Cewek, Perempuan, Wanita

Tiga kata di atas secara biologis sebenernya punya makna yang sama, cuma ditulis tiga-tiganya karena bingung aja mau ngasih judul apa. Intinya tulisan ini tentang hal-hal yang biasa dialami kaum hawa, hal yang gak mengenakkan kali ya lebih tepatnya. Tapi gak bermaksud menjatuhkan salah satu pihak, karena pada dasarnya kedua gender memiliki posisi dan peran masing-masing yang berbeda. Ada tiga poin yang mau dijabarkan di sini, di antaranya:
1. “Kapan nikah?”
Pertanyaan ini pasti pernah dirasakan oleh kedua gender. Tapi yakin deh, misalnya ada laki-laki dan perempuan umur 30 yang belum nikah, yang pasti lebih sering ditanya kapan nikah ataupun ‘dihakimi’ karena belum nikah pasti perempuan. Maka si laki-laki yang belum nikah di umur 30 cenderung akan lebih santai dibanding perempuan yang belum nikah di umur 30. Masyarakat cenderung lebih permisif sama laki-laki yang belum nikah, yakin deh perempuan yang belum nikah di usia matang lebih banyak dinyinyirin daripada laki-laki. Pernah liat postingan viral yang kekinian gitu yang bahas tentang komentar-komentar pengguna sosmed terhadap Ira Koesno. Si penulis bilang Ira Koesno dengan segala kesuksesannya, nyatanya dikomentarin sama orang-orang yang %#(&)#&*3(&(# tentang kenapa dia belum nikah di umur segitu, mereka lebih tertarik ke situ daripada kesuksesannya. Malah banyak juga yang komentarnya melecehkan dan berbau porno. Ya doain aja semoga mereka cepet sembuh dari penyakit kejiwaan.
Selain kasus Ira Koesno, ada juga pengalaman pribadi. Tapi gak parah gitu komennya, tapi bikin gondok juga. Ceritanya gini, lagi ngobrol sama temen (si temen ini cowok). Dia becanda (becanda itu hakikatnya bikin seneng, kalo udah bikin kesel sebenernya udah bukan becanda namanya)
Temen: “Kapan nikah?”
Saya: “Selow lah, kamu sendiri juga belum nikah. Lagian masih muda ini.”
Temen: “Aku mah santai kan cowok, kamu mah cewek beda lagi.”

Waktu itu cuma nyengir jijai aja dengernya (emang udah biasa sih kalo becanda nyengir, mungkin disangka ini juga ekspresi becanda). Sekarang baru kepikiran ingin rasanya jawab “Gue bukan cewek, gue ladyboy.”

2. Duda dan Janda
Saat terjadi perceraian, maka akan muncul sepasang duda dan janda. Tapi coba bandingkan kalau kita becandain antara duda dan janda, mana yang lebih bikin kagok? Menurut pengalaman pribadi dan orang sekitar, jawabannya adalah janda. Terus lebih sering denger duda keren apa janda keren? Istilah bernada pujian untuk janda (kalo duda kan duda keren misalnya) rasanya jaraaaaaaaang banget kedengeran.

3. “Makanya cari pacar dong biar ada yang anter jemput”
Kalo motivasi nyari pacar berdasarkan hal ini sih mending pikir-pikir lagi. Hal ini biasanya ditujukan kepada perempuan yang merasa transportasi umum kurang nyaman (misalnya kelamaan ngetem dll) tapi gak pake kendaraan pribadi juga (bisa jadi karena tidak punya, tidak bisa, atau malah keduanya). Entah kenapa orang-orang biasanya mengeluarkan kalimat (kera) sakti ini untuk memberi solusi. GAK PERNAH ada yang memotivasi untuk “Yuk lebih rajin usaha lagi/lebih rajin nabung lagi biar punya kendaraan sendiri/biar bisa bawa kendaraan sendiri”

Udah deh segitu aja tulisannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s