My Invisible Guardian Angel – Part 7 (end)

Author     : Levina Putri (twitter @puputlevina)

Judul        : My Invisible Guardian Angel – Part 7 (end)

Kategori   : Romance, friendship

Rating      : Teens

Main cast : – Jung Ji Yeon as You

– B1A4 Gongchan as Gong Chan Shik

– B1A4 Jinyoung as Jung Jin Young

Other cast : Other B1A4 members

Part sebelumnya…

Author POV

“Ternyata bisa juga ya kau berdandan cantik.” ujar Sandeul sambil memandangi Ji Yeon dari atas sampai bawah dan mengangguk-angguk layaknya seorang pemerhati style.

“Ya! Apa kau bilang? Ya sudah, aku tidak jadi membantumu.”

“Eh eh eh, ya sudah ya sudah mianhae, Jung Ji Yeon yang sangat cantik. Sekarang silahkan masuk ke dalam taxi.”

Tanpa banyak berkata, Ji Yeon masuk ke dalam taxi yang sudah dibukakan pintunya oleh Sandeul.

“Memangnya yeoja yang kau suka itu siapa? Maksudnya teman kampusmu atau apa?” tanya Ji Yeon setelah duduk di dalam taxi.

“Teman kampusku.”

“Hah? Yeoja itu sejurusan dengan kita?”

“Ani yo, dia teman satu klubku.”

“Oh. Kau punya fotonya tidak? Aku mau lihat yeoja pertama yang bisa membuatmu tertarik itu.” tanyanya dengan tatapan jahil.

“Ya! Biasa saja nyebut kata pertamanya!”

“Tapi memang kaaaan?” goda Ji Yeon lagi. Dia memang suka menggoda Sandeul.

“Nanti saja lihat di sana.”

“Hmm…baiklah. Awas ya kalau tidak lebih cantik dariku!” ujar Ji Yeon lagi sambil menjulurkan lidahnya.

“Itu sudah pasti!”

Beberapa menit kemudian…

“Nah, kita sudah sampai.”

“Oh…di restoran ini ya? Hmm romantis juga. Memang acaranya acara apa sih?”

“Lihat saja nanti. Ayo!”

Mereka masuk ke dalam restoran mewah itu. Sandeul berjalan ke sebuah ruang khusus di pojokan sana.

“Emm kau masuk saja duluan, aku mau ke toilet dulu.”

“Ah tidak mau, akukan tidak tau acaranya seperti apa.”

“Sudahlah masuk saja. Ya ya ya? Biasanya juga kau tidak malu-malu kan?”

“Hmm…ya sudahlah. Tapi jangan lama-lama ya.”

Sandeul hanya menjawab dengan acungan jempol ala 2PM di MV I’ll Be Back dan tanpa membalikkan badannya.

‘Tapi sepertinya ruangan ini sepi dan kecil. Rasanya tidak mungkin ada acara pesta di sini. Tapi kalau bukan acara pesta, lalu acara apa yang bisa mempertemukan Sandeul dan yeoja itu?’ gumam Ji Yeon.

Karena penasaran, dia segera meraih gagang pintu ruangan itu, membukanya dan melongok masuk ke dalamnya.

“Tidak ada orang?”

Dia melanjutkan langkahnya ke dalam. Terlihat ada sepasang kaki seseorang yang tidak terlihat wajahnya di balik piano klasik berwarna hitam.

“Annyeonghaseyo?” Ji Yeon melangkah menuju piano itu.

Bukan jawaban yang didapat, tapi dentingan piano yang begitu merdu diiringi sebuah nyanyian.

Don’t wanna hurt nobody. This is a song for you. Skippin all the afterparties, Girl, I’m goin home with you. Don’t even think about it, you gon feel what we gon do. Cause we’ll be falling in love all night long. Said I know she wanna be mine tonight.”

(Backsong : JYJ – Be My Girl)

One look from you girl and it’s too hard to get by. But excuse me girl, I been watchin you all night, that’s right, I’d like to take this night over. What I’m trying to say is you should be mine. You should be my baby, baby, baby, baby, baby, baby, you should be my girl. Would you be my girl?”

Part 7…

Melihat seseorang yang dikenalnya dengan tuxedo hitam rapi, berlutut di hadapannya sambil menyodorkan seikat bunga dan mengatakan ‘would you be my girl?’, membuat Ji Yeon terkesiap dan kehilangan kata-kata.

“Noona, would you be my girl?”

‘Ya Tuhan…apakah ini mimpi?’ wajah Ji Yeon yang terpaku seakan-akan berkata seperti itu.

“Noona?”

“Nn…nn…ne.”

“Ma…maksudnya Noona? Kau…”

Ji Yeon tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya tersenyum dan mengangguk dengan wajah tersipu malu. Melihat respon seperti itu dari Ji Yeon, mata Gongchan terlihat sangat berbinar. Tanpa melepas bunga yang digenggamnya, Gongchan refleks memeluk yeoja yang baru saja resmi menjadi yeoja chingunya itu.

“Gomawo, Noona.”

“Cheonma, Gongchannie.”

PROK PROK PROK. Tiba-tiba empat orang namja berpakaian rapi masuk ke dalam ruangan itu dan bertepuk tangan.

“Ternyata bisa juga ya kau memeluk seorang yeoja selain eommamu sendiri.”

“Hyung?”

Mereka spontan melepaskan pelukannya saat mendengar tepuk tangan itu.

“Chukae yo.” Jinyoung menjabat tangan Gongchan.

“Gomawo, Hyung.” Gongchan membalasnya dan memeluk Jinyoung.

“Jaga baik-baik dongsaengku ya.”

“Itu sudah pasti, Hyung.”

“Hahahaha benar kan yang kubilang! Kau itu menyukai Gongchan! Hahahaha.” Sandeul mulai menggoda Ji Yeon.

“Ya! Jangan berkata seperti itu!”

“Ah wajahmu terlihat seperti kepiting rebus! Hahaha.” kini giliran Baro yang mengggoda Ji Yeon.

“Hiiiih kau juga yaaaaaa!”

“Sudah sudah, jangan ganggu orang yang sedang bahagia.” CNU menghentikan semuanya, “Kalau sudah memberi ucapan selamat, lebih baik kita keluar dan biarkan pasangan muda ini menikmati malam pertama jadian mereka.”

“Hyung, cara bicaramu sudah seperti harabeoji saja!”

“Tentu saja, Baro-ah, dia kan yang paling tua di antara kita.”

“Hahaha sudah sudah Sandeul-ah, Baro-ah. Lebih baik kita beri ucapan selamat untuk pasangan baru ini.” Jinyoung sang leader berusaha menengahi.

“Chukhae yo.”

“Gomawo, oppa.” jawab Ji Yeon tanpa tatapan dendam pada Jinyoung.

“Sepertinya nama kita yang lumayan mirip menandakan kalau kita memang hanya pantas menjadi saudara haha.”

“Oppa, sampai kapanpun kau akan tetap menjadi oppaku.”

“Ya, jangan menangis, Ji Yeon-ah. Masa di hari bahagiamu ini kau menangis?”

“Ani, oppa. Aku hanya sedikit kelilipan saja. Lihat saja, tidak ada air mata yang keluar dari mataku.”

“Iya iya, matamu hanya terlihat berkaca-kaca saja, tidak mengeluarkan air mata.” Jinyoung berusaha menghibur Ji Yeon.

Satu persatu dari mereka memberi ucapan selamat pada Ji Yeon dan Gongchan. Seperti biasa, Sandeul dan Baro senang sekali menggoda Ji Yeon yang sedikit cengeng itu.

“Sudah ya sekarang jangan menjadi fansku lagi.” Baro menggoda Ji Yeon dengan wajah so coolnya yang malah jadi terlihat imut.

“Ya kau ini! Aku sudah lama berhenti menajdi fansmu setelah tau kelakuan aslimu yang jayus itu!”

Baro hanya menanggapi dengan senyuman jahilnya.

“Ehm ehm, sepertinya besok kau harus mentraktirku.” kini giliran Sandeul.

“Traktir tidak yaaaa?”

“Hih dasar kucing garong pelit!”

“Bleeeee!”

“Dasar anak muda hahaha. Cukhae yo, Ji Yeon-ah. Semoga kau berbahagia dengan Gongchan.”

“Gomawo, CNU oppa.”

Selesai mengucap selamat pada Ji Yeon dan Gongchan, mereka segera keluar dari ruangan itu.

“Sekali lagi selamat ya dongsaeng-dongsaengku!” ujar Jinyoung.

“Ne, gomawo, Hyung.”

“Gomawo, oppadeul, Baro. Terutama untukmu Lee Jung Hwan alias Sandeul. Aktingmu cukup bagus.”

“Tentu saja. Aku memang berbakat dalam masalah akting.” timpal Sandeul dengan bangganya.

“Tapi…berarti masalah yeoja yang kau suka itu cuma fiktif ya?”

“Enak saja! Itu beneran tau!”

“Ah, masa? Jangan-jangan sekarang kau sedang amrah-marah dalam hati karena Gongchannya kurebut?”

“Ya dasar kucing garong!”

“Bleeee!”

“Eh sudah sudah haha. Benar kok, Ji Yeon-ah, Sandeul memang sedang dekat dengan seorang yeoja sekarang.” CNU membela Sandeul.

“Jinja yo? Ah rasanya aku  tidak percaya.”

“Sudahlah kalau kau tidak percaya. Lihat saja, dalam hitungan hari, aku akan menjadikannya yeoja chinguku dan menunjukkannya padamu.”

“Baik. Kupegang janjimu!”

Mereka pun keluar dari sana. Kini di ruangan itu hanya ada Ji Yeon dan Gongchan.

“Noona.”

“Wae, Gongchannie?”

“Emm…sepertinya ada yang harus diubah.”

“Apanya yang harus diubah?”

“Panggilan kita.”

“Maksudmu…”

“Ne, bolehkah aku memanggilmu dengan panggilan ‘Jagi’ sekarang?”

Ji Yeon terdiam sejenak.

“Ne, mochiron (tentu), Jagi ya.”

Mendengar kata ‘Jagi’ keluar dari mulut Ji Yeon, Gongchan sangat bahagia. Ia kembali memeluk yeoja chingunya itu.

“Gomawo yo, Noo, eh, Jagi ya.”

“Cheonma, my Jagi.” Ji Yeon membalas pelukan Gongchan lebih erat lagi, “Oh iya, ngomong-ngomong soal surprise di taman itu, saat aku ulang tahun, apa itu kerjaan mereka juga?” lanjut Ji Yeon sambil melepas pelukannya.

“Itu…”

Ji Yeon menunggu jawaban yang keluar dari mulut Gongchan.

“Ra-ha-si-a.” Gongchan mengeluarkan gaya aegyonya.

“Ih kau ini!” Ji Yeon mencubit pipi Gongchan.

FLASHBACK

Gongchan POV

“Apa? Kau gagal menyatakan perasaanmu?”

“Ne, Hyung. Aku sudah mencobanya tiga kali. Tapi sialnya saat aku sudah benar-benar siap, eh, Ji Yeon noonanya malah pulang.”

“Ya kau ini memang benar-benar payah!”

“Ah, hyung sendiri juga tidak pernah berhasil menyatakan perasaan pada seorang yeoja kan?” godaku pada Sandeul hyung di sela-sela percakapan kami di telepon.

“Ya! Kau ini! Tapi setidaknya, aku sudah berhasil merancang ide romantis kan. Yang merancang ide romantis saat ulang tahun Ji Yeon siapa? Aku kan?”

“Ya memang. Tapi yang merancang detailnya kan CNU hyung. Kau hanya menyumbang ide awal saja.”

“Hah ya sudah sudah. Intinya surperisenya berhasil membuat Ji Yeon terharu dan kau senang kan? Hmm…bagaimana kalau kita buat acara surprise lagi untuk Ji Yeon? Kali ini tentu saja dalam rangka menyatakan perasaanmu.”

“Hmm boleh juga idemu hyung. Kalau masalah ide, hyung memang tidak ada matinya! Tapi untuk selanjutnya lebih baik aku konsultasi pada CNU hyung saja. Aku tidak percaya padamu hahahaha. Annyeong.” tanpa menunggu jawaban dariSandeul hyung, aku langsung menutup telepon dan menelepon CNU hyung.

“Yeobeoseyo. Wae yo, Gongchan-ah?”

Aku menceritakan semuanya pada CNU hyung, termasuk usul dari Sandeul hyung barusan.

“Hmm…baiklah. beri aku waktu satu hari untuk memikirkan konsepnya.”

“O.K. hyung. Gomawo.”

Besoknya CNU hyung memberitaukan idenya padaku. Dan aku beserta hyung-hyungku mulai mempersiapkan semuanya.

FLASHBACK END

Back to author POV

Suasana mendadak hening. Mereka terdiam sejenak menikmati kebersamaan mereka dalam suasana romantis itu. Tiba-tiba…DEG! Ji Yeon dan Gongchan menoleh bersamaan sehingga wajahnya hampir bertabrakan. Mereka terdiam dalam posisi itu. Seakan memberikan isyarat, Ji Yeon menutup matanya. Gongchan terbelalak melihat respon yang Ji Yeon berikan. Jantungnya berdebar kencang sekali. Walaupun ia polos, tapi ia mengerti dengan isyarat yang Ji Yeon berikan.

‘Persis seperti dalam adegan-adegan dalam manga atau drama!’ begitu pikirnya.

Glek! Gongchan menahan ludah saat matanya tertuju pada bibir mungil Ji Yeon yang dipoles lisptik pink natural itu. 8cm, 7cm, 6cm, dan…

“Emm…Noo, eh Jagi, apa kau ingin aku menyanyikan sebuah lagu lagi untukmu?”

Gubrak! Ji Yeon langsung membuka matanya. Dan didapatinya Gongchan sedang menoleh ke arah lain.

‘Aishhhh, Gongchannieeeeee kau iniiiiiii!’

“Terserah.”

“Jagi? Kau marah padaku? Mianhae, jongmal mianhae. Aku belum siap. Ini pengalaman pertamaku. Untuk bisa mengungkapkan perasaan saja sangat sulit sekali bagiku.”

Melihat wajah Gongchan yang cemas dan memelas, hati Ji Yeon luluh seketika.

“Hmm, baiklah, arasseo. Aku…ingin lagu hug-nya DBSK saja. Romantis sekali. Apa kau bisa?”

“Untuk my lovely princess, tidak  ada kata tidak bisa.”

‘Omooooo kata-kata dan senyum manisnya membuatku hampir tidak sadarkan diri! *O*’ gumam Ji Yeon dalam hati.

“Bisa juga kau mengatakan hal manis seperti itu pada seorang yeoja.” goda Ji Yeon.

“Kan aku sudah belajar pada Jinyoung hyung hehe.”

Gongchan memulai permainan pianonya. Terdengar dentingan suara tuts piano mengalun merdu di ruangan yang hening itu.

(Backsong : DBSK – Hug)

Once I say I love you I think you would be gone. Oh baby.
Cause we are too young to love so I can’t say little long hold you in my arms.
But I will be waiting for you to say you want me to be with you.
I’ll live in your love and your dream forever and ever.
Whenever you look in my eyes. There are so many smiles and tear.
I was born to love feel so deep inside if you need me I’ll be your man.
Whenever you look in my eyes. I do want to show you my love.
I make up my mind make your dreams come true.
Nobody can stop me to say I love you….

Enam bulan kemudian…

Gongchan POV

“Aigoo, aku sudah terlambat lima menit! Ottokhae! Bagaimana kalau my Jagi marah? Ini pertama kalinya aku telat menjemputnya!”

Kulihat seorang yeoja bermantel merah sedang berdiri sendiri di depan halte sambil menggosok-gosok tangannya yang terbungkus sarung tangan warna pink. Itu yeojaku, yeoja yang biasanya aku panggil Ji Yeon noona sebelum kami jadian. Dia terlihat sangat cantik dengan rambut panjang dan tubuh mungilnya bahkan di tengah kedinginan seperti ini. Dia terlihat seperti putri salju di tengah musim dingin ini.

“Jagiya, mianhae, aku terlambat menjemputmu. Tadi sedikit macet.”

Daijoubu, Gongchannie.” jawabnya sambil tersenyum.

E~?  Dia tidak marah padaku? Yokatta.

“Gomawo, Jagiya, kau tidak marah padaku. Kalau begitu, silahkan masuk ke mobil sekarang, my snow white.” aku membukakan pintu mobil untuknya.

(Backsong : Super Junior – Snow White)

Lagu Snow Whitenya Suju mengiringi perjalanan kami. Ini lagu kesukaan Ji Yeon noona yang terbaru. Lagunya memang enak didengar dan bahasanya bahasa Jepang, agak mirip soundtrack-soundtrack anime. Jelas saja Ji Yeon noona sangat menyukainya. Dan judulnya sangat cocok dengan my Jagi. Di mataku, dia terlihat seperti seorang putri salju.

Sebenarnya malam ini aku tidak tahu ingin pergi kemana. Tujuanku membawa Ji Yeon noona adalah untuk melancarkan rencanaku. Besok adalah hari yang berarti bagi kami. Besok kami tepat 6 bulan. Dan apakah kalian tau apa saja yang sudah kami lakukan selama 6 bulan pacaran ini? Kami hanya jalan bersama, mengobrol, dan melakukan hal-hal lain yang tidak jauh berbeda dengan berteman. Kami belum pernah berciuman. Bagaimana dengan tragedi Namsan Tower? Itu tidak sah, itu suatu insiden. Oleh karena itu, aku sering diolok-olok oleh para hyungku. Rencananya malam ini tanggal 13 Desember, sehari sebelum 6 bulanan kami, aku ingin mencium Ji Yeon noona!

Untuk tujuan pertama, aku mengajak Ji Yeon noona ke restoran romantis. Sepulang dari situ rencananya aku ingin menjalankan rencanaku di mobil. Ya sekarang aku sudah diperbolehkan membawa mobil oleh appaku karena aku sudah selesai semester satu dengan nilai yang memuaskan.

Setelah pulang dari restoran…

@My Car

“Ah aku kenyang sekali, Jagi.”

“Haha aku juga.”

“Setelah ini kita mau ke mana?”

“Rencananya aku ingin membawamu ke basecamp kita. Aku ingin memperdengarkan lagu ciptaanku untukmu.”

“Jinjja yo? Omoooo kau romantis sekali, Gongchannie~”

Omooooo dia mencubit kedua pipiku!

Setelah dia melepaskan tangannya dari pipiku, aku rasa ini waktu yang tepat. Sesuai dengan yang diajarkan hyung-hyungku, kutatap matanya dalam-dalam, kudekatkan wajahku perlahan, dan saat Ji Yeon noona menutup mata, aku…

“Emm…ayo kita menuju basecamp kita sekarang.”

Arrrrrrrggggh lagi-lagi aku gagal! Lagi-lagi aku gugup saat wajah kami tinggal terpaut beberapa cm lagi!

*          *          *

@B1A4’s basecamp

“Palli palli, mainkan gitarnya dan bernyanyi! Aku penasaran dengan lagu yang kau ciptakan untukku. Ini pertama kalinya ada seorang namja yang menciptakan lagu untukku.”

“Ne, Noona.” aku segera meraih gitar akustik yang berdiri tegak di sudut ruangan kecil ini. Mulai kuposisikan jari-jariku di senar-senar silver ini. Sambil duduk, mulai kumainkan gitar ini dan mulai  bernyanyi.

(Backsong : OST Heartstring – Stars by Min Hyuk CN Blue)

“Bagaimana, Jagi ya?”

Dia tidak memberikan jawaban.

“Jagi ya?”

“Hiks hiks, bagus sekali, Gongchannie~”

Dia menghambur ke pelukanku!

Arigatou, Gongchannie, ini lagu teindah yang pernah kudengar.”

“Tentu saja, ini kan lagu yang khusus didedikasikan untukmu haha.”

“Sekali lagi gomawo, Gongchannie.”

“Ne, cheonma, my Jagi.”

Kini ia melepaskan pelukannya.

“Ngomong-ngomong, aku tiba-tiba teringat kejadian sekitar 14 tahun lalu saat melihat gantungan ponselmu.”

“Kejadian apa memangnya?”

“Tiba-tiba saja aku teringat kata-katamu tentang kejadian musim panas tahun lalu yang membuatmu menyukaiku. Aku rasa, aku pernah mengalami hal serupa sekitar 14 tahun yang lalu.”

“Maksudnya?”

“Rasanya aku pernah mengalami kejadian seperti itu. Aku pernah cerita kan dulu aku punya teman kecil yang sangat suka dengan kelinci? Nah dulu aku pernah mencari boneka kelinci dengannya sampai malam di sebuah lapangan. Tepat di musim panas, sama seperti kejadian kita mencari gantungan ponselmu itu.”

“Jinjja? Aku juga pernah mengalami hal itu sebelumnya. Tepat 14 tahun yang lalu. Saat itu aku merasakan perasaan yang tidak biasa pada teman kecilku itu. Untuk pertama kalinya aku merasakan jantungku berdebar-debar saat dengan anak perempuan. Tapi saat itu aku tidak mengerti dengan apa yang kurasakan. Dan kejadian itu terulang saat musim panas tahun lalu denganmu, Jagi.”

“Jangan-jangan…”

“Dulu Noona tinggal di mana?”

“Dulu aku tinggal di daerah Suncheon. Tapi karena appaku pindah tempat kerja, akhirnya aku pindah ke Seoul dan menetap sampai sekarang.”

“Suncheon? Aku juga dulu tinggal di sana. Apa boneka kelincinya seperti ini?” tanyaku sambil menunjukkan foto boneka kelinci kesayanganku di ponsel.

“Iya yang ini yang ini! Jadi…”

“Jadi…Noona adalah cinta pertamaku, benar-benar cinta pertamaku!”

Omooo sangat tidak terduga! Ternyata cinta pertamaku di masa kecil adalah Ji Yeon noona yang menjadi cinta pertamaku juga setelah aku dewasa! Ya Tuhan, kami memang berjodoh sepertinya -^^-

“Ah, Gongchannie, aku sungguh tidak menyangka! Ternyata teman kecilku itu adalah kau!”

“Iya, aku juga tidak menyangka, Noona. Aku sangat senang.”

“Gongchannie, ternyata kau memang sudah lucu dari kecil!”

“Ah, Jagi, jangan begitu, aku jadi malu hehe. Tapi kalau diingat-ingat lagi, itu memang benar-benar kau, Jagi. Aku masih sedikit ingat dengan wajah teman kecilku itu.”

“Aku juga. Walaupun aku tidak punya fotomu waktu kecil, aku sedikit ingat. Besok di 6 bulan pertama kita, bawa foto kita waktu kecil yuk? Aku ingin melihatmu 14 tahun  yang lalu haha.”

“Baiklah, Noona juga ya?”

Un.

Suasana hening sejenak. Kami terbayang masa kecil kami lagi. Aku masih merasa semua ini seperti mimpi.

“Eh, ajarkan aku cara bermain gitar dong.” ujar Ji Yeon noona sambil meraih gitar yang ada di sampingku.

“Baiklah, aku ajarkan chord lagu stars tadi.” kuarahkan jari Ji Yeon noona satu persatu membentuk sebuah chord, “Ini namanya chord C.”

“C~”

“Lalu, ini A minor.”

“Hmm susah juga ternyata.”

“Lalu selanjutnya F.”

“Mirip dengan C ya?”

“Iya, sedikit mirip.”

Hmm tapi sulit juga mengajarkan seperti ini. Aku berjalan ke belakang Ji Yeon Noona. Aku mengarahkan jarinya dari belakang.

“Ini G.”

“Wah aku pusing, Jagi.”

Omoooo dia berbalik ke belakang dan wajah kami hanya terpaut beberapa cm! Tapi sepertinya ini kesempatan yang baik. Kudekatkan wajahku ke wajahnya. Mulai kurasakan hembusan nafasnya mengenai wajahku. Ia mulai menutup matanya dan…

“Emm, sudah malam, Jagi, kita pulang sekarang yuk? Besok kan kita harus siap-siap untuk perayaan 6 bulan kita.”

Gubrak! Lagi-lagi aku gagal! Ah ini sudah yang kedua kalinya untuk hari ini. Pokoknya aku harus berhasil menjalankan rencanaku hari ini! Kesempatan terakhir berarti saat mengantarnya pulang! Kali ini aku tidak boleh gagal! Pokoknya sebelum perayaan 6 bulan kami, aku harus berhasil! Yosh!

 

Ji Yeon POV

“Wah aku pusing, Jagi.” ujarku sambil berbalik ke belakang.

Dan kini wajah kami hanya terpaut beberapa cm! Sepertinya ini kesempatan yang baik untuk Gongchan. Ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku. Mulai kurasakan hembusan nafasnya mengenai wajahku. Aku mulai menutup matanya dan…

“Emm, sudah malam, Jagi, kita pulang sekarang yuk? Besok kan kita harus siap-siap untuk perayaan 6 bulan kita.”

Gubrak! Lagi-lagi gagal! Ini sudah yang kedua kalinya untuk hari ini. Jika dihitung dari awal kami jadian, ini sudah yang keberapa belas kalinya! Aku masih ingat saat kami berkencan di taman beberapa hari lalu. Seperti yang dia lakukan sekarang, saat dia sudah mendekatkan wajahnya padaku dan aku sudah menutup mata, dia malah mundur dan mengalihkan perhatian. Sampai-sampai ada anak kecil yang berkata padaku seperti ini saat aku menutup mata…

“Noona, kenapa tidur di tempat seperti ini? Kalau ngantuk pulang dong!”

Saat aku membuka mata, kulihat Gongchan sedang menunduk dengan wajah yang sangat merah. Omoooo pantas saja dari tadi aku tunggu, tidak sampai-sampai! Ternyata dia sedang menunduk malu. Dasar Gongchan!

Aku kadang iri saat melihat pasangan kekasih seumuran kami berciuman (Ya tentu saja di dalam drama atau di moment-moment yang wajar, kalau yang sembarangan sih yang ada malah membuatku ilfeel). Tapi masa sih harus aku yang mulai? Lagipula aku tidak yakin jika harus aku yang mulai duluan. Saat ulangtahunnya pun, aku hanya mencium pipinya saja, dia sudah hampir pingsan. Apalagi jika lebih dari itu. Hmm, memang susah pacaran dengan namja polos -_-

Tapi aku senang punya pacar seperti dia. Bagiku dia adalah invisible guardian angelku. Walaupun dia tidak pernah melindungiku dari ancaman orang-orang jahat (karena tidak ada orang jahat yang menganiayaku), tapi dia melindungiku lewat sikapnya. Dia selalu ada di saat aku membutuhkannya. Dan yang paling membuatku terkesan adalah saat aku ada masalah dengan Jinyoung oppa. Dan aku juga terkesan saat ia berterus terang tentang yeoja yang dia sukai itu ternyata adalah aku. Aku sangat tersanjung, aku menjadi satu-satunya yeoja di hatinya. Dan aku juga masih ingat, dulu di masa kecil kami, dia sering melindungiku dari gangguan anak-anak jahat. You’re really my invisible guardian angel who God sent to me.

“Jagi ya?”

“Ne, Jagi. Wae yo?”

“Gomawo ya, selama ini kau sudah menjadi guardian angelku. For me, you’re an invisible guardian angel.”

“Mwo? Kenapa seperti itu, Jagi?”

“Karena kau selalu ada untukku. Di saat senang, susah, sedih, pokoknya kau selalu ada untukku. Gomawo yo.”

“Ani, Jagi. Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Aku tulus ingin berada di sampingmu. Bagiku kau adalah yeoja yang tidak bisa tergantikan. Kau adalah cinta pertamaku. Kau masih ingat saat aku pertama kali menyanyi di depanmu?”

“Yang di kelasmu itu?”

Un.

“Ne, mochiron, aku masih ingat. Itu pertama kalinya aku melihat pesonamu Gongchan.”

“Dan apa kau masih ingat lagu apa yang aku nyanyikan?”

“Hmm yang aku ingat hanya Love Girl dan True Love. Wae?”

“Apa kau ingat aku juga menyanyikan lagu Gee saat itu?”

“Hmm, aku sedikit lupa. Saat itu kan aku belum punya perasaan padamu, aku masih menganggapmu dongsaengku hehe.”

“Ne. Kau tau kan inti dari lagu Gee itu?”

“Cinta?”

“Lebih tepatnya cinta pertama. Saat itu semua lagu yang kunyanyikan kudedikasikan untukmu, Jagi. Lagu Love Girl pun itu untukmu. Saat itu entah kenapa aku tiba-tiba ingat padamu dan spontan saja meraih gitar dan menyanyikan lagu itu.”

“Gongchannie~, cukup, jangan mambuat pipiku memerah lagi.” ujarku sambil memegangi kedua pipiku yang kurasa sudah mulai memerah ini.

“Itu tidak seberapa jika dibandingkan denganmu yang selalu membuatku berdebar-debar setiap saat selama satu setengah tahun terkahir ini.”

(Backsong : B1A4 – Bling Girl)

Selepas percakapan tadi, suasana menjadi hening. Yang terdengar hanyalah lagu Bling Girl dari pemutar musik di mobil Gongchan. Kami menikmati kebersamaan ini. Aku merasa sangat nyaman berada di samping Gongchan. Dia namja pertama yang lebih muda dariku yang bisa membuatku jatuh cinta dan nyaman di sampingnya dengan perspektif seorang yeoja terhadap seorang namja.

Tak terasa kami sudah sampai di depan rumahku. Gongchan membukakan pintu mobil untukku. Kuharap besok, di 6 bulan pertama kami, dia bisa menjadi lebih dewasa. Dan kuharap besok dia memberiku kejutan yang menyenangkan!

“Gomawo, Jagi untuk hari ini. Terutama untuk lagunya.”

“Ne, cheonma, Jagi. Gomawo juga sudah mau menemaniku hari ini.”

“Ne, annyeong.” aku berbalik arah dan menuju pintu gerbang rumahku. Tapi tiba-tiba…

‘Gongchan?’

Dia menarik tanganku hingga aku berbalik ke arahnya.

“Saranghae, Jagi.”

“Ah, ne, nado saranghae.” ujarku heran melihat tatapan Gongchan yang tidak biasa. Tatapannya terlihat lebih tajam dan dewasa dari biasanya.

Kini tangan kirinya menyentuh tembok di belakangku berdiri. Spontan aku melangkah mundur karena badannya semakin dekat denganku. Dan tangan kanannya menyentuh daguku. Ia mengangkat daguku perlahan dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kurasakan hembusan nafasnya yang hangat di tengah butiran salju yang sedang turun ini. Kututup mata dan berharap sesuatu terjadi. Tidak sampai tiga detik aku menutup mata., kurasakan sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh bibirku pelan dengan lembutnya.

(Ending theme : B1A4 – Chu Chu Chu)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s