My Invisible Guardian Angel – Part 3

Author     : Puput

Judul        : My Invisible Guardian Angel – Part 3

Kategori   : Romance, friendship

Rating      : Teens

Main cast : – Jung Ji Yeon as You

– B1A4 Gongchan as Gong Chan Shik

– B1A4 Jinyoung as Jung Jin Young

Other cast : – Super Junior Leeteuk as Park Jung Soo/Leeteuk/Teuki

–  Jang Min Ha

–  B1A4 Sandeul as Sandeul

–  B1A4 CNU as CNU

–  B1A4 Baro as Baro

Ji Yeon POV

“Haduh mataku.”

Begini nih akibatnya kalau menangis semalaman. Kulihat di cermin, mataku yang lumayan besar ini  sekarang terlihat seperti mata kodok. Besar dan bengkak. Ditambah lagi kakiku masih sedikit sakit akibat terkilir kemarin.

“Bagaimana kalau aku bertemu Jinyoung oppa di kampus? Ah sebisa mungkin aku harus menghindarinya! Harus!”

Tidak nyaman ternyata memakai kacamata. Apalagi kacamata besar milik ibu yang tidak sengaja kutemukan di meja ruang tamu ini. Jujur saja aku tidak suka memakai kacamata, mau itu kacamata biasa ataupun kacamata berwarna. Lagipula kacamata hanya akan menutupi mata indahku, kan sayang hihihi. Tapi kali ini aku terpaksa, demi menutupi aib kecil yang hanya diketahui sebabnya oleh beberapa orang ini.

Khusus hari ini aku lewat jalan yang tidak biasa aku lewati. Ya, ini salah satu cara untuk menghindari Jinyoung oppa. Biasanya aku lewat fakultas Jinyoung oppa, karena kebetulan fakultas kami tetanggaan.

“Noona!”

Suara itu tidak asing di telingaku. Saat aku berbalik, ya betul, itu memang suara Gongchan. Aku segera berlari ke arahnya, tapi…

“Aaaaaa!”

Ups! Kenapa ini? Ada apa? Kenapa aku tidak jatuh? Apa aku sudah berada di surga? Masa hanya terpeleset segitu saja langsung mati? Oh Tuhan, jebal, jangan biarkan aku mati sekarang, aku belum pamitan dengan Jinyoung oppa!

Saat kubuka mata, terlihat seorang namja tampan dengan rambut coklat berponi tebal. Oh tampan sekali dia! Benar ternyata aku sudah berada di surga!

“Gwaenchanayo?”

Eh malaikatnya bisa bahasa Korea? Ah ani ani! Ini memang masih di Korea! Ini memang masih di kampusku!

“Ah ne gwaenchana.”

“Noona! Gwaenchana!” tiba-tiba Gongchan sudah berada di sampingku. Kapan dia berlari ke sini? Kenapa aku tidak melihatnya? Ah ne, tadi kan aku menutup mata lumayan lama!

“Ne, Gongchannie, nan gwaenchana.”

Arigatou! Eh maksudku gomawo! Mian.” haduh melihat wajah Gongchan, aku jadi refleks ingat bahasa Jepang!

Hai doumo.

E? Nani? (Eh? Apa?). Namja ini bisa bahasa Jepang juga?

Nihongo ga dekimasuka?” (Anda bisa bahasa Jepang?)

Hai, sukoshi. (Ya sedikit)” jawab namja tampan itu sambil memperagakan dengan jempol dan telunjuknya.

A~ ii ne.(Ah bagus). Arigatou gozaimashita! Mata ne! (Terima kasih ya, sampai jumpa!)”

Ja mata. (Sampai jumpa)”

Ah senangnya~ pagi-pagi sudah bertemu namja tampan dan bisa bahasa Jepang pula. Betul-betul namja idamanku! Apakah ini jalan dari Tuhan untuk mempertemukan kami? Inikah hikmah dari kejadian kemarin? Ah, shit! Aku jadi teringat Jinyoung oppa lagi!

“Noona? Waeyo? Tiba-tiba matamu terlihat berkaca-kaca lagi.”

“Ah ani yo, Gongchannie.”

“Nanti sore mau jalan-jalan denganku tidak?”

A~ itte itte! (ayo pergi ayo pergi)”

“Baiklah nanti aku jemput ke kelas ya. Noona kuliah sampai jam berepa hari ini?”

“Ani, kita janjian di taman kemarin saja. Hari ini aku hanya kuliah sampai jam satu.”

“Hmm baiklah. Sebenarnya hari ini aku kuliah sampai sore, tapi untuk Noona aku mau bolos saja!”

“Mwo? Kau mau bolos? Haha punya nyali juga ternyata.”

“Kan Noona yang ngajarin haha.”

“Ah kau ini, aku jadi malu. Ya sudah, aku ke kelas dulu, ya. Mata ne!

Un.

*          *          *

Akhirnyaaa selesai juga kuliah hari ini! Coba tiap hari kuliah cuma sampai jam segini, mungkin aku ridak akan sedepresi sekarang. Sekarang tinggal bermain bersama my dongsaeng! Ayo bersenang-senang! Lupakan segalanya! Yosh!

            Di saat kau tidak ingin bertemu dengan seseorang, justru orang itu akan ada di hadapanmu. Dan pendapat itu ternyata benar. Walaupun tidak tepat di hadapanku, tapi aku bisa melihat sosoknya dengan jelas dari jarak yang hanya sekitar lima meter itu.

“Jagiya!”

What’s? Jagiya? Hei sadarlah kau wahai hamba Tuhan! Kita ini sudah…eh, tidak! Dia benar memanggilku begitu. Status kami memang masih pacaran. Kemarin aku tidak sempat mengirim pesan perpisahan padanya. Begitu sampai rumah, aku langsung masuk kamar, mengunci pintu dan menangis sejadi-jadinya sampai menghabiskan berpuluh-puluh lembar tissue. Tapi saat terbangun, kulihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ternyata aku menangis sampai ketiduran. Dan alhasil aku tidak sempat mengirim pesan untuk Jinyoung oppa karena terlalu sibuk mengejar waktu. Aku langsung berbalik membelakanginya dan berusaha berjalan secepat mungkin.

“Jagiya!”

Hih namja ini! Tidak tau diri sekali! Sudah berbuat salah juga masih saja berani memanggilku begitu!

“JI YEON-AH!”

Astaga! Kencang sekali! Tapi baguslah akhirnya dia sadar kalau aku sudah tidak mau dipanggil seperti itu lagi olehnya. Tapi tetap tidak aku hiraukan! Aku tidak mau melihatnya lagi! Aku takut tidak bisa berpisah dengannya kalau melihatnya lagi!

Terdengar derap kaki mendekat ke arahku. Kini giliran ada tangan yang menarik lenganku.

“Mwo?” tanyaku sinis sambil berusaha tenang menutupi perasaanku.

“Pasti Gongchan sudah menceritakan semuanya ya?” tanyanya sambil masih memegangi tanganku.

Aku hanya diam dan memalingkan wajah darinya.

“Bocah tengik itu sudah menceritakan semuanya kan!”

Bocah tengik? Dia memanggil dongsaengku yang sangat baik itu dengan sebutan bocah tengik? MWORAGO!

“Apa? Coba ulangi sekali lagi. Bocah tengik katamu? Bocah tengik? Berkacalah! Apa kau pantas menyebutnya bo…”

“Bocah tengik! Apalagi sebutan bagi seorang namja yang berani mendekati pacar orang seperti itu!”

PLAK! Aku menamparnya. Ya Tuhan! Apa yang kulakukan! Ini pertama kalinya aku menampar seorang namja! Terlebih lagi namja yang sangat kucintai!

“Kau!!! Tidak pantas kau menyebutnya seperti itu!! Dia itu…”

Kali bukan balasan kata-kata yang keluar darinya, tapi…

‘Ya Tuhan! Apa yang dia lakukan kali ini!’

Setiap aku marah kepadanya, jurus terjitu yang sering ia keluarkan untuk menghentikanku namun tidak membuatku sakit adalah…menciumku. Dan kali ini ia juga melakukannya lagi! Ya Tuhan, bantu aku untuk bisa bertahan darinya!

Jika terlalu lama lagi dalam kondisi seperti ini, bisa-bisa aku tidak akan pernah bisa berpisah dengannya lagi! Aku harus melepaskannya!

Kudorong tubuh kerempeng (tapi keren) nya itu.

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN!”

“Apa kau tidak mengerti perasaanku selama ini hah? Aku sangat bahkan benar-benar mencintaimu! Semenjak dengamu, aku berniat untuk berubah! Tapi kau selalu dekat dengan namja itu! Aku benci dengan kedekatan kalian yang berlebihan itu! Aku cemburu! Setiap aku kesal dengan kalian, aku selalu curhat pada Park Ji Yeon, sahabatku. Tapi lama-lama aku merasa nyaman dengannya dan hasrat playboyku muncul. Lalu aku mulai menjalin hubungan dengannya. Dan semua ini gara-gara kalian! Semua ini tidak akan pernah terjadi jika kau tidak dekat-dekat dengannya!”

Ya ampun, jadi intinya ini gara-gara aku? Semua ini karena kesalahanku sendiri? Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan? Aku tidak bisa mengerti perasaan namjachinguku sendiri! Aku bahkan tidak pernah mendengarkan permintaannya untuk menjauhi Gongchan! Aku tidak pernah menggubris kata-katanya itu dengan serius!

Tapi…apa katanya barusan? ‘Lama-lama aku merasa nyaman dengannya dan hasrat playboyku muncul. Lalu aku mulai menjalin hubungan dengannya’. Hei menjalin hubungan bagi seorang Jung Jinyoung itu artinya sama dengan pernah berciuman! Namjachinguku berciuman dengan yeoja lain? TIDAK BISA KUBIARKAN!

“Menjalin hubungan? Gara-gara aku? Baiklah, kalau begitu aku minta maaf tuan…” aku menghentikan kata-kataku sejenak, “RUBAH LICIK.”

Ya, rubah licik adalah sebutan yang paling dibenci Jinyoung. Ia paling tidak suka bila ada orang yang menyebutnya dengan sebutan rubah licik. Itu mengingatkannya pada seorang musuhnya yang telah berhasil merebut pacar pertamanya. Musuhnya itu selalu mengejeknya dengan sebutan rubah licik karena menurutnya wajah Jinyoung oppa mirip dengan seorang rubah yang biasanya digambarkan licik dalam cerita anak-anak. Dan kejadian direbutnya pacar pertamanya itu telah berhasil mengantarkannya menjadi seorang playboy seperti sekarang.

Tanpa balasan kata-kata, kulihat ia mulai mengepalkan tangannya dan bersiap segera melayangkannya di hadapanku. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk menghindarinya selain menutup mata.

“Jika benar kau seorang namja, maka tidak baik memperlakukan seorang yeoja seperti ini.”

‘Suara siapa itu? Dan kenapa kepalan tangan Jinyoung oppa tidak sampai-sampai di wajahku?’

Ketika kubuka mata, kulihat sosok seorang namja yang berdiri tepat di hadapanku. Tangannya terlihat sedang mencengkeram tangan Jinyoung oppa yang masih dalam keadaan mengepal. Tapi …siapa itu?

Diam-diam aku berjalan beberapa langkah ke depan. OMO! Itu kan…

Daijoubu da yo? (Baik-baik saja kan?)”

Eh? Itu kan…

(Backsound : Tuxedo Mask theme saat menolong Sailormoon)

“Kau…”

“Hei siapa kau!”

“Tidak penting kau mengetahui namaku.” jawab namja itu dengan tenangnya pada Jinyoung oppa, “Ayo.” lanjutnya sambil menarik tanganku.

YA YA YA! Apa yang kau lakukan!

*          *          *

            “Kau tidak apa-apa?”

“Ne, gwaenchana.”

Yokatta.” timpalnya singkat sambil tersenyum manis dengan lesung pipit di kedua pipinya  #OMO~! Kakkoi kakkoi!(tampan, keren) >w<

Ya, namja yang sedang duduk bersamaku di koridor fakultas ilmu sosial dan ilmu politik ini adalah namja yang menolongku saat hampir terjatuh pagi tadi. Tubuhnya tinggi, wajahnya dewasa, ramah, selalu penuh senyum. Ah seperti karakter-karakter cowok manga (komik Jepang)! >w<

Omo~ semakin keren saja saat ia tersenyum menatap langit luas!

“Boleh aku tau namja tadi itu siapa?” tiba-tiba saja dia bertanya dan menoleh ke arahku. Omo~ pipiku sontak memanas *O*

“Eh…eng…dia…”

“Pacarmu ya?”

“Ani…eh, ne.”

Dia terlihat mengerutkan keningnya tanda tak mengerti dengan pernyataan plinplanku barusan.

“Maksudku…dia adalah pacarku. Tapi aku akan segera memutuskannya.”

“Oh kalian sedang bermasalah ya? Hah dasar anak muda jaman sekarang.”

‘Hmmppp bicaranya seperti orangtua saja’ gumamku sambil menahan tawa.

“Gaya bicaramu seperti orangtua saja haha.” candaku.

“Memang aku sudah tua. Aku sudah hampir lulus.”

Mwo? Pantas saja wajahnya terlihat lebih dewasa daripada bocah-bocah yang merupakan sahabat-sahabatku itu (baca : member B1A4).

“Oh berarti aku harus memanggilmu oppa ya?”

“Dari wajahmu sudah terlihat kau harus memanggilku oppa haha.”

Heh? Maksudmu!!!!

“Iya aku tahu wajah dan tinggi badanku ini seperti anak SMA. Tapi begini-begini juga aku sudah tingkat dua kok.”

“Oh tingkat dua ya? Aku kira mahasiswa baru.”

“Enak saja. Oh iya onamae wa senpai? (siapa namamu kak? *senpai=sebutan untuk kakak kelas/senior)” aku memberanikan diri untuk menanyakan namanya.

“Park Jungsoo. Tapi orang-orang biasa memanggilku Leeteuk atau Teuki. You know why? Boku wa tokubetsu dakara (itu karena aku spesial).” jawabnya sambil tersenyum, masih dengan lesung pipit dan gayanya yang santai.

“Mwo? Haha percaya diri sekali kau.”

Dia hanya menanggapi dengan gaya santainya.

Kimi wa? (kamu?)”

“Jung Ji Yeon desu. Kau boleh memanggilku Ji Yeon. Oh iya ngomong-ngomong kenapa oppa bisa bahasa Jepang?”

Ano (hmm)itu karena tahun lalu aku sempat ikut student exchange ke Tokyo.”

Hontou????? Sugoi~” (Jinjja????? Daebak~ :O)

A~ iie (ah tidak). Aku di sana hanya sebulan. Tapi sebulan yang sangat singkat itu telah berhasil membuatku jatuh cinta pada negeri Matahari Terbit itu. Padahal sebelumnya aku tidak terlalu tertarik dengan Jepang. Tapi setelah mengunjungi negara itu, aku bisa merasakan keindahannya secara langsung. Pantas saja selama ini banyak orang-orang di belahan dunia, termasuk orang luar Asia yang mengagumi negara itu.”

“Jadi sebelumnya oppa tidak suka Jepang?”

“Bukannya tidak suka, hanya tidak terlalu tertarik saja. Begini-begini aku juga tau lagu-lagu Laruku.”

“Ya! Kalo lagu-lagu Laruku sih memang sangat terkenal sekali. Oppa paling suka lagu apa?”

“Hmm…Jiyuu e no Shoutai.”

Ah dia betul-betul hanya tau lagu yang terkenal saja.

“Kalau lagu Shine tau?”

“Tau, bahkan aku hapal. I want to shine on you…

(Backsong : L`Arc En Ciel – Shine)

Omo~ suaranya bagus sekali! Ah namja ini betul-betul membuatku gila hanya dalam hitungan menit *O*

Sugoi~

Sankyuu (kata serapan bahasa Inggris ‘thank you’)”

“Oppa penyanyi ya?”

“Ne? Haha bukan, aku bukan penyanyi. Aku hanya suka menyanyi saja.”

“Padahal jadi penyanyi saja oppa. Suara bagus, tampan lagi.”

Ups! Apa yang kukatakan barusan?

“Haha aku memang tampan, kau pun tau itu. Tidak jadi penyanyi saja sudah banayk yeoja yang mengejarku, apalagi kalau aku jadi penyanyi.” ujarnya sambil mengacak rambutku, masih dengan senyuman khasnya yang meluluhkan hatiku.

Ya Tuhaaaaaaaan tolong beri tau aku, dia ini manusia atau malaikat! *O*

*          *          *

            Gongchan POV

“Ji Yeon noona di mana ya? Ini sudah lebih lima belas menit dari jam yang ditentukan tadi. Dan dia juga sama sekali tidak memberi kabar. Hmm…di mana ya dia?”

Aku coba meneleponnya. Tapi tidak diangkat. Apa dia belum bubar? Ah lebih baik aku melihat ke kelasnya saja.

Kalau telat biasanya Ji Yeon noona selalu memberi kabar. Sekali pun itu di kelas. Dia memang terbiasa memainkan ponsel di kelas. Dia betul-betul tidak tahan dengan kuliahnya. Tapi kali ini tidak ada sedikitpun kabar darinya. Bahkan ditelepon saja tidak diangkat hmm…           “Haha oppa, kau ini ada-ada saja! Masa suka nonton Minky Momo sih? Ya ampuuuuun.”

Eh, suara itu? Aku terhenti sejenak. Aku berjalan mundur dan melirik ke sebelah kanan. Ah, betul itu Ji Yeon noona. Tapi, siapa namja si sebelahnya itu? Rasa-rasanya aku baru melihatnya.

“Ya anime itu memang lucu. Aku paling suka kalau si Momonya itu berubah jadi yeoja dewasa, pasti cantik sekali hahaha.”

“Hahaha ternyata oppa suka karena ada yeoja cantiknya ya!”

Kelihatannya mereka dekat sekali. Siapa ya namja itu? Wajahnya sepertinya tidak aisng. Hmm…apakah setelah putus dengan Jinyoung hyung, dia langsung mendapatkan gantinya. Ha….sepertinya aku akan mengalami nasib yang sama lagi. Aku memang pantas dijuluki kura-kura oleh teman-temanku. Aku memang lelet.

“Aigo! Gongchannie!”

Ah Noona menyadari keberadaanku.

“Ah annyeong, Noona.”

“Maaf aku lupa. Tadi ada sedikit insiden. Nanti aku ceritakan padamu saat jalan-jalan. Oh iya, perkenalkan, ini Teuki oppa.”

“Ah annyeong, Gongchan Shik imnida.”

“Park Jungsoo imnida. Tapi aku biasa dipanggil Leeteuk atau Teuki oleh teman-temanku. Katanya karena aku ini begitu spesial hahahaha.”

Ya ampun orang ini. Mukanya saja yang dewasa, kelakuannya sama sekali kontras dengan wajahnya -____-

“Oh iya Teuki oppa ini suka Jepang lho, sama seperti kita. Dia juga bisa bahasa Jepang. Mungkin kapan-kapan kita bisa mengobrol bersama. Sekalian ajak yeojamu juga.”

DEG! Noonaaaaa jebal, jangan ucapkan kata-kata yeojamu di hadapanku. Aku jadi salah tingkah mendengarnya, apalagi sambil menatap wajahmu!

“Oh kau juga suka Jepang. Yoroshiku onegaishimasu (mohon kerjasamanya). Aku pemula di bidang Jejepangan haha.”

“Oh hai, douzo douzo (ya silahkan silahkan).”

“Kita pergi sekarang?”

“Boleh.”

“Ne, Teuki oppa, kami pergi dulu ya. Terima kasih sudah menolongku dua kali hari ini. Terima kasih juga sudah menghiburku. Lain kali nyanyikan lagu Shine lagi, ya!”

Hai, ii ne (ya boleh). Ogenki de ne! (jaga diri baik-baik/hati-hati ya) ”

Hai arigatou. Mata ne!

Aku membungkukkan tubuh tanda pamitan. Namja itu pun membalas dengan membungkukan tubuhnya. Wah senang sekali dapat teman baru yang suka Jepang! Tapi…kenapa tadi Ji Yeon noona terlihat sangat bahagia bersama namja itu?

“Noona, namja tadi itu temanmu ya?”

“Ani, dia baru saja kenal denganku hari ini. Tapi sepertinya dia sefakultas denganku, wajahnya lumayan familiar.”

“Oh ne.”

“Dia yang menolongku tadi pagi saat hampir terjatuh, Gongchannie. Apa kau tidak ingat?”

Tadi pagi? Ah ne! Pantas saja aku merasa pernah melihatnya!

“Ah ne, aku ingat, Noona. Pantas saja aku merasa pernah melihatnya.”

“Tadi dia juga yang menolongku dari Jinyoung.”

“Mwo? Menolongmu dari Jinyoung hyung? Apa lagi yang dia lakukan kali ini padamu?” emosiku mendadak memuncak begitu mendengar nama Jinyoung pabo itu. Bukan karena kami mencintai yeoja yang sama, tapi karena kejadian kemarin yang sukses membuat Noonaku sangat terpukul.

Noona mulai menceritakan kejadian tadi siang kepadaku. Tapi kali ini tidak dengan wajah yang terlalu sedih, apalagi kalau sudah menyangkut namja bernama Teuki itu. Mungkinkah dia menyukainya? Sampai-sampai bisa akrab secepat itu?

“Noona”

“Ne?”

“Apa kau menyukai Teuki hyung?”

*          *          *

Ji Yeon POV

“Noona”

“Ne?”

“Apa kau menyukai Teuki hyung?”

Ump! Aku hampir tersedak susu strawberry ini.

“Mwo?”

“Saat kau membicarakan tentangnya, matamu terlihat berbinar-binar.”

Jinjja? Apa benar seperti itu? Aku benar-benar tidak menyadarinya.

Shiranai (tidak tau). Memang, walaupun baru kenal hari ini, aku merasa sedikit berdebar-debar saat dekatnya. Tapi anehnya aku berani bercanda dengannya. Biasanya kalau aku mencintai seseorang, aku akan mendadak pasif, kecuali kalau sudah jadian cukup lama seperti dengan Jinyoung oppa. Tapi pada Teuki oppa berbeda. Mungkin aku hanya menyukainya saja, tidak mencintainya.” jelasku panjang lebar.

A~ sou ka (ah begitu ya).

Ekspresi Gongchan sekarang terlihat berbeda dengan ekspresi sebelumnya saat menanyakan tentang Teuki oppa. Tadi ekspresinya terlihat putus asa. Sedangkan barusan terlihat lega. Mungkin dia masih takut aku mengalami kejadian seperti kemarin. Dia memang dongsaengku yang sangat baik. Dia betul-betul sehati denganku.

Author POV

Ji Yeon tidak mengerti dengan perasaan Gongchan sebenarnya. Dia sedikit tidak peka dengan hal itu. Mungkin kedekatannya dengan Gongchan selama ini membuatnya merasa semua itu hanya murni hubungan noona-dongsaeng. Tapi di luar dugaan, selain menyayanginya sebagai seorang noona, Gongchan juga menyayanginya sebagai seorang yeoja. Gongchan sendiri juga tidak berani mengungkapkan perasaannya. Ini pertama kalinya ia menyukai seorang yeoja. Jadi cukup sulit untuknya yang pemalu itu, untuk mengungkapkan perasaan pada seorang yeoja, hingga akhirnya ia didului oleh Jinyoung yang justru kebalikan dengannya. Jinyoung seorang playboy. Tidak sulit baginya untuk melumpuhkan seorang yeoja lugu seperti Ji Yeon.

Keesokan harinya…

Ji Yeon POV

“Ji Yeon-ah!”

“Ya! Teuki oppa! Konnichiwa (selamat siang/sore)!”

Konnichiwa. Kau anak fakultas sini ya?”

“Iya. Oppa juga?”

“Ne. Tapi sepertinya kita beda jurusan ya? Soalnya aku jarang melihatmu. Eh, aku duluan ya? Sudah mau masuk.”

“Ne. Annyeong!”

Belum lama aku berjalan, tiba-tiba ada yang menarik tanganku.

“Oppa?”

“Ji Yeon-ah, kembalilah padaku.”

Haduh cobaan macam apalagi ini? Setelah seharian kemarin dia berusaha menghubungiku dan berhasil membuatku gusar untuk memutuskan hubungan dengannya atau tidak, kini ia mendatangiku secara langsung.

“Mian, oppa. Aku harus segera ke kelas.” aku berbohong padanya padahal aku sudah bersipa untuk pulang di sore yang cukup mendung dan sangat dingin ini, “Annyeong.”

Aku langsung membalikkan badan. Aku tidak sanggup untuk melihatnya lebih lama lagi. Aku takut tekadku akan goyah lagi.

“Ji Yeon-ah.”

Ah aku harus mengakhiri semuanya sekarang sebelum terlambat!

“Cukup, oppa! Kita PUTUS!”

Aku melihat ekspresinya sangat terkejut. Tapi aku tidak boleh peduli, eh maksudku aku memang tidak peduli! Aku harus segera menjauh darinya atau aku malah akan berbalik dan mengucap ‘saranghae’ padanya.

Aku berjalan secepat mungkin, aku takut ia menarikku lagi. Tapi…kini tidak ada lagi respon darinya, baik ucapan maupun tindakan. Apakah ia sudah tidak peduli padaku? Ah sudahlah! Mungkin sekarang ia sedang berjingkrak kesenangan karena bisa bermesraan secara legal dengan Park Ji Yeon nya itu. Benar ternyata kata Minha, cowok itu (mostly) pada brengsek! Itu ia katakan saat Yoochun oppa, tunangannya, selingkuh dengan mantan pacarnya yang sudah cukup ahjuma, Han Ga In. Ah aku baru ingat! Pantas saja saat itu Jinyoung oppa pernah mengirim sms padaku untuk mengajakku olahraga. Padahal ia tau benar kalau aku sama sekali sangat tidak suka olahraga! Begini bunyi sms nya :

‘Jagiya~ besok pagi kita jogging yuk?’

           

            Saat aku tanya kenapa, dia berdalih kalau dia sedang cape dan hanya teringat aku jadi sms yang tadinya mau dia kirim ke temannya malah dikirim padaku. Saat itu aku bukannya curiga malah girang tak karuan. Memang benar apa yang Minha bilang, aku ini benar-benar polos, selalu percaya pada pacarku yang genit tak ketulungan itu. Kejadian itu baru seminggu yang lalu. Mungkin itu tanda-tanda yang Tuhan berikan untukku, tapi aku terlalu naif untuk menafsirkan maksud tersirat itu. Lalu di stiker bertuliskan ‘Ji Yeon’di belakang ponselnya Jinyoung yang ditulis dengan katakana (salah satu jenis huruf Jepang) juga aku tidak tau itu ditujukan untuk Ji Yeon yang mana. Dia bilang jelas itu untukku karena itu dibuat dengan menggunakan tulisan katakana. Ah tapi sekarang aku jadi ragu. Aaaaaaah Jung Jinyoung, sihir apa yang telah kau berikan padaku sampai aku selalu teringat padamu seperti ini sementara aku sedang berusaha membencimu!

Ah di saat stress begini aku selalu ingin bertemu dengan dongsaengku. Dia memang lebih muda dariku tapi dia lebih dewasa dariku. Dia bisa menenangkanku layaknya seorang kakak.

“Ke kelas Gongchan ah! Siapa tau saja dia masih di sana. Kalau belum bubar, ya sudah aku pulang saja.”

Aku segera menuju fakultas Gongchan yang jaraknya tidak jauh dari fakultasku. Begitu masuk fakultasnya, aku langsung berlari ke arah lift. Kupencet tombol bernomor tiga dan pintu pun segera tertutup.

‘Tring’, aku sampai di lantai tiga, di mana kelas Gongchan berada untuk mata kuliahnya kali ini. Aku cukup hafal jadwalnya karena dia sering cerita padaku.

“Ah, itu dia kelasnya!” tunjukku pada sebuah kelas di paling pojok, “Sudah bubar belum ya?”

Ah sepi sekali kelas ini. Sepertinya sudah pada bubar. Jangan-jangan Gongchan juga sudah pulang. Dia kan paling tidak suka berada di kelas.

“Eh, ada suara gitar.” aku langsung terdiam dan mendengarkan baik-baik, “Ah, ini Love Girl nya CN Blue!”

(Backsong : CN Blue – Love Girl)

Tapi rasa-rasanya aku kenal dengan suara ini. Aku coba melongok ke arah kelas itu. Terlihat seorang namja tampan yang sedang bermain gitar di pojokan kelas. Dan aku tau benar siapa namja berwajah kalem itu.

‘Omo! Itu kan Gongchan!’

Ah saat bernyanyi sambil bermain gitar, dia terlihat berbeda dari biasanya, tidak seperti dongsaengku. Dia terlihat lebih dewasa. Aku tidak akan menampakan diri sekarang. Aku takut mengganggu keasyikannya. Aku juga paling kesal kalau eommaku mengganggu saat aku bermain game, nonton anime, atau belajar nihongo (bahasa Jepang).

“Lebih baik aku menunggunya sampai selesai saja. Lagipula suara dan lagunya enak didengar.”

Aku duduk di balik dinding kelas Gongchan dan menunggunya selesai bermain gitar.

“Ah akhirnya selesai juga.”

PROK PROK PROK

“Bagus sekali, Gongchannie!” ujarku tersenyum lebar sambil memasuki kelas tiba-tiba dan bertepuk tangan.

“Noona?” dia terlihat cukup kaget.

“Ternyata suaramu bagus, Gongchannie. Kenapa selama ini kau jarang sekali bernyanyi?”

“Ah tidak, Noona, suaraku jelek. Makanya aku malu kalau bernyanyi di depan orang lain.”

“Andwae! Suaramu bagus, Gongchan! Hanya kaunya saja yang tidak PD.”

Kupuji seperti itu, pipinya langsung memerah. Haha lucu sekali dongsaengku ini.

“Boleh aku request lagu?”

“Mwo? A…aku…tidak bisa bernyanyi.” ujarnya tertunduk malu.

“Ani yo, sudah kubilang suaramu bagus. Ya sudah kalau menurutmu suaramu jelek, kau bernyanyi sambil tutup telinga saja. Cukup aku yang mendengarkan.”

“Ah, Noona ini ada-ada saja. Masa nyanyi sambil tutup telinga, tidak enak dong, Noona.”

“Kalau begitu ya sudah, sekarang bernyanyi untukku.”

Dia kembali menunduk.

“Ya! Gongchan Shik! Ayo bernyanyi untukku! Apa kau sudah tidak menganggapku sebagai Noonamu lagi?”

“Ani, ani! Aku tidak bermaksud seperti itu, Noona.” wajahnya terlihat panik. Haha aku memang paling suka menggoda dongsaengku yang pemalu ini.

“Ya sudah, Noona mau request lagu apa?”

Yes! Jurusku manjur! Akhirnya dia menyerah juga hahaha *evilaugh

“Aku mau lagu Fumiya Fuuji, True Love.”

“Ne, baiklah.”

(Backsong : Fumiya Fuuji – True Love)

Ia mulai memainkan gitarnya dan bernyanyi. Ya ampun, aku jadi ingat kakak kelas yang sangat kusukai dulu di SMA. Aku masih ingat wajah tanpa ekspresinya itu hahaha.

Suara Gongchan makin terdengar bagus saat memasuki bagian reff.

DEG!

Mwo? Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya? Apa aku kena penyakit jantung? Ah tidak, tidak, tidak mungkin! Lalu perasaan macam apa ini?

*          *          *

“Noona?”

“Ah? Yey! Sugoi!  Aku sampai terbengong-bengong melihatnya. DAEBAK!” ujarku sambil mengacungkan kedua jempolku dan tersenyum lebar.

Dia hanya menggaruk-garuk kepalanya malu. Lucu sekali. Tapi kali ini aku merasa ada yang beda. Aku merasa melihatnya dari perspektif lain. Tapi aku sendiri juga tidak tau dari sudut pandang apa.

“Noona, mau pulang sekarang?”

“Aku belum mau pulang nih. Pesan ramen dulu yuk?”

“Semangkuk berdua lagi atau sendiri-sendiri, Noona? Haha.”

“Berdua saja! Haha. Enak dingin-dingin begini kita makan ramen.”

Gongchan langsung menelepon layanan ramen delivery. Sambil menunggu pesanan datang, aku meminta Gongchan bernyanyi dan memainkan gitar lagi. Tetap, aku tidak ikut bernyanyi karena aku sadar kondisi suaraku yang sudah tidak enak didengar sejak lahir ini

-___-

Kali ini ia memainkan Gee versi akustik.

(Backsong  : SNSD – Gee)

DEG! Aduh perasaan ini muncul lagi! Ada apa denganku ini!!!!!

“Apakah tuan dan nona ini yang memesan ramen?” tiba-tiba sebuah suara membuyarkan  lamunanku.

“Ne.” jawab Gongchan tersenyum ramah.

Omo! Apa yang terjadi denganku? Kenapa pipiku terasa panas saat aku melihat Gongchan tersenyum? Ya Tuhaaaan, apa yang terjadi denganku!!!

“Noona?” lamunanku kembali buyar.

“Ah ne. Itadakimasu!” ujarku buru-buru sambil menyambar sumpit di depanku.

Aduh aduh, what’s wrong with me!

“Noona”

“Ne? Wae?”

“Kuperhatikan dari tadi Noona banyak melamun. Doushite? (kenapa?) Apa Jinyoung hyung mengganggumu lagi?”

“Ah ani.” ujarku dengan mulut penuh, “Ngomong-ngomong tentang Jinyoung oppa…tadi…aku baru putus dengannya.”

“Mwo? Maji de?

Aku hanya menjawab dengan sebuah anggukan.

“Siapa yang bilang putus duluan?”

“Aku.”

Sou ka?(benarkah?) Yokatta.

Suasana menjadi hening. Kami hanya menyantap ramen tanpa berkata-kata seperti biasanya. Entah perasaan apa yang tengah menyelimuti hatiku saat ini hingga aku bahkan malas untuk membicarakan mengenai masalah putusku ini. Sepertinya aku memiliki hal lain di pikiranku sekarang ini. Tapi aku tidak yakin dengan apa yang ada di pikiranku saat ini.

Ups! Gongchan! Wajah Gongchan tepat di hadapanku! Kami menelusuri mie yang sama dan tidak sengaja hampir berciuman! OMOOOOO! Pipiku terasa sangat PANAS!!!!

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s