

“Yeoja yang ada di foto itu memang istri dari Baro. Mereka baru menikah enam bulan yang lalu. Momen di foto itu adalah saat istri Baro pingsan karena phobianya kambuh saat ia tidak sengaja terkunci di sebuah ruangan.” lanjut Jinyoung, “Dan saya mewakili Baro menyampaikan permintaan maafnya pada seluruh Bana sedunia serta pada seluruh warga Korea dan media pers atas masalah ini. Awalnya Baro dan kami berniat untuk menutupi semua ini sampai waktu yang dikira tepat untuk mengungkapkan semuanya. Hanya saja ternyata takdir berkata lain sehingga kami harus mengungkapkannya lebih awal. Untuk para Bana, saya harap kalian bisa menerima ini. Lambat laun Baro dan tidak terkecuali kami pasti akan menikah suatu saat nanti, ini hanya masalah waktu. Lagipula bukankah ada ungkapan yang menyatakan bahwa mencintai bukan berarti harus memiliki? Tapi tenang saja, walaupun sudah menikah, Baro tetap milik kalian, milik Bana, tetap mencintai kalian, Bana. Bahkan ia sudah kenal kalian sebelum ia mengenal istrinya. Selain itu kalian tau kan senyum Baro bukan untuk sembarang orang? Kalian Bana adalah bagian dari orang spesial itu, orang yang bisa mendapatkan senyuman Baro. Bahkan kalian mendapatkan senyuman itu lebih dulu dari istrinya. Jadi kalian patut berbangga hati. Kalian sudah memiliki Baro jauh lebih dulu daripada istrinya.”

“Selain itu kalian masih punya kami. Kami semua masih single lho.” tambah Sandeul dengan nada promosi.

“Ne, benar apa kata Sandeul. Suatu hari nanti kami juga pasti akan menikah, hanya saja belum pasti siapa yeojanya. Mungkin salah satu dari kalian bisa bernasib seperti istrinya Baro, menikah dengan salah satu di antara kami. Who knows.” CNU menambahkan dengan gaya kalemnya seperti biasa.

“Ne, jadi kalian tidak usah bersedih.” Jinyoung ikut angkat bicara dengan karismanya, “Kami akan sedih jika melihat BANA bersedih.”

“Jadi kalian berhentilah bersedih. Uljima, aku akan menyeka air mata kalian.” tambah Gongchan sambil memeragakan menyeka matanya (ala mv only learned the bad thing) Saranghae.” Gongchan mulai mengeluarkan jurus aegyonya.

Kata-kata penutup dari Gongchan sukses membuat para Bana berteriak histeris. Konferensi pers berjalan dengan lancar dan sukses. Enam jam kemudian, beredar kabar kalau amarah para BANA dan Bana sudah mulai mereda. Ini sungguh melegakan.

“Yeobeoseyo.”

“Baro-ah, apa kalian melihat tayangan konferensi pers tadi?”

“Konferensi pers?”

“Jadi kau tidak lihat ya?”

“Ne, aku tidak berani menyalakan tv ataupun membuka internet. Aku takut ada pemberitaan-pemberitaan yang bisa membuat Yuki shock dan depresi.”

“Bagaimana keadaannya sekarang?”

“Dia baik-baik saja. Dia sedang bermain game. Tadi aku sempat mengajaknya bermain game untuk menenangkan pikirannya. Kemudian aku membiarkannya bermain game sendiri karena aku ingin memikirkan solusi dari masalah ini. Tapi sialnya otakku yang biasanya encer entah kenapa dari tadi sampai sekarang mendadak macet. In the situation like this, I can’t think clearly.”

“Arasseo. Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan. Tapi tenang saja, semuanya sudah berakhir.”

“Mwo?”

“Semuanya sudah kembali seperti semula. Konferensi pers tadi berhasil meredam amarah Bana. Jadi kau bisa tenang sekarang. Besok kau tinggal datang untuk konferensi pers khusus untukmu saja. Tadi kami bilang kalau kau sedang di luar negeri dari kemarin.”

“Syukurlah kalau begitu. Kamsahamnida, Jinyoung-ah. Sampaikan juga rasa terima kasihku yang begitu besar pada semua hyung. Entah apa yang akan terjadi jika tidak ada kalian. Terutama kau Jinyoung, kau memang saudara dan sahabat sejatiku. Aku sangat-sangat menyayangimu.”

“Gwaenchana. Aku juga sangat menyayangimu saudaraku. Eh bolehkah aku bicara sebentar dengan Yuki?”

“Ne, tentu saja.” Baro menjauhkan telepon dari wajahnya, “Yuki-ah, Jinyoung ingin bicara padamu.”

Yuki menghentikan permainannya dan diteruskan oleh Baro.

“Yeobeoseyo, Oppa.”

“Yuki-ah, sekarang kau bisa tenang, semuanya sudah selesai.”

“Jinjja? Syukurlah. Ya Tuhan, aku sangat lega. Dari tadi sebenarnya aku sangat frustasi, Oppa. Aku bingung aku tidak bisa berpkir apapun. Jadi aku main game saja, siapa tua stressku sedikit berkurang dan bisa berpikir jernih. Jujur, tadi aku sangat mengkhawatirkan B1A4, terutama Baro dan kau, Oppa.”

“Sudahlah, semuanya sudah selesai sekarang. Kita bisa bernafas lega sekarang. aku tinggal memberi tau Jiyeon, aku takut ia masih depresi seperti tadi.”

“Ne, kau harus memberitaunya, Oppa. Tolong sampaikan salamku padanya.” ujar Yuki tanpa dendam sedikitpun pada Jiyeon.

“Ne. Tapi sebelumnya, aku ingin memberitaumu sesuatu.”

“Mwo ya, Oppa?”

“Apa kau menyadari perasaan Baro padamu?”

Deg. Jantung Yuki mendadak berdegup kencang.

“Ma…maksud oppa?”

“Dia mencintaimu.”

“M-mwo?”

“Jongmal, aku tidak bercanda. Baro memang sangat kaku, jadi pasti sangat sulit sekali untuk mengungkapkan perasaannya, terutama pada yeoja yang disukainya. Apalagi ini pertama kalinya ia jatuh cinta.”

“M-mwo?”

“Ne, kau cinta pertamanya Baro.”

“Ji…jinjja? Bukankah ia menyukai Jiyeon eonni?”

“Itu cuma kisah masa kecil. Setelah dewasa, ia sudah tidak mencntai Jiyeon lagi.”

“Ji…jinjja yo? Tapi…aku lihat ia masih menyimpan fotonya bersama Jiyeon eonni saat mereka masih TK…”

“Itu atas alasan sahabat. Wajar kan jika seseorang menyimpan foto sahabatnya sendiri?”

Yuki terdiam. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Jinyoung barusan.

“Jadi kau jangan salah paham. Walaupun Baro tidak pernah mengatakan secara eksplisit kalau ia menyukaimu, tapi aku bisa membaca perasaannya. Aku kan belahan jiwanya dari dulu hehe. Kaulah satu-satunya yeoja yang disukainya.”

Kata-kata Jinyoung membuat pipi Yuki memerah seketika.

“Dan satu hal yang harus kau ingat. Kaulah yang harus menyatakan perasaan duluan. Jangan menunggu Baro untuk melakukannya karena sangat kecil kemungkinan hal itu akan terjadi. Gengsi dan rasa malunya terlalu besar untuk hal ini. Jadi kau yang harus mulai duluan. Jangan merasa malu, ragu, ataupun takut ditertawakan olehnya. Aku yakin ia yang justru akan tersipu malu saat kau menyatakan perasaanmu.”

“Nn…ne…” lalu Yuki baru menyadari sesuatu, “Ya! Oppa! Dari mana kau tau kalau aku menyukai Baro oppa? Aku kan tidak pernah cerita padamu!”

“Hahaha kau baru sadar kalau aku menjebakmu barusan. Aku tau dari caramu menyebut nama Baro dan saat menceritakannya juga gerak gerik dan gelagatmu saat bertemu dengan Baro akhir-akhir ini. Bahkan akhir-akhir ini kau sering bercerita padaku tentang Baro dengan menambahkan embel-embel oppa di belakang nama Baro. Padahal sebelumnya kau paling anti kan menyebutnya oppa? Haha kalian sama-sama malu-malu ya. Tapi apa yang aku katakan tadi benar, kau yang harus menyatakan perasaan duluan.”

“Ne, Oppa. Gomawo…” jawab Yuki malu-malu.

“Oh iya, aku ingin mengucapkan sesuatu padamu. Saengil chukae.”

Yuki terbelalak. Ia baru ingat kalau besok adalah hari ulang tahunnya. Pikirannya terlalu disibukkan oleh masalah foto itu seharian ini.

“Go…gomawo, Oppa. Gomawo juga sudah mengingat ulang tahunku. Tapi oppa mengucapkannya terlalu awal hehe.”

“Tidak apa-apa, hanya lebih awal 2 jam kan? Mumpung sekarang sedang ingat hehe.”

“Ah, berarti oppa hanya kebetulan mengingat ulang tahunku.” Yuki menggoda Jinyoung.

“Hahaha ani, aku bercanda. Tidak usah manyun begitu.”

“Mwo? Dari mana oppa bisa tau kalau aku sedang mempoutkan bibirku?”

“Kita ini sudah saling mengenal dan dekat selama setengah tahun, mustahil jika aku tidak mengetahui kebiasaanmu, my dongsaeng.”

“Ne? My dongsaeng? Oppa menganggapku sebagai dongsaeng?”

“Ne, pertama karena aku memang menyayangimu. Kedua karena kau adalah istrinya Baro, jadi kau mutlak adik iparku. Baro kan adikku, walaupun cuma beda beberapa bulan hehe (di ff ini ceritanya Jinyoung dan Baro cuma seumuran).”

“Ah, Oppa, kau membuat pipiku merah. Bangga dan bahagia sekali rasanya diakui sebagai adik oleh seorang Jung Jinyoung.”

“Haha tidak usah seperti itu, my dongsaeng. Sudah ya, aku mau ke rumah Jiyeon dulu sekarang. Sampaikan salamku pada Baro. Annyeong.”

“Ne. Gomawo, Oppa, jeongmal jeongmal jeongmal gomawo yo.” ucap Yuki dengan gaya manjanya yang khas.

“Ne, cheonma.”

Jinyoung menutup sambungan teleponnya.

“Ya Tuhan, kamsahamnida. Kau telah mengabulkan doaku. Kau membuat hatiku tenang, Kau telah membuat hatiku benar-benar ikhlas melihat Baro dan Yuki bersatu. Kamsahamnida, Tuhan. Aku lega. Sekarang bukan lagi cemburu dan terpaksa yang kurasakan saat melihat mereka berdua, tapi suatu perasaan bahagia dan tenang. Aku bahagia melihat mereka saling mencintai. Kamsahamnida, Tuhan.” ucap Jinyoung dalam hati, lalu segera menelepon Jiyeon untuk memberi taunya mengenai ini dan memberi taunya kalau ia akan ke rumahnya sekarang.

 

Yuki POV

Deg deg deg. Jantungku masih berdegup kencang.

“Aigoo, eotte?”

“Gwaenchana? Kenapa wajahmu pucat begitu? Apa Jinyoung bercerita yang tidak-tidak padamu? Jangan percaya padanya, Yuki-ah. Ia hanya menggodamu. Semuanya sudah baik-baik saja.”

“Baro…”

“Hmm?”

Aigoo aigoo melihatnya menatapku seperti ini membuat jantungku hampir berhenti berdetak.

“Wae yo?”

Aigoooooo ia semakin mendekat. Aigoo aigoo etteohke???????

“Gwaenchana?” kini ia menempelkan punggung tangannya di dahiku.

Aigoo rasanya aku…aku…

Bruk.

 

 

TBC…

2 thoughts on “MARRIED? Shireoooo!! – part 5

  1. eca says:

    wah~~ aku suka ceritanya~~ lanjutannya udah ada belom..?? aku tunggu ya.. ^^

    • Puput Levina says:

      aaaahhh gomawo yoooo hehehehe. udah end kok chingu, tp belom dipost di sini, cb cek di b1a4.wordpress.com di sana udah sampe part 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s