My Invisible Guardian Angel – Part 1

Author     : Puput

Main cast : – Jung Ji Yeon as You

– B1A4 Gongchan as Gong Chan Shik

– B1A4 Jinyoung as Jung Jin Young

Other cast : – Super Junior Leeteuk as Park Jung Soo/Leeteuk/Teuki

–  Jang Min Ha

–  B1A4 Sandeul as Sandeul

–  B1A4 CNU as CNU

–  B1A4 Baro as Baro

Annyeong, Puput imnida ^^

Ini ff pertamaku. Maaf kalo kurang menarik, tidak semenarik judulnya, banyak typo dll.Sebelumnya ff ini pernah di post di www.b1a4fanfictions.wordpress.com. Bagi yang udah pernah baca gomawo, bagi yang belum silahkan baca ^^

Jangan lupa komen ya kekeke gomawo 😀

“Ah, sudah malam aku takut dimarahi ibu. Pencarian bonekanya dilanjut besok saja ya?”

“Ta…tapi….ba….bagaimana kalau besok bonekanya sudah tidak ada?”

“Ya tinggal beli saja lagi, boneka seperti itu banyak di toko! Ayo Jin Ki, Hyuk Jae, kita pulang saja! Pasti ibu kita di rumah sudah mengomel sendiri sejak beberepa menit yang lalu.”

Ketiga anak berusia empat tahunan itu pun pergi meninggalkan kedua temannya.

“Sudahlah jangan pikirkan perkataan mereka, mungkin ibu mereka galak jadi mereka ingin cepat-cepat pulang dan tidak peduli dengan apa yang mereka katakan. Ayo kita cari lagi!” ujar seorang yeoja kecil berambut panjang itu sambil terus mencari.

Namja kecil yang kehilangan boneka kelinci itu pun kembali mencari sambil terus menangis kecil.

“AAAAAH!”

“Wae?!” namja kecil itu sangat kaget saat mendengar teriakan temannya.

Namun saat ia berbalik, ia melihat temannya mengacungkan sebuah boneka kelinci kecil yang sudah kumal karena lumpur akibat hujan tadi sore.

“Lihat! Aku menemukannya!” teriak yeoja kecil itu sambil tersenyum lebar tanda bahagia. Dan senyumnya terlihat begitu tulus.

DEG! Tiba-tiba anak laki-laki itu merasakan sesuatu yang aneh di jantungnya. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya dan ia merasa sedikit sesak. Namun ia tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan itu.

*          *          *

Author POV

“Saranghae” ucap Jinyoung setelah melepaskan bibirnya dari bibir Ji Yeon sambil menatapnya dalam-dalam.

Ji Yeon hanya terbelalak mendengar ucapan Jinyoung. Dia masih tercengang dengan apa yang Jinyoung lakukan padanya barusan. Jantungnya masih berdetak lebih kencang dari biasanya. Nafasnya masih tersengal-sengal.

‘Ya ampun Jinyoung oppaaaaaa apa yang kau lakukan barusan???? Tolong cubit aku sekeras mungkin! Aku tidak tau apakah ini di dunia mimpi atau di dunia nyata!’gumam Ji Yeon dalam hati.

“Ji Yeon-ah?” Jinyoung berusaha menyadarkan Ji Yeon, “Ji Yeon-ah?” kali ini dibarengi dengan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Ji Yeon.

“Ji Yeon-ah!” ucapnya lagi sedikit berteriak dan lebih mendekatkan wajahnya pada Ji Yeon.

“Ah!” Ji Yeon tersentak, dia baru kembali dari alam bawah sadarnya.

“Ji Yeon-ah, waeyo? Kenapa kau diam saja saat kuajak bicara tadi? Apa kau tidak suka dengan apa yang aku lakukan barusan? Apa kau marah padaku?” tanya Jinyoung bertubi-tubi dengan wajah penasaran dan cemas.

Ji Yeon terlihat ingin mengatakan sesuatu namun tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutnya. Jinyoung semakin terlihat cemas.

“Kau marah padaku ya?” tanya Jinyoung dengan penuh penyesalan, “Mianhae yo, Ji Yeon-ah…”

“A…ani yo oppa.” Akhirnya Ji Yeon bisa mengeluarkan suara walaupun masih terbata-bata.

Jinyoung langsung terbelalak seakan mengerti dengan kalimat singkat nan ambigu yang dilontarkan Ji Yeon barusan.

“Jadi…maksudmu…kau….”

Ji Yeon hanya membalas pertanyaan Jinyoung yang tak kalah ambigu itu dengan sebuah anggukan kecil dan senyum malu-malunya. Namun tetap terlihat manis.

Jinyoung seakan tidak percaya dengan semua ini. Mata sipitnya terlihat sangat berbinar penuh dengan cahaya kebahagiaan. Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, ia langsung memeluk yeoja yang secara tersirat telah menjadi yeojachingunya itu.

*          *          *

Ji Yeon POV

“Annyeong Jagi ya!” ujarku sambil merangkul tangan namjachinguku-yang tinggi dan keren itu. *O*

“Ah annyeong my princess.” ujar my Jinyoung sambil mengacak-acak rambutku. Dia memang paling suka mengacak-acak rambutku, mungkin ini salah satu caranya untuk mengungkapkan rasa sayangnya padaku.

“Kau mengagetkanku saja” lanjutnya, “Untung kau manis jadi aku maafkan.” tambahnya lagi dengan (lagi-lagi) ekspresi coolnya yang selalu berhasil membuatku mematung tak beraturan.

‘Kyaaaaaa! My prince! Kau memang tidak pernah gagal membuat pipiku terasa panas!’ gumamku dalam hati sambil tetap berusaha menyembunyikan kegiranganku ini.

“Jagi, hari ini kau kuliah sampai jam berapa?” tanyaku manja.

“Emm…itu…emm…sampai sore.”

“Jam?”

“Emm…sekitar jam lima sore.”

“Yaaah padahal tadinya hari ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Seminggu lagi kan kita tepat enam bulan.” timpalku lesu.

“Mianhe Jagi ya. Sebenarnya aku juga ingin jalan-jalan bersamamu tapi bagaimana lagi, jadwalnya tidak mendukung. Sekali lagi maaf ya my princess.” ujarnya sambil mencium tanganku dengan ekspresi wajah sangat bersalah.

Sukses! Lagi-lagi dia berhasil membuat pipiku panas untuk kedua kalinya dalam selang waktu yang sangat dekat. Pipiku saja masih terasa panas akibat kata-katanya tadi, sekarang dia sudah membuat pipiku panas (lagi) dengan kata-katanya barusan.

“Lagipula bukannya kau ada kuliah sampai sore juga.”

“Hehe iya sih tapi rencananya hari ini aku niat bolos untuk mata kuliah terakhir. Kau taulah sampai saat ini aku masih belum bisa menerima nasibku ini.”

“Jangan begitu Jagi.” ujarnya sambil menyentuh lembut wajahku dengan kedua tangannya, “Kau harus tetap semangat walaupun kau tidak bisa kuliah di jurusan yang kau inginkan.”

Aku hanya tertunduk lesu mendengar kata-kata Jinyoung oppa barusan. Inilah hal yang sering membuatku menangis semenjak masuk kuliah. Memang dulu aku iseng memilih jurusan ini. Dari dulu, semenjak kecil, aku sudah menyukai berbagai hal tentang Jepang. Mungkin ini imbas dari anime-anime Jepang yang selalu menghiasi hari-hariku di masa muda (baca : masa kecilku). Tapi apa daya, mungkin masih banyak orang lain yang lebih hebat dariku yang lebih pantas masuk sastra Jepang, jurusan impianku. Kini aku terpaksa kuliah di jurusan ilmu sosial yang semenjak SD sudah aku benci dari awal aku mengenal pelajaran tersebut. Aku memang tidak terlalu suka dengan pelajaran jenis hapalan seperti itu. Di saat aku depresi meratapi nasibku, biasanya Jinyoung oppalah yang berada di sampingku yang lumayan cengeng ini untuk menghiburku. Aku sering menangis di saat seperti itu. Dan Jinyoung oppa selalu dengan senang hati bersedia meminjamkan bahunya untukku bersandar.

“Ah aku keceplosan lagi. Setiap aku menghiburmu dengan kata-kata motivasi seperti itu pasti kau malah menangis. Sudah sudah, sebentar lagi kita harus masuk kelas.” ujarnya sambil menyeka air mataku dengan sapu tangan pink hadiah dariku di peringatan satu bulan kami. Semenjak aku memberikannya sebagai hadiah karena saat itu ia flu berkepanjangan, ia selalu membawanya setiap hari di sakunya.

“Lebih baik sekarang kita makan bekal buatanmu saja yuk? Ayo keluarkan bekalnya. Aku sudah tidak sabar untuk melahap sushi tuna buatanmu.” lanjut Jinyoung oppa lagi dengan senyuman coolnya.

Ya ampuuuuun sedikit senyuman darinya saja sudah bisa berhasil mengusir kesedihanku ini. Jinyoung oppa, aku tidak tau bagaimana jadinya hidupku jika tanpa dirimu. Jeongmal saranghae ♥ oppa :*

“Tarraaaaa.”

“Huwaaaaaa manis sekali. Sepertinya enak ya! Itadakimasu! (ungkapan selamat makan, dalam bahasa Jepang)” ujar Jinyoung oppa menirukan kata-kataku setiap sebelum makan.

Tanpa banyak berkata-kata lagi, dia langsung melahapnya. Tak sampai dua detik setelah itu, ia langsung tersenyum dan berusaha berbicara dengan mulutnya yang penuh.

Oishii! (enak, dalam bahasa Jepang)” ia kembali mengeluarkan kosa kata bahasa Jepang lagi. Ia memang tidak terlalu gila Jepang, tapi untuk mengimbangiku, ia berusaha untuk menggunakan bahasa Jepang sedikit demi sedikit.

“Jinjja??? Yokatta~ (syukurlah). Aku kira percobaanku kali ini gagal, habis tadi aku sedikit kesiangan jadi sedikit terburu-buru.” ujarku tersenyum lega.

“Ani, ani. Ini sungguh oiiiishi.” ujarnya lagi sambil mengacungkan kedua jempol tangannya yang sedikit terhiasi ketan-ketan dari sushi. Dan masih dengan mulutnya yang penuh.

Memang Jinyoung oppa sangat menyukai sushi buatanku, oleh karena itu hampir setiap hari aku membuatkannya sushi dengan berbagai variasi dan modifikasi. Sushi buatanku yang paling ia sukai adalah sushi dengan rasa kimchi. Jujur saja, menurutku sebagai pembuatnya, sushi itu rasanya sedikit aneh, terlebih karena (aku tidak telalu suka kimchi). Tapi entah kenapa Jinyoung oppa sangat menyukainya. Mungkin ini karena kekuatan cinta. *omooooo aku jadi tersipu sendiri (–‘.’-)

Dan satu hal lagi mengenai kemampuanku membuat sushi. Sebenarnya aku ini tidak pandai memasak, bahkan sangat heta (tidak mahir, dalam bahasa Jepang). Jadi sushi adalah satu-satunya makanan yang bisa aku buat dengan cita rasa tinggi (baca : enak) selain telur dadar dan mie instan. Aku juga tidak mengerti kenapa bisa seperti ini. Mungkin karena tekadku yang sangat kuat ini untuk hal-hal yang berbau Jepang.

“Huaaaah kenyang…” Jinyoung oppa mengelus-ngelus perutnya. Dari 20 sushi yang aku buat, 15 di antaranya dihabiskan olehnya sendiri.

Kulihat wajahnya sangat puas. Tapi apa itu benda putih kecil yang ada di dagunya?

“Omo Jagi, kau seperti anak kecil saja.” ujarku sambil mengeluarkan sapu tangan putih pemberian Jinyoung oppa di peringatan satu bulan kami. Ia memberikan itu untukku karena aku sering menangis setiap ada tugas dan ujian. Janjian? Oh tidak. kami memilih kado sendiri-sendiri. Kami sendiri juga sampai kaget (sekaligus senang) karena ternyata kami mendapatkan kado yang sama dengan yang kami berikan!

“Mwo?”

Aku lap dagu Jinyoung oppa dengan sapu tangan putih bergambar chibi Ichigo itu (Ichigo Kurosaki, tokoh utama dalam serial anime Bleach) dan kutunjukkan apa yang telah berhasil ku lap dengann sapu tangan itu.

“Oh haha ternyata makanku masih saja belepotan ya.” ujanya sambil tertawa lebar dengan matanya yang justru kontras dengan mulutnya yang terbuka lebar itu.

“Ini minum dulu jus  strawberry kesukaanmu.” aku sodorkan sebuah tempat minum warna pink bergambar pororo yang selalu diinginkan Jinyoung oppa. Tapi aku tidak pernah mau memberikannya karena aku juga sangat suka dengan tempat minum itu :3

A~ oishii.” ujarnya berusaha menirukan logat bicara orang Jepang namun masih dengan logat Koreanya yang kental hihi sungguh lucu, “Ini, kau juga belum minum kan Jagi?” ia menyodorkan tempat minum itu. Tanpa banyak protes, aku langsung menyambar tempat minum itu karena tergoda melihat ekspresi Jonyoung oppa yang terlihat sangat puas tadi. Wajar saja karena aku juga penggila jus strawberry sama seperti Jinyoung oppa.

Ups! Dengan sedotan yang masih menempel di bibir, aku dan Jinyoung oppa saling menatap. Aku tau maksud dari tatapan itu. Ciuman tidak langsung! Kami baru menyadarinya. Aku langsung melepaskan sedotan itu dan kami tertawa bersama. Sungguh indah. Di bawah pohon sakura yang sedang mekar ini, kami menghabiskan waktu bersama dengan begitu bahagianya. Pantas saja banyak mahasiswa yang suka pacaran di taman kampus ini, suasananya memang sangat nyaman.

“Sepuluh menit lagi kau masuk kuliah kan, Jagi?”

“Iya, kau juga kan?”

Un.” jawabku singkat ala orang Jepang, “Annyeong” lanjutku dengan manisnya pada namjachinguku itu sambil melambaikan tangan.

Dia hanya membalas dengan senyuman dan lambaian tangan, tanpa kata-kata. Namun justru itulah yang membuatku lebih berdebar-debar daripada dengan kata-kata. Dia memang lebih pantas tidak banyak bicara dengan wajah coolnya itu.

*          *          *

Fiuuuuuh akhirnya selesai juga mata kuiliah ini. Aaaaaah…enak sekali rasanya meregangkan tubuh seperti ini. Bolos jangan ya???  Aku menoleh ke arah jendela kelasku yang terdapat di lantai empat ini. Terlihat langit di luar sana begitu cerahnya.

Yosh! Sudah kuputuskan!”

Aku segera membenahi barang-barangku dan pergi meninggalkan bangkuku.

“Ya, Ji Yeon, kau mau ke mana? Kita masih ada satu mata kuliah lagi.” ujar Minha sahabatku.

“Aku mau jalan-jalan. Mau ikut?” tanyaku dengan senyum menggoda ala setan.

“Hei! Kau ini ya! Kau sudah berapa kali tidak masuk mata kuliah ini hah?”

“Alah…tenang saja. Dosennya Pak Jang kan? Sudahlah dia tidak pernah peduli pada absen, yang penting bisa mengerjakan tugas dan soal ujian.” timpalku santai, “Jadi kau tidak mau ikut? Ya sudah aku tidak pernah memaksamu untuk bolos, tidak seperti kau yang selalu usil mengurusi masalahku dengan memaksaku kuliah dan memasang wajah tidak suka tiap aku bolos. Daaaaaah!”

“Ya! Jung Ji Yeon!!!!”

Suara Minha sudah terdengar seperti lolongan serigala yang terbawa angin gunung, tidak terlalu jelas karena aku sudah berlari menjauhi kelas sambil cekikikan membayangkan ekspresinya.

Huft, setelah sibuk berpikir sepanjang koridor, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke taman dekat fakultasku dan duduk di kursi kayunya yang selalu terlihat romantis di mataku itu. Hiks jadi inget my Jinyoung T_T

Hmm…setelah keluar dari kelas juga masih saja tidak ada ide untuk pergi ke mana. Tadinya kalau berjalan-jalan dengan Jinyoung oppa, aku berencana mencari kado untuknya. Tapi kalau sendiri aku agak malas.

“Noona.” sapa seseorang di belakangku.

Aku menoleh ke belakang dan kulihat seseorang yang kukenal dengan senyum manisnya.

“Hai  Gongchan-ah, kau tidak kuliah?”

“Sudah tidak ada kuliah lagi. Noona sendiri?”

“Masih ada, tapi aku malas haha” aku tertawa kecil, “Ayo duduk sini!”

“Eh? Tidak boleh seperti itu, Noona. Kami berlima kan sudah seirng menasehatimu.” ujarnya dewasa sambil duduk di sebelahku.

“Tapi aku malas Gongchaaaaaan.” ujarku manja.

Aku memang sudah terbiasa manja padanya, padahal ia setahun lebih muda dariku. Dan hal inilah yang kadang menjadi bahan pertengkaranku dengan Jinyoung oppa. Ia tidak suka melihat kedekatan kami yang menurutnya sedikit berlebihan. Tapi aku tidak menghiraukannya karena menurutku itu biasa saja. Gongchan juga merasa tidak enak. Tapi mau bagaimana lagi, kami tidak bisa terpisahkan, aku membutuhkan seorang adik, dan Gongchan membutuhkan seorang kakak. Ya dia adalah anak sulung dan aku anak tunggal. Dan bagaimanapun aku lebih dekat dan lebih sering bersama dengan namajachinguku daripada dengan Gongchan. Teman-teman se-bandnya pun beranggapan sepertiku. Aku hanya menganggap Gongchan sebagai adikku. Dari dulu aku selalu mengharapkan kehadiran seorang adik. Namun ibuku sudah tidak bisa melahirkan anak lagi karena penyakit rahimnya. Dulu setiap aku merengek ingin punya adik, ayahku sering mengerjaiku. Katanya kalau ingin punya adik, ayah akan menikah dengan wanita lain. Sungguh menyebalkan. Daripada punya adik dari wanita lain selain ibuku, lebih baik aku tidak pernah punya adik seumur hidup. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin itu adalah jurus andalan ayah untuk membuatlku diam dan berhenti merengek meminta adik. Dan alhasil, itu memang jitu.

“Ah Noona ini. Tapi aku bisa merasakan apa yang Noona rasakan kok. Jujur saja, aku juga merasa tidak nyaman dengan kuliahku sekarang. Aku sudah sering cerita kan kalau aku ini sama sekali tidak suka bahasa Inggris?”

“Tapi orangtuaku memaksaku masuk jurusan sastra Inggris dengan tujuan agar aku tidak benci lagi bahasa Inggris karena bahasa Inggris itu penting! Dan sialnya aku malah lulus ke jurusan ini. Doa orangtua memang ajaib ya.” aku menirukan kata-kata yang biasa Gongchan ucapkan ketika mengeluh tentang kuliahnya. Ya dia sama denganku, kuliah di jurusan yang sama sekali tidak diinginkan oleh kami masing-masing. Dan sama juga denganku yang selalu mengulang-ngulang keluhanku pada Jinyoung,” Begitu kan yang ingin kau katakan selanjutnya?”

“Hehehe, Noona ini. Aku jadi malu.” ujarnya dengan pipi merah sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sepertinya tidak gatal. Manis sekali.

“Lalu apa yang sedang Noona lakukan di sini?” tanyanya kemudian.

“Eng? Molla, aku juga tidak tau apa yang sedang kulakukan di sini haha. Aku hanya sedang bingung mau pergi ke mana setelah memutuskan untuk bolos kuliah. Saat melihat kursi ini, entah kenapa rasanya aku ingin duduk di sini saja tanpa alasan. Ya sekalian memikirkan rencana setelah ini juga.”

“Tidak jalan dengan  Jinyoung hyung?”

“Ani. Dia masih ada kuliah sampai jam lima sore.”

“Mwo? Setauku  kemarin saat melihat jadwal masing-masing member, Jinyoung hyung cuma kuliah sampai jam 2.”

“Jinjja? Ah mungkin kau salah lihat atau dia yang salah tulis.”

“Hmm…maybe. Kalau begitu bagaimana kalau antar aku ke mall dekat sini saja?”

“Kau mau mencari apa?”

“Aku ingin mencari kado.” jawabnya singkat dengan pipi merah.

“Ah…..nae Gongchannie sudah dewasa rupannya.” ujarku sambil mencubit pipi marshmallownya. Aku memang paling suka menggodanya karena dia orangnya sangat pemalu. Tapi jika sudah mengenalnya dengan baik, ia adalah pribadi yang hangat.

Sontak pipinya makin memerah.

“A…ani yo…ma…maksudku…aku…”

“Ah sudahlah, Gongchannie. Kau tidak usah malu-malu. Kau ini sudah dewasa, wajar jika kau menyukai seorang yeoja. Justru jika kau tidak pernah menyukai seorang yeoja, orang-orang akan mencurigaimu. Apalagi wajahmu itu sedikit manis, ah salah, maksudku sangat manis seperti perempuan. Ditambah lagi…kedekatanmu dengan Sandeul. Atau jangan-jangan…”

Belum selesai aku melanjutkan kata-kata, Gongchan sudah memotong perkataanku seakan dia tahu lanjutan dari kata-kataku barusan.

“Andwae! Aku ini normal, Noona. Sandeul hyung nya saja yang selalu berusaha mendekatiku yang manis ini.” ujarnya sambil mengeluarkan ekspresi aegyo andalannya.

Aku tau Gongchan berusaha mengalihkan arah pembicaraan. Tapi itu tidak akan mempan Gongchannnie. *evilaugh

“Haha kau ini. Lalu siapa yeoja yang kau sukai itu? Ayo katakan pada Noonamu ini. Siapa tau aku bisa membantu. Walaupun aku baru pertama kali pacaran, tapi setidaknya aku sedikit lebih berpengalaman darimu yang tidak pernah pacaran sama sekali. Selain itu, aku bisa memberikan saran dari sudut pandang seorang yeoja.”

Gongchan makin terpaku. Sepertinya ia kaget rencananya untuk mengalihkan arah pembicaraan gagal. Melihatnya seperti itu, aku makin penasaran saja dengan yeoja yang disukai Gongchan  saat ini.

“Ayolah Gongchannie~ siapa yeoja yang kau maksud?” tanyaku dengan ekspresi memelas, ekspresi andalanku yang biasanya selalu berhasil mengungkap rahasia Gongchan.

“Emm…itu…” yup! Benar saja ekspresi itu memang tidak pernah gagal untuk menghadapi Gongchan, “Pokoknya dia adalah seorang yeoja yang cantik, manis, dan baik. Ia selalu ada setiap aku membutuhkannya.” jawabnya sambil tertunduk malu.

“Ah jawaban macam apa itu? Maksudku namanya, identitasnya!”

Dia terlihat semakin menunduk dan gugup. Mungkin ini pertama kalinya dia menyukai seorang yeoja. Ya, kuakui Gongchan adalah namja yang tampan (personil bandnya Jinyoung memang tampan-tampan semua). Tapi dia sangat pemalu dan lugu. Dia mengaku padaku dan anggota B1A4 lain (nama band Jinyoung dkk) bahwa dia tidak pernah pacaran sekalipun. Sama seperti Sandeul *kekekeke mereka memang jodoh ya.

Gongchan sama denganku. Oleh karena itu, aku sangat terkejut sekali (sekaligus senaaaaang sekali) saat Jinyoung oppa menciumku. Itu adalah ciuman pertamaku! (secara pacaran saja belum pernah apalagi ciuman!). Bedanya aku bukan orang yang pemalu (terkadang malah malu-maluin -___-). Dan bisa dibilang, aku ini sedikit (?) jelalatan. Tiap ada namja tampan, aku pasti langsung peka. Tapi hanya di mata saja sih, tidak turun ke hati (di hatiku hanya ada satu, my prince Jinyoung >w<). Namun aku tidak pandai mengambil hati seorang namja. Banyak yang mengatakan kalau aku ini cantik. Tapi mungkin karena sikap dan gayaku yang kekanakan ini, sedikit sekali namja yang suka padaku. Dan kebanyakan di antara mereka adalah bukan tipeku. Dan kebanyakan justru para dongsaenglah yang menyukaiku. Setiap aku mengadakan sosialisais ke SMA-SMA, pasti ada saja sedikitnya seorang namja yang sedikit heboh saat aku memperkenalkan diri. Sayangnya aku tidak pernah merasa tertarik pada namja yang lebih muda dariku, walaupun cuma berbeda satu tahun. Ya sekalipun misalnya namja itu tamapn tapi entah kenapa aku tidak merasa tertarik. Ditambah lagi selama SMP dan SMA, gayaku bisa terbilang old-fashion. Mungkin ini juga yang membuat namja-namja tidak mau menyukaiku. Tapi kini aku sudah berubah (fashionnya saja, sikap masih seperti dulu -____-). Dan alhasil mendapatkan pacar pertama seperti Jinyoung oppa. Oooooh senangnya, aku tidak menyesal tidak pernah pacaran selama ini. Ternyata hikmah di balik semua ini adalah aku bisa mendapatkan pacar pertama yang begitu keren dan tampan (oh pipiku memanas lagi *O*).

Sangat kontras denganku dan Gongchan, Jinyoung oppa adalah seorang playboy. Aku juga sampai sekarang masih heran, kok bisa ya dia menyukaiku? Katanya sih saat aku tanya seperti itu, karena dia baru memiliki teman dekat seorang yeoja yang lugu. Biasanya yeoja-yeoja yang dekat dengannya adalah yeoja-yeoja centil yang berusaha mendaptkan hatinya. Dan saat mengenalku dan dekat denganku, katanya dia merasakan sesuatu yang tidak biasanya. Dia yang biasanya hanya menyukai yeoja-yeoja chic, kali ini ia merasakan jatuh cinta yang pertama kalinya pada seorang gadis lugu sepertiku. Dari awal juga aku sudah tau kalau Jinyoung oppa itu adalah seorang playboy. Tapi karena pesonanya dan ppo pponya saat itu (baca : kiss), aku tidak bisa menolaknya. Aku langsung mengangguk bahagia tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada seorang yeoja lugu sepertiku ini jika berpacaran dengan seorang ‘pria liar’ seperti dia.

Menyadari resiko berpacaran dengan seorang namja seperti dia pun, itu gara-gara Minha. Aku masih ingat ekspresinya saat aku pertama kali menceritakan bahwa aku jadian dengan Jinyoung oppa. Ia hampir tidak bisa menutup mulut dan tidak bisa mengedipkan matanya mendengar kalimat singkatku.

“Mwo? Coba ulangi sekali lagi?”

“A-ku ja-di-an de-ngan Jin-young op-pa. Cukup jelas?”

“A…aku tidak salah dengar kan? Kau jadian dengan si Jinyoung itu?”

“Aha.” aku mengangguk santai sambil menyedot susu strawberry kesukaanku.

“Ya ampun Ji Yeoooooon kau ini polos atau bodoh sih? Kau tidak sadar sekarang kau sedang berpacaran dengan siapa?”

Aku langsung membelalakan mata tanda tak mengerti arah pembicaraan Minha.

“DIA ITU PLAYBOY!”

GUBRAK! Aku baru ingat kalau dia itu seorang playboy! Ya ampun benar yang dikatakan Minha, aku ini polos atau bodoh sih? Omigooooosh, apa yang telah kulakukan? Aku telah menggali kuburanku sendiri. Masa baru pertama kali pacaran sudah harus sakit hati? Ah…Jinyoung oppa~ pesonamu memang membutakan segalanya!

Semenjak itu aku langsung putus asa. Semangatku yang membara tiba-tiba padam begitu saja seperti rumah yang hangus terbakar. Tapi aku bertekad untuk terus melanjutkan hubungan ini karena aku sudah terlanjur sayang pada Jinyoung oppa walaupun saat itu aku baru satu hari jadian dengannya. Minha pun tidak bisa menyarankan apa-apa, ia hanya menyerahkan semuanya padaku.

Namun ternyata nasib baik berpihak padaku. Hubunganku dengan Jinyoung tahan sampai tiga bulan. Dan Minha pun sudah tidak terlalu khawatir. Pasalnya ini tiga kali lipat lebih lama dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Biasanya paling lama, Jinyoung hanya bertahan satu bulan. Tapi denganku berbeda, sekarang sudah hampir menuju enam bulan!

Entah apa yang membuatnya bertahan denganku selama ini. Entah karena dia sudah bosan mencari pacar atau karena apa. Karena sesungguhnya jika dibandingkan dengan mantan-mantan pacarnya, mulai dari wajah sampai gaya berpakaian, jelas aku kalah. Tapi yang jelas aku harap dia bisa menjadi namja yang lebih baik setelah bersamaku dalam waktu yang terbilang tidak singkat ini.

*          *          *

Gongchan POV

“Oh… Kalau begitu bagaimana kalau antar aku ke mall dekat sini?”

“Kau mau mencari apa?”

“Aku ingin mencari kado.” jawabku singkat.

“Ah…..nae Gongchannie sudah dewasa rupannya.” ujar Ji Yeon Noona sambil mencubit pipiku. Dia memang paling suka menggodaku karena aku sangat pemalu. Arrgh…pasti ini karena pipiku memerah saat mengatakannya, dia kan paling peka terhadap hal-hal seperti ini.

Sontak pipiku makin memerah. Ah sudah kuduga dia pasti langsung bersemangat kalau ada orang yang menutup-nutupi rahasianya. Dia pasti berusaha mengungkap rahasiaku. Otteokheeeee????

“A…ani yo…ma…maksudku…aku…”

“Ah sudahlah, Gongchannie. Kau tidak usah malu-malu. Kau ini sudah dewasa, wajar jika kau menyukai seorang yeoja. Justru jika kau tidak pernah menyukai seorang yeoja, orang-orang akan mencurigaimu. Apalagi wajahmu itu sedikit manis, ah salah, maksudku sangat manis seperti perempuan. Ditambah lagi…kedekatanmu dengan Sandeul. Atau jangan-jangan…”

Belum selesai dia melanjutkan kata-kata, aku sudah memotong perkataannya dan berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Andwae! Aku ini normal, Noona. Sandeul hyung nya saja yang selalu berusaha mendekatiku yang manis ini.” ujarku sambil mengeluarkan ekspresi aegyo andalanku.

Namun sepertinya tidak mempan. Matanya menyiratkan bahwa dia tau maksudku untuk mengalihkan pembicaraan.

“Haha kau ini. Lalu siapa yeoja yang kau sukai itu? Ayo katakan pada Noonamu ini. Siapa tau aku bisa membantu. Walaupun aku baru pertama kali pacaran, tapi setidaknya aku sedikit lebih berpengalaman darimu yang tidak pernah pacaran sama sekali. Selain itu, aku bisa memberikan saran dari sudut pandang seorang yeoja.”

Aku semakin terpaku. Ya Tuhaaaan apa yang harus kulakukan?

“Ayolah Gongchannie ~ siapa yeoja yang kau maksud?” tanyanya dengan ekspresi memelas, ekspresi andalannya yang biasanya selalu berhasil mengungkap rahasiaku. Tapi untuk rahasiaku kali ini tidak boleh! Aku harus tahan!

“Emm…itu…” mata Ji Yeon noona yang besar terlihat makin lebar saja ketika aku mulai bicara, “Pokoknya dia adalah seorang yeoja yang cantik, manis, dan baik. Ia selalu ada setiap aku membutuhkannya.” jawabku sambil tertunduk malu.

“Ah jawaban macam apa itu? Maksudku namanya, identitasnya!”

Aku semakin menunduk dan gugup. Ya Tuhan, apakah aku harus berterus terang padanya? Diam-diam aku melirik ke arahnya. Dia masih melihatku.  Tapi dengan tatapan yang berbeda, bukan tatapan  jahil dan ingin tau seperti tadi.

“Hmm…ya sudah. Memang sulit untuk berterus terang kepada orang lain tentang cinta  pertama. Kalau begitu, ayo kita cari kado untuk calon yeojamu  itu.”

Yokatta~ akhirnya Ji Yeon noona mengalah juga. Mungkin dia merasa tidak tega melihat tampang gugupku  tadi. Syukurlah…

Dengan menggunakan bis kota, akhirnya kami sampai di mall yang aku maksud. Ya kami menggunakan bis kota karena kami tidak membawa kendaraan. Aku belum diberi kepercayaan untuk membawa kendaraan oleh orangtuaku. Katanya karena aku baru memasuki dunia kuliah, belum cukup dewasa untuk membawa kendaraan sendiri. Itu kebijakan yang ditetapkan ayahku yang mungkin agak berbeda dari pemikiran sebagian besar orangtua jaman sekarang. Aku anak terbesar dari dua bersaudara. Dan orangtuaku, terutama ayahku, sangatlah tegas. Maklum saja ayahku seorang polisi. Beliau tidak terbiasa memanjakan anak dengan cara biasa. Tapi walaupun begitu, beliau adalah orang yang sangat baik. Beliau ingin anak-anaknya menjadi orang yang disiplin dan selalu berada di jalur yang benar. Oleh karena itu beliau sangat tegas dalam mendidik aku dan adikku,  Minwoo. Seperti nama member boyband Boyfriend ya? Dan kebetulan wajahnya juga lumayan mirip.

“Tujuan kita ke mana nih sekarang?”

“Kalau mencari hadiah untuk perempuan bagusnya ke mana ya?”

“Hmm…kalau aku sih suka aksesori-aksesori di toko itu.” ujar Ji Yeon Noona sambil menunjuk ke suatu toko kecil bernuansa pink. Hmm…sepertinya barang di sana bagus-bagus.

“Baiklah, ayo kita ke sana!”

Kami pun berjalan ke arah  toko itu. Eh sebentar, bukankah itu Jinyoung oppa dan Ji Yeon (Park Ji Yeon) noona teman sekelasnya? Ah andwae, tidak mungkin! Ji Yeon noona (Jung Ji Yeon) bilang Jinyoung kuliah sampai jam lima. Ini kan baru jam tiga lebih. Ah mungkin aku salah lihat. Di dunia ini memang banyak orang yang mirip. Lagipula aku hanya melihat mereka sekilas, selebihnya hanya melihat dari belakang.

“Gongchannie?”

“Ah, ne, Noona?”

“Dari tadi aku mengajakmu bicara tapi kau diam saja. Saat aku memalingkan wajah dari ponsel ternyata kau sedang melamun. Ckckck kau sangat menyukai yeoja itu ya sampai memikirkannya setiap saat? Oiya kapan ulang tahunnya? Sebentar lagi? ”

“Emm…emm…itu…masih cukup lama.”

“Boleh aku tau  tanggal ulang tahunnya?”

DEG! Kalau Noona tau tanggalnya bisa gawat! Dia akan tau semuanya! Semuanya akan  terbongkar!

“RA-HA-SI-A”

“Ya kau ini ya sangat melindungi yeoja pujaanmu  itu. Ya sudah kalau kau tidak mau memberi tau, kita ke toko itu saja!”

Ha~ yokatta! Ternyata Noona mengerti apa yang kurasakan.

Ji Yeon noona terlihat sibuk mencari-cari barang yang menurutnya bagus. Sedangkan aku sendiri hanya mengikutinya dari belakang sambil ikut melihat barang yang diliriknya. Jujur saja, aku  ini bukan pria romantis. Aku hanyalah  seorang namja pemalu dengan pengalaman cinta NOL. Harusnya aku berguru pada Jinyoung hyung. Ah kenapa tadi aku tidak mengajaknya saja? Kenapa aku  malah  mengajak Ji Yeon noona? Ah..aku ini memang sangat bodoh. Eh tapi kalau bersama Jinyoung hyung, pasti terjadi masalah saat aku memberikan  kadonya, pasti dia akan  marah.

“Hei kau sudah menemukan barang yang kau inginkan belum?” tanya Ji Yeon noona tiba-tiba, membuyarkan  lamunanku.

“Noona sendiri?”

“Lho? Ini kan kado untuk yeojamu.”

“Emm…maksudku…aku bingung harus membeli apa.”

“Oh ya sudah. Yeojamu itu orang seperti apa? Dia sukanya apa?”

Oh Ji Yeon noona,  jebal, jangan berkata yeojamu yeojamu terus apalagi dengan wajah innosence seperti itu. Aku selalu terhenyak setiap mendengarnya. Terlalu menegangkan bagiku mendengar kata yang hanya terdiri dari tujuh huruf  itu.

“Hei, haloooo?”

“Emm…itu…dia…seleranya lumayan mirip sepertimu.”

“Maksudnya?”

Oh noona jebal, jangan memaksaku berkata lebih banyak!

“Emm…dia suka sesuatu yang lucu atau yang berbau  Jepang.” ujarku tertunduk tidak sanggup mendengar tanggapannya.

Tidak ada suara suara yang keluar dari mulut Ji Yeon noona. Apakah…

“Oh jinjja? Pasti dia yeoja yang sangat manis haha. Jangan-jangan kau menyukainya karena dia suka Jepang juga, sama sepertimu. Jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya.”

Eh? Apa katanya? Jadi dia tidak berpikir seperti yang aku pikirkan? Yokatta!

Sepertinya mengasyikkan berbicara dengan orang yang memiliki minat yang sama. “

Aku hanya membalas dengan senyuman kaku, aku masih tegang dengan suasana ini.

“Kira-kira kapan aku boleh bertemu dengannya?”

DEG! Pertanyaan singkatnya yang diiringi senyuman tulus itu sukses membuat jantungku berdetak lebih cepat!

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s