MARRIED? Shireoooo!! – part 6 (end)

Author     : Levina Putri (twitter @puputlevina)

Judul        : MARRIED? Shireoooo!! – part 6 (end)

Kategori   : Romance, a little biiiiiiiit  NC-17

Rating      : PG-15

Main cast : – Song Rae Soo/Yuki as You

– B1A4 Baro as B1A4 Baro/Cha Sun Woo

Other cast : – B1A4 Jinyoung as B1A4 Jinyoung/Jung Jinyoung

–          T-ARA Jiyeon as Jiyeon

Yuki POV

“Kau sudah siuman?”

Deg! Baru saja aku siuman dia sudah mau membuatku pingsan lagi! Dia duduk di samping tempat tidurku dan menatapku dengan tatapan khawatir. Membuatku hampir meleleh habis dibuatnya.

“Nn…ne…” jawabku gugup tanpa melihat wajahnya.

“Pasti kau pingsan gara-gara terlalu frustasi dengan masalah tadi.”

“Ani ani!” aku refleks mengarahkan pandanganku padanya. Dan aigoo pandangan kami bertemu! Dia balik menatapku!

“Lalu kenapa? Apa hari ini kau kecapean? Mau kubuatkan bubur?”

“Andwae, kata oppadeul B1A4 juga kau kan tidak bisa memasak.” godaku berusaha mencairkan kegugupanku.

“Ya! Jadi kau meragukan kemampuanku hah?”

“Ne!” jawabku pasti.

“Oh baiklah, aku akan mebuktikannya padamu!”

Baro POV

Aku pergi keluar kamar. Hihihi dia pikir ini tahun berapa? Ini 2012! Sudah banyak makanan instan sekali jadi. Tinggal memodifikasinya sedikit juga beres.

Kubuka lemari penyimpanan makanan di dapur.

“Ya ini dia!”

Kumulai aksiku memasak untuk Yuki. Ya memang benar yang dikatakan Yuki, aku tidak bisa memasak. Dulu aku sering dimarahi Jinyoung hyung gara-gara masalah memasak. Bahkan dulu aku pernah menangis karena dimarahi Jinyoung hyung gara-gara aku memasukkan air terlalu banyak saat memasak mie. Wajar saja jika aku bingung. Aku yang notabene sama sekali tidak ahli dalam bidang memasak ini tiba-tiba disuruh memasak mie untuk dua belas member. Tentu saja aku tidak tau perbandingan antara air dan mienya. Walaupun aku pintar matematika, tapi untuk perbandingan memasak, itu sulit. Dan salahnya waktu itu aku malah sok tau.

“Tara…bubur spesial buatan Cha Sun Woo B1A4 sudah selesai. Awas kau manusia salju (yuki=salju) kalau ketagihan bubur buatanku ini!”

Aku berjalan menaiki tangga dengan sangat hati-hati. Aku jarang membawa nampan, mangkuk, dan sebagainya. Biasanya aku tau jadi di meja makan. Dan terlebih lagi, aku tidak mau bubur buatanku yang sudah dihias sedemikian rupa ini hancur berntuknya.

“Lihat, aku bisa memasak bubur kan?”

Yuki melihat mangkuk yang kubawa.

“Coba dimakan.”

Ia menerimanya dengan lembut. Ia mulai menyuapkan sesendok bubur ke mulutnya.

“Ya! Ini kan bubur instan!”

“Mm…mwo? Sok tau sekali!”

“Ya, Cha Sun Woo, kau pikir aku ini bodoh apa? Rasa bubur instan ini benar-benar khas. Hahaha tidak kusangka, ternyata kau ini bodoh ya kalau selain akademis!”

“Mworago! Itu…itu bubur buatanku!”

“Ckckck iya deh iya, aku percaya.” ia kembali melahap buburnya sambil terkadang cekikikan. Kyeopta…

“Aaaah aku kenyang. Gomawo yo Baro-ssi.”

“Ya untuk apa kau bicara formal begitu?”

“Karena hari ini kau seperti pelayanku. Sudah menjemputku, menggendongku, bahkan memasak untukku.”

“Itu bukan cara berterima kasih yang baik, Agassi.”

“Hahaha ne ne, mianhae, Cha Sun Woo-ah.”

“Panggil aku OPPA. Kau dengar? O-P-P-A, OP-PA.”

“Shireo.”

“Ya! Kau harus mau!”

“Memangnya kenapa kalau aku tidak mau?”

“Aku ini lebih tua dua tahun darimu. Jadi sebagai warga negara Korea yang baik, kau harus mengikuti tata krama yang ada.”

“Shi-reo.”

“Hih dasar yeoja menyebalkan. Pada Jinyoung saja kau mau memanggil oppa.”

“Jinyoung oppa itu orangnya saaaaangat baik dan dewasa. Berbeda denganmu yang childish!”

Mwo? Childish dia bilang? Mworago. Ia selalu memuji-muji Jinyoung di hadapanku. Apakah ia menyukai Jinyoung? Apa aku bertepuk sebelah tangan? Aigoo sungguh sangat sulit dipercaya. Cha Sun Woo dengan jutaan bahkan milyaran fans cintanya bertepuk sebelah tangan? Aigoo sungguh menyebalkan.

“Saranghae?”

MWO?

Yuki POV

“Hih dasar yeoja menyebalkan. Pada Jinyoung saja kau mau memanggil oppa.”

“Jinyoung oppa itu orangnya saaaaangat baik dan dewasa. Berbeda denganmu yang childish!”

Ia hanya memanyunkan bibirnya. Marahkah? Hahaha aku sangat suka wajahnya saat ngambek seperti ini. Ini pertama kalinya aku melihat ekspresinya yang seperti ini. Selama ini ekspresinya yang sering kulihat adalah ekspresi dingin dan menyebalkan. Tapi kali ini berbeda. Membuatku benar-benar ingin mengatakan…

“Saranghae.”

Ups! Aku keceplosan!!! Aigo aigoo ya Tuhan, etteohke??????

“Eh…eh…maksudku…maksudku…” aku mulai meracau tak jelas. Aku sungguh sangat bingung dan gugup saat ini!

“Apa…kau serius dengan yang kau katakan tadi?”

Eh?

“Eh…ng…ng…itu…itu…”

Aigoo aku tidak bisa mengatakannya, aku terlalu gugup!

“Oh jadi kau bercanda ya…”

Wajah Baro oppa yang tadinya kaget sontak berubah kecewa melihat ekspresiku. Pasti ia berpikir kalau dia bertepuk sebelah tangan. Arrrrrghhh

“A…aku serius.” jawabku pelan.

“Jinjja?”

“Ne.” jawabku malu.

“Na…nado…”

Aku terbelalak kaget dan langsung menatap Baro oppa. kulihat ia sedang menunduk. Kuberanikan diri menyentuh tangannya walaupun sebenarnya aku juga gemetaran. Ia mengangkat wajahnya kaget dan menatap mataku.

“Apa kau serius dengan apa yang kau katakan barusan?” aku balik bertanya dengan pertanyaan persis seperti yang ia lontarkan barusan padaku.

Sekilas ia tersenyum. Jeongmal, ini senyum terindah darinya yang pernah aku lihat selama ini.

“Ne.” ia menatapku dalam, “Saranghae.”

Treng treng treng treng. Jam di ruang tamu berdentang dua belas kali menandakan bahwa hari sudah berganti. Ya, ini sudah tanggal 15 Desember, hari ulang tahunku. Saat aku menengok ke arah jendela yang belum tertutup gorden, kulihat butiran butiran putih hexagonal yang lebih terlihat seperti bulatan, turun dari langit. Hai, karera wa yuki, atashi no tomodachi (yes, they’re snow, they’re my friends).

“Kau lihat?” tanyaku pada Baro oppa. Ia mengikuti arah mataku, “They’re snow, they’re my friends.”

“Ne, aku lihat. Mereka terlihat sangat indah dan cantik. Tapi aku memiliki salju yang terlihat lebih indah dan sangat cantik.”

Deg! Kalimat singkatnya membuat jantungku berdebar tak karuan. Ini pertama kalinya ia berkata romantis. Aigoo sepertinya pipiku sekarang sudah seperti kepiting rebus.

“Coba panggil aku oppa.”

Lagi-lagi ia menatapku dalam dan membuatku semakin tidak bisa bernafas, “Op…pa.” jawabku terbata, “Tapi…kita kan sudah menikah. Seharusnya kita saling memanggil dengan panggilan yeobo…” lanjutku malu-malu.

“Kau mau aku memanggilmu dengan panggilan yeobo?” ia masih menatapku dengan pandangan yang tidak pernah kulihat selama ini, “With all pleasure, Yeobo.”

Aku tersenyum padanya, “Arigatou, Yeobo.”

“Ne. Saengil chukae.”

“Mwo? Oppa ingat ulang tahunku?”

“Tentu saja. Mana mungkin aku melupakan hari ulang tahun istriku sendiri.”

“Ah, Oppa, jeongmal saranghaeyo.”

“Nado.”

Kami saling menatap cukup lama. Tanpa bicara, tanpa kata-kata. Tiba-tiba Baro oppa mendekatkan wajahnya padaku dan chu~. Aku terbelalak kaget. Bibirnya menyentuh bibirku dengan sangat lembut. Memang ini bukanlah ciuman pertama kami. Ciuman pertama kami adalah saat pulang dari makam eommanya Baro oppa. Tapi itu benar-benar berbeda. Saat itu rasa shock yang mendominasi. Tapi kali ini rasa nyaman dan bahagialah yang mendominasi. Aku sangat bahagia. Jeongmal, jeongmal, jeongmal haengbokhae. Kamsahamnida, Tuhan. Kau telah mengabulkan doaku. Ini benar-benar menjadi kado terindah di ulang tahun pertamaku di Korea setelah belasan tahun tak merayakan ulang tahun di negara kelahiranku ini.

“Saranghae.” ucap Baro oppa sambil melepas ciumannya.

“Nado. Nado saranghae…nae yeobo.”

Kami saling bertatapan lagi. Baro oppa meletakkan kedua tangannya di pipiku. Lalu ia sedikit memiringkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke wajahku dan kami berciuman lagi. Tapi ciuman kali ini berbeda. Ciuman Baro kali ini terasa lebih liar dan dalam. Ia mulai memainkan lidahnya. Kubuka mulutku memberinya jalan. Lidah kami saling bertautan di dalam. Ini terus berlangsung selama beberapa detik dan…

(NC part skip)

*          *          *

Author POV

Seminggu kemudian…

“Yeobo, kau belum masak ya?”

“Ne. Akhir-akhir ini entah kenapa aku sering pusing dan sedikit tidak enak badan. Selain itu dari tadi pagi aku mu…” tiba-tiba Yuki berlari sambil  menutup mulutnya.

Baro mengangkat sebelah alisnya dan menggaruk-garuk kepalanya keheranan. Rambutnya masih acak-acakan tak beraturan karena baru bangun tidur. Matanya masih merah, wajahnya masih kusut, dan masih memakai piyama. Tapi tetap tampan dan mempesona.

“Yeobo, wae yo?”

“Barusan aku muntah lagi. Dari bangun tidur sampai sekarang aku sudah tiga kali muntah.” jawab Yuki lesu.

“Muntah?” gumam Baro pelan, “Jangan-jangan…”

Ia teringat perkataan Jinyoung saat ia menceritakan bahwa ia sudah melakukan malam pertama dengan Yuki.

LITTLE FLASHBACK

“Waaaah kau mendahuluiku, Baro. Padahal untuk tolok ukur kedewasaan biasanya aku yang selalu lebih dulu.”

“Sekali-sekali kau yang harus kalah.” canda Baro.

“Bersiaplah. Mungkin beberapa hari lagi kau akan menghadapi fenomena aneh yang terjadi pada istrimu.”

“Fenomena aneh?”

“Kau ini. Kau kan mahasiswa kedokteran, harusnya kau tau. Itu lho, biasanya wanita yang sudah ‘itu’ akan mengalami fenomena tidak enak badan, pusing, sampai mual-mual.”

“Aigoo benar juga. Kami kan sudah dewasa.”

“Haha dasar my dongsaeng. Sampai kapanpun aku tetap lebih dewasa darimu.”

LITTLE FLASHBACKEND

“Yeobo…kau…”

Yuki menatap Baro heran, “Wae?”

“KYAAAAA TERIMA KASIH, TUHAN!” tiba-tiba Baro memeluk Yuki begitu erat. Yuki hanya terperangah heran di dalam pelukan Baro.

*          *          *

9 bulan kemudian…

“Engh….engh…”

“Terus, Agassi, terus! Tinggal sedikit lagi!!”

“Ayo, Yeobo, berjuang! Kau pasti bisa!”

“YA!”

“Oe…oe…(suara bayi ceritanya)”

“KYAAAAA!” Baro memeluk Yuki. Yuki yang masih sangat lemah dan pucat tersengal-sengal di dalam pelukan Baro.

“Chukae, Tuan, Nyonya. Anak kalian perempuan. Cantik sekali, mirip dengan eommanya.”

“Yeoja? Aigoo padahal aku ingin anak laki-laki biar bisa kuajak main game.” Ujar Baro sambil mengambil bayinya dengan hati-hati dari gendongan suster.

“Eh, tidak boleh begitu. Nanti anak kita marah lho.”

“Hehehe mianahe. Maafkan appa ya sayang.”

“Berikan padaku.” Baro menyerahkan bayinya pada Yuki.

“Apa kau sudah menyiapkan sebuah nama untuk putri kita ini?”

“Sudah.”

“Mwo?” tanya Yuki penasaran.

“Cha Ji Hyeon.”

“Cha Ji Hyeon?”

“Ne. Manis bukan? Tadinya kalau namja akan kunamai Cha Joo Hyeon. Tapi berhubung yeoja, jadi kuberi nama Cha Ji Hyeon.”

“Manis sekali. Sesuai dengan wajahnya yang manis. Dia benar-benar mirip aku.”

“Ya ani! Dia mirip appanya!”

“Apa-apaan kau ngaku-ngaku? Tadi kan kau sempat menolaknya.” goda Yuki.

“Siapa yang menolaknya?”

“Tadi, buktinya kau terlihat kecewa karena anak pertama kita yeoja.”

“Tidak, aku tidak pernah begitu.”

“Iya.”

“Tidak.”

“Iya!”

“Ti-dak!”

“Hei hei hei, sudah sudah.” sebuah suara yang tidak asing di telinga mereka.

“Jinyoung, Jiyeon, appa?”

“Appa, eomma?”

“Huwaaaaa cucuk cucuku!!!” appanya Baro sangat girang saat melihat bayi mungil di pelukan Yuki, “Boleh aku menggendongnya?”

“Ne, tentu saja, Appa.”

“Whooooooaaaaaaa neomu kyeoptaaaaa.”

“Aku juga ingin lihat.”

“Aku juga.”

Ketiga orang tua itu mengerubungi cucu pertama mereka.

“Kalian ini, sudah punya anak juga masih saja bertengkar. Kasian anak kalian.” ujar Jinyoung.

“Si Hambaro itu yang mulai duluan.”

“Mwo? Kau menyalahkanku?”

“Ne, wae?”

“Eh sudah sudah. Baru saja oppa mengingatkan kalian.”

“Cieeee sekarang beda ya. Sekarang kau memanggil Jinyoung dengan sebutan oppa. Padahal kalian kan cuma beda beberapa bulan.” goda Baro.

“Baro-ah, kau membuatku malu.” Jiyeon tersipu malu.

“Chukae yo.” ujar Jinyoung pada Baro dan Yuki.

“Gomawo, Oppa.”

“Gomawo, Jinyoung-ah. Kapan kalian akan menyusul?”

Jinyoung dan Jiyeon saling menatap kemudian tersenyum.

“Ini.” Jinyoung menyodorkan selembar kertas biru shappire berhiaskan pita putih.

“MWO?” teriak Baro dan Yuki berasamaan.

“Woooaaaaaa chukae yo!!!” Baro merangkul Jinyoung.

“Gomawo, Baro-ah.”

“Chukae, Oppa, Eonni.” ujar Yuki, masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

“Kapan kalian akan menikah?”

“Undangan pertunangannya saja baru disebar.”

“Jangan lama-lama, segeralah menikah. Menikah itu menyenangkan.”

“Jinjja? Waktu itu kau malah sering cerita padaku kalau kau sangat menyesal telah menuruti perintah appa.” goda Jinyoung.

“Itu…itu…aaaah sudah jangan bahas masa lalu. Cha Sun Woo yang sekarang beda dengan Cha Sun Woo yang dulu.”

“Hmm baiklah.”

“Eh, Yeobo, apa kau punya nama Jepang untuk putri kita?” tanya Baro tiba-tiba.

“Hmm…” Yuki berpikir sejenak, “Natsumi.”

“Apa itu artinya?”

“Natsumi diambil dari kata Natsu yang artinya musim panas. Karena putri kita lahir di musim panas dan pernikahan kita juga diawali di musim panas. Hanya saja putri kita lahir di akhir musim panas, sedangkan kita menikah di awal musim panas.”

“Romantis sekali.” puji Jiyeon.

“Hehe gomawo, Eonni.” Yuki tersenyum malu, “Dan dibalik nama Natsu itu aku menyimpan sebuah harapan.”

Baro, Jinyoung, dan Jiyeon terdiam menunggu lanjutan kalimat Yuki.

“Aku berharap Ji Hyeon atau Natsu bisa tumbuh menjadi anak yang ceria dan semangat, seceria musim panas yang selalu cerah dan diwarnai tawa bahagia.”

Baro tersenyum mendengar penjelasan istrinya, “Semoga, Yeobo.”

“Ne.” Yuki membalas senyuman Baro.

Baro memeluk Yuki. Jinyoung dan Jiyeon saling berpandangan.

“Saranghae, Chagi.” ujar Jinyoung.

“Nado.”

Kemudian Jinyoung merangkul Jiyeon. Dua pasangan bahagia ini benar-benar sedang menikmati anugrah cinta masing-masing yang begitu besar. Yang membuat mereka bisa merasakan betapa indahnya hidup ini dengan saling menyayangi.

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s